Masuk"Dan kemudian dia bilang, 'Sayang, jangan khawatir, istriku lagi ke luar kota!'"
Lina tertawa terbahak-bahak. Tawa yang keras, tanpa filter, tanpa malu. Gelas anggurnya hampir tumpah—cairan merah tua bergoyang berbahaya di tepi kristal.
Ruang tamu rumah Sari riuh dengan suara tawa wanita-wanita lain dalam arisan bulanan. Delapan wanita, duduk melingkar di sofa dan kursi yang didatangkan khusus untuk acara ini. Kue-kue manis tersaji di meja kaca—brownies, macarons impor, fruit tart dengan krim yang lembut. Porselen putih dengan motif bunga-bunga kecil. Taplak meja dengan renda. Serbet dilipat rapi seperti angsa.
Arisan ibu-ibu komplek. Ritual bulanan. Perkumpulan wanita-wanita yang suaminya bekerja di perusahaan-perusahaan besar, yang rumahnya besar dengan garasi dua mobil, yang hidupnya dari luar terlihat sempurna.
Raisa duduk di suduk, di kursi single sofa yang agak terpisah dari yang lain. Mencoba tersenyum. Mencoba ikut tertawa saat yang lain tertawa. Mencoba terlihat seperti bagian dari mereka.
Tapi di dalam, perutnya mual.
Lina—dengan lipstik merah menyala yang terlalu terang untuk siang hari, dengan blus sutra hitam yang terlalu terbuka di dada sampai belahan payudaranya terlihat jelas, dengan rok pensil ketat yang memperlihatkan lekuk pinggul yang dirawat dengan gym dan diet ketat—baru saja bercerita tentang bagaimana ia berselingkuh dengan kolega suaminya.
Bercerita dengan detail. Dengan gairah. Dengan tawa.
Seperti bercerita tentang liburan menyenangkan. Bukan pengkhianatan.
"Kalian harus coba," lanjut Lina, matanya berbinar—mata dengan mascara tebal, eyeshadow smokey yang membuat matanya terlihat lebih besar, lebih lapar. "Dia masih muda, dua puluh sembilan. Tubuhnya kencang... ah, membuatku merasa seperti dua puluh tahun lagi! Seperti bukan ibu-ibu yang anaknya sudah SMA!"
Beberapa wanita terkikik. Beberapa menyesap wine mereka untuk menyembunyikan ekspresi. Sari—tuan rumah yang duduk di tengah dengan gaun pastel pink yang sopan—terkikik malu-malu sambil menutup mulut dengan tangan.
"Lina, jangan keras-keras," bisiknya, mencoba terdengar menegur tapi sebenarnya terhibur. "Tetangga dengar nanti."
"Biarkan dengar!" Lina menenggak anggur merahnya—gulp besar yang tidak feminin, tidak elegan. Gelas hampir kosong sekarang. "Hidup cuma sekali, kan? Mau sampai tua penuh penyesalan?"
Dia mengusap bibirnya dengan jari, merapikan lipstik yang sedikit luntur. Kukunya panjang, dicat merah gelap, manicure profesional yang mahal.
"Suamiku?" Dia memutar mata. "Dia sibuk dengan bisnisnya. Pagi sampai malam. Bahkan weekend. Aku butuh perhatian. Aku butuh... sentuhan. Simple."
Kata "sentuhan" diucapkan dengan penekanan. Dengan intonasi yang membuat maknanya sangat jelas.
***
Raisa memperhatikan wanita-wanita lain.
Beberapa tertawa geli, mata mereka bersinar—mungkin tertarik, mungkin terhibur, mungkin... iri?
Beberapa menghindari tatapan, fokus pada kue di piring mereka, mengunyah dengan sedikit terlalu hati-hati.
Tapi tak ada yang benar-benar terkejut.
Tak ada yang berdiri dan bilang "Lina, itu salah! Kamu selingkuh!"
