LOGIN"Perusahaan ini sudah aku beli. Hanya ada dua pilihan, sponsor magangmu diputus atau jadikan aku selingkuhanmu." "Gila kamu William!" Fiona Grace, karyawan magang pejuang sponsor. Ia terjebak hubungan toxic dengan sang kekasih yang menumpang hidup dan mantan yang memiliki riwayat buruk. Tetap setia dengan kekasih yang buruk atau melanggar moralitas agar tidak kehilangan sponsor sekaligus pekerjaan?
View MoreChapter 1
The scent of old books and polished wood filled Ambelyn's nose as she sat in the clean white waiting area outside her husband's office, waiting for him to finish screwing his mistress before he could attend to her.
The familiar aroma of the place transported her instantly back to another place, another time, where she was happy—six years ago in the college library where she made the happiest mistake of her life and the oner who made her turn out like this years later.
The memory crashed over her like a wave she couldn't fight against.
"Look what we have here," Niklaus's voice was low enough to avoid being overheated by the head librarian but was intense enough to send shivers down Amberlyn's back, as she was pinned against the bookshelf, her hands gripping tightly to her short skirt as she tried to maintain her composure, to avoid shattering into pieces, while his hands gripped her narrow waist tightly, coming closer even more, shortening the distance between them.
"Always hiding in the shadows, aren't you, little mouse?" His fingers had found a strand of her dark hair, twisting it between his fingers with deliberate slowness. The gentle tug had sent shivers down her spine, making her gasp despite herself.
The sound had seemed to please him, as he smirked while her face turned red from embarrassment.
"What's wrong? Cat got your tongue?"*
She should have pushed him away. Should have demanded he leave her alone. Instead, she'd stood frozen, caught between fear and arousal, and it was something that was becoming too strong for her to resist.
*"You know what I think?" he'd whispered, leaning closer until she could feel his breath against her ear.
"I think you like this. I think you like being cornered by the big bad wolf.
"Mrs. Blackwood? Mrs. Blackwood!"
The sudden call of her name jerked Ambelyn back to the present with jarring force. She blinked rapidly, disoriented, as the white hallway came back into focus. Linda, her husband's secretary, stood before her looking very irritated with her.
"I'm sorry," Ambelyn managed to croak out despite the dizziness, pressing her palm against her chest where her heart still hammered from the vivid memory.
"I was... lost in thought."
Linda's eyebrow arched with obvious disapproval. The woman had never liked her, though Ambelyn suspected it had less to do with her personally and more to do with the fact that LInda craved the position of being Mrs Blackwood herself.
"Mr. Blackwood will see you now," Linda announced immediately, with a kind of high pitched tone that did not do anything to hide the disdain dripping from her words.
"Though I should warn you, he's had a very busy afternoon."
The hidden meaning of her words hung heavy in the air between them.
Ambelyn's fingers tightened around the hospital forms she clutched—the papers that represented her son's only chance at survival.
She couldn't afford pride right now. Iniko needed this surgery, and she would endure whatever humiliation necessary to ensure he got it.
"Thank you," she said simply, rising from the plush leather chair.
Linda's smile was sharp as a blade.
"He's in his private office. You know the way."
Of course she did. How many times had she made this walk over the past five years? How many times had she swallowed her dignity and knocked on that door, begging for scraps of attention, of affection, of basic human decency from the man who was supposed to be her partner in life?
Ambelyn paused outside the heavy oak door, gathering what remained of her courage for her to face through whatever was behind that door.
Through the wood, she could hear muffled voices—her husband's tone, accompanied the familiar mistress voice and her stomach clenched with dread.
She knocked softly and waited.
"Come in."
Thomas's voice carried that particular note of irritation it always held when addressing her.
She turned the handle and stepped inside, immediately understanding why Linda had worn that triumphant smirk.
The scene before her was like something out of a fever dream.
