Share

Di Rujuk ke Florida

Penulis: Mediasari012
last update Tanggal publikasi: 2026-01-03 16:21:35

Amira sudah berada di ruangan Tasya. Suasana di dalam kamar rawat itu terasa dingin, bukan hanya karena pendingin udara, tetapi juga karena kecemasan yang terus menekan dadanya. Ia berdiri di samping ranjang adiknya, sementara seorang dokter tengah menjelaskan kondisi Tasya dengan wajah serius.

“Nona, tadi saya sudah berbicara dengan sekretaris Ken. Tasya akan segera dirujuk ke Florida untuk menjalani operasi transplantasi jantung,” ucap dokter itu dengan nada profesional.

Amira menelan ludah.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Balasan Ken

    Blush!Wajah Ken seketika bersemu merah. Sampai tanpa sadar, laki-laki itu memalingkan wajahnya ke arah lain. Niat hati ingin mengerjai Sisil pagi ini, tetapi justru dirinya sendiri yang terkena serangan balik.Deg.Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat saat mengingat ekspresi polos Sisil barusan.“Mandi sana!” titah Ken singkat sambil berdeham pelan, berusaha menutupi rasa gugupnya.Sisil mengerjap bingung beberapa kali.“Lho? Kok berubah cepat banget?” batinnya heran.Ia bahkan sempat curiga Ken akan kembali menggodanya seperti tadi. Namun ternyata laki-laki itu malah menyuruhnya mandi dengan wajah memerah.“Jadi … aku selamat, kan?” batin Sisil lagi sambil menahan senyum.Tanpa membuang waktu, gadis itu segera berlari kecil masuk ke dalam kamar mandi. Hari sudah semakin siang dan mereka harus segera pergi ke rumah Arsya.Sementara itu, Ken berdiri mematung di depan lemari sambil mengusap wajahnya kasar. “Sial … kenapa malah aku yang salah tingkah?” gerutunya pelan.Ia menghela n

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Bukan Ciuman Pertama

    "Oh, jadi aku bukan ciuman pertamamu?" balas Ken. Suaranya mendadak terdengar datar dan dingin.Rahang laki-laki itu mengeras samar. Tatapannya masih tertuju pada Sisil, tetapi kini ada sesuatu yang berbeda di sana. Sesuatu yang membuat Sisil mendadak merasa bersalah.“Aku bisa dengan mudah mengetahui semua rahasia Nona muda, tapi kenapa dulu aku nggak pernah mencari tahu tentang Sisil?” batin Ken. “Dan sekarang, justru aku mengetahui fakta yang cukup mengejutkan.”“Apa mereka tinggal di kota ini?” tanyanya lagi pelan.“Iya,” jawab Sisil sambil mengangguk kecil. “Tapi aku nggak tahu sekarang mereka ada di mana.”Setelah itu, suasana mendadak hening.Ken menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang. Ia mencoba menekan rasa panas yang tiba-tiba memenuhi dadanya. Entah kenapa, membayangkan ada laki-laki lain yang pernah mencium perempuan di hadapannya membuat dadanya terasa sesak.Sisil yang menyadari perubahan ekspresi suaminya langsung panik sendiri.“Bukan aku lho ya yang mulai duluan,” uc

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Hadiah Dari Amira

    “Eh! Kak Dimas?”Sinta secepat kilat menyeka air matanya begitu melihat sosok Dimas sudah berada disampingnya. Angin malam berembus pelan, membuat rambut panjang gadis itu berantakan. Matanya masih sembab, jelas sekali ia baru menangis cukup lama.“Bukannya kamu udah janji buat nggak nangis lagi?” tanyanya lembut.Sinta menundukkan kepala. Jemarinya saling bertaut gelisah di atas pangkuan. “Maaf, Kak,” lirihnya. “Tapi hatiku sakit banget.”Dimas terdiam beberapa detik. Tatapannya melembut saat melihat wajah gadis itu yang tampak rapuh.Laki-laki itu lalu menepuk bahunya sendiri pelan, memberikan kode agar Sinta bersandar di sana. Namun, gadis itu hanya diam tanpa reaksi. Ia terlihat ragu.“Kenapa diam?” Dimas terkekeh pelan. “Aku cuma ngasih bahu, bukan hati.”Ucapan itu membuat Sinta tersenyum tipis untuk pertama kalinya malam itu. Perlahan, gadis itu menyandarkan kepalanya di bahu Dimas.Laki-laki itu tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia membiarkan Sinta merasa tenang terlebih dahulu.

