Share

Bab 16: Vibrator Ungu

Auteur: Reva Chazep
last update Dernière mise à jour: 2025-07-15 21:17:32
Jam 1:55 siang.

Raisa berdiri di depan rumah Aldo, jantung berdebar seperti drum di dada. Keras. Cepat. Tidak teratur.

Lima menit lagi. Lima menit sampai jam dua—waktu yang dijanjikan Aldo lewat pesan semalam. Pesan yang membuatnya tidak bisa tidur. Pesan yang membuatnya basah hanya dengan membaca.

"Jam 2. Rumahku. Jangan pakai celana dalam."

Dan ia menurut. Di bawah dress biru muda ini, ia tidak pakai apapun kecuali bra. Angin siang yang sepoi terasa di kulit paha, mengingatkan betapa telanjang
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • Aku, Seorang Istri Tetangga: Gairah Membara yang Terbebaskan   Bab 24 : Randy Menyapa di Lobi Kantor

    "Raisa? Raisa Surya?"Suara dari belakang membuat Raisa menoleh. Ia sedang menunggu Dimas di lobi kantor—menara kaca di kawasan SCBD yang AC-nya selalu terlalu dingin, membuat ia menyesal tidak membawa cardigan. Mereka berjanji makan siang bersama hari ini. Upaya rekonsiliasi setelah pisah kamar. Setelah percakapan jujur. Setelah insiden bekas ciuman.Pria yang memanggilnya terlihat familiar. Tinggi, rambut silver yang disisir rapi ke belakang, mengenakan setelan jas yang mahal—terlihat dari kain dan potongannya yang sempurna. Usia mungkin pertengahan empat puluhan, tapi terawat dengan baik."Maaf, saya—" Raisa bingung. Kenal tapi tidak ingat dari mana."Randy. Atasan Dimas." Ia mengulurkan tangan. "Kita pernah bertemu di company dinner tahun lalu."Oh. Sekarang Raisa ingat. Randy yang duduk di meja VIP. Yang memberikan sambutan tentang target kuartalan. Yang Dimas pernah sebutkan sebagai "bos yang menuntut tapi adil.""Oh ya, Pak Randy. Maaf tidak langsung ingat." Raisa menjabat tang

  • Aku, Seorang Istri Tetangga: Gairah Membara yang Terbebaskan   Bab 23 : Aldo Menuntut Kepastian

    "Pilih."Satu kata. Sederhana. Final. Membelah udara di ruang tamu Aldo seperti pisau.Raisa baru saja menutup pintu di belakangnya. Belum melepas sepatu. Belum duduk. Aldo sudah menjatuhkan bom."Pilih apa?" Raisa bingung, meski sebagian darinya tahu persis apa yang dimaksud."Aku atau dia." Aldo duduk di sofa, tangan terlipat, mata serius tanpa jejak kehangatan yang biasa. Tidak ada senyum. Tidak ada pelukan. Hanya tatapan tajam dan ultimatum yang telah lama tertunda. "Kamu tidak bisa terus seperti ini. Kita tidak bisa terus seperti ini."Jantung Raisa berdenyut kencang. Ini—ini yang telah ia hindari. Percakapan yang ia tahu akan terjadi suatu hari tapi berharap "suatu hari" itu masih jauh."Do, kita sudah pernah membicarakan ini—""Dan kamu selalu menghindari," potong Aldo. Tidak kasar, tapi tegas. "Selalu. 'Nanti.' 'Beri waktu.' 'Tidak semudah itu.' Aku sudah memberi waktu, Rais. Empat bulan. Empat bulan kita... apa pun ini. Dan aku tidak bisa lagi."Raisa duduk di ujung sofa. Jar

  • Aku, Seorang Istri Tetangga: Gairah Membara yang Terbebaskan   Bab 22: Percakapan yang Tertunda

    Pagi itu, Dimas tidak pergi kerja.Raisa bangun dengan alarm jam enam seperti biasa. Keluar dari kamar utama yang kini terasa seperti galeri seni—semua furniture masih di tempatnya, tapi tak ada lagi kehidupan yang mengalir di antaranya. Hanya objek-objek yang berdiri diam, menunggu makna yang sudah lama pergi.Ia berjalan ke dapur untuk ritual pagi yang otomatis: air panas, kopi, roti panggang yang tak akan dimakan.Tapi seseorang sudah berada di sana.Dimas duduk di meja makan. Di depannya dua cangkir kopi yang masih mengepul. Satu untuknya, satu untuk Raisa. Seperti dulu. Sebelum semuanya rusak. Sebelum jarak tiga puluh sentimeter menjadi tiga puluh meter."Duduklah," katanya. Bukan perintah. Permohonan. Suaranya serak dari tidak tidur—atau dari menangis, Raisa tak bisa memastikan.Raisa duduk di kursi yang biasa ia duduki. Jarak satu meter melintasi meja. Cangkir kopi di depannya—hitam dengan satu gula, persis seperti yang ia suka. Dimas masih ingat. Setelah semua yang terjadi, de

  • Aku, Seorang Istri Tetangga: Gairah Membara yang Terbebaskan   Bab 21: Kamar Tamu, Jarak 30 Meter

    Malam itu, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun pernikahan, Raisa tidur sendirian di kamar utama.Dimas tidur di kamar tamu—ruangan kecil di ujung koridor yang selama ini hanya digunakan untuk menyimpan barang-barang tidak terpakai. Kardus lama. Buku yang tidak dibaca. Pakaian musim dingin yang tidak pernah dipakai di Jakarta. Koper kosong. Barang-barang dari kehidupan lama yang tidak punya tempat di kehidupan sekarang.Sekarang tempat itu punya penghuni baru: suaminya sendiri.Jarak antara kamar mereka: tiga puluh meter sepanjang koridor.Tiga puluh meter yang terasa seperti tiga puluh kilometer. Seperti benua berbeda. Seperti planet berbeda.***Raisa berbaring di tempat tidur king-size yang mereka beli bersama dua tahun lalu. "Investment untuk future," kata Dimas waktu itu. "Supaya anak-anak kita bisa tidur di tengah kita nanti."Anak-anak yang tidak pernah datang. Yang tidak pernah mereka coba buat karena sudah lama tidak bercinta.Tempat tidur itu terasa lebih luas dari biasany

  • Aku, Seorang Istri Tetangga: Gairah Membara yang Terbebaskan   Bab 20: Tanda di Leher, Bohong di Mulut

    Itu terjadi saat mereka terlalu bersemangat.Sore itu, di kamar Aldo, mereka bercinta dengan intensitas yang lebih tinggi dari biasanya. Mungkin karena Dimas akan pulang malam dan Raisa punya waktu lebih. Mungkin karena mereka tahu waktu terbatas dan ingin maximize setiap detik. Mungkin karena kata "sayang" kemarin membuat semuanya lebih intens, lebih real, lebih berbahaya.Aldo mencium leher Raisa. Tempat favorit yang sudah ia hafal di luar kepala. Tempat di bawah telinga kiri yang selalu—selalu—membuat Raisa menggigil dan mengerang.Mencium. Menjilat. Menggigit lembut. Menghisap.Raisa terlalu lost dalam pleasure untuk sadar. Tenggelam dalam sensasi bibir Aldo di kulitnya, tangan Aldo di tubuhnya, Aldo yang mengisi dirinya dengan sempurna.Dan Aldo—terlalu fokus pada membuat Raisa merasakan bagus, pada membuat Raisa lupa segalanya kecuali namanya—juga tidak sadar bahwa ia menghisap terlalu lama. Terlalu kuat. Terlalu intense.Meninggalkan tanda.Hickey. Love bite. Bekas ciuman yang j

  • Aku, Seorang Istri Tetangga: Gairah Membara yang Terbebaskan   Bab 19: Panggilan Sayang yang Bukan untuk Suami

    "Sayang, pelankan sedikit."Kata itu keluar dari mulut Aldo tanpa berpikir. Natural. Seperti napas.Mereka sedang bercinta di tempat tidurnya. Sore yang hangat dengan tirai setengah tertutup. Cahaya keemasan masuk dari celah, membuat kulit mereka bersinar seperti madu.Raisa di atas, menunggangi Aldo, bergerak dengan ritme yang steady. Pinggul naik turun. Tangan di dada Aldo untuk balance. Rambut terurai menutupi sebagian wajah.Cantik. Sangat cantik.Dan Aldo—tenggelam dalam sensasi tubuh Raisa yang hangat mengitarinya, dalam pandangan Raisa yang bergerak di atasnya dengan mata setengah tertutup—mengatakan kata itu tanpa filter."Sayang, pelankan sedikit."Raisa berhenti bergerak. Tiba-tiba. Sepenuhnya.Tubuh masih menyatu—Aldo masih di dalam Raisa—tapi tidak ada gerakan.Raisa menatap Aldo. Mata terbuka penuh sekarang. "Apa?"Aldo tersadar. Menyadari apa yang baru saja ia katakan. Wajahnya sedikit memerah—hal yang jarang terjadi pada pria yang biasanya percaya diri ini."Maaf. Itu...

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status