Thomas sat behind his massive mahogany desk, his impeccable suit wrinkled and his dark hair mussed from hands moving through them.
But it was the woman perched on the edge of his desk who drew attention to herself, Veronica his first love, his true love, the mother of his second child.
Veronica didn't bother to look embarrassed. Instead, she smoothed down her dress, while she smirked slower like she had won a bet as she addressed me.
"Well, well. Look who finally decided to join us."
"Shameless," Veronica continued, sliding off the desk with feline grace.
"Standing out there for hours while we conducted our... business. Tell me, do you enjoy the show?"
Heat flooded Ambelyn's face, but she forced herself to meet Veronica's eyes as she spoke loud and clear, not longer hurt by the cheating her husband did, on the side.
"I came here for one reason only." She held up the hospital forms.
"Thomas, I need you to sign these. For Iniko."
Her husband finally looked at her then, and the cold indifference in his dark eyes was worse than outright hatred would have been.
Thomas Blackwood was a handsome man right from childhood, but there was nothing soft and warm on his face, nothing that pointed out that he saw her as anything less than trash and an inconvenience.
"I don't feel like it anymore," he said simply, straightening his tie with the kind of casual dismissal one might use to refuse a second cup of coffee.
The words hit her like a physical blow. "What?"
"You heard me." He leaned back in his leather chair, studying her with the same way, an scientist would look at an specimen.
"I've changed my mind about the surgery."
"Thomas, please." The desperation in her voice was clear, but Amberlyn was long gone past caring about her pride and dignity.
"This is our son's life we're talking about. Iniko needs this operation. Without it—"
"Without it, what?" Veronica interjected, her voice dripping with false concern. "Oh, that's right. The little bastard might die."
Udara musim semi membawa aroma bunga yang bermekaran, sementara lonceng-lonceng kecil gereja tua berdentang pelan, menciptakan ritme damai yang memeluk seluruh kota.Di halaman taman villa klasik yang disewa khusus untuk acara itu, kursi-kursi putih tersusun rapi. Taman mawar yang dipangkas indah membingkai altar marmer berbalut kain satin gading.Lalu Fiona datang.Ia berjalan keluar dari pintu villa dengan gaun putih sederhana yang jatuh anggun mengikuti lekuk tubuhnya. Gaun itu tidak mewah, tidak berkilau berlebihan—hanya elegan, lembut, dan memancarkan keindahan yang tidak bisa ditiru siapa pun.Rambutnya disanggul rapi dengan beberapa helai yang sengaja dibiarkan jatuh, dihiasi bunga peony putih. Matanya berkilau, bukan karena makeup, tetapi karena kebahagiaan yang hampir meluap.Jessica, sahabat setianya, berdiri di samping, hampir menitikkan air mata.“Kau cantik sekali… William pasti akan pingsan.”Fiona tertawa pelan, gugup namun bahagia.“Kalau dia pingsan, kau yang angka
Udara lembap membawa aroma tanah basah, sementara di dalam ruang kerja William, suasana begitu tenang—kontras dengan badai besar yang baru saja berlalu.Seminggu penuh dunia bisnis diguncang oleh kejatuhan Ratore Group.Laporan korupsi lintas negara, manipulasi dana, hingga skandal politik yang melibatkan pejabat tinggi—semuanya terbongkar satu per satu. Nama besar yang dulu disegani kini hanya tinggal sejarah kelam di headline surat kabar.William berdiri di depan jendela, memandangi hujan. Di belakangnya, Fiona duduk di sofa dengan secangkir teh hangat di tangan.“Sudah berakhir, kan?” tanyanya pelan.William menoleh, sorot matanya lembut namun tetap mengandung sisa kewaspadaan. “Ya. Elizabeth sudah diamankan di bawah pengawasan otoritas internasional. Tak ada lagi kekuatan Ratore yang bisa menyentuh Winston.”Fiona menunduk, menggenggam cangkirnya erat. “Aku tidak tahu apakah aku harus lega... atau kasihan.”William mendekat, berlutut di depannya, tangannya menggenggam jemari Fi