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Ciuman

    Ken menjentikkan jarinya ke arah pembawa acara. Dengan langkah santai, ia mengambil mikrofon dari tangan sang MC yang langsung menundukkan kepala hormat.Sorot lampu taman yang hangat menyorot wajah tegas Ken malam itu. Jas hitam yang melekat di tubuhnya membuat auranya semakin berbeda. Bukan lagi sekretaris dingin yang selalu terlihat serius, melainkan seorang pria yang baru saja resmi menjadi suami dari perempuan yang dicintainya.Ken menoleh ke arah Arsya dan Amira yang berdiri di barisan depan. Keduanya sedang tersenyum ke arahnya.Dengan hormat, Ken menganggukkan kepala kepada Tuan dan Nona mudanya. Namun, di luar dugaan, Arsya dan Amira membalas anggukan itu.Mata Ken langsung membulat kecil. "Tuan menganggukkan kepala ke saya?" batin Ken terkejut. "Kalau Nona muda yang melakukannya sih masih wajar. Tapi sekarang Tuan juga? Ini pertama kalinya beliau ngelakuin itu."Ken sampai menelan ludahnya sendiri. "Apakah dunia akan kiamat? Tapi untungnya saya udah menikah duluan."Ucapan a

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Sah

    Mobil milik Arsya beserta iring-iringan kendaraan keluarga besarnya perlahan memasuki kawasan taman tempat acara pernikahan Ken digelar. Dari jarak beberapa ratus meter saja, penjagaan ketat sudah terlihat begitu jelas. Ratusan pengawal berdiri tegap dan berjajar rapi di sepanjang jalan menuju taman. Beberapa lainnya berjaga di setiap sudut area, memastikan tidak ada satu pun orang asing yang bisa masuk sembarangan.Ken memang sengaja membuat acara pernikahannya tertutup. Ia hanya mengundang keluarga inti dan orang-orang yang benar-benar dianggap penting dalam hidupnya. Tidak ada awak media, tidak ada sorotan kamera berlebihan, apalagi siaran langsung seperti pesta para konglomerat lainnya. Meskipun konsep pernikahannya menggunakan tema outdoor wedding yang mewah dan megah, Ken tetap ingin menjaga kesakralan momen itu agar terasa lebih hangat dan pribadi.Saat mobil Arsya berhenti tepat di depan pintu masuk taman, suasana yang semula ramai perlahan berubah hening.Para tamu undangan m

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Berangkat Ke Acara Pernikahan

    “Ya Tuhan … dia cantik sekali.”Arsya menahan napasnya sendiri saat netranya bertabrakan dengan wajah Amira yang masih terlihat terkejut. Perempuan itu berdiri membeku di depan cermin ruang ganti, sementara pipinya perlahan berubah merah karena tatapan suaminya yang terlalu intens.Gaun yang dikenakan Amira jatuh sempurna membalut tubuhnya. Rambutnya yang ditata sederhana justru membuat kecantikannya semakin menonjol. Dan yang paling berbahaya bagi Arsya adalah ekspresi gugup istrinya saat ini.“Apa kamu meragukan aku?” tanya Arsya pelan sembari menatap lekat kedua mata Amira.Amira menelan ludahnya gugup. “Kamu juga meragukan aku?” balasnya cepat, mencoba mengalihkan suasana yang semakin membuat jantungnya berdebar tidak karuan.Arsya tersenyum tipis. “Nggak,” jawabnya santai. “Kalau kamu yang meragukan aku, buat tanda di tubuhku sekarang juga.”Tatapan Arsya turun ke dada bidangnya yang masih terbuka karena kancing kemejanya belum sempat ia kaitkan sejak tadi.Amira langsung salah t

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Pulau Pribadi

    “Kamu pesan di mana? Cepat sekali datangnya?” tanya Arsya, alisnya terangkat sedikit, jelas heran melihat semuanya sudah siap dalam waktu singkat.“Di toko dekat sini. Aku pakai nama kamu, jadi bisa dikirim secepat kilat,” jawab Amira sambil terkekeh pelan. Ada nada bangga dalam suaranya, seolah ia

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Kedatangan Dokter Virgo

    Arsya terlihat menyunggingkan senyum tipis. Sorot matanya melembut, seolah tak percaya bahwa Amira benar-benar melakukan hal yang tadi sempat ia pikir hanya ancaman emosi sesaat. Ada rasa hangat yang menyelinap, meski di saat yang sama, kepalanya juga terasa pening memikirkan konsekuensi dari sikap

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Permintaan Amira

    “Sepertinya kita sederajat, ya? Bisakah kita berteman?” tanya Relia tanpa rasa canggung, bahkan cenderung terlalu percaya diri.Sisil yang berdiri tidak jauh dari sana langsung mengernyit. Alisnya terangkat, sementara jemarinya tanpa sadar mengepal.“Sederajat? Apa maksud wanita itu?” gumamnya pela

  • Aku Milikmu, Tuan Arsya!   Ketahuan Ciuman

    “Kamu marah?” tanya Arsya. Suaranya terdengar berat, seperti tertahan sesuatu yang sejak tadi ia paksa untuk tidak meledak.Amira tidak langsung menjawab. Ia berdiri di dekat ranjang, menatap ke arah jendela dengan mata yang mulai memerah. Napasnya naik turun, menahan emosi yang sudah sejak tadi be

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status