Share

06. Kecurigaan

Penulis: ime-chan
last update Tanggal publikasi: 2025-01-25 18:00:16

Cahaya pagi menyusup masuk ke apartemen mereka yang minimalis, memantulkan kemewahan sederhana dari lantai kayu yang mengkilap. Ayesha tengah duduk di kursi dekat dapur, mengenakan piyama sutra berwarna sage, memegang secangkir teh hangat di tangannya. Di atas meja, vas bunga mawar merah yang sudah mulai layu tetap berdiri layaknya hubungan mereka yang kian terasa rapuh. Pikirannya sedang terbang, tersangkut pada jaring kekosongan yang sulit diuraikan, sementara suara langkah Daren mencatut jarak kian mendekat dari arah kamar tidur.

Daren muncul seperti biasanya dengan jas formal yang kali ini berwarna abu-abu, dasinya sudah tergantung rapi di leher tanpa bantuan Ayesha. Rambut hitam pendeknya disisir sempurna menonjolkan wajah karismatik. Namun, kali ini, ada sedikit perbedaan dalam gerak-geriknya. Langkah Daren terlihat tergesa-gesa, tatapannya enggan menyapa mata Ayesha saat dia melangkah ke dapur untuk menyambut kopi paginya.

“Hari ini, aku akan pergi lebih awal,” katanya diantar suara datar tanpa nada hangat yang biasanya memeluk telinga Ayesha, “ada rapat penting dengan tim sukses program baru,”

Ayesha menatapnya dari balik cangkir teh, alisnya sedikit terangkat, 

“Rapat lagi? sepertinya kau rapat terus-terusan minggu ini,”

Daren terdiam sejenak, menghela napas seolah sedang mencoba menahan kekesalannya,

“Ayesha, kau tahu seberapa sibuknya aku dengan program sosial akhir-akhir ini, proyek yang sangat penting menjadi batu loncatan bagiku, jadi aku perlu memastikan semua berjalan dengan lancar,”

Ayesha mengangguk, perlahan mencoba memahami keadaan, tetapi dalam hatinya merasa ada yang tak betul,

“Aku tau, tapi... aku cuma merasa kita semakin menjauh, hampir tak pernah bicara lagi, bahkan saat kita bersama, kau selalu memikirkan hal lain,”

Daren akhirnya menatap Ayesha, tetapi tatapan yang cepat dan dangkal,

“Aku juga tak punya pilihan, aku janji ini cuma sementara, begitu aku terpilih oleh AP, semuanya akan kembali normal, aku janji, bersabarlah sedikit,”

“Sabar?” Ayesha meletakkan cangkir dengan sedikit keras, menimbulkan suara risih yang membuat Daren melirik tajam, “Daren, aku mendukungmu sejak awal, aku mengorbankan waktuku, pekerjaanku, untuk membantumu, tapi jika kamu mau terus seperti ini, kapan punya waktu untuk kita?”

“Ayesha,” potong Daren dengan nada lebih tegas. “Aku sedang tidak ingin memperdebatkan ini sekarang, aku pergi dulu,” Dia meraih jaketnya dan berjalan menuju pintu tanpa menunggu jawaban. Sebelum dia benar-benar keluar, kepalanya sempat menoleh sebentar, “kita bicarakan ini nanti, oke?”

Ayesha pun tak menjawab. Dia hanya duduk diam, memandangi pintu yang sudah tertutup di belakang Daren. Ruangan itu sekarang terasa jauh lebih sunyi, seolah kepergiannya membawa serta semua kehangatan yang pernah ada. Ayesha menunduk, menyaksikan tangannya sendiri gemetar pelan. Dia tahu bahwa dia masih mencintai Daren, tetapi cinta itulah yang kian mulai terasa seperti beban menekan dadanya.

Hari itu, Ayesha berusaha bekerja di laboratorium agar pikirannya teralihkan. Dia mencoba kembali fokus ke tawon-tawon Vespa mandarinia yang menjadi subjek utama penelitiannya. Cahaya lampu neon di ruang laboratorium memantul dari kaca kandang serangga, menciptakan kilauan aneh di mata Ayesha. Dia mengamati habit dan gerakan tawon-tawon itu dengan intensitas yang hampir obsesif, mencatat setiap perubahan mereka.

“Kurasa mereka terlihat lebih agresif,” gumamnya sambil mencatat, “apa mungkin ini efek dari modifikasi genetik yang baru?”

Tetapi di tengah perhatiannya pada eksperimen, pikirannya terus kembali kepada Daren. Kilas ingatan tentang malam-malam ketika mereka dulu membicarakan tentang rencana masa depan mereka sampai larut, saat Daren menyentuh tangannya dan meyakinkannya bahwa mereka tak terpisahkan. Sekarang, kata-kata itu terasa hampa.

Apa yang berubah? 

Dan apa yang sebenarnya terjadi pada mereka?

Pikiran-pikiran itu semakin mengganggu ketika Ayesha mengambil ponsel, ia berniat menghubungi Daren. Namun, saat dia membuka daftar panggilan, matanya menangkap sesuatu yang aneh. Nama yang tidak dikenalnya muncul di riwayat panggilan Daren, dengan durasi panggilan cukup lama. Perasaan tidak nyaman mulai menjalar.

“Mungkin hanya teman kerja,” ujarnya meyakinkan diri sendiri.

Tetapi, perasaan curiga tak mudah diabaikan. Dia sadar bagaimana Daren semakin sering keluar malam untuk menghadiri acara-acara yang tidak pernah dia ceritakan secara rinci. Dia juga ingat bagaimana Daren semakin jarang membalas pesannya, selalu dengan alasan yang sama – sibuk. Semua ini mulai terasa seperti potongan teka-teki, dia takut perlahan membentuk gambaran yang tak pernah diinginkannya.

Saat malam datang, seperti belakangan Ayesha menunggu kepulangan dengan perasaan campur aduk. Dia duduk di sofa ruang tamu, mencoba membaca buku, tetapi pikiran kacaunya sulit untuk fokus. Pukul sebelas malam ketika akhirnya pintu terbuka, Daren masuk, tampak lelah, tetapi ada sesuatu lain dalam ekspresinya — sesuatu yang membuat Ayesha semakin curiga.

“Kau pulang terlambat,” kata Ayesha, mencoba menjaga nada suaranya tetap netral.

“Ada rapat tambahan,” jawab Daren singkat sambil melonggarkan dasinya.

Ayesha menutup bukunya dan menatap Daren serius,

“Daren, apa ada sesuatu yang tidak kau ceritakan padaku?”

Daren berhenti sejenak, matanya melirik ke arah Ayesha dengan tatapan waspada. “Apa maksudmu?”

“Aku merasa ada sesuatu yang kau sembunyikan,” kata Ayesha, suaranya yang netral kini mulai bergetar, “kau semakin jauh, Daren, kau tidak pernah lagi bicara padaku seperti dulu, aku cuma ingin tahu... apakah semua baik-baik saja di antara kita?”

Daren menghela napas panjang, mengusap wajahnya dengan tangan,

“Ayesha, aku sudah bilang, aku sibuk, proyek ini begitu memerlukan banyak perhatian, ini bukan hanya tentang kita, ini pencapaianku untuk sesuatu yang lebih besar.”

“Tapi aku terlibat dalam itu, bukan?” desak Ayesha, “aku memberikan dukungan selama ini, aku cuma mau tahu kalau aku masih menjadi bagian dari hidupmu, Daren.”

Daren menatap Ayesha dengan ekspresi sulit diartikan, lalu mengangguk pelan. “Tentu saja, Ayesha, kau selalu menjadi bagian penting dari hidupku, aku hanya butuh waktu untuk menyelesaikan ini semua,”

Ayesha mencoba tersenyum, tapi senyuman itu sengaja dipaksakan. Dalam hatinya, dia tahu ada sesuatu yang salah. Namun, dia memilih untuk tidak mengatakan apa-apa lagi malam itu. 

Ketika Daren pergi ke kamar, Ayesha tetap duduk di sofa, memandangi sekelilingnya yang terasa dingin dan asing. Bayangan kehangatan hubungan mereka dulu semakin terasa jauh, seperti mimpi yang perlahan memudar dan berubah menjadi kenyataan pahit.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Aku, Raja Mafia dan Bayang-Bayang Kekuasaan   60. Keputusan Sebelum Fajar

    Fajar belum benar-benar datang ketika langit di atas pegunungan masih berwarna biru keabu-abuan. Kabut menggantung rendah di antara batang-batang pinus, membungkus tempat persembunyian itu dalam kesunyian yang hampir sempurna. Embun menetes perlahan dari ujung dedaunan, sementara udara dingin menusuk hingga ke tulang.Dari jendela kamar kecilnya, Ayesha memandang garis cakrawala yang mulai memucat. Ia tidak tidur semalaman. Di atas meja masih tergeletak laporan-laporan mengenai dampak Operasi Vespa, foto-foto korban, catatan ilmiah yang dahulu ia banggakan, Ayesha merasa bahwa ia tidak lagi memiliki hak untuk bersembunyi di balik alasan balas dendam.Ia menarik napas panjang, lalu menutup layar komputer satu per satu. Pantulan wajahnya tampak semakin pucat di permukaan monitor yang menghitam. Luka-luka kecil di tangannya—bekas bekerja berjam-jam di kamar dan insiden beberapa waktu lalu—belum sepenuhnya hilang. Kulit manusia memiliki kemampuan memperbaiki dirinya melalui proses regener

  • Aku, Raja Mafia dan Bayang-Bayang Kekuasaan   59. Pengakuan yang Mengubah Segalanya

    Malam turun perlahan menyelimuti tempat persembunyian mereka di pegunungan. Hujan yang sejak sore mengguyur kawasan itu kini hanya menyisakan rintik-rintik halus yang memukul permukaan atap logam dengan irama pelan. Udara menjadi jauh lebih dingin. Kabut mulai turun dari lereng-lereng hutan pinus, menelan sedikit demi sedikit jalan setapak. Dari jendela ruang kerja yang menghadap lembah, Ayesha berdiri memandangi gelapnya malam. Pantulan wajahnya terlihat samar pada kaca, seolah memperlihatkan dua sosok berbeda yang hidup di dalam dirinya. Yang pertama adalah Ayesha, ilmuwan muda yang dahulu percaya bahwa ilmu pengetahuan dapat memperbaiki dunia. Yang kedua adalah perempuan yang menciptakan Operasi Vespa dan tanpa sadar membuka pintu bagi bencana yang jauh lebih besar daripada dendam pribadinya. Semakin lama ia memandang bayangannya sendiri, semakin sulit ia menentukan mana yang masih benar-benar dirinya.Pintu ruangan terbuka perlahan tanpa suara. Alexei masuk dengan langkah tenang

  • Aku, Raja Mafia dan Bayang-Bayang Kekuasaan   58. Monster yang Bercermin

    Pagi datang tanpa benar-benar membawa ketenangan. Kabut tipis masih menyelimuti lereng pegunungan tempat persembunyian baru Alexei, sementara embun menggantung di ujung dedaunan pinus yang mengelilingi bangunan beton berarsitektur minimalis itu. Dari balik jendela, Ayesha memandang hamparan hutan yang seolah tidak tersentuh dunia luar. Burung-burung kecil mulai berkicau, menciptakan kontras yang menyakitkan dengan kekacauan yang sedang melanda Singapura. Baginya, alam selalu memiliki cara menjaga keseimbangan. Setiap spesies memiliki fungsi, setiap predator memiliki batas, dan setiap kehidupan berjalan mengikuti mekanisme yang dibentuk selama jutaan tahun evolusi. Namun, ia tahu bahwa keseimbangan itu telah ia ganggu dengan tangannya sendiri.Di atas meja kerja terbentang puluhan laporan digital yang dikirim melalui jaringan terenkripsi organisasi Alexei. Layar holografik menampilkan peta kota yang dipenuhi titik-titik merah, masing-masing melambangkan lokasi serangan terbaru, kawasa

  • Aku, Raja Mafia dan Bayang-Bayang Kekuasaan   57. Luka yang Tak Pernah Sembuh

    Malam pertama di tempat persembunyian baru itu terasa jauh lebih sunyi daripada yang dibayangkan Ayesha. Hujan yang sejak sore mengguyur kawasan hutan akhirnya mereda, menyisakan aroma tanah basah yang masuk melalui celah ventilasi berfilter udara. Sistem pemurnian oksigen di dalam rumah bekerja secara otomatis, menghasilkan dengungan halus yang nyaris menyerupai napas manusia. Cahaya lampu di kamar sengaja diredupkan hingga hanya menyisakan semburat keemasan di sudut ruangan, tetapi suasana yang tenang justru membuat pikirannya semakin sulit beristirahat. Ayesha berbaring di atas ranjang tanpa benar-benar memejamkan mata. Setiap kali ia mencoba tidur, bayangan laboratorium yang ditinggalkan, wajah-wajah korban Operasi Vespa, dan tatapan Daren saat malam sebelumnya kembali bermunculan. Tubuhnya memang berada di tempat yang aman, tetapi pikirannya masih terjebak di antara reruntuhan masa lalu yang belum pernah benar-benar ia tinggalkan.Entah kapan rasa lelah akhirnya mengalahkan kesa

