Share

Bab 836

Author: Celine
Pernikahanku dengan Ardi digelar di Hotel Darstan Nowa.

Aku pernah mengatakan bahwa pernikahan ini terlalu mewah, tidak perlu membuat yang semeriah ini. Namun, ibu mertuaku berkata bahwa Keluarga Wijaya jarang sekali mengadakan perayaan bahagia. Terlebih lagi, ini adalah pesta pernikahanku dengan Ardi. Dia sangat menghargainya, jadi sudah sepantasnya digelar dengan megah.

Para tamu berdatangan memenuhi tempat.

Aku berada di ruang ganti, sementara penata rias dan penata gaya mengurus segalanya untukku.

Ketika gaun pengantin melekat di tubuh, aku merasa sedikit linglung saat menatap diriku sendiri di cermin.

Meskipun aku sudah mencoba gaun pengantin ini sebelumnya, tampilannya hari ini terasa berbeda dengan hari itu.

Auranya berbeda.

"Pantas saja orang mengatakan kalau pengantin wanita adalah gadis tercantik di dunia pada hari pernikahan. Kak Raisa, hari ini kamu cantik sekali. Wajahmu berseri seperti bidadari yang turun dari surga!" Devi berjalan dari belakang, membuka lebar matanya den
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Aku Minta Diceraikan, Dia Malah Mewek-mewek   Bab 952

    Aku merencanakan semua ini karena memiliki alasan.Pertama, aku meninggalkan Keluarga Wijaya dengan alasan pergi ke Gama untuk berbelanja, jadi nanti aku akan mudah menjelaskan pada ibu mertuaku. Bagaimanapun juga, sebelumnya aku tidak memberi tahu ibu mertuaku tentang berita ini.Kedua, aku tidak bisa datang dengan tangan kosong untuk menemui Hasan. Komunikasi yang baik membutuhkan suasana yang santai dan damai, serta emosi yang menyenangkan. Untuk mendapatkan suasana serta emosi ini, aku perlu melakukan lebih banyak hal. Aku perlu membuat Hasan merasa senang.Paman Dika tidak banyak berbicara, langsung menyetir mobil pergi ke Gama. Aku masuk untuk berkeliling sendirian, membeli beberapa barang, lalu kembali ke mobil 2 jam kemudian."Nyonya Raisa, apakah kita sekarang akan makan dulu sebelum pergi ke rumah sakit? Apa yang ingin kamu makan? Apakah kita akan pulang ke rumah makan atau makan di luar?" tanya Paman Dika dengan sangat cermat.Dia adalah orang yang cukup perhatian. Ketika di

  • Aku Minta Diceraikan, Dia Malah Mewek-mewek   Bab 951

    Namun, aku juga tahu bahwa pekerjaan Ardi memang sangat sibuk. Kejadian hari ini datang dengan tiba-tiba, tanpa ada pengaturan sebelumnya. Wajar jika Ardi tidak bisa meluangkan waktu.Ardi sepertinya bisa merasakan kekecewaanku. Lengannya melingkari bahuku ketika berkata, "Sayang, aku berjanji padamu kalau aku pasti akan meluangkan waktu untuk melihatnya. Kamu tahu kalau aku tidak akan mengingkari janji yang aku buat.""Baiklah." Sebenarnya, aku sendiri juga sudah memahaminya.Aku langsung mengikuti Ardi duduk di meja makan. Bibi Siti membawakan satu porsi sarapan, meletakkannya di depanku, sementara ibu mertuaku yang ada di samping bertanya padaku, "Raisa, apa yang kalian bicarakan tadi? Ceritakan padaku agar Ibu juga bisa mendengarnya.""Itu ...." Aku baru saja hendak membuka mulut untuk berbicara.Namun, Ardi yang ada di samping sudah memotong sambil menekan tanganku dengan lembut, "Ini adalah rahasia kami. Bu, jangan bertanya lagi. Pasangan itu hanya dua orang, bukan tiga orang. Ti

  • Aku Minta Diceraikan, Dia Malah Mewek-mewek   Bab 950

    Hasan ternyata sudah sadar.Aku mengira dia tidak akan pernah sadar lagi, akan selalu berbaring di rumah sakit dalam keadaan koma sampai hidupnya berakhir. Karena terakhir kali setelah Ardi menyelesaikan operasinya, dia sudah membuat kesimpulan.Ardi mengatakan bahwa Hasan mungkin tidak akan pernah tersadar lagi. Otaknya rusak, jadi dia mungkin akan terus tertidur.Aku juga mengira bahwa seumur hidup ini aku tidak akan bisa berbicara dengan Hasan lagi.Pertanyaan yang tadinya ingin aku tanyakan padanya mungkin juga tidak akan pernah mendapatkan jawaban.Namun, hidupku sudah berjalan sampai tahap ini, jadi pertanyaan itu juga sudah tidak terlalu penting lagi. Meskipun tidak mendapat jawaban, itu juga tidak apa-apa, aku sudah tidak peduli.Hanya saja, takdir sepertinya memberikan kesempatan sekali lagi pada Hasan. Sepertinya takdir juga memberiku kesempatan.Aku ingin pergi ke rumah sakit, ingin menemui Hasan.Namun, Nyonya Lina yang ada di ujung lain menolak dengan tegas, "Raisa, jangan

