LOGINDemi menyelamatkan keluarganya dari hutang dan pengobatan adiknya yang sakit, Amira rela menikah kontrak dengan CEO dingin karena sang CEO menolak dijodohkan. Yang awalnya hanya kesepakatan, perlahan berubah jadi perasaan. Tidak disangka, malam ketika sang CEO dan calon tunangannya sedang makan bersama, Amira dipaksa datang, kemudiaun Sang CEO menciumnya, di hadapan semua keluarga besarnya.
View More“Tapi apa?” tanya Arsya ragu. Alisnya sedikit berkerut, seolah sudah menyiapkan diri untuk permintaan aneh berikutnya.“Aku mau makannya di taman aja.”Arsya dan Ken sama-sama mengembuskan napas lega. Setidaknya bukan permintaan yang terlalu merepotkan atau begitulah yang mereka kira.Namun, kelegaan itu tidak bertahan lama.“Aku, kamu, dan Sekretaris Ken makan bersama di atas rumput. Wah, pasti seru banget, ya!”Senyum Amira begitu cerah, penuh antusiasme, seolah sedang merencanakan piknik impian.“Makan di atas rumput? Maksudnya langsung di tanah? Tanpa alas? Bagaimana bisa? Itu pasti banyak kumannya …” batin Arsya, wajahnya mulai menegang.Sementara itu, Ken hanya bisa memijat pelipisnya dalam hati.“Kenapa aku selalu terseret?” gerutunya tanpa suara.Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup mereka, Arsya dan Ken—dua pria dingin yang terbiasa makan di ruang makan eksklusif dengan meja panjang dan tata hidang mewah harus bersiap duduk di atas rumput taman umum.***Setelah memesan
“Kamu mau tetap di sini?” tanya Arsya pelan, memecah keheningan lorong rumah sakit yang mulai sepi.“Tidak. Saya akan mengantarkan Anda, Tuan,” jawab Ken sigap, berdiri lebih tegak seperti biasa.“Tapi kan aku bawa mobil sendiri. Kita bisa pulang tanpa Anda, Sekretaris Ken!” celetuk Amira tiba-tiba, alisnya terangkat menantang.Ken hanya terdiam. Wajahnya tetap datar, meski dalam hati ia tahu perdebatan kecil seperti ini tak akan pernah benar-benar ia menangkan.“Kalau begitu, aku pamit dulu sama Sisil, ya,” ucap Amira seraya menoleh ke arah suaminya.Arsya mengangguk singkat. Ia tetap duduk di bangku besi di depan ruang perawatan, kaki disilangkan, tangan terlipat di dada. Tatapannya mengikuti langkah Amira sampai pintu tertutup kembali.***Di dalam ruangan, aroma obat-obatan masih terasa pekat. Sisil yang sejak tadi bersandar di ranjang segera tersenyum lebar ketika melihat sahabatnya masuk.“Sil, ini sudah malam. Aku mau pamit pulang dulu, ya,” ujar Amira lembut.“Yah, kok pulang
Sementara itu, di dalam ruang perawatan VVIP yang sunyi dan beraroma antiseptik, Sisil masih duduk bersandar di ranjang pasien. Lampu putih di langit-langit memantulkan bayangan pucat di wajahnya yang belum sepenuhnya pulih. Kedua tangannya saling menggenggam di atas selimut, seolah mencoba menenangkan degup jantungnya sendiri.Ken duduk di kursi tepat di samping ranjang, tubuhnya tegak, rahangnya mengeras. Tatapannya tertuju lurus ke depan, tetapi jelas bukan dinding yang sedang ia lihat.Keheningan di antara mereka terasa menekan.“Kamu menganggap kita ini apa?” tanya Ken tiba-tiba, suaranya rendah namun sarat penekanan.Sisil terdiam. Ia mengerjapkan mata pelan, mencoba mencerna pertanyaan yang terasa seperti tudingan itu. Jantungnya berdegup semakin cepat.“Aku tanya sekali lagi,” lanjut Ken, kini menoleh menatapnya. “Kenapa kamu tidak berpamitan denganku? Kenapa aku merasa kamu meremehkanku? Kenapa?”Nada suaranya tak meninggi, tetapi justru itu yang membuatnya terasa lebih tajam
“Bugh!”Amira refleks memukul lengan Sisil cukup keras hingga terdengar bunyi benturan yang lumayan nyaring. Sisil langsung meringis, wajahnya berubah dramatis seperti anak kecil yang dizalimi.“Aduh, Mira!” keluhnya, mengusap lengannya yang terasa perih.Perubahan sikap dua wanita itu dalam hitungan detik membuat Ken dan Arsya yang berdiri tak jauh dari sana nyaris tak mampu menahan tawa. Mereka saling pandang, berusaha tetap serius, meski sudut bibir sudah terangkat.“Kamu mau bilang apa, hah?!” tanya Amira sambil berkacak pinggang. Matanya melotot kesal, tapi di balik itu jelas terselip rasa khawatir.Sisil cemberut, bibirnya maju beberapa senti. “Baru aja tadi lembut kayak ibu peri. Sekarang berubah jadi ibu tiri galak.”Ken terbatuk kecil, menutup mulutnya agar tidak benar-benar tertawa. Arsya bahkan sampai memalingkan wajah.Amira mendengus. “Kamu itu lagi sakit, Sisil. Jadi, usahakan jangan mikir yang aneh-aneh dulu. Fokus sama kesehatan kamu. Jangan berpikir buruk.”“Mira, aku






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.