Langit kota London tampak muram pagi itu. Awan menggumpal tebal di atas gedung-gedung tinggi, menandakan hujan akan turun lagi. Namun di balik jendela kaca kantor Winston Holdings, suasananya justru lebih mencekam daripada cuaca di luar.Di ruang rapat utama, William berdiri tegak di depan layar besar yang menampilkan grafik saham yang menukik tajam—bukan milik Winston, melainkan milik Ratore Group.“Ini baru permulaan,” katanya tenang, matanya tajam menatap setiap garis grafik yang jatuh ke bawah.James yang berdiri di sisi lain meja menatap dengan kagum. “Tuan, jika tren ini berlanjut, mereka kehilangan hampir dua puluh persen valuasi dalam dua minggu.”William mengangguk pelan. “Biarkan pasar bekerja. Dunia bisnis selalu punya caranya sendiri membalas keserakahan.”Sementara itu, jauh di seberang kota, di gedung tinggi milik keluarga Ratore, Elizabeth menatap layar tablet di tangannya dengan ekspresi murka.“Siapa yang berani menjual saham kita sebanyak ini?” teriaknya, membantin
Fiona berdiri di depan perapian, memeluk lengannya sendiri, sementara William masih di tempat yang sama—berdiri di ambang pintu ruang tamu, dengan tatapan yang tak bisa ia baca.“Jawab, William.”Nada suara Fiona terdengar datar, tapi matanya bergetar menahan emosi.“Apakah kau masih berhubungan dengan keluarga Ratore?”William tidak langsung menjawab. Ia menghela napas panjang, menatap api yang menari di perapian. “Aku tidak bisa memutus hubungan bisnis begitu saja, Fiona. Tidak setelah semua yang mereka lakukan untuk mempertahankan Winston Holdings.”“Kau masih berutang pada mereka?”“Tidak secara uang.”“Lalu apa?”William mendekat perlahan, suaranya pelan tapi tegas.“Mereka menolong Winston dari kebangkrutan ketika aku kehilangan semua akses permodalan di Eropa. Tapi bantuan itu... berbalik menjadi belenggu. Setiap kali aku mencoba lepas, mereka menekan lewat cara lain—termasuk memakai Elizabeth.”Fiona menunduk, kedua tangannya mengepal. “Jadi semua yang selama ini dia katakan
Tiga hari setelah data itu ditemukan, suasana Winston Holdings berubah seperti ladang ranjau.Tak ada yang bicara terlalu keras, tak ada yang tertawa terlalu lama.Semua orang bekerja dalam diam, seolah takut suara mereka akan memicu sesuatu yang lebih besar dari sekadar krisis perusahaan.William
Ruang rapat utama Winston Holdings pagi itu dipenuhi udara tegang. Suara bisikan para staf berbaur dengan dering telepon yang tak berhenti. Di layar besar di depan mereka terpampang sederet berita daring dari berbagai portal media.“Skandal Cinta CEO Winston dengan Mantan Karyawan Magang!”“Fiona
Fiona datang lebih awal dari biasanya, berharap bisa bekerja dengan tenang tanpa menghadapi tatapan aneh dari rekan-rekan. Namun baru sepuluh menit duduk di meja kerjanya, ponselnya bergetar — pesan dari Jessica."Fi, dengar-dengar bakal ada rapat darurat direksi pagi ini. Katanya soal 'isu intern
Suasana kantor Winston berubah drastis.Bisikan halus terdengar di setiap sudut koridor. Tatapan-tatapan cepat muncul setiap kali Fiona lewat. Tak ada lagi sapaan hangat dari rekan-rekan yang dulu memujinya atas kerja keras. Semua digantikan bisikan samar, senyum pura-pura, dan rasa canggung yang


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews