author-banner
Mediasari012
Mediasari012
Author

Novels by Mediasari012

Aku Milikmu, Tuan Arsya!

Aku Milikmu, Tuan Arsya!

Demi menyelamatkan keluarganya dari hutang dan pengobatan adiknya yang sakit, Amira rela menikah kontrak dengan CEO dingin karena sang CEO menolak dijodohkan. Yang awalnya hanya kesepakatan, perlahan berubah jadi perasaan. Tidak disangka, malam ketika sang CEO dan calon tunangannya sedang makan bersama, Amira dipaksa datang, kemudiaun Sang CEO menciumnya, di hadapan semua keluarga besarnya.
Read
Chapter: Diantara Nyawa dan Harapan
Ketiga laki-laki itu akhirnya masuk ke dalam mobil untuk menuju bandara. Ken sudah menyiapkan pesawat pribadi untuk perjalanan mereka kali ini, jadi semuanya terasa lebih cepat dan efisien.Amira berdiri di teras, melambaikan tangan dengan senyum tipis saat mobil itu perlahan menjauh dan melewati gerbang besar rumahnya. Tatapannya mengikuti sampai kendaraan itu benar-benar menghilang dari pandangan.Setelahnya, suasana mendadak terasa sepi.Cukup lama Amira terdiam di tempatnya berdiri. Ia mengusap perutnya pelan saat rasa nyeri kembali datang. Nafasnya mulai tidak teratur. Ia mencoba menenangkan diri, menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan.Satu kali.Dua kali.Tiga kali.Rasa sakit itu sedikit mereda."Tenang ... ini pasti cuma kontraksi biasa," gumamnya pelan, mencoba meyakinkan diri sendiri.Setelah kondisinya dirasa agak membaik, Amira berbalik masuk ke dalam rumah. Ia melangkah perlahan menaiki tangga, satu tangan bertumpu pada pegangan, sementara tangan lainn
Last Updated: 2026-04-21
Chapter: Kontraksi
“Kia, bibir kamu sakit?” tanya Aiden sambil menatap lekat ke arah gadis di sampingnya.“Tidaaak!” pekik Kiara kaget. Refleks, ia langsung menutup bibirnya dengan telapak tangan.Alih-alih menutup botol minuman itu kembali, Kiara justru terpaku. Pandangannya bergantian menatap bibir botol, lalu tanpa sadar melirik bibir Aiden. Napasnya terasa sedikit tertahan.Hangat.Entah kenapa, ada sensasi aneh yang merambat dari tengkuknya. Ia spontan meraba bagian itu, merasakan bulu kuduknya berdiri.“Kia, kita ke UKS, yuk. Wajah kamu pucat banget,” ujar Aiden, nada suaranya penuh kekhawatiran. Tanpa berpikir panjang, ia menggenggam tangan Kiara.Deg!Jantung Kiara seperti melompat keluar. Dadanya berdebar tak karuan, wajahnya makin memucat, bukan karena sakit—melainkan karena sesuatu yang sulit ia jelaskan.Dengan cepat, Kiara menarik tangannya dari genggaman Aiden.“Maaf, Kia … aku tadi refleks,” ucap Aiden, sedikit canggung. Ia segera menjauhkan tangannya.“Iya …” jawab Kiara pelan, berusaha
Last Updated: 2026-04-20
Chapter: Soto Ayam
Mobil yang dikendarai Ken dan Sean melaju cepat, menembus gerbang mewah kediaman Arsya. Ban mobil berdecit halus saat memasuki halaman luas yang dipenuhi taman rapi dan air mancur di tengahnya.Dari dalam mobil, Arsya sudah menangkap sosok istrinya yang berdiri di teras bersama Sisil. Meski hanya terlihat dari kejauhan, pesona Amira tetap tak berkurang sedikit pun. Angin sore mengibaskan rambutnya pelan, membuatnya tampak semakin anggun.Kedua mobil berhenti tepat di depan rumah megah itu.Seperti biasa, Ken dengan sigap turun lebih dulu. Ia berjalan cepat, lalu membukakan pintu mobil untuk tuannya dengan penuh hormat.“Selamat sore, Mbak Mira!” sapa Sean dengan senyum lebar, secerah mentari pagi.“Iya, Mas,” sahut Amira datar, tanpa senyum sedikit pun.Entah kenapa, setiap kali melihat Sean tersenyum seperti itu, ada rasa kesal yang muncul begitu saja di dalam hati Amira.“Sean, selamat berhadapan dengan Nona muda …” gumam Ken pelan, nyaris tak terdengar. Sudut bibirnya terangkat tip
