LOGINBertahun-tahun hidup dalam hinaan dan siksaan suaminya, Siska melarikan diri di malam pesta di Bali dan terjerat dalam gairah bersama pria muda bernama Arga. Dalam rengkuhannya, ia merasa kembali dihargai dan diinginkan. "Akhirnya setelah 15 tahun, aku menemukanmu Siska", Bisik Arga. Siapakah Arga? Ada apa dibalik cerita 15 tahun yang lalu. Kini Siska berada di tepi jurang, tetap mati perlahan dalam pernikahan yang menyiksa, atau hidup kembali dalam dosa perselingkuhan bersama "Berondong Tampan".
View MoreTawa riuh para undangan dalam acara Gala Cakrawala Bisnis, memenuhi ballroom, Acara Tahunan yang diadakan Hendri untuk berkumpulnya para pengusaha muda untuk menjalin silaturahmi dan kerjasama.
Hendri adalah Ketua dari perkumpulan pengusaha muda, dia selalu tampil sempurna dalam segala hal, agar bisa menaikkan pamor dan citra dia dikalangan para pengusaha. "Senyum sedikit, Siska. Jangan pasang wajah menyedihkan begitu. Kamu mau orang-orang berpikir aku menyiksa istri sendiri?" Bisikan itu terasa panas dan tajam di telinga Siska, sangat kontras dengan udara malam Bali yang sejuk. Wanita berusia 43 tahun itu menelan ludah, berusaha keras mempertahankan senyum kaku di wajah cantiknya saat tangan Hendri melingkar posesif di pinggangnya. Cengkeraman itu bukan tanda sayang, melainkan peringatan. "Aku sudah tersenyum, Mas," jawab Siska pelan, suaranya nyaris tak terdengar. "Kakiku sakit sekali pakai sepatu hak tinggi ini terus dari tadi sore." "Halah, alasan saja kamu ini. Bilang saja kamu minder karena banyak wanita yang lebih muda dan kencang di sini, kan?" Hendri terkekeh pelan. Bagi orang lain yang melihat dari jauh, itu tampak seperti candaan mesra suami istri, padahal mata pria itu menatap Siska dengan kilatan meremehkan yang menyakitkan. "Coba kamu lihat istri Pak Gunawan di sana itu. Umurnya sama denganmu, tapi kulitnya masih segar dan kencang. Tidak keriput dan layu seperti lehermu itu." Jantung Siska berdenyut nyeri. Refleks, tangan halusnya meraba leher jenjangnya sendiri yang sebenarnya masih sangat terawat. Rasa tidak percaya diri langsung merayapi benaknya. "Mas... kenapa harus bicara begitu di sini? Aku sudah berusaha tampil cantik untuk Mas," lirih Siska. "Dengar Siska, kamu harus berterima kasih karena aku masih mau membawamu ke pesta bergengsi begini. Kalau bukan demi citraku sebagai pengusaha keluarga baik-baik, aku lebih baik bawa Veni. Dia jauh lebih enak dipandang, lebih muda, dan tidak membosankan sepertimu." Mata Siska memanas seketika. Nama itu lagi. Sekretaris suaminya. Wanita muda yang selalu dibawa Hendri ke luar kota jika tidak ada acara formal yang mewajibkan membawa istri sah. "Mas, tolong... aku lelah. Aku mau ke toilet sebentar," pinta Siska dengan suara bergetar. "Pergilah. Jangan lama-lama. Jangan bikin malu aku dengan wajah sembabmu itu." Siska berjalan cepat meninggalkan keramaian ballroom. Dia tidak menuju toilet, melainkan terus melangkah keluar lobi hotel menuju jalanan Legian yang ramai dan bising. Dadanya sesak bukan main. Dia butuh udara. Dia butuh melupakan suara Hendri yang terus berdengung di kepalanya, mengatakan bahwa dia tua, jelek, dan tidak berguna. Kaki Siska melangkah tanpa arah yang jelas, mengikuti insting lukanya, hingga dia berhenti di depan sebuah bar dengan lampu neon redup yang berkedip-kedip. Tanpa pikir panjang, wanita yang biasanya sangat