Aku, Seorang Istri Tetangga: Gairah Membara yang Terbebaskan

Aku, Seorang Istri Tetangga: Gairah Membara yang Terbebaskan

last updateLast Updated : 2026-02-22
By:  Reva ChazepUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
22Chapters
16.3Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Raisa adalah istri yang sempurna di mata tetangga: cantik, anggun, dan selalu tersenyum saat menyiram bunga di pagi hari. Tapi di balik senyumnya, tersembunyi tubuh yang meronta-ronta dalam sunyi. Suaminya, Dimas, pria mapan yang setia pada pekerjaannya... lebih setia pada layar laptop daripada menyentuh istrinya sendiri. Saat Aldo, tetangga muda di sebelah rumah, mulai mengobrol ringan dan menawarkan bantuan kecil, Raisa tak menyangka dirinya akan terjun begitu dalam pada lembah yang panas dan membakar. Satu sentuhan berubah menjadi ciuman. Satu ciuman berubah menjadi malam tanpa batas. Dan dari sanalah segalanya berantakan. Di antara kebohongan, hasrat, dan rahasia yang mengancam terbongkar, Raisa harus memilih: bertahan dalam rumah tangga dingin yang memenjarakan… atau terbakar oleh keinginan yang tak bisa lagi ia kendalikan. Tapi, ketika kebohongan mulai berlapis, dan cinta mulai menipu diri sendiri… siapa yang sebenarnya mengkhianati siapa?

View More

Chapter 1

Bab 1: Sunyi di Atas Kasur

Kasur king-size itu terasa seluas padang pasir di tengah malam.

Raisa terbaring telentang, mata terbuka menatap langit-langit kamar yang gelap. Pola retak halus di plafon yang selama ini tidak pernah ia perhatikan kini terlihat jelas—seperti peta sungai kering, seperti garis-garis kehidupan yang tidak lagi mengalir.

Di sebelahnya, tubuh Dimas berbaring membelakangi—bahu yang dulu sering dipeluknya kini hanya berupa gundukan tak bergerak di balik selimut. Dengkurannya ritmis, stabil, dan sama sekali tak menyentuh jiwa. Napasnya teratur seperti metronom. Tik. Tok. Tik. Tok. Mekanis.

Seperti mesin, pikir Raisa. Suamiku tidur seperti mesin yang sedang dicharge untuk bekerja esok hari.

Ia memalingkan wajah ke jendela. Cahaya bulan menyelinap lewat celah gorden biru tua—gorden yang mereka pilih bersama tiga tahun lalu, saat masih ada "mereka" dalam setiap keputusan. Cahaya itu melukai garis wajahnya yang tak lagi mengenal senyum spontan. Tiga tahun pernikahan. Lima tahun pacaran sebelum itu. Delapan tahun total—cukup untuk membuat sebuah hubungan menjadi seperti sofa lama: nyaman secara teknis, tapi kehilangan segala daya pikat.

Tangannya meraba permukaan kasur di antara mereka. Dingin. Sprei sutra yang lembut terasa seperti es di ujung jarinya, meski AC kamar sudah dimatikan sejak tadi. Dingin dari ketiadaan. Dingin dari jarak.

Ia mengukur dengan jari: tiga puluh sentimeter. Tepat. Selalu selebar itu. Jarak yang tak pernah dilewati oleh salah satu dari mereka sejak enam bulan terakhir. Atau lebih lama? Raisa kehilangan hitungan. Waktu menjadi kabur ketika setiap hari terasa sama.

Enam bulan yang terasa seperti enam tahun.

Awal-awal pernikahan, mereka tidur berpelukan—kakinya menyelip di antara kaki Dimas, wajahnya terkubur di lehernya yang berbau sabun mandi dan aftershave kayu cedar. Bau itu dulu membuatnya tenang, membuat napasnya melambat, membuat tidurnya nyenyak. Tubuhnya melengkung sempurna mengikuti lekuk punggung Dimas. Hangat. Pas. Seperti dua keeping puzzle yang dirancang untuk saling melengkapi.

Kini? Mereka tidur seperti dua negara yang berdamai setelah perang—menghormati batas wilayah, tak ada invasi. Gencatan senjata permanen. Damai yang mati.

Raisa menghela napas. Suaranya sendiri terdengar keras di telinganya di keheningan kamar. Udara malam masuk lewat ventilasi, membawa bau samar bunga kamboja dari taman tetangga. Bau yang terlalu manis. Bau yang membuatnya sedikit mual.

Atau mungkin ia yang mual dengan kehidupannya sendiri.

Ia mencoba mengingat kapan terakhir kali mereka bercinta. Bukan sekadar hubungan seksual—ia bisa menghitungnya: tujuh puluh tiga hari lalu. Tujuh puluh tiga hari sejak tubuh Dimas masuk ke tubuhnya dengan gerakan cepat, mekanis, seperti menyelesaikan tugas. Lima menit. Mungkin tujuh. Lalu selesai. Selesai begitu saja.

Tapi kapan terakhir kali mereka bercinta? Kapan terakhir kali Dimas menatap matanya saat masuk ke tubuhnya? Kapan terakhir kali ia merasa diinginkan, bukan sekadar digunakan? Kapan terakhir kali ada ciuman yang lebih dari sekadar formalitas? Kapan terakhir kali ada sentuhan yang membuat kulitnya bergetar?

Tujuh puluh tiga hari. Cukup untuk membuat seorang wanita lupa bagaimana rasanya disentuh dengan cinta. Cukup untuk membuat tubuhnya merasa asing, seolah milik orang lain.

***

"Kamu lelah ya?" tanyanya suatu malam, setelah Dimas berguling dan langsung tertidur setelah bercinta singkat mereka.

"Lumayan. Deadline proyek gila-gilaan." Suaranya sudah setengah terlelap, tercekat di antara sadar dan tidur.

Raisa ingin berteriak: Aku juga lelah! Lelah dengan sunyi ini! Lelah dengan tubuhku yang tak pernah kau sentuh seperti dulu! Lelah dengan jarak tiga puluh sentimeter yang tidak pernah menyempit!

Tapi ia diam. Selalu diam. Seperti malam-malam lainnya. Kata-kata itu tersangkut di tenggorokan, membuat dadanya sesak.

***

Ia bangkit dari tempat tidur, kaki telanjang menyentuh lantai kayu yang dingin. Kayu jati yang mereka pilih karena "hangat dan natural," kata Dimas dulu. Tapi sekarang terasa seperti es. Atau mungkin kulitnya yang sudah mati rasa.

Berjalan menuju dapur, setiap langkah berbunyi pelan di keheningan rumah. Mengambil segelas air dari dispenser. Air dingin mengalir di tenggorokan, tapi tidak menghilangkan kekeringan di dadanya.

Di ruang keluarga, foto pernikahan mereka tergantung—Raisa dengan gaun pengantin putih yang membuatnya terlihat seperti puteri dongeng, mahkota kristal di rambut, senyum lebar yang tulus. Dimas dengan setelan hitam, dasi kupu-kupu, senyum yang kini lebih sering ia lihat di rapat Zoom daripada di rumah. Di foto itu, tangan mereka bertautan. Jari-jari saling menggenggam erat. Seperti tidak akan pernah terlepas.

Bohong.

Kita dulu tertawa, kenangnya, jari menelusuri pinggir frame foto yang mulai berdebu. Kapan terakhir kali ia membersihkan frame ini? Kapan terakhir kali ia benar-benar melihatnya?

Kita dulu saling mengejar di pantai saat bulan madu, air laut membasahi ujung gaunku, pasir menempel di kakimu. Kita tertawa sampai perutku sakit. Mencuri ciuman di lift hotel, tidak peduli ada orang lain yang melihat. Bercinta di dapur saat hujan deras, mejamu mengganjal punggungku tapi aku tidak peduli karena bibirmu ada di leherku dan tanganmu ada di pinggangku dan aku merasa hidup—

Kapan semua itu hilang?

Mungkin perlahan-lahan. Seperti es yang mencair di musim semi—tak terasa sampai semuanya sudah menjadi air yang menggenang, menjadi genangan kotor yang tidak bisa dikembalikan menjadi es lagi.

Raisa meletakkan gelas di wastafel. Airnya setengah diminum. Setengah lagi dibiarkan begitu saja—seperti banyak hal dalam hidupnya belakangan ini. Setengah-setengah. Tidak selesai. Menggantung.

Ia kembali ke kamar. Dimas masih dalam posisi yang sama. Bahkan tidak bergerak sedikit pun. Raisa merangkak ke tempat tidur, kasur berderit halus—bunyi yang biasanya tidak terdengar, tapi di keheningan malam ini terdengar seperti teriakan.

Matanya menatap punggung suaminya. Punggung yang dulu terasa seperti tempat paling aman di dunia. Sekarang terasa seperti tembok. Ada dorongan untuk menyentuhnya, memeluknya dari belakang, mencium bahunya, mencoba membangunkan sesuatu yang mungkin masih tersisa.

Tapi ia takut.

Bukan takut ditolak—takut diabaikan. Ditepuk seperti anak kecil. "Nanti, Sayang. Aku capek." Atau lebih buruk: diabaikan sepenuhnya. Tangannya disampingkan tanpa kata-kata. Seperti lalat yang hinggap. Seperti gangguan kecil yang bisa diabaikan.

Jadi ia membalikkan badan, menghadap jendela lagi. Matanya berkaca-kaca. Satu tetes air mata mengalir ke pelipis, hilang di rambut.

Aku istri yang baik, bisik hatinya. Aku memasak tiga kali sehari. Aku merapikan rumah sampai tidak ada debu. Aku tidak pernah menuntut. Aku tidak pernah marah. Aku tidak pernah mengeluh.

Tapi kenapa aku merasa seperti hantu di rumah sendiri?

Di luar, seekor kucing mengeong. Panjang. Sedih. Seperti menangis. Suara kehidupan yang terus berjalan sementara ia terbaring beku di kasurnya. Dunia berputar. Orang-orang mencintai. Orang-orang bercinta. Orang-orang hidup.

Sementara ia di sini. Tiga puluh sentimeter dari suaminya. Tapi terasa seperti tiga puluh ribu kilometer.

Raisa menutup mata, mencoba tidur. Tapi kelopak matanya tidak bisa menutup sepenuhnya. Cahaya bulan masih menyelinap masuk.

Tapi yang ia rasakan hanyalah sunyi yang semakin dalam, semakin menggigit. Sunyi yang punya gigi. Sunyi yang perlahan memakan jiwanya dari dalam.

Dan dalam sunyi itulah, untuk pertama kalinya, ia mulai bertanya:

Apa yang salah dengan diriku?

Apakah aku tidak cukup cantik? Tidak cukup menarik? Tidak cukup pintar? Tidak cukup... apa?

Atau... apa yang salah dengan kita?

Apakah pernikahan memang seperti ini? Apakah semua orang yang sudah menikah tiga tahun tidur dengan jarak tiga puluh sentimeter? Apakah ini normal? Apakah ini yang namanya "dewasa"?

Atau apakah kita yang salah?

Pertanyaan yang tidak punya jawaban. Atau mungkin punya, tapi ia terlalu takut untuk mengakuinya. Terlalu takut untuk menyebutnya dengan namanya.

Mati. Pernikahan mereka sudah mati.

Dan Raisa tidak tahu apakah masih bisa dihidupkan lagi.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
22 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status