Mag-log in“Kenapa kamu mencubit hidungnya?” tanya Sisil tidak terima. Alisnya sampai bertaut, sementara tangannya refleks mengusap hidung Ryu pelan seolah takut bayi itu kesakitan.“Itu udah janji aku dulu,” jawab Ken santai seraya menegakkan tubuhnya kembali.Ia melirik singkat ke arah Ryu yang masih mengoceh kecil di pangkuan Sisil.“Aku masih belum selesai, tunggu dulu sebentar ya,” lanjut Ken sebelum akhirnya melangkah menuju dapur.“Iya,” jawab Sisil singkat.Tatapannya mengikuti punggung pria itu sampai menghilang di balik lorong rumah.“Janji katanya? Janji macam apa itu?” gumamnya sendiri dengan wajah penuh curiga.Sisil lalu menunduk menatap Ryu. “Kamu tahu nggak janji apa maksud Om Ken tadi?” tanyanya pelan.Ryu malah menggerakkan tangan kecilnya sembari mengeluarkan suara samar yang membuat Sisil gemas sendiri.Sementara itu di dapur, Ken berhenti tepat di samping Amira yang sedang sibuk memotong buah di atas meja marmer dapur yang luas.Beberapa jenis buah sudah tersusun rapi di dal
Siang mulai bergeser menuju sore.Sinar matahari yang sejak tadi masuk dari jendela besar ruang tengah kini mulai meredup, menyisakan semburat jingga yang membuat suasana rumah terasa hangat dan tenang. Aroma teh melati yang tadi disajikan pelayan masih samar tercium di udara.Di ruang tengah kediaman Arsya, suasana terlihat cukup santai. Elena sudah berpamitan sejak beberapa menit lalu untuk beristirahat di kamarnya karena kepalanya semakin terasa pusing.Sementara itu, Aidan masih berada di posisi semula. Ia duduk di sofa tunggal yang jaraknya lumayan jauh dari Amira dan Sisil.Laki-laki itu tampak fokus menatap layar ponselnya sejak tadi, sesekali menggerakkan ibu jarinya dengan ekspresi datar.Di sisi lain, Amira sedang menyusui Ryu menggunakan botol dot bayi. Bayi mungil itu baru saja diantarkan oleh Riana setelah sejak sebelum siang berada di kamar omanya.Ryu terlihat sangat tenang dalam gendongan sang ibu. Sesekali tangan kecilnya bergerak-gerak gemas, membuat Sisil tak henti
Blush!Wajah Ken seketika bersemu merah. Sampai tanpa sadar, laki-laki itu memalingkan wajahnya ke arah lain. Niat hati ingin mengerjai Sisil pagi ini, tetapi justru dirinya sendiri yang terkena serangan balik.Deg.Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat saat mengingat ekspresi polos Sisil barusan.“Mandi sana!” titah Ken singkat sambil berdeham pelan, berusaha menutupi rasa gugupnya.Sisil mengerjap bingung beberapa kali.“Lho? Kok berubah cepat banget?” batinnya heran.Ia bahkan sempat curiga Ken akan kembali menggodanya seperti tadi. Namun ternyata laki-laki itu malah menyuruhnya mandi dengan wajah memerah.“Jadi … aku selamat, kan?” batin Sisil lagi sambil menahan senyum.Tanpa membuang waktu, gadis itu segera berlari kecil masuk ke dalam kamar mandi. Hari sudah semakin siang dan mereka harus segera pergi ke rumah Arsya.Sementara itu, Ken berdiri mematung di depan lemari sambil mengusap wajahnya kasar. “Sial … kenapa malah aku yang salah tingkah?” gerutunya pelan.Ia menghela n
"Oh, jadi aku bukan ciuman pertamamu?" balas Ken. Suaranya mendadak terdengar datar dan dingin.Rahang laki-laki itu mengeras samar. Tatapannya masih tertuju pada Sisil, tetapi kini ada sesuatu yang berbeda di sana. Sesuatu yang membuat Sisil mendadak merasa bersalah.“Aku bisa dengan mudah mengetahui semua rahasia Nona muda, tapi kenapa dulu aku nggak pernah mencari tahu tentang Sisil?” batin Ken. “Dan sekarang, justru aku mengetahui fakta yang cukup mengejutkan.”“Apa mereka tinggal di kota ini?” tanyanya lagi pelan.“Iya,” jawab Sisil sambil mengangguk kecil. “Tapi aku nggak tahu sekarang mereka ada di mana.”Setelah itu, suasana mendadak hening.Ken menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang. Ia mencoba menekan rasa panas yang tiba-tiba memenuhi dadanya. Entah kenapa, membayangkan ada laki-laki lain yang pernah mencium perempuan di hadapannya membuat dadanya terasa sesak.Sisil yang menyadari perubahan ekspresi suaminya langsung panik sendiri.“Bukan aku lho ya yang mulai duluan,” uc
