Share

05. Kemunculan Alexei

Penulis: ime-chan
last update Terakhir Diperbarui: 2025-01-25 09:00:34

Langit malam kian larut saat Ayesha menangkap suara langkah kaki yang berat dengan telinganya mendekat ke pintu laboratorium. Pintu yang seharusnya tidak mudah ditemukan, terlebih oleh orang luar. Rasa curiga langsung menjalari tubuhnya, memicu degup jantung lebih cepat. Tatapannya tertuju ke pintu dengan kening berkerut, layar komputer berisi data eksperimen tawon yang menjadi fokusnya sedari tadi terabaikan.

Ketukan semakin keras terdengar, tidak seperti ketukan biasa. Terdapat irama tertentu yang berkesan, seperti seseorang yang ingin menunjukkan kehadirannya tanpa ragu. Ayesha memilih berjalan pelan ke arah pintu, terhenti sejenak sebelum membukanya. Dengan nafas tertahan, dia memberanikan diri untuk membuka pintu sedikit, sekilas untuk melihat wajah yang belum pernah dikenalnya. Sosok itu tinggi, tegap, dengan jas hitam yang terkesan mahal. Mata dengan iris birunya tajam dan menusuk, menatap langsung ke arah Ayesha.

“Ayesha Al-Farisi?” ujarnya dengan suara dalam yang tegas, hampir terdengar seperti perintah ketimbang pertanyaan.

Ayesha memiringkan kepalanya sedikit, mengukur pria di depannya,

"Maaf, siapa Anda, dan bagaimana Anda bisa menemukan tempat ini?" tanyanya dengan nada dingin, meskipun di dalam dadanya masih tersimpan ketegangan.

Pria itu tersenyum tipis, sebuah senyum yang sedikit tidak ramah,

"Nama saya Alexei Romanov, saya datang kesini untuk membicarakan sesuatu yang sekiranya menarik minat kita berdua,"

Ayesha tak langsung merespons, nama itu terdengar asing di telinganya tetapi mengandung aura ancaman sekaligus. Sempat terlintasnya di pikirannya untuk segera menutup pintu dan bersikap abai, lagi pun ia tak terlalu peduli dengan orang asing. Tetapi ada sesuatu dalam cara bicaranya yang memunculkan keraguan dalam diri Ayesha.

“Bagaimana Anda bisa menemukan saya?” ulang Ayesha, kali ini dengan nada dibuat sedikit lebih tajam.

“Saya selalu punya cara dan sumber daya, Nona Ayesha, tidak ada yang benar-benar tersembunyi jika seseorang tahu di mana harus mencari, dan Anda... Anda adalah sosok yang menarik perhatian banyak pihak,” jawab Alexei sambil mengambil langkah lebih dekat ke pintu.

Sebaliknya Ayesha memilih langkah mundur, tetapi tak sempat menutup pintu. Dia memandangnya dengan waspada. 

"Jika Anda tahu siapa saya, maka Anda pasti tahu bahwa saya tidak tertarik pada persoalan seperti ini."

Alexei tertawa kecil, sebuah tawa rendah yang penuh ironi,

"Persoalan? Anda salah paham, saya kesini bukan untuk menyulitkan Anda, melainkan, saya ingin menawarkan sesuatu yang hanya bisa Anda dapatkan melalui saya," lagak pria di depan pintu.

"Lalu apa maksudnya?" Ayesha memandangnya dengan mata menyipit.

Sontak Alexei menyerahkan sebuah amplop kepada Ayesha yang dikeluarkan dari saku jas. Dengan ragu-ragu, Ayesha mengambil dan membukanya. Dari dalam sana, ada beberapa foto — gambar laboratorium Ayesha, diagram genetik, bahkan foto close-up salah satu tawon Vespa mandarinia yang sedang dia teliti. Ayesha merasa darahnya mendidih dan berkumpul di kepala, tapi tak segan menguap,

"Anda memata-matai saya?" tanyanya tajam, suaranya penuh kemarahan.

“Sebagai sosok yang cerdas, Anda pasti tahu dunia tidak sepenuhnya tertutup,” jawab Alexei tenang, “yang saya lakukan hanya untuk memastikan penelitian Anda benar-benar sebaik yang saya dengar, dan saya memang perlu mengakui, saya terkesan,"

“Anda tidak punya hak untuk menyentuh pekerjaan saya,” balas Ayesha sambil mengepalkan tangan, dirinya berusaha menahan dorongan untuk membanting pintu di wajah pria itu.

“Saya tidak menyentuhnya,” Alexei menyela sambil menggeleng, “saya hanya mengamati dan memastikan bahwa karya luar biasa ini tidak berakhir sia-sia, Anda tahu seberapa besar potensi hewan-hewan itu, bukan?"

Ayesha tetap diam, tidak dengan pikirannya yang berputar. Dia tahu eksperimennya berkembang begitu pesat, jauh seperti rumusan hipotesis awal. Tetapi dia sama sekali tidak pernah berniat menjadikannya lebih dari sekadar penelitian ilmiah. Sampai pria ini datang dan menawarkan  sudut pandang berbeda — pandangan yang mengeluarkan bau-bau bahaya.

“Apa yang Anda mau, Sir?” tanya Ayesha  akhirnya, suaranya kini lebih tenang meskipun penuh kecurigaan.

“Kerja sama,” jawab Alexei singkat, “saya ingin bantuan Anda menciptakan sesuatu yang dahsyat, sesuatu yang bisa mengubah serta melampaui tatanan kekuasaan di kota ini,”

Tatapan Ayesha berubah penuh penolakan sesaat mendengar jawaban tersebut,

"Tapi sebenarnya saya bukan orang yang tertarik dengan politik atau semacamnya,"

Alexei mencondongkan sedikit tubuhnya, matanya bersinar dengan intensitas yang tidak mudah dijelaskan,

"Anda mungkin tidak peduli, tapi lihatlah balik kepada diri Anda, penciptaan makhluk yang tidak hanya bertahan, tetapi juga mendominasi, sepertinya Anda tahu bahwa hewan-hewan itu lebih dari sekadar eksperimen, mereka lebih pantas disebut senjata,"

Perkataan itu membuat Ayesha terdiam. Dia tidak ingin membenarkan apa yang dikatakan Alexei, tetapi dia tahu bahwa pria itu ada benarnya. Vespa mandarinia termodifikasi memiliki potensi besar, lebih dari yang dia mau akui kepada siapapun, termasuk dirinya sendiri.

“Lalu apa benefit yang bisa Anda tawarkan?” tanyanya akhirnya, mencoba menjaga nada suaranya agar tetap netral.

Alexei tersenyum, kali ini lebih hangat tetapi penuh rahasia,

"Kebebasan, kekuasaan, serta kesempatan untuk menunjukkan kepada dunia apa yang sebenarnya bisa Anda lakukan."

Ayesha merasa terguncang. Ada bagian dalam dirinya yang ingin menolak tawaran itu mentah-mentah, tetapi ada juga bagian yang penasaran, terpengaruh oleh tawaran yang diberikan Alexei. Dia tahu tidak bisa mengambil keputusan dengan mudah, tetapi sesuatu dalam dirinya mendorongnya untuk mendengarkan lebih jauh.

“Baiklah,” katanya pelan, hampir seperti bisikan, “katakan lebih banyak,"

Alexei tersenyum puas, setidaknya dia telah berhasil mengambil perhatian Ayesha,

"Saya tahu Anda akan menyadari potensi itu, tapi yang kita perlukan adalah berbicara di tempat lain, bukan di sini,"

Ayesha mengangguk pelan, meskipun hatinya masih dipenuhi keraguan. Dia tahu jika mengiyakan tawaran ini sama saja membuka pintu ke dunia lain yang tak pernah ada di bayanganya sebelum ini. Tetapi, setelah semua yang telah dia lalui, mungkin inilah kesempatan untuk mengambil kendali dengan cara yang berbeda. Meskipun dia tidak sepenuhnya percaya pada Alexei, pria itu telah menyentuh sesuatu yang selama ini dia coba sembunyikan — ambisi yang jauh lebih besar dari sekadar eksperimen di laboratorium kecilnya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Aku, Raja Mafia dan Bayang-Bayang Kekuasaan   40. Pecahnya Keheningan

    Hujan deras mengguyur kompleks penelitian malam itu, memantulkan cahaya lampu neon di genangan air seperti permukaan kaca retak. Suara tetesan air di luar terdengar seperti jarum-jarum kecil yang menghujam logam, menciptakan ritme yang kontras dengan keheningan tegang di dalam ruang kerja utama. Ayesha berdiri di depan panel kontrol utama, tangannya bergetar di atas layar yang menampilkan grafik gelombang feromon. Ia mencoba memusatkan pikirannya pada angka-angka, tapi yang bergema di benaknya bukan data — melainkan kata-kata terakhir Alexei.“Kau tidak tahu apa yang aku sanggupi kalau harus menjagamu tetap di sini,”Langkah kaki berat terdengar di belakangnya. Tanpa perlu menoleh, Ayesha tahu siapa yang datang. Aura dingin dan kehadiran yang mendominasi ruangan itu hanya milik satu orang. “Masih bekerja?” suara Alexei rendah, datar, tapi mengandung sesuatu yang mengintai di balik ketenangan itu. Ayesha tidak menjawab. Ia tetap menatap layar, membiarkan keheningan menjadi dinding ya

  • Aku, Raja Mafia dan Bayang-Bayang Kekuasaan   39. Obsesinya Semakin Mendalam

    Pagi itu laboratorium terasa seperti ruang isolasi yang terlalu sunyi untuk disebut tempat kerja. Cahaya lampu neon memantul di permukaan baja meja eksperimen, menciptakan pantulan dingin yang menyilaukan mata. Mesin pendingin berdesis lembut di sudut ruangan, namun suasananya tidak tenang — ada ketegangan yang menebal di udara seperti gas kimia yang tak kasatmata. Ayesha menatap layar holografik di depannya, mencoba fokus pada data perilaku koloni Vespa mandarinia, tapi pikirannya terus terganggu oleh sesuatu yang lebih mengancam dari sekadar serangga. Atau mungkin seseorang.Pintu laboratorium terbuka otomatis, dan aroma logam bercampur ozon menyelinap bersama kehadiran Alexei. Kali ini dia tidak mengenakan jas laboratorium, hanya kemeja hitam polos yang lengan kirinya digulung sampai siku, menampakkan urat-urat tegang di lengannya. Wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya, namun mata birunya justru lebih tajam — seperti kilatan dingin dari logam yang baru diasah.“Kau tidak seharu

  • Aku, Raja Mafia dan Bayang-Bayang Kekuasaan   38. Luka Lama yang Terpendam

    Suara dengung itu kembali hadir, merambat pelan dari sudut mimpi yang paling gelap. Awalnya samar, seperti bisikan angin yang menelusup di antara celah-celah kesunyian, lalu semakin jelas, semakin menusuk, hingga memenuhi ruang tak bernama di dalam kepalanya. Bukan sekadar dengung sayap Vespa mandarinia yang bergetar tajam, melainkan juga gema suara Daren—suara yang berlapis-lapis, berulang-ulang, seakan tak pernah berhenti. Setiap lapisan suara itu memantul, beradu, dan bergaung, seperti gema yang terjebak di ruang hampa tanpa dinding, tanpa batas, hanya berputar-putar di lingkaran tak berujung.“Kau tahu kenapa aku memilih dia, Ayesha?” suara itu terdengar samar, seolah datang dari balik kaca laboratorium, “karena kekuasaan bukan tentang siapa yang paling pintar, tapi siapa yang bisa mengendalikan yang lain.” Ayesha tersentak, terbangun dengan teriakan tertahan. Tubuhnya berkeringat, napasnya memburu. Ruangan laboratorium bawah tanah itu gelap, hanya diterangi cahaya biru redup dar

