Share

Bab 7: Tatapan yang Terlambat Pergi

Penulis: Reva Chazep
last update Terakhir Diperbarui: 2025-06-13 10:23:16

Hujan turun tanpa peringatan siang itu.

Langit yang tadinya cerah tiba-tiba gelap dalam hitungan menit. Awan hitam mengumpul seperti tinta di air. Lalu—tanpa angin, tanpa petir—hujan turun.

Deras. Langsung deras.

Raisa baru saja kembali dari supermarket Lotte Mart di ujung kompleks, membawa dua tas belanjaan plastik besar yang berat. Satu tas berisi sayuran dan buah. Satu lagi berisi daging, susu, telur. Keduanya berat sampai pegangan plastik menggores kulit telapak tangannya, meninggalkan garis merah.

Ia berusaha membuka pagar rumah dengan satu tangan—tangan kiri yang gemetar menahan berat tas—sementara tangan kanan mencoba memutar kenop pagar yang licin karena hujan.

Tidak berhasil.

Tas belanjaan bergoyang. Satu botol susu hampir jatuh.

"Butuh bantuan?"

Suara dari belakang. Dalam. Hangat. Familiar.

Raisa menoleh cepat.

Aldo berdiri di balik pagar rumahnya—hanya berjarak tiga meter. Mengenakan jaket jeans biru tua dengan kerah terangkat melindungi leher. Kaus putih di dalam. Celana jogger abu-abu. Sepatu sneaker yang sudah basah.

Rambutnya basah sedikit oleh rintik hujan—ikal-ikal hitam menempel di dahi. Air menetes di pelipisnya, mengalir lambat ke pipi, ke rahang yang tegas, turun ke leher yang terekspos di antara kerah jaket.

Raisa menatap air itu mengalir. Mengikuti jalurnya dengan mata.

"Ah, tidak usah repot-repot," katanya, tapi suaranya tidak yakin. Tas di tangannya sudah hampir jatuh.

"Biarkan saya."

Aldo tidak menunggu jawaban. Ia cepat melangkah keluar dari pagar rumahnya, melintasi jarak kecil di antara mereka dalam tiga langkah panjang, dan mengambil kedua tas dari tangan Raisa.

Jari mereka bersinggungan saat tas berpindah tangan.

Kulit bertemu kulit.

Sekejap.

Mungkin hanya satu detik. Mungkin kurang.

Tapi Raisa merasa seperti tersengat listrik kecil—bukan yang menyakitkan, tapi yang membuat jantung berdebar tiba-tiba, yang membuat napas tersangkut, yang membuat bulu roma di lengan berdiri.

Getaran yang menjalar dari ujung jari—dari titik di mana kulit Aldo menyentuh kulitnya—ke pergelangan tangan, naik ke lengan, menyebar ke bahu, turun ke dada, berhenti tepat di jantung yang tiba-tiba berdetak terlalu keras.

Tangan Aldo hangat.

Bukan panas. Tapi hangat. Seperti seseorang yang baru minum teh hangat. Atau seperti seseorang yang darahnya mengalir dengan baik, tidak dingin dari duduk terlalu lama di ruang ber-AC seperti Dimas.

Hangat dan sedikit kasar—telapak yang terasa ada tekstur, bukan mulus seperti tangan orang kantor yang jarang mengangkat benda berat.

Raisa menarik napas cepat—napas yang terdengar lebih keras dari yang ia maksud.

Mencoba tersenyum normal. Bibir terangkat. Mata menyipit sedikit.

"Terima kasih."

Suaranya keluar sedikit serak. Ia berdeham.

"Sama-sama."

Aldo tersenyum—senyum kecil yang membuat sudut matanya berkerut. Ia membuka pagar untuk Raisa dengan tangan bebas, lalu membawa kedua tas belanjaan ke teras rumahnya.

Raisa mengikuti, kaki sedikit gemetar.

Mereka berdiri di teras—Raisa di dekat pintu, Aldo di ujung teras dekat tangga.

Hujan semakin deras di luar. Bunyi air menghantam genteng terdengar seperti drum. Cipratan hujan mencapai ujung teras, membasahi ujung sepatu Raisa.

Aldo meletakkan tas belanjaan di lantai teras dengan hati-hati—bukan dijatuhkan, tapi diletakkan perlahan agar telur tidak pecah.

Tapi ia tidak segera pergi.

Berdiri di sana, tangan masuk ke saku jaket, menatap hujan sebentar. Lalu menatap Raisa.

Matanya memandang wajah Raisa—bukan sekilas, bukan sekedar melihat, tapi benar-benar menatap. Seperti mempelajari. Seperti menghafal.

Seperti fitur wajahnya adalah sesuatu yang penting.

Raisa merasa pipinya memanas di bawah tatapan itu.

"Kamu sering belanja sendirian?" tanyanya.

Pertanyaan sederhana. Tapi ada sesuatu dalam nada suaranya—perhatian? Keingintahuan? Raisa tidak yakin.

"Suamiku sibuk kerja," jawabnya. Jawaban standar. Jawaban yang sudah ia ucapkan ratusan kali ke ratusan orang.

Tapi kali ini terdengar berbeda. Terdengar seperti... penjelasan. Atau pembenaran.

Aldo mengangguk. Tidak berkomentar. Tidak menilai.

"Saya juga kerja dari rumah," katanya. "Kadang baru sadar sudah seminggu tidak keluar. Kulkas kosong. Dapur kacau. Baju menumpuk."

Ia tertawa—tawa yang rendah, dari dada. Tawa yang membuat Raisa ingin ikut tertawa.

"Desainer grafis, kan?" Raisa ingat dari perkenalan pertama mereka.

"Iya. Banyak klien dari luar negeri—Singapura, Australia, kadang Amerika—jadi jam kerjanya aneh-aneh." Aldo mengangkat bahu. "Kadang kerja tengah malam sampai subuh, lalu tidur sepanjang hari. Tetangga mungkin mengira saya pemalas atau vampire."

Raisa tertawa kecil.

Tawa yang sudah lama tidak keluar dari bibirnya. Tawa yang tulus. Tawa yang tidak dipaksakan.

Kapan terakhir kali ia tertawa seperti ini? Tertawa karena sesuatu benar-benar lucu, bukan karena sopan santun?

Ia tidak ingat.

"Aku pikir orang kreatif memang begitu," katanya. "Hidupnya tidak teratur tapi karya-karyanya bagus."

"Kamu kerja?"

Pertanyaan yang ia sudah antisipasi tapi tetap membuat dadanya sesak.

"Tidak. Dulu aku guru TK, tapi berhenti setelah menikah."

Raisa tidak tahu mengapa ia memberi informasi pribadi ini. Biasanya ia pendiam dengan orang baru. Biasanya ia hanya tersenyum dan mengalihkan pembicaraan.

Tapi dengan Aldo, kata-kata keluar sendiri.

"Kenapa berhenti?"

"Dimas—suamiku—bilang tidak perlu. Dia bilang penghasilannya cukup untuk kita berdua. Katanya lebih baik aku di rumah, mengurus rumah tangga."

Raisa tiba-tiba sadar betapa kuno—betapa pathetic—kedengarannya.

Wanita modern mana yang berhenti kerja hanya karena suami bilang tidak perlu? Wanita modern mana yang tidak punya identitas selain "istri"?

Tapi Aldo tidak menilai.

Wajahnya tetap tenang. Matanya tetap hangat.

"Mungkin kamu bisa buka les privat atau sesuatu," usulnya. "Untuk anak-anak di kompleks. Supaya tidak bosan di rumah. Dan kamu masih bisa mengajar."

"Mungkin." Raisa menunduk, menatap ujung sepatunya yang basah. "Tapi aku sudah terbiasa. Sudah tiga tahun seperti ini."

Tiga tahun. Terdengar seperti kalimat penjara.

Diam sebentar.

Hujan berdentum di atap seng dengan ritme yang tidak teratur. Denting. Denting. Denting.

Aldo masih belum pergi. Masih berdiri di sana, dengan jaket yang mulai basah di bahu, dengan rambut yang menetes air ke wajah.

Raisa juga tidak mengusirnya. Tidak bilang "oke terima kasih, aku masuk dulu". Tidak membuka pintu.

Hanya berdiri di sana. Dua orang di teras kecil, dengan hujan di luar dan sunyi yang nyaman di antara mereka.

"Kamu dari mana aslinya?" tanya Aldo, memecah sunyi.

"Bandung. Tapi sudah sepuluh tahun di Jakarta. Pindah untuk kuliah, lalu kerja, lalu... nikah."

"Wah, sama." Matanya berbinar—kilau yang tulus. "Saya juga dari Bandung. Lahir dan besar di sana. Pindah ke Jakarta cuma lima tahun lalu karena klien banyak di sini."

"Masih sering pulang?"

"Jarang. Sibuk. Kamu?"

"Aku juga jarang. Orang tuaku sudah meninggal. Jadi tidak ada yang dikunjungi."

Kata-kata keluar datar, tapi ada berat di sana.

Aldo tidak bertanya lebih. Hanya mengangguk—gesture yang bilang "aku mengerti" tanpa kata.

Lalu senyum muncul di wajahnya lagi.

"Masih suka makan batagor?"

Pertanyaan yang tidak terduga membuat Raisa tertawa.

"Duh, jangan tanya!" Matanya berbinar sekarang—sama seperti mata Aldo tadi. "Aku kangen batagor Pak Ujang di alun-alun. Yang pakai kacang halus dan bumbu kacang yang kental. Dimakan panas-panas dengan tahu goreng dan siomay."

"Yang dekat Masjid Agung, kan?" Aldo tertawa. Suaranya mengisi teras yang biasanya sunyi. "Itu favorit saya juga! Batagornya selalu enak. Dan sambalnya—wah, sambalnya itu yang bikin nagih."

"Iya! Sambalnya pas. Tidak terlalu pedas tapi ada kick-nya."

Mereka berbicara tentang Bandung.

Tentang batagor. Tentang seblak Jelita. Tentang pisang molen Kartika Sari. Tentang jalan-jalan di Dago sore hari. Tentang udara dingin Lembang. Tentang hal-hal kecil yang tidak penting tapi menyenangkan.

Raisa lupa waktu.

Lupa bahwa tas belanjaan yang berisi daging masih di lantai dan harus segera dimasukkan kulkas. Lupa bahwa ia harus mulai masak untuk makan malam. Lupa bahwa ia istri orang yang seharusnya tidak berdiri terlalu lama dengan tetangga pria yang masih lajang.

Hanya... berbicara. Dan tertawa. Dan merasa... hidup.

***

Hujan mulai reda.

Dari deras menjadi rintik-rintik. Bunyi di atap melambat.

Aldo akhirnya melirik ke langit, lalu ke rumahnya.

"Sepertinya hujan sudah berhenti," katanya, suaranya agak ragu—seperti tidak benar-benar ingin pergi. "Saya harus kembali kerja. Ada deadline hari ini."

"Oh, iya."

Raisa tiba-tiba merasa kecewa. Perasaan yang tidak seharusnya ada tapi ada.

"Terima kasih lagi untuk bantuannya. Dan untuk ngobrol."

"Sama-sama." Aldo tersenyum. "Senang ngobrol denganmu."

Ia melangkah turun dari teras. Satu anak tangga. Dua anak tangga.

Lalu berhenti.

Menoleh.

"Raisa."

Cara ia mengucapkan namanya—lengkap, pelan, seperti merasakan setiap suku kata—membuat jantung Raisa melompat.

"Ya?"

"Senang ngobrol denganmu," ulangnya. "Jarang ketemu orang yang juga dari Bandung. Apalagi yang masih ingat batagor Pak Ujang."

Raisa tersenyum. "Aku juga senang."

Aldo mengangguk.

Lalu—sebelum berbalik—tatapannya kembali ke wajah Raisa.

Lama.

Terlalu lama untuk sekadar "selamat tinggal".

Matanya bergerak dari mata Raisa—cokelat yang lebih terang dari mata Aldo—turun perlahan. Ke hidung. Ke pipi. Ke...

Bibir.

Tatapan itu berhenti di bibir Raisa.

Mata Aldo menatap bibir Raisa dengan intensitas yang membuat udara terasa lebih tipis.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Raisa tidak bernapas. Tidak bergerak. Tidak bisa.

Bibir nya—yang tadinya ia tidak sadari sama sekali—tiba-tiba terasa sangat hadir. Sangat... telanjang.

Ia ingin menjilat bibir. Atau menggigit. Atau menyentuh dengan jari untuk memastikan masih ada.

Tapi ia tidak bergerak.

Hanya berdiri di sana, membiarkan Aldo menatap bibirnya seperti itu adalah sesuatu yang layak ditatap.

Lalu—seolah tersadar—Aldo mengangkat mata kembali ke mata Raisa.

Dan tersenyum.

Senyum kecil. Lembut. Tapi ada sesuatu di sana—sesuatu yang membuat perut Raisa mengencang, yang membuat napas tersangkut, yang membuat bagian antara pahanya terasa hangat.

"Sampai jumpa, Raisa."

Lalu ia berbalik dan pergi.

Berjalan santai kembali ke rumahnya. Tidak terburu-buru. Tidak menoleh.

Meninggalkan Raisa berdiri sendirian di teras.

***

Raisa berdiri di sana sampai Aldo masuk ke rumahnya dan pintu tertutup.

Jantungnya masih berdebar kencang. Lebih kencang dari saat lari. Lebih kencang dari saat naik tangga.

Detak yang terasa sampai ke telinga. Thump. Thump. Thump.

Sentuhan tadi—sentuhan jari yang sangat singkat—masih terasa di kulitnya.

Getaran kecil yang ia rasakan bahkan di ujung jari. Seperti ada sisa-sisa listrik yang masih mengalir di sana. Seperti kulitnya mengingat sentuhan itu dan tidak mau lupa.

Dan tatapan itu...

Tatapan ke bibirnya yang berlangsung tiga detik tapi terasa seperti selamanya.

Tatapan itu seperti janji yang tidak terucap.

Janji tentang apa? Raisa tidak tahu.

Tapi tubuhnya tahu. Tubuhnya merespons dengan cara yang ia tidak bisa kontrol—jantung berdebar, napas pendek, wajah panas, bagian antara paha terasa berdenyut halus.

Ia menekan tangan ke dada, mencoba menenangkan jantung yang gila.

Tapi tidak berhasil.

***

Akhirnya ia masuk ke rumah, membawa tas belanjaan yang sudah ia lupakan.

Menutup pintu. Bersandar di baliknya.

Menarik napas dalam. Menghembuskan perlahan.

Pikirannya masih di teras. Pada senyuman Aldo. Pada tatapannya yang terlambat pergi. Pada cara ia menatap bibir.

Pada kata "Raisa" yang keluar dari mulutnya dengan cara yang membuat nama itu terdengar seperti sesuatu yang berharga.

Saat ia menyimpan bahan makanan di kulkas—daging di freezer, sayur di laci bawah, susu di rak pintu—tangannya masih bergetar sedikit.

Ia menekan tangan itu ke dada lagi, tepat di atas jantung yang masih belum tenang.

Ini hanya karena sudah lama tidak ngobrol dengan orang, bisiknya pada diri sendiri. Hanya karena kesepian. Hanya karena jarang ada yang benar-benar mendengarkan.

Hanya itu.

Tapi bagian lain dalam dirinya—bagian yang lebih jujur, bagian yang lebih berbahaya—berbisik balik:

Bohong.

Ini bukan hanya karena kesepian.

Ini karena ketertarikan.

Ini karena gairah.

Ini karena keinginan untuk dikenal, untuk dilihat, untuk diinginkan—keinginan yang sudah terlalu lama dikubur, yang sekarang mulai bangkit, yang sekarang mulai membahayakan.

***

Malam itu, saat Dimas pulang—jam sembilan seperti biasa, dengan tas laptop seperti biasa, dengan wajah lelah seperti biasa—Raisa memperhatikannya dengan mata yang berbeda.

Mata yang baru saja melihat pria lain.

Mata yang baru saja dibuat berdebar oleh tatapan pria lain.

Cara Dimas makan terasa lebih... tergesa-gesa dari biasanya. Atau memang selalu begitu dan ia baru menyadarinya?

Caranya memeriksa ponsel setiap lima menit. Atau dua menit. Atau satu menit. Seperti ada dunia lain yang lebih penting dari dunia di meja makan ini.

Caranya tidak pernah benar-benar melihat Raisa. Mata lewat tanpa melihat. Seperti Raisa adalah bagian dari furnitur.

"Aku ngobrol dengan tetangga baru tadi," katanya saat makan malam, mencoba memulai percakapan. Mencoba merasa normal.

"Oh ya?" Dimas tidak mengangkat mata dari piring. Atau mungkin dari ponsel di samping piring.

"Dia juga dari Bandung. Kita ngobrol tentang makanan Bandung. Tentang batagor."

"Bagus."

Satu kata. Datar.

Raisa menunggu lebih. Sebuah pertanyaan. Sebuah komentar. Sebuah tawa. Sebuah "oh batagor Bandung memang enak ya" atau "kita kapan-kapan kesana yuk" atau apapun yang menunjukkan ia mendengarkan.

Tapi tidak ada.

Hanya "bagus" yang bahkan tidak terdengar seperti ia benar-benar mendengar.

Dimas sudah selesai makan—cepat, dalam lima menit, tanpa mengunyah dengan benar—mengangkat piring kotor ke dapur.

"Aku ada telekonferensi sama tim Amerika," katanya dari dapur. "Mulai jam sepuluh. Jangan ganggu ya."

Bukan permintaan. Perintah.

Dan ia pergi ke kamar kerja—ruang kecil yang tadinya kamar tamu—menutup pintu. Klik.

Meninggalkan Raisa sendirian di meja makan dengan piring setengah terisi dan sunyi yang terlalu familiar.

***

Raisa duduk di sana beberapa menit.

Menatap piring kosong Dimas. Menatap piring setengah penuh miliknya sendiri.

Lalu berdiri.

Mengangkat piring. Mencuci. Gerakan otomatis yang sudah dilakukan ribuan kali.

Tapi pikirannya tidak di sini.

Pikirannya di teras tadi siang. Di tawa yang keluar tulus. Di percakapan yang mengalir natural. Di perasaan didengar—benar-benar didengar—untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan.

Bertahun-tahun mungkin.

Tanpa sadar, ia berjalan ke jendela ruang tamu. Jendela yang menghadap rumah sebelah.

Lampu di kamar Aldo menyala. Cahaya kuning hangat menembus tirai yang tipis.

Bayangan seseorang bergerak di balik tirai—siluet yang tinggi, bergerak dari satu sisi kamar ke sisi lain.

Tanpa berpikir—tanpa sadar apa yang ia lakukan—Raisa melangkah lebih dekat ke jendela.

Tangannya menempel di kaca yang dingin.

Napas membuat kabut kecil di kaca.

Ia menatap bayangan itu.

Aldo muncul di jendela—hanya siluet gelap melawan cahaya di belakang, tapi Raisa tahu itu dia. Mengenal postur tubuhnya meski hanya bayangan. Mengenal cara ia bergerak.

Untuk sesaat—sekilas—sepertinya Aldo menatap ke arah jendela Raisa.

Jantungnya melompat.

Apakah dia melihatku?

Apakah dia tahu aku di sini, menatapnya seperti ini?

Tapi tidak. Mustahil. Dari rumahnya, dengan cahaya di belakang, ia tidak bisa melihat ke luar. Hanya siluet di jendela rumah sebelah yang gelap.

Raisa tetap berdiri di sana. Tangan di kaca. Napas membuat kabut yang memudar dan muncul lagi.

Menatap.

Sampai lampu di kamar Aldo mati.

Sampai bayangan menghilang.

Sampai tinggal kegelapan.

Baru kemudian ia mundur dari jendela.

Tangan gemetar saat ia turunkan dari kaca.

Meninggalkan jejak telapak tangan yang perlahan memudar.

Ia menyentuh dadanya sendiri. Jantung masih berdebar.

Apa yang kulakukan? pikirnya. Apa yang sedang terjadi padaku?

Tapi ia tahu jawabannya.

Sesuatu telah dimulai hari ini.

Di teras, di bawah hujan, dengan sentuhan jari yang sangat singkat dan tatapan yang terlalu lama.

Sesuatu yang berbahaya.

Sesuatu yang ia tahu seharusnya dihentikan.

Tapi sesuatu yang—entah kenapa—ia tidak yakin ia mau hentikan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Aku, Seorang Istri Tetangga: Gairah Membara yang Terbebaskan   Bab 24 : Randy Menyapa di Lobi Kantor

    "Raisa? Raisa Surya?"Suara dari belakang membuat Raisa menoleh. Ia sedang menunggu Dimas di lobi kantor—menara kaca di kawasan SCBD yang AC-nya selalu terlalu dingin, membuat ia menyesal tidak membawa cardigan. Mereka berjanji makan siang bersama hari ini. Upaya rekonsiliasi setelah pisah kamar. Setelah percakapan jujur. Setelah insiden bekas ciuman.Pria yang memanggilnya terlihat familiar. Tinggi, rambut silver yang disisir rapi ke belakang, mengenakan setelan jas yang mahal—terlihat dari kain dan potongannya yang sempurna. Usia mungkin pertengahan empat puluhan, tapi terawat dengan baik."Maaf, saya—" Raisa bingung. Kenal tapi tidak ingat dari mana."Randy. Atasan Dimas." Ia mengulurkan tangan. "Kita pernah bertemu di company dinner tahun lalu."Oh. Sekarang Raisa ingat. Randy yang duduk di meja VIP. Yang memberikan sambutan tentang target kuartalan. Yang Dimas pernah sebutkan sebagai "bos yang menuntut tapi adil.""Oh ya, Pak Randy. Maaf tidak langsung ingat." Raisa menjabat tang

  • Aku, Seorang Istri Tetangga: Gairah Membara yang Terbebaskan   Bab 23 : Aldo Menuntut Kepastian

    "Pilih."Satu kata. Sederhana. Final. Membelah udara di ruang tamu Aldo seperti pisau.Raisa baru saja menutup pintu di belakangnya. Belum melepas sepatu. Belum duduk. Aldo sudah menjatuhkan bom."Pilih apa?" Raisa bingung, meski sebagian darinya tahu persis apa yang dimaksud."Aku atau dia." Aldo duduk di sofa, tangan terlipat, mata serius tanpa jejak kehangatan yang biasa. Tidak ada senyum. Tidak ada pelukan. Hanya tatapan tajam dan ultimatum yang telah lama tertunda. "Kamu tidak bisa terus seperti ini. Kita tidak bisa terus seperti ini."Jantung Raisa berdenyut kencang. Ini—ini yang telah ia hindari. Percakapan yang ia tahu akan terjadi suatu hari tapi berharap "suatu hari" itu masih jauh."Do, kita sudah pernah membicarakan ini—""Dan kamu selalu menghindari," potong Aldo. Tidak kasar, tapi tegas. "Selalu. 'Nanti.' 'Beri waktu.' 'Tidak semudah itu.' Aku sudah memberi waktu, Rais. Empat bulan. Empat bulan kita... apa pun ini. Dan aku tidak bisa lagi."Raisa duduk di ujung sofa. Jar

  • Aku, Seorang Istri Tetangga: Gairah Membara yang Terbebaskan   Bab 22: Percakapan yang Tertunda

    Pagi itu, Dimas tidak pergi kerja.Raisa bangun dengan alarm jam enam seperti biasa. Keluar dari kamar utama yang kini terasa seperti galeri seni—semua furniture masih di tempatnya, tapi tak ada lagi kehidupan yang mengalir di antaranya. Hanya objek-objek yang berdiri diam, menunggu makna yang sudah lama pergi.Ia berjalan ke dapur untuk ritual pagi yang otomatis: air panas, kopi, roti panggang yang tak akan dimakan.Tapi seseorang sudah berada di sana.Dimas duduk di meja makan. Di depannya dua cangkir kopi yang masih mengepul. Satu untuknya, satu untuk Raisa. Seperti dulu. Sebelum semuanya rusak. Sebelum jarak tiga puluh sentimeter menjadi tiga puluh meter."Duduklah," katanya. Bukan perintah. Permohonan. Suaranya serak dari tidak tidur—atau dari menangis, Raisa tak bisa memastikan.Raisa duduk di kursi yang biasa ia duduki. Jarak satu meter melintasi meja. Cangkir kopi di depannya—hitam dengan satu gula, persis seperti yang ia suka. Dimas masih ingat. Setelah semua yang terjadi, de

  • Aku, Seorang Istri Tetangga: Gairah Membara yang Terbebaskan   Bab 21: Kamar Tamu, Jarak 30 Meter

    Malam itu, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun pernikahan, Raisa tidur sendirian di kamar utama.Dimas tidur di kamar tamu—ruangan kecil di ujung koridor yang selama ini hanya digunakan untuk menyimpan barang-barang tidak terpakai. Kardus lama. Buku yang tidak dibaca. Pakaian musim dingin yang tidak pernah dipakai di Jakarta. Koper kosong. Barang-barang dari kehidupan lama yang tidak punya tempat di kehidupan sekarang.Sekarang tempat itu punya penghuni baru: suaminya sendiri.Jarak antara kamar mereka: tiga puluh meter sepanjang koridor.Tiga puluh meter yang terasa seperti tiga puluh kilometer. Seperti benua berbeda. Seperti planet berbeda.***Raisa berbaring di tempat tidur king-size yang mereka beli bersama dua tahun lalu. "Investment untuk future," kata Dimas waktu itu. "Supaya anak-anak kita bisa tidur di tengah kita nanti."Anak-anak yang tidak pernah datang. Yang tidak pernah mereka coba buat karena sudah lama tidak bercinta.Tempat tidur itu terasa lebih luas dari biasany

  • Aku, Seorang Istri Tetangga: Gairah Membara yang Terbebaskan   Bab 20: Tanda di Leher, Bohong di Mulut

    Itu terjadi saat mereka terlalu bersemangat.Sore itu, di kamar Aldo, mereka bercinta dengan intensitas yang lebih tinggi dari biasanya. Mungkin karena Dimas akan pulang malam dan Raisa punya waktu lebih. Mungkin karena mereka tahu waktu terbatas dan ingin maximize setiap detik. Mungkin karena kata "sayang" kemarin membuat semuanya lebih intens, lebih real, lebih berbahaya.Aldo mencium leher Raisa. Tempat favorit yang sudah ia hafal di luar kepala. Tempat di bawah telinga kiri yang selalu—selalu—membuat Raisa menggigil dan mengerang.Mencium. Menjilat. Menggigit lembut. Menghisap.Raisa terlalu lost dalam pleasure untuk sadar. Tenggelam dalam sensasi bibir Aldo di kulitnya, tangan Aldo di tubuhnya, Aldo yang mengisi dirinya dengan sempurna.Dan Aldo—terlalu fokus pada membuat Raisa merasakan bagus, pada membuat Raisa lupa segalanya kecuali namanya—juga tidak sadar bahwa ia menghisap terlalu lama. Terlalu kuat. Terlalu intense.Meninggalkan tanda.Hickey. Love bite. Bekas ciuman yang j

  • Aku, Seorang Istri Tetangga: Gairah Membara yang Terbebaskan   Bab 19: Panggilan Sayang yang Bukan untuk Suami

    "Sayang, pelankan sedikit."Kata itu keluar dari mulut Aldo tanpa berpikir. Natural. Seperti napas.Mereka sedang bercinta di tempat tidurnya. Sore yang hangat dengan tirai setengah tertutup. Cahaya keemasan masuk dari celah, membuat kulit mereka bersinar seperti madu.Raisa di atas, menunggangi Aldo, bergerak dengan ritme yang steady. Pinggul naik turun. Tangan di dada Aldo untuk balance. Rambut terurai menutupi sebagian wajah.Cantik. Sangat cantik.Dan Aldo—tenggelam dalam sensasi tubuh Raisa yang hangat mengitarinya, dalam pandangan Raisa yang bergerak di atasnya dengan mata setengah tertutup—mengatakan kata itu tanpa filter."Sayang, pelankan sedikit."Raisa berhenti bergerak. Tiba-tiba. Sepenuhnya.Tubuh masih menyatu—Aldo masih di dalam Raisa—tapi tidak ada gerakan.Raisa menatap Aldo. Mata terbuka penuh sekarang. "Apa?"Aldo tersadar. Menyadari apa yang baru saja ia katakan. Wajahnya sedikit memerah—hal yang jarang terjadi pada pria yang biasanya percaya diri ini."Maaf. Itu...

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status