menjaga martabat itu masuk ke dalam. "Satu gelas vodka. Double," pinta Siska pada bartender begitu dia duduk di kursi tinggi di ujung bar. "Malam yang berat, Nona?" tanya bartender itu ramah sambil menuangkan minuman. Satu gelas. Dua gelas. Tiga gelas. Dunia di sekitar Siska mulai berputar. Wajah menyebalkan dan kata-kata tajam Hendri di kepalaku mulai kabur, berganti dengan rasa rindu yang menyiksa. Siska menelungkupkan wajahnya di meja bar. Kenapa? Kenapa setelah semua pengabdian dan kesabarannya selama ini, Hendri tidak pernah mencintainya? "Sendirian saja?" Sebuah suara menyapa dari samping. Siska menoleh dengan pandangan yang buram. Sosok tinggi tegap berdiri di sana, namun pandangan Siska yang kabur hanya menangkap siluet pria itu. "Pergi... aku mau sendiri," gumam Siska, mencoba berdiri tapi tubuhnya oleng. Tangan kekar pria itu menahan bahu Siska dengan sigap sebelum dia jatuh ke lantai. "Hati-hati. Kamu sudah terlalu mabuk untuk berdiri." Siska menyipitkan mata, mencoba memfokuskan pandangannya. Aroma parfum maskulin yang segar dan mahal tercium. Dalam mabuknya, otak Siska memproyeksikan sosok yang paling dia harapkan. "Mas... Mas Hendri?" tanya Siska lirih. Pria itu terdiam sejenak, menatap Siska dengan tatapan yang sulit diartikan. "Aku bukan Hendri, Aku antar kamu istirahat ya. Kamu tidak aman sendirian di tempat seperti ini." "Mas Hendri jemput aku?" Siska tertawa sumbang, air mata tiba-tiba menetes membasahi pipinya yang memerah karena alkohol. "Tumben... biasanya Mas cuma bisa maki-maki aku. Mas sudah tidak marah sama Siska?" Pria itu tidak menjawab. Dia memapah Siska keluar dari bar yang bising itu, membawanya masuk ke dalam sebuah mobil, dan tak lama kemudian mereka sampai di sebuah kamar penginapan. Saat pria itu membaringkan Siska di kasur yang empuk, Siska menahan tangan pria itu agar tidak pergi. "Mas... jangan pergi..." rengek Siska, menarik leher pria itu hingga wajah mereka begitu dekat. Napas hangat pria itu menerpa wajah Siska. "Kenapa Mas jahat sekali sama Siska? Siska kurang apa, Mas? Siska rawat rumah, rawat Grace, jaga penampilan mati-matian demi Mas..." "Sstt... tenanglah," bisik pria itu lembut. Jemarinya yang kasar namun hangat menyeka air mata di pipi Siska. Sentuhan itu... begitu memabukkan bagi Siska. Berbeda jauh dengan sentuhan Hendri yang biasanya kasar, dingin, dan menuntut. "Aku kangen Mas yang dulu..." racau Siska lagi, memeluk tubuh tegap itu erat-erat, seolah takut pria itu akan menghilang jika dia melepaskannya. "Cintai aku, Mas. Sekali saja... tolong buat aku merasa diinginkan. Jangan bilang aku layu... jangan bilang aku tua..." "Kamu cantik, Siska. Sangat cantik, kamu sempurna dimataku Siska, setelah sekian lama, akhirnya aku menemukanmu" ucap pria itu. Suaranya terdengar begitu tulus di telinga Siska yang berdenging. "Buktikan..." tantang Siska setengah berbisik, lalu tanpa sadar dia menarik tengkuk pria itu dan mencium bibirnya. Pria itu sempat kaku sejenak, namun detik berikutnya dia membalas ciuman Siska. Ciuman yang menuntut, bergairah, namun penuh pemujaan. Malam itu, dalam ketidak sadarannya, Siska merasa menjadi wanita paling dicintai di dunia. Tidak ada kata-kata pedas. Tidak ada hinaan tentang fisiknya. Hanya desah napas, kehangatan kulit, dan penyatuan yang membuatnya lupa siapa dirinya, lupa pada luka bakar di betisnya, dan lupa pada sakit