  • Aku, Raja Mafia dan Bayang-Bayang Kekuasaan   37. Bayangan di Laboratorium

    Laboratorium itu kini bukan sekadar ruang penelitian. Ia telah berubah menjadi arena sunyi di mana eksperimen ilmiah dan ketegangan emosional saling bertabrakan seperti dua reaksi kimia yang tak seharusnya bersentuhan.Suara mesin inkubator berputar dengan dengungan stabil, namun bagi Ayesha, suara itu terdengar seperti bisikan pengawasan. Lampu-lampu neon di langit-langit bergetar samar, memantulkan cahaya putih dingin di permukaan meja logam yang dipenuhi tabung reaksi, jarum suntik mikroskopis, serta wadah berlabel biohazard. Di udara, aroma ozon, etanol, dan feromon sintetis bercampur, menciptakan atmosfer yang menekan, nyaris membuat dada terasa sesak.Ayesha berdiri di depan tangki kaca bertekanan tinggi, matanya fokus pada satu koloni Vespa mandarinia yang sedang bereaksi terhadap sinyal elektromagnetik lemah dari modul kendali feromon. “Kau lihat?!” katanya tanpa menoleh, suaranya datar tapi sarat dengan ketegangan yang disembunyikan. “Frekuensi 18,7 kilohertz ini seharusnya

  • Aku, Raja Mafia dan Bayang-Bayang Kekuasaan   36. Celah di Balik Kendali

    Laboratorium bawah tanah itu dingin, terlalu sunyi bahkan untuk malam yang panjang di pusat penelitian rahasia itu. Lampu-lampu LED putih kebiruan berpendar lembut di atas meja kaca tempat Ayesha meneliti sampel genetik Vespa mandarinia, menyorot wajahnya yang pucat diterangi layar mikroskop digital. Suara lembut mesin pendingin nitrogen cair mengisi udara, diselingi bunyi berdengung halus dari serangga-serangga yang ditampung di ruang kaca isolasi. Aroma antiseptik dan logam memenuhi hidungnya. Di tengah rutinitas yang seharusnya tenang itu, Ayesha merasa ada sesuatu yang lain malam itu — sesuatu yang membuat nadi di lehernya berdenyut sedikit lebih cepat.“Sudah malam,” suara itu terdengar pelan tapi tegas dari balik pintu baja otomatis yang terbuka dengan desis halus. Ayesha menoleh sekilas, lalu menatap lagi ke mikroskopnya. Alexei berdiri di ambang pintu, mengenakan kemeja hitam yang digulung sampai siku dan mantel panjang berwarna abu tua. Sorot matanya tajam namun anehnya tida

  • Aku, Raja Mafia dan Bayang-Bayang Kekuasaan   35. Ayesha Dibalik Layar

    Di ruangan observasi markas Alexei yang remang, cahaya dari layar-layar besar menjadi satu-satunya sumber penerangan, memantulkan kilatan biru dan merah ke dinding beton yang dingin. Suasana di dalamnya terasa seperti jantung dari sebuah sistem yang mengawasi dunia yang sedang runtuh perlahan. Layar utama menampilkan berbagai statistik real-time — angka-angka yang terus bergerak, tak pernah berhenti, seolah menggambarkan denyut nadi dari kekacauan yang sedang berlangsung.Jumlah serangan bertambah setiap menit, zona-zona yang sebelumnya aman kini berubah menjadi wilayah terkunci, ditandai dengan warna merah menyala yang menyebar seperti luka di peta digital. Di sisi lain layar, grafis yang menunjukkan tingkat kepanikan publik berdenyut pelan namun pasti, seperti gelombang yang tak henti menghantam garis pantai. Setiap lonjakan grafik bukan sekadar data — itu adalah jeritan, ketakutan, dan kehilangan yang tak terlihat.Beberapa operator duduk di depan konsol, wajah mereka tegang, mata

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status