LOGINAku terdiam, terpaku di tempatku berdiri. Sementara itu, mata Arif berbinar penuh ketamakan.
"Seratus juta? Kamu serius? