LOGINRaisa adalah istri yang sempurna di mata tetangga: cantik, anggun, dan selalu tersenyum saat menyiram bunga di pagi hari. Tapi di balik senyumnya, tersembunyi tubuh yang meronta-ronta dalam sunyi. Suaminya, Dimas, pria mapan yang setia pada pekerjaannya... lebih setia pada layar laptop daripada menyentuh istrinya sendiri. Saat Aldo, tetangga muda di sebelah rumah, mulai mengobrol ringan dan menawarkan bantuan kecil, Raisa tak menyangka dirinya akan terjun begitu dalam pada lembah yang panas dan membakar. Satu sentuhan berubah menjadi ciuman. Satu ciuman berubah menjadi malam tanpa batas. Dan dari sanalah segalanya berantakan. Di antara kebohongan, hasrat, dan rahasia yang mengancam terbongkar, Raisa harus memilih: bertahan dalam rumah tangga dingin yang memenjarakan… atau terbakar oleh keinginan yang tak bisa lagi ia kendalikan. Tapi, ketika kebohongan mulai berlapis, dan cinta mulai menipu diri sendiri… siapa yang sebenarnya mengkhianati siapa?
View MoreKasur king-size itu terasa seluas padang pasir di tengah malam.
Raisa terbaring telentang, mata terbuka menatap langit-langit kamar yang gelap. Pola retak halus di plafon yang selama ini tidak pernah ia perhatikan kini terlihat jelas—seperti peta sungai kering, seperti garis-garis kehidupan yang tidak lagi mengalir.
Di sebelahnya, tubuh Dimas berbaring membelakangi—bahu yang dulu sering dipeluknya kini hanya berupa gundukan tak bergerak di balik selimut. Dengkurannya ritmis, stabil, dan sama sekali tak menyentuh jiwa. Napasnya teratur seperti metronom. Tik. Tok. Tik. Tok. Mekanis.
Seperti mesin, pikir Raisa. Suamiku tidur seperti mesin yang sedang dicharge untuk bekerja esok hari.
Ia memalingkan wajah ke jendela. Cahaya bulan menyelinap lewat celah gorden biru tua—gorden yang mereka pilih bersama tiga tahun lalu, saat masih ada "mereka" dalam setiap keputusan. Cahaya itu melukai garis wajahnya yang tak lagi mengenal senyum spontan. Tiga tahun pernikahan. Lima tahun pacaran sebelum itu. Delapan tahun total—cukup untuk membuat sebuah hubungan menjadi seperti sofa lama: nyaman secara teknis, tapi kehilangan segala daya pikat.
Tangannya meraba permukaan kasur di antara mereka. Dingin. Sprei sutra yang lembut terasa seperti es di ujung jarinya, meski AC kamar sudah dimatikan sejak tadi. Dingin dari ketiadaan. Dingin dari jarak.
Ia mengukur dengan jari: tiga puluh sentimeter. Tepat. Selalu selebar itu. Jarak yang tak pernah dilewati oleh salah satu dari mereka sejak enam bulan terakhir. Atau lebih lama? Raisa kehilangan hitungan. Waktu menjadi kabur ketika setiap hari terasa sama.
Enam bulan yang terasa seperti enam tahun.
Awal-awal pernikahan, mereka tidur berpelukan—kakinya menyelip di antara kaki Dimas, wajahnya terkubur di lehernya yang berbau sabun mandi dan aftershave kayu cedar. Bau itu dulu membuatnya tenang, membuat napasnya melambat, membuat tidurnya nyenyak. Tubuhnya melengkung sempurna mengikuti lekuk punggung Dimas. Hangat. Pas. Seperti dua keeping puzzle yang dirancang untuk saling melengkapi.
Kini? Mereka tidur seperti dua negara yang berdamai setelah perang—menghormati batas wilayah, tak ada invasi. Gencatan senjata permanen. Damai yang mati.
Raisa menghela napas. Suaranya sendiri terdengar keras di telinganya di keheningan kamar. Udara malam masuk lewat ventilasi, membawa bau samar bunga kamboja dari taman tetangga. Bau yang terlalu manis. Bau yang membuatnya sedikit mual.
Atau mungkin ia yang mual dengan kehidupannya sendiri.
Ia mencoba mengingat kapan terakhir kali mereka bercinta. Bukan sekadar hubungan seksual—ia bisa menghitungnya: tujuh puluh tiga hari lalu. Tujuh puluh tiga hari sejak tubuh Dimas masuk ke tubuhnya dengan gerakan cepat, mekanis, seperti menyelesaikan tugas. Lima menit. Mungkin tujuh. Lalu selesai. Selesai begitu saja.
Tapi kapan terakhir kali mereka bercinta? Kapan terakhir kali Dimas menatap matanya saat masuk ke tubuhnya? Kapan terakhir kali ia merasa diinginkan, bukan sekadar digunakan? Kapan terakhir kali ada ciuman yang lebih dari sekadar formalitas? Kapan terakhir kali ada sentuhan yang membuat kulitnya bergetar?
Tujuh puluh tiga hari. Cukup untuk membuat seorang wanita lupa bagaimana rasanya disentuh dengan cinta. Cukup untuk membuat tubuhnya merasa asing, seolah milik orang lain.
***
"Kamu lelah ya?" tanyanya suatu malam, setelah Dimas berguling dan langsung tertidur setelah bercinta singkat mereka.
"Lumayan. Deadline proyek gila-gilaan." Suaranya sudah setengah terlelap, tercekat di antara sadar dan tidur.
Raisa ingin berteriak: Aku juga lelah! Lelah dengan sunyi ini! Lelah dengan tubuhku yang tak pernah kau sentuh seperti dulu! Lelah dengan jarak tiga puluh sentimeter yang tidak pernah menyempit!
Tapi ia diam. Selalu diam. Seperti malam-malam lainnya. Kata-kata itu tersangkut di tenggorokan, membuat dadanya sesak.
***
Ia bangkit dari tempat tidur, kaki telanjang menyentuh lantai kayu yang dingin. Kayu jati yang mereka pilih karena "hangat dan natural," kata Dimas dulu. Tapi sekarang terasa seperti es. Atau mungkin kulitnya yang sudah mati rasa.
Berjalan menuju dapur, setiap langkah berbunyi pelan di keheningan rumah. Mengambil segelas air dari dispenser. Air dingin mengalir di tenggorokan, tapi tidak menghilangkan kekeringan di dadanya.
Di ruang keluarga, foto pernikahan mereka tergantung—Raisa dengan gaun pengantin putih yang membuatnya terlihat seperti puteri dongeng, mahkota kristal di rambut, senyum lebar yang tulus. Dimas dengan setelan hitam, dasi kupu-kupu, senyum yang kini lebih sering ia lihat di rapat Zoom daripada di rumah. Di foto itu, tangan mereka bertautan. Jari-jari saling menggenggam erat. Seperti tidak akan pernah terlepas.
Bohong.
Kita dulu tertawa, kenangnya, jari menelusuri pinggir frame foto yang mulai berdebu. Kapan terakhir kali ia membersihkan frame ini? Kapan terakhir kali ia benar-benar melihatnya?
Kita dulu saling mengejar di pantai saat bulan madu, air laut membasahi ujung gaunku, pasir menempel di kakimu. Kita tertawa sampai perutku sakit. Mencuri ciuman di lift hotel, tidak peduli ada orang lain yang melihat. Bercinta di dapur saat hujan deras, mejamu mengganjal punggungku tapi aku tidak peduli karena bibirmu ada di leherku dan tanganmu ada di pinggangku dan aku merasa hidup—
Kapan semua itu hilang?
Mungkin perlahan-lahan. Seperti es yang mencair di musim semi—tak terasa sampai semuanya sudah menjadi air yang menggenang, menjadi genangan kotor yang tidak bisa dikembalikan menjadi es lagi.
Raisa meletakkan gelas di wastafel. Airnya setengah diminum. Setengah lagi dibiarkan begitu saja—seperti banyak hal dalam hidupnya belakangan ini. Setengah-setengah. Tidak selesai. Menggantung.
Ia kembali ke kamar. Dimas masih dalam posisi yang sama. Bahkan tidak bergerak sedikit pun. Raisa merangkak ke tempat tidur, kasur berderit halus—bunyi yang biasanya tidak terdengar, tapi di keheningan malam ini terdengar seperti teriakan.
Matanya menatap punggung suaminya. Punggung yang dulu terasa seperti tempat paling aman di dunia. Sekarang terasa seperti tembok. Ada dorongan untuk menyentuhnya, memeluknya dari belakang, mencium bahunya, mencoba membangunkan sesuatu yang mungkin masih tersisa.
Tapi ia takut.
Bukan takut ditolak—takut diabaikan. Ditepuk seperti anak kecil. "Nanti, Sayang. Aku capek." Atau lebih buruk: diabaikan sepenuhnya. Tangannya disampingkan tanpa kata-kata. Seperti lalat yang hinggap. Seperti gangguan kecil yang bisa diabaikan.
Jadi ia membalikkan badan, menghadap jendela lagi. Matanya berkaca-kaca. Satu tetes air mata mengalir ke pelipis, hilang di rambut.
Aku istri yang baik, bisik hatinya. Aku memasak tiga kali sehari. Aku merapikan rumah sampai tidak ada debu. Aku tidak pernah menuntut. Aku tidak pernah marah. Aku tidak pernah mengeluh.
Tapi kenapa aku merasa seperti hantu di rumah sendiri?
Di luar, seekor kucing mengeong. Panjang. Sedih. Seperti menangis. Suara kehidupan yang terus berjalan sementara ia terbaring beku di kasurnya. Dunia berputar. Orang-orang mencintai. Orang-orang bercinta. Orang-orang hidup.
Sementara ia di sini. Tiga puluh sentimeter dari suaminya. Tapi terasa seperti tiga puluh ribu kilometer.
Raisa menutup mata, mencoba tidur. Tapi kelopak matanya tidak bisa menutup sepenuhnya. Cahaya bulan masih menyelinap masuk.
Tapi yang ia rasakan hanyalah sunyi yang semakin dalam, semakin menggigit. Sunyi yang punya gigi. Sunyi yang perlahan memakan jiwanya dari dalam.
Dan dalam sunyi itulah, untuk pertama kalinya, ia mulai bertanya:
Apa yang salah dengan diriku?
Apakah aku tidak cukup cantik? Tidak cukup menarik? Tidak cukup pintar? Tidak cukup... apa?
Atau... apa yang salah dengan kita?
Apakah pernikahan memang seperti ini? Apakah semua orang yang sudah menikah tiga tahun tidur dengan jarak tiga puluh sentimeter? Apakah ini normal? Apakah ini yang namanya "dewasa"?
Atau apakah kita yang salah?
Pertanyaan yang tidak punya jawaban. Atau mungkin punya, tapi ia terlalu takut untuk mengakuinya. Terlalu takut untuk menyebutnya dengan namanya.
Mati. Pernikahan mereka sudah mati.
Dan Raisa tidak tahu apakah masih bisa dihidupkan lagi.
Pagi itu, Dimas tidak pergi kerja.Raisa bangun dengan alarm jam enam seperti biasa. Keluar dari kamar utama yang kini terasa seperti galeri seni—semua furniture masih di tempatnya, tapi tak ada lagi kehidupan yang mengalir di antaranya. Hanya objek-objek yang berdiri diam, menunggu makna yang sudah lama pergi.Ia berjalan ke dapur untuk ritual pagi yang otomatis: air panas, kopi, roti panggang yang tak akan dimakan.Tapi seseorang sudah berada di sana.Dimas duduk di meja makan. Di depannya dua cangkir kopi yang masih mengepul. Satu untuknya, satu untuk Raisa. Seperti dulu. Sebelum semuanya rusak. Sebelum jarak tiga puluh sentimeter menjadi tiga puluh meter."Duduklah," katanya. Bukan perintah. Permohonan. Suaranya serak dari tidak tidur—atau dari menangis, Raisa tak bisa memastikan.Raisa duduk di kursi yang biasa ia duduki. Jarak satu meter melintasi meja. Cangkir kopi di depannya—hitam dengan satu gula, persis seperti yang ia suka. Dimas masih ingat. Setelah semua yang terjadi, de
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun pernikahan, Raisa tidur sendirian di kamar utama.Dimas tidur di kamar tamu—ruangan kecil di ujung koridor yang selama ini hanya digunakan untuk menyimpan barang-barang tidak terpakai. Kardus lama. Buku yang tidak dibaca. Pakaian musim dingin yang tidak pernah dipakai di Jakarta. Koper kosong. Barang-barang dari kehidupan lama yang tidak punya tempat di kehidupan sekarang.Sekarang tempat itu punya penghuni baru: suaminya sendiri.Jarak antara kamar mereka: tiga puluh meter sepanjang koridor.Tiga puluh meter yang terasa seperti tiga puluh kilometer. Seperti benua berbeda. Seperti planet berbeda.***Raisa berbaring di tempat tidur king-size yang mereka beli bersama dua tahun lalu. "Investment untuk future," kata Dimas waktu itu. "Supaya anak-anak kita bisa tidur di tengah kita nanti."Anak-anak yang tidak pernah datang. Yang tidak pernah mereka coba buat karena sudah lama tidak bercinta.Tempat tidur itu terasa lebih luas dari biasany
Itu terjadi saat mereka terlalu bersemangat.Sore itu, di kamar Aldo, mereka bercinta dengan intensitas yang lebih tinggi dari biasanya. Mungkin karena Dimas akan pulang malam dan Raisa punya waktu lebih. Mungkin karena mereka tahu waktu terbatas dan ingin maximize setiap detik. Mungkin karena kata "sayang" kemarin membuat semuanya lebih intens, lebih real, lebih berbahaya.Aldo mencium leher Raisa. Tempat favorit yang sudah ia hafal di luar kepala. Tempat di bawah telinga kiri yang selalu—selalu—membuat Raisa menggigil dan mengerang.Mencium. Menjilat. Menggigit lembut. Menghisap.Raisa terlalu lost dalam pleasure untuk sadar. Tenggelam dalam sensasi bibir Aldo di kulitnya, tangan Aldo di tubuhnya, Aldo yang mengisi dirinya dengan sempurna.Dan Aldo—terlalu fokus pada membuat Raisa merasakan bagus, pada membuat Raisa lupa segalanya kecuali namanya—juga tidak sadar bahwa ia menghisap terlalu lama. Terlalu kuat. Terlalu intense.Meninggalkan tanda.Hickey. Love bite. Bekas ciuman yang j
"Sayang, pelankan sedikit."Kata itu keluar dari mulut Aldo tanpa berpikir. Natural. Seperti napas.Mereka sedang bercinta di tempat tidurnya. Sore yang hangat dengan tirai setengah tertutup. Cahaya keemasan masuk dari celah, membuat kulit mereka bersinar seperti madu.Raisa di atas, menunggangi Aldo, bergerak dengan ritme yang steady. Pinggul naik turun. Tangan di dada Aldo untuk balance. Rambut terurai menutupi sebagian wajah.Cantik. Sangat cantik.Dan Aldo—tenggelam dalam sensasi tubuh Raisa yang hangat mengitarinya, dalam pandangan Raisa yang bergerak di atasnya dengan mata setengah tertutup—mengatakan kata itu tanpa filter."Sayang, pelankan sedikit."Raisa berhenti bergerak. Tiba-tiba. Sepenuhnya.Tubuh masih menyatu—Aldo masih di dalam Raisa—tapi tidak ada gerakan.Raisa menatap Aldo. Mata terbuka penuh sekarang. "Apa?"Aldo tersadar. Menyadari apa yang baru saja ia katakan. Wajahnya sedikit memerah—hal yang jarang terjadi pada pria yang biasanya percaya diri ini."Maaf. Itu...












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.