MasukCeline Broische– gadis yang menikah beberapa bulan lalu dikejutkan jika suaminya berselingkuh dengan janda anak satu, depresi lalu mabuk ia kembali di pertemukan dengan kekasih semasa kuliahnya yang hilang. "Saya ga menyangka adik ipar yang ingin kenalkan pada saya adalah kamu, Eline" Celine berniat membalaskan dendam pada suaminya lewat mantan kekasihnya itu, Apakah akhirnya Celine akan memilih iparnya atau suaminya
Lihat lebih banyakAroma mentega cair dan ragi yang sedang mengembang selalu menjadi obat penenang bagi Celine Broische. Di dalam toko rotinya yang mungil namun estetik, lulusan terbaik Universitas Ashford ini merasa dunianya lengkap. Dengan senyum lembutnya yang khas, Celine menyerahkan sekantong croissant hangat kepada seorang pelanggan anak-anak.
"Terima kasih, Tante Celine!" seru bocah itu riang. Celine terkekeh, mengusap kepala bocah itu. "Sama-sama, Sayang. Hati-hati di jalan, ya." Menjadi pemilik toko roti adalah pilihan hidup yang awalnya ditentang banyak orang, mengingat gelarnya yang mentereng. Namun bagi Celine yang yatim piatu, toko ini adalah rumah. Dan sejak tiga bulan lalu, rumah itu memiliki penghuni baru: Eros Asterion, suaminya. Ponsel di atas meja kasir bergetar. Sebuah nama muncul di layar, membuat garis wajah Celine melunak seketika. "Halo, Mas Eros?" "Sudah makan siang, Sayang? Aku pesankan makanan ya?" suara Eros terdengar perhatian di seberang sana. Celine melirik jam dinding. "Aku baru mau keluar cari makan sendiri, Mas. Kamu emang gak repot?" "Gak sayang, kamu di toko saja biar aku yang pesankan. Jangan panas-panasan di luar," potong Eros cepat. "Mas mau makan bareng di sini? Aku bisa siapkan meja di belakang." Eros menghela napas pendek. "Aduh, kalau makan bareng belum bisa, Sayang. Mas habis ini ada meeting penting. Biasa, demi kenaikan jabatan harus kerja keras, kan?" Celine tersenyum bangga. "Rajinnya suamiku... Semangat ya, Mas!" "Makasih ya sayang, ku matikan dulu. Tunggu saja makanannya, sepuluh menit lagi sampai. Love you." Tut. Telepon mati. Celine menyandarkan tubuhnya ke rak kayu, merasa sangat beruntung. Eros adalah pria yang menariknya dari jurang kegelapan setelah ia ditinggalkan tanpa kabar oleh Ares—satu-satunya pria yang pernah ia cintai di kampus. Eros menerima fakta bahwa Celine masih 'gamon' atau gagal move on, dan dengan sabar pria itu meyakinkannya bahwa ia layak dicintai. Sepuluh menit kemudian, seorang kurir mengantarkan kantong plastik besar. Saat Celine membukanya, ia tertegun. Isinya adalah paket seafood tumpah dengan saus padang yang sangat pedas di siang bolong. Celine terkekeh hambar. "Seafood lagi? Mas Eros benar-benar kebalikan dari Mas Ares, ya..." Ingatannya melayang pada Ares. Pria itu selalu tahu kalau lambung Celine sensitif terhadap makanan pedas di siang hari. Tapi Celine segera menggelengkan kepalanya. "Ngomong apa sih kamu, Cel? Yang jelas-jelas ninggalin di hari kelulusan kok masih dipikirin. Harusnya kamu bersyukur punya Eros," gumamnya pada diri sendiri. Baru saja ia hendak menyuap makanannya, ponselnya kembali berdering. Kali ini dari Hera Asterion, ibu mertuanya. "Halo, Ma?" "Celine Sayang! Apakah Mama mengganggumu, nak?" suara Hera terdengar riang. "Tentu saja tidak, Ma. Ada apa?" "Mama mau mengajakmu liburan akhir bulan ini ke Pulau Serenity. Seluruh keluarga besar akan datang, kamu juga wajib datang ya, Nak!" Dari kejauhan, terdengar suara Lucien, sang ayah mertua menimpali. "Kalau target bulanan tokomu belum tercapai, nanti Papa yang ganti uangnya! Pokoknya kamu harus ikut!" Celine tertawa kecil, hatinya menghangat. "Ihh Papa... sudah tercapai kok targetnya, tidak usah repot-repot. Nanti Celine