MasukBu Neila sudah selesai mengurus prosedur, sedang bersiap masuk ke ruangan sambil menasihatiku, "Meskipun tidak ada tulang yang patah, kamu tetap harus beristirahat dengan baik. Jangan lalai. Oh ya, aku ingat rumah sakitmu menyedikan jasa suntik untuk kecantikan. Wanita menyukai kecantikan, jadi lebih baik jangan sampai lukanya meninggalkan bekas.""Baiklah." Aku menjawabnya singkat, lalu menarik lengan bajunya. "Bu Neila, aku memiliki pertanyaan. Apakah ketiga tersangka ini saling mengenal?""Mereka tidak saling mengenal." Bu Neila mungkin tidak menyangka topik pembicaraanku akan berubah secepat ini. Dia tanpa sadar menjawabku, lalu menjelaskan, "Ketiga orang ini muncul di samping mobil van pada waktu yang berbeda, tidak muncul bersamaan. Ketika membawa mereka bertiga masuk, Sandy sudah menanyakannya. Mereka sendiri juga mengatakan tidak saling mengenal."Keningku mengerut makin dalam. "Tidak saling mengenal?"Aku tentu saja percaya pada kata-kata Bu Neila. Dia tidak akan membohongiku,
"Brak!" Bu Neila menghantam meja dengan keras, lalu langsung berdiri.Pada waktu yang sama, aku juga akhirnya mengeluarkan suara, "Itu dia!""Dokter Raisa, apa kamu yakin?" Pak Sandy juga terus menatap setiap gerak-gerik Galen yang ada di seberang. Wajah Pak Sandy tampak sangat muram. Ketika Bu Neila disinggung dengan kata-kata Galen, Pak Sandy tampak mengerutkan kening, seakan ingin segera pergi ke sana.Ketika mendengar suaraku, Pak Sandy menghentikan langkahnya, lalu bertanya padaku lagi, "Bagaimana kamu membuat penilaian itu?""Suaranya." Aku masih mengepalkan tinjuku dengan erat hingga kukuku hampir menembus telapak tanganku.Tenggorokanku masih kering, bahkan sulit untuk mengeluarkan suara. Namun, yang menyebabkanku sulit mengeluarkan suara bukan karena tenggorokanku yang membutuhkan air, melainkan karena ketakutan.Ketakutan yang tidak asing.Itu adalah orang misterius yang selama ini mengganggu dan mengancamku dengan nomor yang tidak dikenal.Dia pernah mengirimkan pesan singka
Setelah Paman Dika memarkirkan mobil, dia langsung mengikutiku masuk. Tadi aku hanya sibuk berbicara dengan Pak Sandy, tidak memperhatikannya.Saat ini Paman Dika tiba-tiba membuka mulut mengatakan hal ini, membuatku terkejut. "Kamu melihatnya di tempat kejadian kecelakaan?"Saat kecelakaan terjadi, otakku kosong, sementara mataku hanya tertuju pada Ardi yang tertabrak. Aku hanya ingin segera berlari ke sisinya untuk memeriksa kondisinya, sama sekali tidak memiliki waktu untuk memperhatikan situasi di sekitar.Aku tidak menyangka Paman Dika mampu mengenali orang asing.Seolah membaca pikiranku, Paman Dika menjelaskan, "Sebenarnya aku juga tidak memperhatikan orang ini, tapi orang ini penampilannya terlalu menonjol. Waktu itu banyak orang berjalan menuju tempat Pak Ardi mengalami kecelakaan, tapi hanya dia seorang yang berjalan keluar dari samping Pak Ardi. Aku kebetulan bertatapan muka dengannya, jadi aku memperhatikannya."Setelah Paman Dika menunjuk pria pendek itu, dia menaikkan nad
Dasar bodoh! Ardi si bodoh ini! Dia pasti sudah gila sampai memikirkan rencana seperti ini.Menggunakan dirinya sendiri sebagai umpan untuk memancing tikus yang bersembunyi di tempat gelap itu keluar? Dia bahkan bisa memikirkan cara seperti ini!Seumur hidupku, aku belum pernah mendengar rencana yang lebih bodoh dari ini!Aku memaki Ardi, tetapi hatiku juga merasa sangat sakit. Air mata yang panas bergulir di pelupuk mataku, sementara suaraku tercekat, "Dia memang seorang idiot.""Ya, waktu itu aku memang menolaknya, bahkan mengingatkannya kalau ini bukan cara yang baik. Tapi sepertinya dia tidak mendengarkan kata-kataku." Suara Pak Sandy merendah.Benar, Ardi memang tidak mau mendengarkan.Sekarang aku curiga bahwa kasus kecelakaan kali ini tidak hanya berada dalam perhitungan pelaku, tetapi juga sudah berada dalam perhitungan Ardi.Karena aku teringat kata-kata ayah mertuaku sebelumnya. Ayah mertuaku mengatakan bahwa Ardi tiba-tiba memintanya menarik pengawal yang ditempatkan di samp
Ketika membicarakan hal ini, raut wajahku menjadi serius. Aku mengangguk sambil berkata dengan suara pelan, "Mereka menemukan tiga orang tersangka. Ketiganya dicurigai. Polisi menyuruhku datang untuk mengidentifikasi mereka.""Ternyata begitu." Paman Dika mengangguk, tidak berbicara lagi, hanya diam-diam mempercepat laju kendaraan.Mobil segera tiba di kantor polisi. Setelah turun, aku langsung berlari masuk dengan tidak sabaran. Di kantor polisi hanya ada Pak Sandy.Begitu melihatku, dia langsung berdiri. "Dokter Raisa.""Pak Sandy, apa hanya kamu sendiri yang ada di sini? Di mana tersangkanya?" Aku bahkan tidak berbasa-basi dengan Pak Sandy, langsung bertanya dengan tidak sabaran.Pak Sandy juga tidak banyak berbasa-basi, langsung membawaku masuk ke sebuah ruangan.Di dalam ruangan yang terpisah oleh satu lapis kaca, aku bisa melihat tiga orang berdiri di seberang ruangan. Di hadapan mereka duduk Bu Neila.Ternyata yang menangani kasus ini bersama Pak Sandy malam ini adalah Bu Neila.
Sekarang juga sedang masa tahun baru, setiap keluarga sibuk merayakan tahun baru. Malam ini terlebih lagi adalah hari reuni seluruh keluarga. Aku mengira perkembangan kasus ini tidak akan berjalan secepat ini. Setidaknya aku harus menunggu sampai tahun baru selesai, baru akan ada hasilnya.Aku tidak menduga, bukan hanya ada perkembangannya, tetapi juga begitu cepat. Setelah kasus ini diserahkan, kantor polisi sudah menangkap tersangka hanya dalam waktu dua hari.Hasil ini membuatku tidak sabar untuk melihatnya.Aku bahkan tidak memiliki waktu untuk memberi tahu siapa pun. Setelah merapikan selimut Ardi, aku langsung merapatkan jaket dengan erat, lalu keluar dari pintu rumah sakit dengan tergesa-gesa.Namun, sangat sulit mendapat mobil di malam tahun baru seperti ini. Aku mengeratkan jaket sambil berdiri di tengah terpaan angin dingin. Tidak ada satu pengemudi pun yang menerima pesananku di aplikasi. Aku memasukkan tangan yang mulai mendingin beserta ponselku ke dalam saku, bersiap perg