hatinya. *** Sinar matahari pagi yang terik menusuk kelopak mata Siska. Kepalanya pening luar biasa, Siska menoleh ke samping dan jantungnya nyaris berhenti berdetak saat itu juga. Seorang pria muda sedang tertidur pulas di sebelahnya. Dada bidangnya yang polos naik turun dengan teratur. Kulitnya kecokelatan eksotis, otot lengannya tercetak jelas. Wajahnya tampan dengan rahang tegas tapi terlihat... sangat muda. Jauh lebih muda darinya. Dia bukan Hendri. "Ya Tuhan!" pekik Siska tertahan, menutup mulutnya dengan tangan gemetar. Siska menyingkap selimut dan melihat tubuhnya sendiri polos tanpa benang. Memori semalam berkelebat cepat di kepalanya seperti film rusak. Ciuman itu, sentuhan itu, desahan itu... Dia melakukannya dengan orang asing! "Gila... Siska, kamu gila!" Sesal Siska pada dirinya sendiri sambil gemetar memunguti gaun pestanya yang tercecer berantakan di lantai. Siska berpakaian secepat kilat, menahan rasa tangis yang mendesak keluar. Apa yang sudah dia lakukan? Dia istri orang. Bagaimana kalau Hendri tahu? Bagaimana kalau Grace tahu ibunya tidur dengan laki-laki yang mungkin seumuran dengan teman-teman sekolah Grace? Dengan panik, Siska menyambar tas tangannya di atas meja nakas, memastikan dompet dan ponselnya ada, lalu berlari keluar dari penginapan itu tanpa menoleh lagi ke arah pria yang masih terlelap itu. Rasa bersalah menghantam Siska lebih keras daripada sakit kepalanya. “Maafin aku mas Hendri, Maafin aku Grace.” Dia berlalu sambil menangis.Setelah makan malam selesai, mereka berjalan perlahan menyusuri bibir pantai. Air laut yang dingin sesekali menyentuh kaki mereka. Arga tiba-tiba berhenti dan menarik Siska ke dalam pelukannya. "Siska, aku punya satu hadiah lagi untukmu," ucap Arga. "Hadiah apa lagi, Mas? Tadi kan sudah makan malam yang luar biasa," tanya Siska heran. Arga mengeluarkan sebuah kalung perak dengan liontin berbentuk sayap burung phoenix yang kecil namun sangat detail. Dia memasangkannya di leher Siska. "Burung phoenix ini melambangkan kamu. Kamu yang sudah bangkit dari abu kehancuran di masa lalu, dan kini terbang tinggi bersamaku. Jangan pernah merasa rendah diri, ya?" bisik Arga di telinga Siska. Siska menyentuh liontin itu dengan jari yang gemetar. Air mata kebahagiaan tidak bisa lagi ia bendung. "Aku mencintaimu, Mas Arga. Sangat mencintaimu." "Aku lebih mencintaimu, Siska," jawab Arga sebelum mendaratkan ciuman yang sangat dalam di bibir Siska di bawah siraman cahaya bulan Bali yang pera
Pagi itu, rumah terasa sedikit lebih sibuk dari biasanya. Siska baru saja selesai menyiapkan sarapan saat Arga turun dari lantai atas dengan setelan kemeja santai berwarna biru muda. Wajahnya tampak sangat segar, dengan senyum yang tidak pernah lepas dari bibirnya. Hari ini adalah hari istimewa, ulang tahun pernikahan mereka yang ketiga sejak janji suci itu diucapkan kembali di rumah baru mereka. "Selamat ulang tahun pernikahan, istriku yang hebat," bisik Arga sambil memeluk Siska dari belakang saat wanita itu sedang meletakkan piring di meja. Siska menoleh dan tersenyum manis. "Selamat ulang tahun pernikahan juga, Mas Arga. Terima kasih sudah bersabar menghadapi aku selama tiga tahun ini." "Bersabar? Aku rasa aku tidak perlu bersabar untuk mencintai wanita sepertimu, Siska. Itu adalah hal termudah yang pernah aku lakukan dalam hidupku," Arga mengecup pipi Siska dengan lembut. Grace turun dengan wajah ceria, dia sudah siap dengan pakaian santainya. "Selamat ulang tahun pernika