  • Aku Minta Diceraikan, Dia Malah Mewek-mewek   Bab 949

    Ini sudah cukup. Aku seharusnya merasa puas.Makan malam ini tetap aku makan dengan gembira. Hanya saja, aku tetap tidak bisa tidur malam itu. Aku bisa melihat wajah Ardi sudah menunjukkan tanda-tanda kelelahan, tetapi aku masih sangat segar, sama sekali tidak mengantuk.Aku pun membujuknya, "Kamu tidur duluan saja.""Lalu, bagaimana denganmu?" Ardi langsung balik bertanya.Aku mengambil buku kedokteran yang tebal dari samping tempat tidur. "Aku akan membaca buku sebentar agar bisa tertidur. Kamu tidur saja, aku tidak akan mengeluarkan suara."Meskipun sedang cuti panjang di rumah, aku tidak membiarkan diriku berhenti belajar. Dulu karena pekerjaan yang sangat sibuk, rasanya waktu untuk beristirahat masih tidak cukup. Jadi, aku hanya bisa belajar di waktu-waktu luang. Namun, sekarang aku memiliki waktu luang yang berlimpah. Ini adalah kesempatan emas untuk mengasah kemampuanku.Aku mematikan lampu utama di kamar, lalu menyalakan lampu kecil di samping tempat tidurku.Ardi memang berbar

  • Aku Minta Diceraikan, Dia Malah Mewek-mewek   Bab 948

    Ibu mertuaku selalu dimanja dan diperlakukan istimewa oleh ayah mertuaku. Namun, ketika menyangkut hal besar, dia sepertinya masih mendengarkan pengaturan ayah mertuaku. Sejak aku kembali ke lantai tiga sampai sekarang, hanya sekitar dua puluh menit berlalu, tetapi mereka sudah mencapai kesepakatan.Sepertinya ibu mertuaku akhirnya mengikuti keputusan ayah mertuaku.Hatiku merasa jauh lebih tenang. Aku bertanya pada ayah mertuaku, "Ayah, apa kamu baru pulang? Apa kamu sudah makan?""Aku sudah makan di luar. Tidak apa-apa, kamu makan saja," kata ayah mertuaku sambil melambaikan tangan dan tersenyum.Aku pun mengangguk.Namun, ibu mertuaku tampak sedikit terkejut ketika melihatku. "Raisa, bagaimana kamu tahu ayahmu baru saja pulang?"Langkah ayah mertuaku yang tadinya hendak naik tiba-tiba terhenti. Dia berbalik menatapku, sementara aku juga tertegun. Aku melihat ibu mertuaku menunjukkan tatapan bertanya-tanya, membuatku seketika tidak bisa berbicara.Benar juga, aku baru saja turun dari

  • Aku Minta Diceraikan, Dia Malah Mewek-mewek   Bab 947

    Ketika melihatku, Ardi tertegun sejenak. "Sayang, apa kamu yang berbicara tadi?"Ternyata dia juga terganggu oleh suara pertengkaran ayah dan ibu mertuaku."Bukan, aku baru bangun tidur, tidak berbicara." Aku menggelengkan kepala, lalu berjalan menuju arahnya. "Apa yang sedang kamu lakukan di sana?"Sekarang sudah malam, di luar sudah tidak ada sinar matahari lagi. Ardi tidak mungkin sedang berjemur, 'kan?"Aku sedang menata bunga." Ardi mengulurkan tangan untuk menarik tanganku, lalu menarik jaket di bahuku. "Cuacanya dingin, kenapa kamu tidak memakai baju dengan benar?"Sebenarnya tadi aku sudah memakainya dengan benar. Hanya saja, tadi aku terlalu terburu-buru untuk berlari naik, hingga tidak memperhatikan jaket yang miring di bahuku.Aku tidak menjawab pertanyaan Ardi, langsung mengikutinya masuk ke teras atap. "Bunga apa yang sedang kamu tata? Biar aku melihatnya.""Bunga yang kamu suka, bunga kamelia." Ardi tersenyum sambil merangkul bahuku, membawaku masuk bersama.Benar saja, d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status