LOGINBertahun-tahun hidup dalam hinaan dan siksaan suaminya, Siska melarikan diri di malam pesta di Bali dan terjerat dalam gairah bersama pria muda bernama Arga. Dalam rengkuhannya, ia merasa kembali dihargai dan diinginkan. "Akhirnya setelah 15 tahun, aku menemukanmu Siska", Bisik Arga. Siapakah Arga? Ada apa dibalik cerita 15 tahun yang lalu. Kini Siska berada di tepi jurang, tetap mati perlahan dalam pernikahan yang menyiksa, atau hidup kembali dalam dosa perselingkuhan bersama "Berondong Tampan".
View MoreSetelah makan malam selesai, mereka berjalan perlahan menyusuri bibir pantai. Air laut yang dingin sesekali menyentuh kaki mereka. Arga tiba-tiba berhenti dan menarik Siska ke dalam pelukannya. "Siska, aku punya satu hadiah lagi untukmu," ucap Arga. "Hadiah apa lagi, Mas? Tadi kan sudah makan malam yang luar biasa," tanya Siska heran. Arga mengeluarkan sebuah kalung perak dengan liontin berbentuk sayap burung phoenix yang kecil namun sangat detail. Dia memasangkannya di leher Siska. "Burung phoenix ini melambangkan kamu. Kamu yang sudah bangkit dari abu kehancuran di masa lalu, dan kini terbang tinggi bersamaku. Jangan pernah merasa rendah diri, ya?" bisik Arga di telinga Siska. Siska menyentuh liontin itu dengan jari yang gemetar. Air mata kebahagiaan tidak bisa lagi ia bendung. "Aku mencintaimu, Mas Arga. Sangat mencintaimu." "Aku lebih mencintaimu, Siska," jawab Arga sebelum mendaratkan ciuman yang sangat dalam di bibir Siska di bawah siraman cahaya bulan Bali yang pera
Pagi itu, rumah terasa sedikit lebih sibuk dari biasanya. Siska baru saja selesai menyiapkan sarapan saat Arga turun dari lantai atas dengan setelan kemeja santai berwarna biru muda. Wajahnya tampak sangat segar, dengan senyum yang tidak pernah lepas dari bibirnya. Hari ini adalah hari istimewa, ulang tahun pernikahan mereka yang ketiga sejak janji suci itu diucapkan kembali di rumah baru mereka. "Selamat ulang tahun pernikahan, istriku yang hebat," bisik Arga sambil memeluk Siska dari belakang saat wanita itu sedang meletakkan piring di meja. Siska menoleh dan tersenyum manis. "Selamat ulang tahun pernikahan juga, Mas Arga. Terima kasih sudah bersabar menghadapi aku selama tiga tahun ini." "Bersabar? Aku rasa aku tidak perlu bersabar untuk mencintai wanita sepertimu, Siska. Itu adalah hal termudah yang pernah aku lakukan dalam hidupku," Arga mengecup pipi Siska dengan lembut. Grace turun dengan wajah ceria, dia sudah siap dengan pakaian santainya. "Selamat ulang tahun pernika
Beberapa minggu setelah pemakaman Hendri, kehidupan Siska dan Arga berjalan dengan kedamaian yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Namun, di balik senyum yang selalu Siska tunjukkan di depan yayasan dan keluarganya, ada sebuah keresahan kecil yang mulai tumbuh di lubuk hatinya. Sebuah keresahan yang bersifat sangat pribadi, yang berkaitan dengan jati dirinya sebagai seorang istri. Pagi itu, Siska duduk di tepi ranjang sambil menatap kalender kecil di ponselnya. Wajahnya tampak tegang, jemarinya sedikit bergetar saat menghitung hari. "Sudah telat dua minggu," gumam Siska lirih. Ada secercah harapan yang tiba-tiba membuncah di dadanya. Harapan yang mungkin terdengar mustahil mengingat usianya, namun tetap saja membuat jantungnya berdebar kencang. Apakah mungkin Tuhan memberikannya keajaiban? Apakah mungkin di dalam rahimnya kini sedang tumbuh buah cintanya dengan Arga? "Mama, kenapa belum turun? Papi sudah menunggu di bawah untuk sarapan," suara Grace terdengar dari balik
Siska masih merasakan kehangatan kecupan Arga di keningnya. Kata-kata suaminya tentang menjenguk Hendri masih terngiang jelas. Tawaran itu adalah sebuah bukti betapa luasnya hati Arga. Pria itu tidak hanya mencintai Siska, tetapi juga menghormati setiap kepingan masa lalu yang membentuk Siska menjadi wanita seperti sekarang. "Mas benar-benar tidak keberatan kalau kita ke sana?" tanya Siska meyakinkan sekali lagi. Tangannya masih memegang serbet yang tadi ia gunakan untuk merapikan meja. Arga tersenyum lembut, lalu menarik sebuah kursi dan duduk kembali di depan Siska. "Kenapa aku harus keberatan, Sayang? Siska, dengarkan aku. Rasa cemburu itu lahir dari rasa tidak percaya diri. Aku sangat percaya diri bahwa kamulah milikku sekarang. Menjenguk Hendri bukan berarti kita kembali ke masa lalu, tapi itu adalah cara kita menutup buku lama dengan cara yang elegan." Siska menghela napas panjang, merasa bebannya terangkat. "Terima kasih, Mas. Aku sempat takut kamu akan merasa tidak nyama
Suasana apartemen terasa sangat mencekam setelah perdebatan dingin tadi sore. Malam semakin larut, Siska berjalan pelan menuju ruang kerja. Arga tampak tertidur di atas meja kerjanya dengan kepala berbantalkan lengan. Di sampingnya, beberapa lembar dokumen hukum dan surat panggilan dari kepolisian
Pagi itu, suasana di dalam apartemen sangat sunyi. Arga sedang berada di ruang kerja, sibuk dengan panggilan telepon yang tidak kunjung berhenti. Siska memberanikan diri menyalakan televisi dengan volume rendah. Dia hanya ingin melihat perkembangan berita, namun yang dia temukan adalah mimpi buruk.
Pagi ini kenyataan pahit yang lebih besar menghantam pintu apartemen mereka. Bukan lagi wartawan yang datang, melainkan seorang kurir resmi pengadilan dan beberapa pria berseragam yang membuat nyali Siska menciut seketika. Arga menerima sebuah amplop cokelat besar dengan ekspresi yang sangat ding
Siska duduk di tepi tempat tidur dengan tangan yang menggigil hebat. Ponsel barunya, yang baru saja diberikan Arga beberapa jam lalu, terus bergetar tanpa henti di atas pangkuannya. Cahaya dari layar ponsel itu seolah menjadi monster yang siap menerkam kewarasannya. Dia tidak menyangka bahwa dampak
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.