Share

Bab 14: Jurnal: Halaman yang Tak Bisa Dibagikan

Penulis: Reva Chazep
last update Terakhir Diperbarui: 2025-06-18 00:42:27
Hari ke-14 Sejak Gazebo

Aku tidak tahu lagi siapa diriku.

Aku duduk di meja dapur ini—meja yang sama di mana aku makan bersama Dimas setiap malam, meja di mana aku memotong sayuran, meja di mana aku membaca koran pagi—dan aku menulis dengan tangan gemetar.

Dulu aku Raisa. Istri Dimas. Guru TK yang berhenti kerja karena suami mapan. Wanita yang senang memasak, berkebun, membaca novel romantis di taman. Wanita yang bangun jam enam untuk bikin sarapan yang tidak dimakan. Wanita yang tersenyum saat
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Aku, Seorang Istri Tetangga: Gairah Membara yang Terbebaskan   Bab 22: Percakapan yang Tertunda

    Pagi itu, Dimas tidak pergi kerja.Raisa bangun dengan alarm jam enam seperti biasa. Keluar dari kamar utama yang kini terasa seperti galeri seni—semua furniture masih di tempatnya, tapi tak ada lagi kehidupan yang mengalir di antaranya. Hanya objek-objek yang berdiri diam, menunggu makna yang sudah lama pergi.Ia berjalan ke dapur untuk ritual pagi yang otomatis: air panas, kopi, roti panggang yang tak akan dimakan.Tapi seseorang sudah berada di sana.Dimas duduk di meja makan. Di depannya dua cangkir kopi yang masih mengepul. Satu untuknya, satu untuk Raisa. Seperti dulu. Sebelum semuanya rusak. Sebelum jarak tiga puluh sentimeter menjadi tiga puluh meter."Duduklah," katanya. Bukan perintah. Permohonan. Suaranya serak dari tidak tidur—atau dari menangis, Raisa tak bisa memastikan.Raisa duduk di kursi yang biasa ia duduki. Jarak satu meter melintasi meja. Cangkir kopi di depannya—hitam dengan satu gula, persis seperti yang ia suka. Dimas masih ingat. Setelah semua yang terjadi, de

  • Aku, Seorang Istri Tetangga: Gairah Membara yang Terbebaskan   Bab 21: Kamar Tamu, Jarak 30 Meter

    Malam itu, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun pernikahan, Raisa tidur sendirian di kamar utama.Dimas tidur di kamar tamu—ruangan kecil di ujung koridor yang selama ini hanya digunakan untuk menyimpan barang-barang tidak terpakai. Kardus lama. Buku yang tidak dibaca. Pakaian musim dingin yang tidak pernah dipakai di Jakarta. Koper kosong. Barang-barang dari kehidupan lama yang tidak punya tempat di kehidupan sekarang.Sekarang tempat itu punya penghuni baru: suaminya sendiri.Jarak antara kamar mereka: tiga puluh meter sepanjang koridor.Tiga puluh meter yang terasa seperti tiga puluh kilometer. Seperti benua berbeda. Seperti planet berbeda.***Raisa berbaring di tempat tidur king-size yang mereka beli bersama dua tahun lalu. "Investment untuk future," kata Dimas waktu itu. "Supaya anak-anak kita bisa tidur di tengah kita nanti."Anak-anak yang tidak pernah datang. Yang tidak pernah mereka coba buat karena sudah lama tidak bercinta.Tempat tidur itu terasa lebih luas dari biasany

  • Aku, Seorang Istri Tetangga: Gairah Membara yang Terbebaskan   Bab 20: Tanda di Leher, Bohong di Mulut

    Itu terjadi saat mereka terlalu bersemangat.Sore itu, di kamar Aldo, mereka bercinta dengan intensitas yang lebih tinggi dari biasanya. Mungkin karena Dimas akan pulang malam dan Raisa punya waktu lebih. Mungkin karena mereka tahu waktu terbatas dan ingin maximize setiap detik. Mungkin karena kata "sayang" kemarin membuat semuanya lebih intens, lebih real, lebih berbahaya.Aldo mencium leher Raisa. Tempat favorit yang sudah ia hafal di luar kepala. Tempat di bawah telinga kiri yang selalu—selalu—membuat Raisa menggigil dan mengerang.Mencium. Menjilat. Menggigit lembut. Menghisap.Raisa terlalu lost dalam pleasure untuk sadar. Tenggelam dalam sensasi bibir Aldo di kulitnya, tangan Aldo di tubuhnya, Aldo yang mengisi dirinya dengan sempurna.Dan Aldo—terlalu fokus pada membuat Raisa merasakan bagus, pada membuat Raisa lupa segalanya kecuali namanya—juga tidak sadar bahwa ia menghisap terlalu lama. Terlalu kuat. Terlalu intense.Meninggalkan tanda.Hickey. Love bite. Bekas ciuman yang j