Beberapa minggu setelah pemakaman Hendri, kehidupan Siska dan Arga berjalan dengan kedamaian yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Namun, di balik senyum yang selalu Siska tunjukkan di depan yayasan dan keluarganya, ada sebuah keresahan kecil yang mulai tumbuh di lubuk hatinya. Sebuah keresahan yang bersifat sangat pribadi, yang berkaitan dengan jati dirinya sebagai seorang istri. Pagi itu, Siska duduk di tepi ranjang sambil menatap kalender kecil di ponselnya. Wajahnya tampak tegang, jemarinya sedikit bergetar saat menghitung hari. "Sudah telat dua minggu," gumam Siska lirih. Ada secercah harapan yang tiba-tiba membuncah di dadanya. Harapan yang mungkin terdengar mustahil mengingat usianya, namun tetap saja membuat jantungnya berdebar kencang. Apakah mungkin Tuhan memberikannya keajaiban? Apakah mungkin di dalam rahimnya kini sedang tumbuh buah cintanya dengan Arga? "Mama, kenapa belum turun? Papi sudah menunggu di bawah untuk sarapan," suara Grace terdengar dari balik
Siska masih merasakan kehangatan kecupan Arga di keningnya. Kata-kata suaminya tentang menjenguk Hendri masih terngiang jelas. Tawaran itu adalah sebuah bukti betapa luasnya hati Arga. Pria itu tidak hanya mencintai Siska, tetapi juga menghormati setiap kepingan masa lalu yang membentuk Siska menjadi wanita seperti sekarang. "Mas benar-benar tidak keberatan kalau kita ke sana?" tanya Siska meyakinkan sekali lagi. Tangannya masih memegang serbet yang tadi ia gunakan untuk merapikan meja. Arga tersenyum lembut, lalu menarik sebuah kursi dan duduk kembali di depan Siska. "Kenapa aku harus keberatan, Sayang? Siska, dengarkan aku. Rasa cemburu itu lahir dari rasa tidak percaya diri. Aku sangat percaya diri bahwa kamulah milikku sekarang. Menjenguk Hendri bukan berarti kita kembali ke masa lalu, tapi itu adalah cara kita menutup buku lama dengan cara yang elegan." Siska menghela napas panjang, merasa bebannya terangkat. "Terima kasih, Mas. Aku sempat takut kamu akan merasa tidak nyama
"Jika dia cukup berani untuk muncul di depanku setelah apa yang dia lakukan padamu, maka dia harus bersiap untuk kehilangan lebih dari sekadar istrinya."Kalimat Arga itu terus berputar-putar di benak Siska saat ia menatap kunci mobilnya yang tergeletak di atas meja marmer. Pagi ini, sebuah mobil d
"Aku tidak akan pernah membiarkanmu memiliki kesempatan untuk menghilang satu detik pun dari pengawasanku, Siska." Kalimat obsesif Arga itu masih terngiang di kepala Siska, namun rasa panik dan sisa harga diri sebagai seorang istri mendadak bangkit kembali. Siska melepaskan diri dari dekapan Arga
"Tidurlah yang nyenyak, karena mulai besok, kamu bukan lagi Nyonya Hendri Wijaya. Kamu hanya akan menjadi Siska milikku."Kalimat terakhir Arga semalam seolah masih bergetar di telinga Siska saat ia perlahan membuka matanya. Siska mengerjap, menatap langit-langit kamar yang tinggi dengan lampu kris
"Belum, Arga. Ada apa? Kenapa kamu mengetuk pintuku malam-malam begini?" Suara Siska terdengar serak dari balik daun pintu kamar utama yang tertutup rapat. Ia masih meringkuk di bawah selimut, menghirup aroma maskulin Arga yang tertinggal di bantal, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang masi












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.