bicarakan dulu dengan Mas Eros ya, Pa, Ma." "Anak itu pasti mau," sahut Hera yakin. "Vila di sana itu favorit dia dan Ares sejak kecil." Deg. Jantung Celine berdegup kencang mendengar nama itu. "Mas... Ares juga datang, Ma?" "Tentu saja! Si sulung itu baru bisa pulang sekarang setelah bertahun-tahun mengurus perusahaan di luar negeri. Makanya kita harus berkumpul lengkap!" "Heheh, iya Ma... nanti Celine kabari lagi. Ini pelanggan sudah mulai ramai." Setelah menutup telepon, Celine terpaku. Selama tiga bulan menikah, ia tak pernah bertemu dengan kakak iparnya. Mas Ares... Nama yang sama, namun ia yakin itu orang yang berbeda. Ares-nya dulu hanyalah mahasiswa biasa, bukan CEO konglomerat. "Ngigo kamu, Cel. Yakali dia orang yang sama. Dunia tidak sesempit itu," bisiknya menenangkan diri. Sore harinya, hujan turun cukup lebat membasahi kaca toko. Celine sudah merapikan semuanya, menunggu jemputan Eros tepat pukul 18.00 seperti biasanya. Namun, hingga pukul 18.30, mobil Eros tak kunjung nampak. Celine menekan tombol panggil di ponselnya. "Mas? Mas Eros sudah sampai mana? Kok lama sekali?" "Maaf Sayang," suara Eros terdengar berisik di latar belakang. "Ini lalu lintasnya padat sekali karena hujan, sepertinya bakal lama sampai di tokomu." Celine mengernyit, menatap jalanan di depan tokonya yang sebenarnya tidak terlalu macet. "Mas sudah sampai mana? Apa aku tunggu di pinggir jalan saja biar Mas gampang jemputnya?" "Gak usah! Kamu pesan taksi online saja duluan ya, Sayang? Biar kamu tidak nunggu lama dan kedinginan. Kasihan kamu kalau harus menunggu aku," ujar Eros dengan nada yang sangat perhatian. "Beneran Mas gapapa aku pulang sendiri?" "Gapapa, asal kamu tidak nunggu lama. Maaf ya Sayang, nanti aku langsung ke rumah." Celine menghela napas, menutup teleponnya dengan perasaan ganjil. "Ish, tumben banget..." Ia akhirnya memesan taksi. Di tengah perjalanan pulang, taksi yang ditumpanginya terjebak kemacetan di persimpangan besar dekat sebuah taman bermain indoor. Celine melongok ke luar jendela, dan saat itulah dunianya seakan runtuh. Di jalur sebelah, sebuah mobil mewah yang sangat ia kenali—mobil milik suaminya—berhenti tepat di samping taksinya. Kaca mobil itu tidak terlalu gelap. Di dalam sana, Celine melihat Eros. Suaminya tidak sedang sendirian. Eros tengah tertawa lepas, wajahnya memancarkan kebahagiaan yang jarang Celine lihat akhir-akhir ini. Di sampingnya duduk seorang wanita cantik yang tampak sangat akrab, dan di kursi belakang ada seorang anak kecil yang sedang bertepuk tangan. Celine membeku saat melihat wanita itu menyuapkan kentang goreng ke mulut Eros, dan Eros menerimanya dengan kerlingan mata penuh cinta. Mereka tampak seperti sebuah keluarga kecil yang sempurna. Sangat sempurna sampai-sampai Celine merasa dirinya adalah orang asing yang mengintip kebahagiaan orang lain. Tubuh Celine bergetar hebat. Napasnya tercekat di tenggorokan. "Mas Ares tidak akan membuatku seperti ini kan setidaknya?" bisiknya lirih dengan air mata yang mulai menggenang. Tepat saat itu, wanita di dalam mobil tersebut mencium pipi Eros, membuat Eros tertawa semakin lebar. Celine memejamkan mata, mencengkeram tasnya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih. Inikah pria yang ia anggap sebagai malaikat penyelamatnya?Deru mesin pesawat mulI mereda, berganti dengan aroma garam laut yang menyeruak masuk ke dalam kabin begitu pintu dibuka. Namun, wajah Celine tampak sepucat kertas. Ia mencengkeram lengan kursi dengan buku jari yang memutih, menahan rasa mual yang mengaduk perutnya. Bukan hanya karena mabuk udara, tapi karena mual harus bersandiwara di sebelah pria pengkhianat ini. "Mas... kepalaku