  • Aku, Raja Mafia dan Bayang-Bayang Kekuasaan   56. Persimpangan Jalan

    Langit dini hari masih diselimuti awan kelabu ketika kendaraan lapis baja berwarna hitam melaju meninggalkan kawasan industri yang telah berubah menjadi lokasi pengepungan besar-besaran. Lampu rotator kendaraan militer yang berkilauan di kejauhan perlahan menghilang dari kaca spion, berganti dengan jalanan sempit yang membelah kawasan perbukitan di pinggiran Singapura. Hujan tipis membasahi kaca depan, membentuk pola-pola acak yang diterangi cahaya lampu jalan. Ayesha duduk membisu di kursi belakang, tubuhnya masih mengenakan jas laboratorium yang kusut dan bercak debu dari laboratorium yang baru saja mereka tinggalkan. Rambut hitam panjangnya tergerai berantakan, sebagian menempel di pipinya yang pucat. Kedua tangannya saling menggenggam erat hingga buku-buku jarinya memutih. Di kursi depan, Alexei duduk tanpa banyak bicara. Tatapan pria bermata abu-abu itu tetap lurus ke jalan, tetapi sesekali ia memperhatikan pantulan wajah Ayesha melalui cermin tengah. Tidak ada kemenangan di wa

  • Aku, Raja Mafia dan Bayang-Bayang Kekuasaan   55. Pilihan Terakhir Ayesha

    Malam itu, pusat komando investigasi milik pemerintah berubah menjadi tempat yang penuh tekanan. Hanya suara langkah kaki para petugas, dengungan komputer analisis, dan bunyi notifikasi dari berbagai layar yang memenuhi ruangan. Di salah satu layar utama terpampang hasil pencocokan data terakhir yang selama berminggu-minggu dicari oleh tim Daren. Semua potongan kecil akhirnya membentuk satu gambar besar."Ayesha adalah dalangnya."Namun bagi Daren, nama itu bukan hanya nama tersangka. Itu adalah seseorang yang pernah ia cintai. Seseorang yang pernah berdiri di sampingnya ketika ia belum memiliki kekuasaan apa pun. Seseorang yang pernah percaya bahwa dirinya bisa mengubah dunia."Apa perintah Anda?" tanya Marcus.Daren terdiam cukup lama. Sebagai walikota, jawabannya jelas. Tangkap pelaku. Hentikan ancaman. Lindungi masyarakat. Namun sebagai seseorang yang mengenal Ayesha, ia tahu ada sesuatu yang lebih rumit dari sekadar penangkapan."Siapkan operasi," akhirnya kata Daren.Marcus meng

  • Aku, Raja Mafia dan Bayang-Bayang Kekuasaan   39. Obsesinya Semakin Mendalam

    Pagi itu laboratorium terasa seperti ruang isolasi yang terlalu sunyi untuk disebut tempat kerja. Cahaya lampu neon memantul di permukaan baja meja eksperimen, menciptakan pantulan dingin yang menyilaukan mata. Mesin pendingin berdesis lembut di sudut ruangan, namun suasananya tidak tenang — ada ke

  • Aku, Raja Mafia dan Bayang-Bayang Kekuasaan   38. Luka Lama yang Terpendam

    Suara dengung itu kembali hadir, merambat pelan dari sudut mimpi yang paling gelap. Awalnya samar, seperti bisikan angin yang menelusup di antara celah-celah kesunyian, lalu semakin jelas, semakin menusuk, hingga memenuhi ruang tak bernama di dalam kepalanya. Bukan sekadar dengung sayap Vespa manda

  • Aku, Raja Mafia dan Bayang-Bayang Kekuasaan   37. Bayangan di Laboratorium

    Laboratorium itu kini bukan sekadar ruang penelitian. Ia telah berubah menjadi arena sunyi di mana eksperimen ilmiah dan ketegangan emosional saling bertabrakan seperti dua reaksi kimia yang tak seharusnya bersentuhan.Suara mesin inkubator berputar dengan dengungan stabil, namun bagi Ayesha, suara

  • Aku, Raja Mafia dan Bayang-Bayang Kekuasaan   33. Krisis Nasional

    Peringatan status darurat sipil diumumkan tepat saat fajar menyingsing di atas Singapura. Speaker publik yang biasanya mengumumkan pembukaan sekolah pagi itu mendadak memancarkan sirine peringatan. Kepala dinas sipil muncul di layar, mengenakan jas pelindung ringan, menyampaikan dengan suara gugup,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status