แชร์

Di Rujuk ke Florida

ผู้เขียน: Mediasari012
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-03 16:21:35

Amira sudah berada di ruangan Tasya. Suasana di dalam kamar rawat itu terasa dingin, bukan hanya karena pendingin udara, tetapi juga karena kecemasan yang terus menekan dadanya. Ia berdiri di samping ranjang adiknya, sementara seorang dokter tengah menjelaskan kondisi Tasya dengan wajah serius.

“Nona, tadi saya sudah berbicara dengan sekretaris Ken. Tasya akan segera dirujuk ke Florida untuk menjalani operasi transplantasi jantung,” ucap dokter itu dengan nada profesional.

Amira menelan ludah. Jantungnya berdegup lebih cepat.

“Berapa biayanya kira-kira, Dok?” tanyanya, suaranya terdengar pelan namun bergetar.

“Untuk biaya keseluruhannya saya belum bisa memastikan secara detail. Namun, pasti menghabiskan dana miliaran rupiah dan kemungkinan akan dilakukan beberapa tahap operasi,” jawab dokter itu hati-hati.

Mata Amira membulat. Ia terpaku di tempatnya, seolah informasi itu menamparnya tanpa ampun.

“Dok … saya harus berunding dulu dengan ibu saya,” ucap Amira lirih. “Karena saya tidak p
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Usaha Sisil

    Malam kian merayap turun.Lampu-lampu rumah menyala temaram, memantulkan kehangatan yang menenangkan setelah hari panjang yang melelahkan.Seusai makan malam, seluruh penghuni rumah berkumpul di ruang tengah. Mereka bercengkerama, tertawa, dan mengobrol hal-hal ringan yang kadang tak jelas arahnya. Kehadiran Sinta di rumah itu tanpa disadari membuat suasana menjadi jauh lebih ramai dari biasanya.Kecuali Arsya dan Ken.Dua laki-laki itu masih terkurung di ruang kerja. Sepertinya absennya Arsya dari kantor hari ini membuat pekerjaan menumpuk tanpa ampun. Sesekali suara ketikan dan pembahasan serius terdengar dari balik pintu yang tertutup rapat.Di ruang tengah, Elena, Elesha, Sinta, dan Aiden tampak duduk berdekatan. Mereka tertawa lepas, sesekali menggoda Aiden yang masih polos hingga wajah pemuda itu memerah menahan malu.Sementara itu, Riana duduk di samping Amira. Tatapan wanita paruh baya itu lembut, penuh perhatian.“Apa kamu sudah memeriksakan kandunganmu?” tanya Riana sambil m

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Black Card

    Arsya dan Ken masih berada di dalam ruang kerja. Sementara itu, ketiga gadis remaja tersebut sudah masuk ke kamar masing-masing—entah rencana apa yang sedang mereka susun demi mengejar cinta mereka sendiri-sendiri.Amira baru saja mengakhiri panggilan dari ibunya. Operasi Tasya berjalan lancar. Gadis itu sudah sadar meski masih tampak lemas. Hati Amira kini terasa jauh lebih tenang dibanding sebelumnya.“Kakak masih mual?” tanya Aiden.“Udah mendingan. Kamu mandi dulu, ya. Ini udah sore,” jawab Amira.Aiden mengangguk sambil mengusap perut kakaknya sebelum pergi.Setelah Aiden berlalu, Amira melangkah ke dapur. Ia mengambil sekotak anggur hijau, lalu duduk di kursi dapur sambil memperhatikan para pelayan yang sibuk menyiapkan makan malam.“Ternyata penghuni rumah ini memang orang-orang baik,” gumam Amira pelan. “Mungkin dulu mereka memperlakukanku buruk karena nggak terima aku tiba-tiba menikah dengan Arsya.”Ia menghela napas. “Aku penasaran … kenapa Mama tiba-tiba berubah begitu ba

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Sinta

    Gadis itu memeluk Arsya dengan sangat erat, seolah takut pria itu menghilang jika dilepaskan. Tangannya melingkar di pinggang Arsya tanpa ragu, sementara wajahnya tersenyum puas.Di sisi lain, Amira justru tersenyum lembut ke arah suaminya. Senyum yang terlalu tenang untuk ukuran situasi seperti ini."Kenapa dia bisa tersenyum begitu? Padahal dia belum tahu kan Sinta itu siapa? Kenapa dia nggak cemburu?" batin Arsya kesal, dadanya terasa panas tanpa alasan yang jelas.Sementara itu, di balik senyum manisnya, Amira sedang menahan gejolak emosi yang tak kalah membara."Sialan kamu! Dua jam yang lalu kamu bikin aku malu setengah mati. Sekarang kamu pelukan sama gadis entah datang dari mana di depan mataku begini?" batin Amira penuh bara.Sebenarnya, api cemburu itu sudah menjalar hingga ke ujung jemarinya. Namun, Amira menyembunyikan semuanya dengan sangat rapi—terlalu rapi, bahkan.Elena yang menyadari situasi mulai canggung, segera menarik tubuh Sinta agar melepaskan pelukannya dari Ar

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Siapa Sinta?