pusing sekali," keluh Celine pelan, mencoba mengetes seberapa jauh Eros akan bermain peran. Eros segera sigap. Wajah kasarnya di rumah lenyap tanpa sisa, digantikan topeng suami penuh cinta. Ia melepaskan sabuk pengamannya dan mengusap dahi Celine yang dingin. "Tuh, kan. Kamu selalu begini kalau naik pesawat kecil. Sini, sandar ke pundak Mas." Celine menahan napas agar tidak menepis tangan itu. Ia membiarkan Eros memapahnya dengan sangat lembut menuruni tangga pesawat. Tangan Eros yang lain dengan cekatan menyeret tiga koper sekaligus. "Lihat itu, Papa. Anakmu kalau sudah urusan istri, tenaganya mendada
Angin pagi berembus pelan di depan lobi apartemen mewah itu. Celine berdiri menunduk, merapatkan kardigan pinjaman yang membalut tubuhnya, menunggu taksi online pesanannya tiba. Ares berdiri tegap di sampingnya, kedua tangan dengan santai masuk ke dalam saku celana bahan yang membalut kaki panjangnya."Kamu serius tidak mau saya antar?" suara bariton Ares memecah keheningan di antara mereka.Celine menggeleng pelan, matanya tak berani menatap mata elang pria itu. "Iya, Mas. Lagipula... aku sudah menikah. Aku tidak boleh bertindak seenaknya apalagi di luar seperti ini."Ares menghela napas pendek. "Baiklah.""Terima kasih sudah membawaku pulang dari bar kemarin, Mas," ucap Celine tulus, meski dadanya bergemuruh hebat.Bukannya menjawab, tangan besar Ares terulur. Pletakk. Ia menyentil dahi Celine dengan gerakan pelan namun mengejutkan, diiringi senyum tipis yang sangat jarang ia perlihatkan pada dunia."Awhh! Sakit, Mas!" Celine refleks mengusap dahinya, menatap pria itu dengan sebal.
Sinar matahari pagi menyusup malu-malu dari celah tirai penthouse yang mewah, tepat pada pukul enam pagi. Cahaya keemasan itu menyilaukan mata, mengganggu tidur lelap Celine yang tak pernah senyenyak ini selama tiga bulan terakhir.Celine mengerjapkan matanya perlahan. Hal pertama yang ia rasakan adalah sebuah lengan kekar yang melingkar posesif di pinggangnya, serta kehangatan luar biasa yang menyelimuti tubuh polosnya. Saat ia menoleh ke samping, napasnya nyaris terhenti.Wajah Ares Asterion yang masih terlelap tampak begitu damai, lengannya memeluk Celine erat seolah enggan melepaskannya lagi. Celine tersadar bahwa semalaman ia tertidur di atas dada telanjang pria itu. Wajahnya seketika memerah padam. Ingatan tentang pergumulan panas mereka semalam—bagaimana ia meracau dan memohon di bawah kendali Ares—mulai berkelebat meski sedikit kabur.Ia melihat ke sekeliling, mencerna di mana ia berada. Ruangan ini asing, didominasi warna monokrom yang maskulin. Celine kembali menatap Ares. D
Sentuhan itu terasa nyata. Dinginnya air dari handuk kecil yang membasuh keringat di dahi Celine terasa seperti sebuah anugerah di tengah rasa pening yang mencekik. Pria itu, dengan ketelatenan yang kontras dengan aura dinginnya, membersihkan sisa-sisa air mata dan riasan yang berantakan di wajah Celine. "Mas Aresssh..." desah Celine, suaranya parau, nyaris tenggelam dalam keheningan apartemen yang kedap suara itu berubah menjadi luka paling dalam. Celine berusaha memfokuskan pandangannya yang kabur. "Ini beneran kamu... aku nggak lagi ngigo kan? Hahaha... gak mungkin ini pasti mimpi indah karena aku mabuk." Ares terhenti sejenak, menatap mata sayu Celine yang masih basah. "Saya di sini, Eline. Di depanmu." Ares membawa telapak tangan Celine untuk mengusap pipinya, tangis Celine pecah lagi. Entah karena pengaruh alkohol yang membakar dadanya atau karena sesak melihat wajah yang selalu ia rindukan di saat ia sedang dikhianati oleh suaminya sendiri. Celine menarik kemeja Ares, mem
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.