Tak ada yang menghakimi.
Sepertinya rahasia Lina bukan rahasia lagi. Sepertinya ini sudah menjadi gosip umum. Dan semua orang... menerima.
Atau mungkin mereka semua punya rahasia sendiri? pikir Raisa. Mungkin di balik rumah-rumah besar ini, di balik pernikahan yang terlihat sempurna, semua orang punya... apa?
Selingkuh? Fantasi? Penyesalan?
"Raisa, kamu diam sekali," sahut Lina tiba-tiba.
Mata tajamnya—mata yang sudah terlatih membaca orang, mata predator—menatap Raisa. Semua orang ikut menoleh. Delapan pasang mata sekarang fokus pada Raisa yang duduk di sudut.
Raisa merasa seperti rusa yang tiba-tiba disorot lampu mobil.
"Suamimu masih romantis?" tanya Lina. Nada suaranya seperti menggoda, tapi ada sesuatu di bawahnya. Sesuatu yang lebih tajam. Seperti pisau di balik velvet.
Semua mata tertuju padanya. Menunggu jawaban.
Raisa merasa pipinya memanas. Panas yang menjalar dari leher ke wajah. "Kami... biasa saja."
Biasa saja. Kata paling aman yang bisa ia ucapkan.
"Biasa saja?" Lina mengangkat alis—alis yang dicukur rapi lalu digambar ulang dengan pensil alis yang mahal. "Wah, hati-hati, Sayang. 'Biasa saja' itu awal dari 'bosan'. Dan kalau sudah bosan..."
Dia tak menyelesaikan kalimat. Hanya tersenyum sinis. Senyum yang berkata: aku tahu jalannya. Aku sudah melewatinya.
Raisa ingin mnghilang. Ingin merosot di kursi sampai tidak terlihat. Atau kabur ke kamar mandi dan tidak keluar sampai arisan selesai.
***
Arisan berlanjut dengan ritual normalnya.
Undian untuk menentukan siapa yang dapat giliran uang bulan ini. Kertas-kertas kecil dalam toples kaca. Sari yang mengguncang toples sambil tertawa. Nama dipanggil satu per satu.
Bagi-bagi uang—amplop putih dengan tulisan nama di luar. Lima ratus ribu per orang, dikumpulkan setiap bulan. Giliran berputar.
Obrolan tentang anak-anak. Sekolah mana yang bagus. Les tambahan apa yang efektif. Guru privat matematika yang recommended.
Obrolan tentang travel. "Kami mau ke Jepang bulan depan." "Kami baru pulang dari Eropa, capek tapi seru." "Ada yang pernah ke Maladewa?"
Obrolan tentang renovasi rumah, designer interior, tukang yang jujur.
Tapi Raisa tak bisa fokus.
Pikirannya terjebak pada kata-kata Lina.
Ia memperhatikan Lina yang sekarang sedang ngobrol santai dengan Sari dan dua wanita lain. Tertawa. Makan kue. Menyesap wine.
Cara Lina bicara tentang perselingkuhan seperti membicarakan hobi baru. "Oh ya, aku baru coba kelas yoga. Enak lho." "Oh ya, aku baru selingkuh sama pria dua puluh sembilan tahun. Enak lho."
Tanpa rasa bersalah. Tanpa takut. Tanpa gemetar seperti Raisa saat hanya membayangkan menyentuh diri sendiri sambil berpikir tentang Aldo.
Seperti ini adalah hal paling wajar di dunia.
Apakah semua orang melakukannya? pikir Raisa sambil menatap wanita-wanita di ruangan ini.
Sari yang tertawa sopan—apakah dia juga punya rahasia?
Rita yang duduk di sebelahnya dengan kemeja rapi—apakah suaminya tahu dia ada di sini mendengarkan cerita selingkuh tanpa protes?
Apakah di balik pintu-pintu rumah yang terlihat sempurna ini, di balik pagar yang rapi, di balik mobil mewah di garasi, ada rahasia-rahasia seperti ini?
Berapa persen dari pernikahan yang "sempurna" ini sebenarnya kosong di dalam?
***
Raisa juga memperhatikan sesuatu yang lain: dompet Lina.
Tas tangan kecil yang diletakkan di meja samping. Branded. Logo LV yang jelas. Kulit asli yang mengkilap. Model terbaru yang baru keluar bulan lalu—Raisa tahu karena ia lihat di majalah fashion di salon.
Harganya... Raisa tidak berani menghitung. Setara dengan gaji tiga bulan Dimas, mungkin. Atau lebih.
Lina melihat Raisa menatap dompetnya. Mata tajam itu tidak melewatkan apapun.
"Hadiah dari suami," katanya, mengambil tas itu dan memegangnya dengan lembut, seperti memegang bayi. Tersenyum manis. Senyum yang sempurna. "Dia tahu cara menghargai istrinya."
Tapi ada sesuatu dalam senyum itu.
Sesuatu yang terlalu manis. Terlalu dibuat. Seperti permen dengan racun di dalam.
Dan mata Lina—untuk sedetik sangat cepat—berkilat dengan sesuatu yang bukan kebahagiaan.
Takut? Perhitungan? Rahasia?
Raisa tidak tahu saat itu bahwa dompet itu adalah bagian dari teka-teki yang jauh lebih besar.
Bahwa Lina tidak hanya berselingkuh dengan kolega suami. Bahwa di balik lipstik merah dan wine merah dan tawa keras, Lina sedang membangun jaringan yang akan menjeratnya—dan mungkin orang lain—dalam pusaran yang lebih gelap. Lebih berbahaya.
Kriminal.
Tapi saat itu Raisa hanya berpikir: Lina bahagia.
Atau setidaknya, ia terlihat bahagia.
Dan itu lebih dari yang bisa Raisa katakan tentang dirinya sendiri.
***
Saat arisan selesai—setelah undian, setelah uang dibagi, setelah kue habis dan wine tinggal sedikit—wanita-wanita mulai berpamitan.
Raisa juga mengambil tasnya. Siap pulang.
Tapi ia melihat Lina yang sedang mengambil tasnya di foyer. Sendirian.
Kesempatan.
Raisa berjalan mendekat, jantung berdebar. "Lina, boleh bicara sebentar?"
Lina menoleh. Senyum sedikit mengejek muncul di bibirnya yang merah. "Tentang apa? Mau minta nomor pria mudaku?"
"Bukan!" Raisa cepat-cepat membantah, wajah memerah. "Aku hanya... penasaran. Tentang yang tadi kamu ceritakan."
"Aha!" Lina tertawa—tawa rendah, sedikit serak dari terlalu banyak wine. "Tertarik?"
"Bukan tertarik! Aku hanya..." Raisa berhenti, mencari kata. "Apakah tidak berbahaya?"
Lina menghela napas. Tiba-tiba tawa hilang dari wajahnya. Tiba-tiba ia terlihat... lebih tua. Lebih lelah.
"Raisa, lihat aku." Ia menghadap Raisa sepenuhnya. Mata ke mata. "Usiaku empat puluh dua. Anakku sudah kelas dua SMA. Suamiku lima puluh tahun. Kami sudah menikah dua puluh tahun."
Ia bicara pelan sekarang. Serius.
"Kami sudah seperti saudara. Atau lebih buruk—seperti teman sekantor. Dia menghidupiku secara finansial. Aku menghiburnya dengan masak dan jagain rumah. Tapi cinta?" Dia menggeleng. "Gairah? Sentuhan yang membuat jantung berdebar?"
Ia mengetuk dadanya sendiri. "Itu butuh usaha. Dan kadang, Rais, kadang usaha itu datang dari tempat lain. Karena di tempat yang seharusnya—di rumah, di tempat tidur sendiri—sudah tidak ada lagi."
"Tapi kalau ketahuan..." Raisa berbisik.
"Maka jangan ketahuan." Lina membuka tas, mengambil lipstik, mengoleskan ulang dengan gerakan praktis. Merah menyala kembali di bibir. "Atau jika ketahuan, hadapi. Aku sudah siapkan exit plan. Uang di rekening terpisah. Kontak pengacara. Dokumen-dokumen penting."
Ia menutup lipstik dengan bunyi klik. "Hidup terlalu singkat untuk hidup dalam ketidakbahagiaan, Raisa."
Raisa terdiam. Tidak tahu harus berkata apa.
Lina memasukkan lipstik ke tas—tas LV yang mahal itu. Lalu menatap Raisa lagi.
"Kamu bahagia, Rais?"
Pertanyaan tiba-tiba. Tajam. Langsung ke jantung.
Raisa terkejut. Mulut terbuka tapi tidak ada suara. Lalu pelan, sangat pelan: "Aku... aku tidak tahu."
Lina mengangguk. Seperti sudah menduga jawaban itu. Seperti sudah pernah ada di posisi yang sama.
"Jika kamu tidak tahu, berarti tidak," katanya lembut. "Orang yang bahagia tahu mereka bahagia. Tidak perlu bertanya. Tidak perlu ragu."
Ia menepuk bahu Raisa—tepukan yang terasa lebih tua, lebih bijak, lebih... sedih.
"Pikirkan, Sayang. Tapi jangan terlalu lama berpikir. Waktu tidak akan menunggu. Aku empat puluh dua baru berani. Jangan seperti aku. Jangan buang dua puluh tahun dulu."
Lina pergi, sepatu hak tingginya berbunyi klik-klik di lantai marmer. Meninggalkan Raisa berdiri sendiri di teras rumah Sari.
***
Angin malam berhembus. Membawa bau bunga melati dari taman Sari yang terawat. Bau yang manis. Bau yang menipu—seperti kehidupan di komplek ini yang terlihat manis dari luar tapi pahit di dalam.
Raisa berdiri di sana, memeluk tasnya sendiri.
Dari kejauhan, ia melihat lampu rumah sebelah menyala.
Rumahnya. Rumah yang ia tinggali bersama Dimas.
Tidak. Bukan rumahnya. Lampu di sebelah rumahnya.
Lampu rumah Aldo.
Aldo.
Pikirannya kembali ke Lina. Ke perselingkuhannya yang diceritakan dengan bangga. Ke caranya bicara tentang gairah seperti barang yang bisa dicari di luar jika tidak ada di dalam.
Seperti belanja. "Oh, di rumah tidak ada susu. Ya sudah beli di luar."
"Oh, di rumah tidak ada cinta. Ya sudah cari di luar."
Itu salah, bisik hati Raisa. Aku tidak akan seperti itu. Aku tidak akan berselingkuh.
Tapi suara lain berbisik lebih keras: Kamu sudah mulai.
Kamu sudah berfantasi tentang Aldo. Kamu sudah menyentuh dirimu sambil membayangkan dia. Kamu sudah menulis namanya di jurnal.
Itu juga selingkuh. Selingkuh dalam pikiran. Selingkuh dalam hati.
Dan mungkin lebih berbahaya. Karena tidak ada yang tahu. Tidak ada yang mengontrol. Tidak ada batasan.
***
Saat ia pulang ke rumahnya yang sunyi—pintu terbuka tanpa ada yang menyambut, tidak ada "kamu sudah pulang?" seperti di drama-drama TV—ia melihat ruang keluarga.
Dimas sedang tertidur di sofa.
Laptop masih terbuka di dadanya, layar menyala dengan spreadsheet yang penuh angka. Kacamata masih bertengger di hidung. Mulut sedikit terbuka, dengkuran halus keluar.
Tertidur di sofa. Bukan di tempat tidur. Bukan di kamar bersama.
Raisa berdiri di pintu, menatap suaminya yang tertidur.
Wajahnya yang dulu ia cintai. Wajah yang dulu membuatnya tersenyum hanya dengan melihat. Wajah yang dulu ia cium setiap pagi sebelum ia sadar sepenuhnya.
Kini terlihat seperti wajah orang asing.
Atau mungkin ia yang menjadi asing.
Apakah ini yang akan terjadi pada mereka? pikir Raisa. Tidur terpisah. Hidup terpisah. Melewati satu sama lain seperti hantu. Sampai salah satu dari mereka mencari "usaha" di tempat lain?
Sampai salah satu dari mereka menjadi Lina?
Atau mungkin sudah terjadi. Mungkin mereka sudah di sana. Hanya belum mengakui.
***
Raisa tidak membangunkan Dimas.
Ia langsung pergi ke kamar. Mengambil jurnalnya dari laci tersembunyi.
Duduk di tepi tempat tidur—tempat tidur besar yang kosong, yang tidak akan ditiduri Dimas malam ini karena ia akan tertidur di sofa sampai pagi.
Ia menulis dengan cepat. Marah. Emosi mengalir lewat tinta.
***
Setelah Arisan
Lina berselingkuh dan dia bangga akan itu. Dia cerita di depan delapan wanita dengan tawa dan wine. Tidak ada yang protes. Tidak ada yang terkejut.
Dia bilang hidup terlalu singkat untuk tidak bahagia.
Apakah itu pembenaran? Atau kebenaran?
Dia bilang gairah dan cinta butuh usaha. Dan kadang usaha itu datang dari tempat lain.
Aku mau menolak pemikiran itu. Aku mau bilang itu salah.
Tapi bagian dariku—bagian yang kecil tapi terus membesar—berbisik: dia benar.
Aku melihat Dimas tidur di sofa tadi. Dia bahkan tak masuk ke tempat tidur. Dia bahkan tak ingat ada aku di rumah ini.
Aku bertanya: apakah dia juga tidak bahagia? Atau dia hanya terbiasa?
Apakah ketidakbahagiaan yang terbiasa lebih buruk dari ketidakbahagiaan yang disadari?
Aku tak ingin berselingkuh.
Aku tak ingin jadi seperti Lina.
Tapi aku juga tak ingin mati pelan-pelan di dalam pernikahan ini.
Aku merasa seperti tumbuhan yang tidak disiram. Perlahan layu. Perlahan kering. Sampai suatu hari tidak bisa hidup lagi.
Ada sesuatu yang harus berubah.
Tapi apa? Dan bagaimana?
Dan apakah aku cukup berani untuk melakukan perubahan itu?
Raisa menutup jurnal. Meletakkannya di laci. Mengunci.
Lalu ia berdiri, berjalan ke jendela.
Melihat bayangannya di kaca gelap.
Wanita dengan mata lapar dan hati yang bingung. Wanita yang berdiri di persimpangan. Wanita yang tidak tahu harus belok kiri atau kanan.
Di luar, lampu rumah Aldo masih menyala.
Cahaya kuning hangat menembus tirai yang setengah tertutup. Bayangan bergerak di dalam. Aldo yang masih terjaga. Mungkin bekerja. Mungkin menonton TV. Mungkin... apapun.
Seperti mercusuar kecil di lautan sunyi.
Dan Raisa, untuk pertama kalinya, membiarkan dirinya memikirkan kemungkinan yang selama ini ia tolak.
Membiarkan pikirannya berlari ke arah yang berbahaya.
Membiarkan imajinasinya membayangkan apa yang akan terjadi jika...
Jika apa? bisik suara takut di kepalanya.
Jika ia mengetuk pintu itu suatu malam? Jika ia bilang "aku kesepian"? Jika tangannya menyentuh tangan Aldo?
Tidak. Tidak. Tidak.
Tapi mata Raisa tidak bergerak dari lampu itu.
Tidak bergerak sampai lampu itu padam—jam sebelas malam, Aldo tidur.
Dan baru setelah itu, Raisa masuk ke tempat tidur besar yang kosong.
Sendirian.
Seperti biasa.
"Raisa? Raisa Surya?"Suara dari belakang membuat Raisa menoleh. Ia sedang menunggu Dimas di lobi kantor—menara kaca di kawasan SCBD yang AC-nya selalu terlalu dingin, membuat ia menyesal tidak membawa cardigan. Mereka berjanji makan siang bersama hari ini. Upaya rekonsiliasi setelah pisah kamar. Setelah percakapan jujur. Setelah insiden bekas ciuman.Pria yang memanggilnya terlihat familiar. Tinggi, rambut silver yang disisir rapi ke belakang, mengenakan setelan jas yang mahal—terlihat dari kain dan potongannya yang sempurna. Usia mungkin pertengahan empat puluhan, tapi terawat dengan baik."Maaf, saya—" Raisa bingung. Kenal tapi tidak ingat dari mana."Randy. Atasan Dimas." Ia mengulurkan tangan. "Kita pernah bertemu di company dinner tahun lalu."Oh. Sekarang Raisa ingat. Randy yang duduk di meja VIP. Yang memberikan sambutan tentang target kuartalan. Yang Dimas pernah sebutkan sebagai "bos yang menuntut tapi adil.""Oh ya, Pak Randy. Maaf tidak langsung ingat." Raisa menjabat tang
"Pilih."Satu kata. Sederhana. Final. Membelah udara di ruang tamu Aldo seperti pisau.Raisa baru saja menutup pintu di belakangnya. Belum melepas sepatu. Belum duduk. Aldo sudah menjatuhkan bom."Pilih apa?" Raisa bingung, meski sebagian darinya tahu persis apa yang dimaksud."Aku atau dia." Aldo duduk di sofa, tangan terlipat, mata serius tanpa jejak kehangatan yang biasa. Tidak ada senyum. Tidak ada pelukan. Hanya tatapan tajam dan ultimatum yang telah lama tertunda. "Kamu tidak bisa terus seperti ini. Kita tidak bisa terus seperti ini."Jantung Raisa berdenyut kencang. Ini—ini yang telah ia hindari. Percakapan yang ia tahu akan terjadi suatu hari tapi berharap "suatu hari" itu masih jauh."Do, kita sudah pernah membicarakan ini—""Dan kamu selalu menghindari," potong Aldo. Tidak kasar, tapi tegas. "Selalu. 'Nanti.' 'Beri waktu.' 'Tidak semudah itu.' Aku sudah memberi waktu, Rais. Empat bulan. Empat bulan kita... apa pun ini. Dan aku tidak bisa lagi."Raisa duduk di ujung sofa. Jar
Pagi itu, Dimas tidak pergi kerja.Raisa bangun dengan alarm jam enam seperti biasa. Keluar dari kamar utama yang kini terasa seperti galeri seni—semua furniture masih di tempatnya, tapi tak ada lagi kehidupan yang mengalir di antaranya. Hanya objek-objek yang berdiri diam, menunggu makna yang sudah lama pergi.Ia berjalan ke dapur untuk ritual pagi yang otomatis: air panas, kopi, roti panggang yang tak akan dimakan.Tapi seseorang sudah berada di sana.Dimas duduk di meja makan. Di depannya dua cangkir kopi yang masih mengepul. Satu untuknya, satu untuk Raisa. Seperti dulu. Sebelum semuanya rusak. Sebelum jarak tiga puluh sentimeter menjadi tiga puluh meter."Duduklah," katanya. Bukan perintah. Permohonan. Suaranya serak dari tidak tidur—atau dari menangis, Raisa tak bisa memastikan.Raisa duduk di kursi yang biasa ia duduki. Jarak satu meter melintasi meja. Cangkir kopi di depannya—hitam dengan satu gula, persis seperti yang ia suka. Dimas masih ingat. Setelah semua yang terjadi, de
Malam itu, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun pernikahan, Raisa tidur sendirian di kamar utama.Dimas tidur di kamar tamu—ruangan kecil di ujung koridor yang selama ini hanya digunakan untuk menyimpan barang-barang tidak terpakai. Kardus lama. Buku yang tidak dibaca. Pakaian musim dingin yang tidak pernah dipakai di Jakarta. Koper kosong. Barang-barang dari kehidupan lama yang tidak punya tempat di kehidupan sekarang.Sekarang tempat itu punya penghuni baru: suaminya sendiri.Jarak antara kamar mereka: tiga puluh meter sepanjang koridor.Tiga puluh meter yang terasa seperti tiga puluh kilometer. Seperti benua berbeda. Seperti planet berbeda.***Raisa berbaring di tempat tidur king-size yang mereka beli bersama dua tahun lalu. "Investment untuk future," kata Dimas waktu itu. "Supaya anak-anak kita bisa tidur di tengah kita nanti."Anak-anak yang tidak pernah datang. Yang tidak pernah mereka coba buat karena sudah lama tidak bercinta.Tempat tidur itu terasa lebih luas dari biasany
Itu terjadi saat mereka terlalu bersemangat.Sore itu, di kamar Aldo, mereka bercinta dengan intensitas yang lebih tinggi dari biasanya. Mungkin karena Dimas akan pulang malam dan Raisa punya waktu lebih. Mungkin karena mereka tahu waktu terbatas dan ingin maximize setiap detik. Mungkin karena kata "sayang" kemarin membuat semuanya lebih intens, lebih real, lebih berbahaya.Aldo mencium leher Raisa. Tempat favorit yang sudah ia hafal di luar kepala. Tempat di bawah telinga kiri yang selalu—selalu—membuat Raisa menggigil dan mengerang.Mencium. Menjilat. Menggigit lembut. Menghisap.Raisa terlalu lost dalam pleasure untuk sadar. Tenggelam dalam sensasi bibir Aldo di kulitnya, tangan Aldo di tubuhnya, Aldo yang mengisi dirinya dengan sempurna.Dan Aldo—terlalu fokus pada membuat Raisa merasakan bagus, pada membuat Raisa lupa segalanya kecuali namanya—juga tidak sadar bahwa ia menghisap terlalu lama. Terlalu kuat. Terlalu intense.Meninggalkan tanda.Hickey. Love bite. Bekas ciuman yang j
"Sayang, pelankan sedikit."Kata itu keluar dari mulut Aldo tanpa berpikir. Natural. Seperti napas.Mereka sedang bercinta di tempat tidurnya. Sore yang hangat dengan tirai setengah tertutup. Cahaya keemasan masuk dari celah, membuat kulit mereka bersinar seperti madu.Raisa di atas, menunggangi Aldo, bergerak dengan ritme yang steady. Pinggul naik turun. Tangan di dada Aldo untuk balance. Rambut terurai menutupi sebagian wajah.Cantik. Sangat cantik.Dan Aldo—tenggelam dalam sensasi tubuh Raisa yang hangat mengitarinya, dalam pandangan Raisa yang bergerak di atasnya dengan mata setengah tertutup—mengatakan kata itu tanpa filter."Sayang, pelankan sedikit."Raisa berhenti bergerak. Tiba-tiba. Sepenuhnya.Tubuh masih menyatu—Aldo masih di dalam Raisa—tapi tidak ada gerakan.Raisa menatap Aldo. Mata terbuka penuh sekarang. "Apa?"Aldo tersadar. Menyadari apa yang baru saja ia katakan. Wajahnya sedikit memerah—hal yang jarang terjadi pada pria yang biasanya percaya diri ini."Maaf. Itu...