  • Aku, Seorang Istri Tetangga: Gairah Membara yang Terbebaskan   Bab 19: Panggilan Sayang yang Bukan untuk Suami

    "Sayang, pelankan sedikit."Kata itu keluar dari mulut Aldo tanpa berpikir. Natural. Seperti napas.Mereka sedang bercinta di tempat tidurnya. Sore yang hangat dengan tirai setengah tertutup. Cahaya keemasan masuk dari celah, membuat kulit mereka bersinar seperti madu.Raisa di atas, menunggangi Aldo, bergerak dengan ritme yang steady. Pinggul naik turun. Tangan di dada Aldo untuk balance. Rambut terurai menutupi sebagian wajah.Cantik. Sangat cantik.Dan Aldo—tenggelam dalam sensasi tubuh Raisa yang hangat mengitarinya, dalam pandangan Raisa yang bergerak di atasnya dengan mata setengah tertutup—mengatakan kata itu tanpa filter."Sayang, pelankan sedikit."Raisa berhenti bergerak. Tiba-tiba. Sepenuhnya.Tubuh masih menyatu—Aldo masih di dalam Raisa—tapi tidak ada gerakan.Raisa menatap Aldo. Mata terbuka penuh sekarang. "Apa?"Aldo tersadar. Menyadari apa yang baru saja ia katakan. Wajahnya sedikit memerah—hal yang jarang terjadi pada pria yang biasanya percaya diri ini."Maaf. Itu...

  • Aku, Seorang Istri Tetangga: Gairah Membara yang Terbebaskan   Bab 18: Liar dalam Pelukan Tetangga

    Seminggu setelah percakapan tentang masa lalunya—setelah Raisa melihat sisi vulnerable Aldo, setelah ia menyadari Aldo juga manusia yang luka—Aldo mengajak Raisa mencoba sesuatu yang baru."Aku punya ide," katanya. Mereka sedang berbaring telanjang di tempat tidur. Sore. Cahaya keemasan masuk dari celah tirai. Mata Aldo berbinar nakal."Apa lagi?" Raisa tersenyum. "Mainan baru?""Bukan mainan. Tapi... experience baru.""Seperti apa?"Aldo mengambil sesuatu dari laci meja samping. Mengeluarkannya perlahan.Handcuffs. Borgol. Dilapisi bulu pink yang lembut.Raisa mengerutkan kening. "Diikat?""Iya. Dengan handcuffs." Aldo memegangnya, membiarkan Raisa melihat. "Kamu pernah coba?""Tidak." Raisa merasa jantungnya berdebar—nervous tapi juga... curious. "Kenapa?""Karena itu bisa memberi sensasi berbeda. Melepaskan kontrol. Surrender sepenuhnya."***Raisa berpikir.Selama ini, dalam hidupnya, ia selalu mengontrol. Atau setidaknya mencoba.Menjadi istri yang baik—bangun pagi, masak, bersih-

  • Aku, Seorang Istri Tetangga: Gairah Membara yang Terbebaskan   Bab 17: Wajah Aldo yang Lain

    Sore itu, setelah bercinta—setelah tubuh masih basah keringat dan napas masih belum sepenuhnya normal—Aldo menerima telepon.Ponselnya bergetar di meja samping. Bunyi vibrate di kayu. Bzz. Bzz. Bzz.Aldo meraihnya, melihat layar. Raisa melihat ekspresinya berubah dalam sekejap.Dari hangat menjadi dingin. Dari santai—tubuh rileks, senyum kecil di bibir—menjadi tegang. Rahang mengeras. Bahu menegang.Ia duduk, mengangkat telepon."Ya." Suaranya datar. Profesional. Tidak seperti suara yang baru saja berbisik "aku cinta kamu" lima menit lalu. "Iya. Aku paham."Raisa duduk juga, menarik sprai untuk menutupi dada. Menatap punggung Aldo yang tiba-tiba terlihat sangat kaku."Tidak, tidak perlu ke sini. Aku akan ke sana." Jeda. "Ya. Terima kasih sudah kasih tahu."Aldo menutup telepon. Meletakkan di meja dengan gerakan yang terlalu hati-hati. Seperti takut ponsel itu akan pecah kalau tidak pelan-pelan.Tangannya sedikit gemetar."Aldo?" Raisa menyentuh bahunya. "Kamu baik-baik saja?""Iya." Ta

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status