    Setelah perdebatan panjang yang berakhir tanpa kesimpulan tentang wanita, kecemburuan, dan ego yang sama-sama keras kepala, dokter Virgo akhirnya memilih mengalah. Ia keluar dari kamar Arsya diikuti oleh Ken yang wajahnya masih menyimpan raut waswas.Pintu kamar tertutup perlahan.Di dalam, suasana berubah jauh lebih tenang.Arsya sudah melepaskan jasnya, menyampirkannya sembarang di kursi. Dasi yang sejak tadi terasa mencekik sudah ia tarik lepas, lalu tubuhnya direbahkan ke atas tempat tidur dengan napas yang sedikit lebih berat dari biasanya. Sepertinya, hari ini ia benar-benar tidak berniat pergi ke kantor.Sementara itu, Amira duduk di sisi tempat tidur, tepat di samping suaminya. Tangannya sibuk berpindah dari ponsel ke laptop. Jarinya lincah menekan layar, sesekali keningnya berkerut saat membaca laporan yang masuk.“Sibuk banget sih,” gumam Arsya sambil melirik kesal. “Kayak orang yang udah punya seribu perusahaan aja.”Tanpa peringatan, ia bangkit setengah duduk, menutup lap

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Phobia Arsya

    Ken meninggalkan kamar Tuannya dengan langkah cepat, rahangnya mengeras menahan cemas yang terus menggerogoti dadanya. Pintu kamar tertutup di belakangnya, menyisakan kegelisahan yang belum juga reda.“Semoga Tuan muda baik-baik saja,” gumam Ken lirih, nyaris seperti doa.Ia menuruni tangga dengan tergesa. Baru saja mencapai lantai bawah, langkahnya terhenti ketika sosok Riana sudah berdiri menghadangnya. Wajah wanita paruh baya itu tampak pucat, matanya menyiratkan kekhawatiran yang sulit disembunyikan.“Ken, bagaimana keadaan Arsya?” tanya Riana dengan suara bergetar.“Nona muda sudah menanganinya, Nyonya,” jawab Ken sopan. “Saya akan memanggil Dokter Virgo.”“Baik. Cepat suruh dia ke sini,” ucap Riana tanpa ragu.“Baik, Nyonya.”Ken segera meraih ponselnya dan menepi sedikit, lalu menelepon dokter Virgo dengan ekspresi serius.Sementara itu, Aiden yang duduk tak jauh dari sana hanya bisa memperhatikan semua itu dengan dahi berkerut."Emang lukanya separah itu sampai harus manggil d

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Luka

    “Setelah aku keluar tadi, apa Amira tidak turun?” tanya Arsya.“Tidak, Tuan.”“Ambilkan aku pisau dan piring,” ucap Arsya sembari menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang tengah.“Baik, Tuan.”Kepala pelayan itu segera bergegas menuju dapur, mengambil pesanan Arsya, lalu kembali ke ruang tengah.“Ini, Tuan.” Pak Heru menyerahkan piring dan pisau itu.“Istirahatlah, Pak Heru. Tidak usah mengikutiku.”“Baik, Tuan. Selamat beristirahat,” ucap Pak Heru sembari menganggukkan kepala.Arsya berdiri dari duduknya, lalu berjalan cepat menaiki tangga. Ia sudah tidak sabar ingin memberikan mangga hasil curiannya itu pada Amira.“Nona muda, apa Anda sedang membalas dendam pada Tuan muda?” gumam Pak Heru, terlihat menahan tawanya.Sedangkan di dalam kamar ...Setelah membersihkan dirinya, Arsya merebahkan tubuh di samping Amira yang masih tertidur pulas. Ia memandangi wajah istrinya sembari mengusap pipi itu dengan lembut, berharap Amira terbangun.Amira menggeliat, lalu kembali tertidur.“Kamu tidur ap

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status