“Eh! Kak Dimas?”Sinta secepat kilat menyeka air matanya begitu melihat sosok Dimas sudah berada disampingnya. Angin malam berembus pelan, membuat rambut panjang gadis itu berantakan. Matanya masih sembab, jelas sekali ia baru menangis cukup lama.“Bukannya kamu udah janji buat nggak nangis lagi?” tanyanya lembut.Sinta menundukkan kepala. Jemarinya saling bertaut gelisah di atas pangkuan. “Maaf, Kak,” lirihnya. “Tapi hatiku sakit banget.”Dimas terdiam beberapa detik. Tatapannya melembut saat melihat wajah gadis itu yang tampak rapuh.Laki-laki itu lalu menepuk bahunya sendiri pelan, memberikan kode agar Sinta bersandar di sana. Namun, gadis itu hanya diam tanpa reaksi. Ia terlihat ragu.“Kenapa diam?” Dimas terkekeh pelan. “Aku cuma ngasih bahu, bukan hati.”Ucapan itu membuat Sinta tersenyum tipis untuk pertama kalinya malam itu. Perlahan, gadis itu menyandarkan kepalanya di bahu Dimas.Laki-laki itu tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia membiarkan Sinta merasa tenang terlebih dahulu.
Ken menjentikkan jarinya ke arah pembawa acara. Dengan langkah santai, ia mengambil mikrofon dari tangan sang MC yang langsung menundukkan kepala hormat.Sorot lampu taman yang hangat menyorot wajah tegas Ken malam itu. Jas hitam yang melekat di tubuhnya membuat auranya semakin berbeda. Bukan lagi sekretaris dingin yang selalu terlihat serius, melainkan seorang pria yang baru saja resmi menjadi suami dari perempuan yang dicintainya.Ken menoleh ke arah Arsya dan Amira yang berdiri di barisan depan. Keduanya sedang tersenyum ke arahnya.Dengan hormat, Ken menganggukkan kepala kepada Tuan dan Nona mudanya. Namun, di luar dugaan, Arsya dan Amira membalas anggukan itu.Mata Ken langsung membulat kecil. "Tuan menganggukkan kepala ke saya?" batin Ken terkejut. "Kalau Nona muda yang melakukannya sih masih wajar. Tapi sekarang Tuan juga? Ini pertama kalinya beliau ngelakuin itu."Ken sampai menelan ludahnya sendiri. "Apakah dunia akan kiamat? Tapi untungnya saya udah menikah duluan."Ucapan a
Siang hari ...Setelah menyelesaikan dua rapat berturut-turut yang membuat kepala dan hatinya sama-sama pening, Arsya akhirnya menjatuhkan tubuhnya di sofa ruang kerjanya. Jas mahal yang membungkus tubuh tegapnya terasa semakin sesak. Ia memijat pelipisnya pelan, mencoba meredakan tegang yang belum
Sisil tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, berusaha menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya lampu temaram yang menggantung redup di sudut ruangan.Beberapa detik kemudian, kesadarannya terkumpul sepenuhnya.Di samping ranjang, ia mendapati Ken sedang tertidur di
“Tapi apa?” tanya Arsya ragu. Alisnya sedikit berkerut, seolah sudah menyiapkan diri untuk permintaan aneh berikutnya.“Aku mau makannya di taman aja.”Arsya dan Ken sama-sama mengembuskan napas lega. Setidaknya bukan permintaan yang terlalu merepotkan atau begitulah yang mereka kira.Namun, kelega
“Kamu mau tetap di sini?” tanya Arsya pelan, memecah keheningan lorong rumah sakit yang mulai sepi.“Tidak. Saya akan mengantarkan Anda, Tuan,” jawab Ken sigap, berdiri lebih tegak seperti biasa.“Tapi kan aku bawa mobil sendiri. Kita bisa pulang tanpa Anda, Sekretaris Ken!” celetuk Amira tiba-tiba