Last Updated: 2026-04-19
Chapter: Sendok Pertama, Perang Dimulai
Sementara itu, di gedung tinggi Arkana Group …Arsya, Ken, dan Sean sudah duduk santai di sofa ruang kerja Presdir yang luas dan mewah. Cahaya matahari sore menembus dinding kaca besar, memantul di permukaan meja kerja yang dipenuhi tumpukan map. Berkas-berkas itu terlihat seperti tidak ada habisnya, membuat mata siapa pun yang melihatnya langsung terasa lelah.Namun, suasana tegang khas ruang kerja itu mendadak berubah karena satu hal sepele—sebuah kotak salad buah di tangan Sean."Kamu cuma beli satu?" tanya Arsya sambil melirik ke arah Sean yang tampak menikmati salad buah itu dengan santai, seolah dunia ini miliknya seorang.Sean mengunyah pelan sebelum menjawab, sengaja menunda untuk memancing emosi."Siapa yang beli?" sahutnya ringan. Ia lalu menyandarkan tubuhnya ke sofa. "Ini pemberian seseorang."Arsya mengangkat alisnya."Saat aku ke rumahmu tadi, aku bertemu seseorang, lalu dia memberikannya padaku," lanjut Sean, sengaja menoleh ke arah Ken dengan senyum penuh arti.Ken ya
Last Updated: 2026-04-18
Chapter: Saingan Didepan Mata
Dari arah belakang, terlihat Sinta berjalan cepat menuju ruang tamu. Langkahnya tergesa, seolah ada sesuatu yang mendesaknya untuk segera sampai. Gaun santai yang ia kenakan ikut bergoyang mengikuti ritme langkahnya."Wah, ternyata di sini rame juga ya," ujarnya begitu tiba, mendadak menghentikan langkah saat melihat tiga orang sudah berkumpul.Tatapannya menyapu ruangan, lalu berhenti pada Sisil. Bibirnya melengkung tipis, namun sorot matanya menyiratkan sesuatu yang lain."Kebetulan banget aku ketemu sainganku," lanjutnya ringan, tapi cukup tajam untuk terasa.Sean yang sejak tadi duduk santai, perlahan meletakkan boks salad buah ke atas meja. Ia bersandar, menyilangkan kaki, lalu menikmati pemandangan tiga perempuan cantik di depannya dengan ekspresi penuh minat, seolah sedang menonton pertunjukan menarik."Kak Sisil," panggil Sinta, kali ini dengan nada yang terdengar dibuat-buat tenang, "tadi kakak ipar kasih info kalau Sekretaris Ken mau nikah. Kayaknya … kita berdua harus mundu
Last Updated: 2026-04-17
Chapter: Bukan Buaya tapi Predator
Sementara itu, di kantor pusat, tepatnya di ruangan Arsya.Arsya duduk bersandar di kursi kerjanya yang besar, satu tangannya mengetuk pelan meja kayu di depannya. Wajahnya tampak lebih santai dari biasanya, bahkan ada sedikit senyum yang terselip tanpa ia sadari."Ken, sepertinya Mira senang sekali ya waktu aku meneleponnya tadi," ucap Arsya dengan nada ringan, seolah menyampaikan hal yang sangat wajar.Ken yang berdiri tak jauh dari meja hanya melirik sekilas, ekspresinya datar, tetapi isi kepalanya jelas tidak sejalan dengan ucapan atasannya."Bukan Nona muda yang senang, tapi Anda sendiri yang senang, Tuan. Bisa-bisanya membalikkan fakta semudah itu," batin Ken.Arsya menghela napas pendek, lalu melanjutkan dengan nada sedikit lebih serius, meski masih terdengar santai."Ken, kalau nanti kamu sudah menikah, jangan sampai kamu terlihat terlalu menggilai pasanganmu. Bisa-bisa harga dirimu jatuh berkeping-keping."Ken mengangkat alisnya tipis, lalu tanpa pikir panjang menjawab, "Buka
Last Updated: 2026-04-16
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status