MasukDemi menyelamatkan keluarganya dari hutang dan pengobatan adiknya yang sakit, Amira rela menikah kontrak dengan CEO dingin karena sang CEO menolak dijodohkan. Yang awalnya hanya kesepakatan, perlahan berubah jadi perasaan. Tidak disangka, malam ketika sang CEO dan calon tunangannya sedang makan bersama, Amira dipaksa datang, kemudiaun Sang CEO menciumnya, di hadapan semua keluarga besarnya.
Lihat lebih banyak"Aku teman lama Sekretaris Ken. Boleh aku menunggunya di sini?" Bibi yang membuka pintu bingung dan meminta wanita itu menunggu. Sisil yang duduk disebelah Amira mendengar laporan bibi terkejut. "Eh dia cari Ken sampai ke sini?" "Siapa Sil? Kamu kenal. Kalau nggak biar security yang urus," tanya Amira.Senyuman Sisil seketika menghilang. "Cewek yang waktu itu di rumah Ken dulu. Di minimarket, aku bertemu lagi sama dia, aku heran kok dia tahu rumah Tuan Arsya," gumamnya."Mira, kita ijinkan dia masuk boleh. Aku numpang terima tamu di rumahmu. Aku ingin tahu Apa Ken sedekat itu sama dia?" Amira mengangguk. Ia mengikuti arah pandangan sahabatnya saat Bibi masuk. Seorang wanita bergaun putih krem berdiri di ambang pintu dengan senyum percaya diri. Wanita itu melangkah anggun ke ruang tamu lalu menyapa semua orang dengan ramah."Selamat siang semua. Saya Relia. Kenal dekat dengan sekretaris Ken. Boleh saya menunggunya di sini?" ""Silakan duduk," ujar Amira."Terima kasih. Saya ingin b
"Wah, nggak nyangka ya. Akhirnya kita bisa bertemu lagi disini," ucap wanita itu.Sisil masih terdiam, raut wajahnya mendadak datar. Ia memang tidak bisa menyembunyikan perasaannya."Ulat bulu ini kenapa bisa ada disini sih?" batin Sisil kesal."Kamu pasti lupa ya? Aku Relia, kita pernah bertemu di desa, di rumah sekretaris Ken dulu," ucap Relia sembari mengulurkan tangannya."Sisil," jawab Sisil singkat seraya menerima uluran tangan itu."Ternyata kamu tinggal disini ya? Apa kamu tau alamat sekretaris Ken?" tanya Relia tidak tau malu."Tau, dia udah menikah. Jangan mengusiknya," jawab Sisil datar."Haha, iya aku tau kok. Aku dengar kabar pernikahannya dari ibuku, tapi sayangnya pernikahan itu sangat private ya, jadi kami sangat penasaran dengan wajah istrinya. Secantik apa sih istrinya sampai bisa meluluhkan hati laki-laki dingin dan tampan itu?" ceracau Relia. Gadis itu tidak peduli dengan tatapan aneh para pengunjung minimarket terhadapnya."Aku ingin memukulinya saat ini juga!" ba
Hari ini adalah hari ketika Ken dan Sisil akhirnya kembali ke apartemen mereka. Setelah beberapa hari sibuk dengan berbagai urusan keluarga pascapernikahan, keduanya memutuskan untuk tinggal lebih dulu di apartemen milik Ken.Ibu Ken masih belum kembali ke desa. Wanita paruh baya itu rupanya masih ingin menikmati suasana kota selama beberapa hari lagi.Sementara itu, ibu Sisil dan adiknya sudah kembali ke rumah mereka sendiri. Meski demikian, hampir setiap hari wanita itu tetap datang mengunjungi apartemen putrinya.Sisil bahkan sudah berkali-kali melarang ibunya membersihkan apartemen, tetapi larangan itu seolah masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Setiap kali datang, ibunya selalu menemukan sesuatu untuk dibereskan.Jarum jam kini menunjukkan pukul sepuluh pagi.Kiara sudah berangkat ke sekolah sejak beberapa jam yang lalu. Ken dan Sean pun telah berada di kantor untuk bekerja.Kini hanya tersisa Sisil dan ibu mertuanya di apartemen yang terasa jauh lebih tenang dibanding biasan
Amira menghentikan mobilnya tepat di garasi luar.Di kursi teras, terlihat Arsya sedang duduk disana. Sementara Ken sudah berdiri tak jauh dari Tuan mudanya. Sorot mata Arsya seakan sudah mengintimidasi langkah Amira."Tumben sekali kak Arsya dan sekretaris Ken ada diluar!" bisik Elena sangat pelan."Mungkin mereka sedang menunggu kita, El," jawab Amira."Kita? Nunggu kak Mira aja kali," timpal Elena sembari mengulum senyumnya.Obrolan itu terhenti saat mereka sudah sampai di tangga teras. Ken terlihat sedang menganggukan kepalanya ke arah Amira dan Elena."Kak, aku ke dalam dulu ya," pamit Elena tiba-tiba.Amira hanya mengangguk pelan.Arsya menepuk tempat kosong disebelahnya. Tanpa berpikir panjang, Amira segera duduk di samping suaminya."Sayang, Ryu dimana?" tanya Arsya."Tidur di kamar Mama," jawab Arsya. "Apa yang kamu lakukan di toko kamu?" tanya Arsya."Tadi ada vendor yang menghubungi nomor toko, dan bertanya waktu luangku. Lalu aku jawab saat itu juga aku sedang luang, dan t
Dua manik itu kini saling bertatapan, seolah dunia di sekitar mereka mendadak lenyap. Hanya ada dada yang berdebar, napas yang saling bersinggungan, dan perasaan yang membuncah tanpa sempat diberi nama.“Maaf,” ucap Ken lirih.Ia masih membungkuk di hadapan Sisil yang duduk mematung, jemarinya sali
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Ken melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, sementara Sisil duduk di kursi samping kemudi. Lampu-lampu jalan memantul di kaca mobil, menciptakan bayangan yang bergerak pelan seiring laju kendaraan.Di dalam mobil, keheningan terasa tebal. Tidak ada ya
Amira sudah mengenakan blazernya dengan rapi. Kini ia duduk berdampingan dengan Arsya, sementara Ken berdiri sedikit di belakang mereka. Di ruang tamu mansion itu, suasana terasa formal dengan kehadiran seorang notaris dan pemilik mansion yang kini bersiap melepas rumah megahnya.Ken meletakkan seb
Ken sudah melajukan mobilnya menuju ruko sesuai perintah. Sementara itu, Amira benar-benar tidak bisa lagi menahan tawanya. Tubuhnya sedikit membungkuk, satu tangan memegangi perut, sementara yang lain menutup mulutnya yang masih bergetar karena tawa.“Apa kamu sesenang itu melihat aku malu?” tanya












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.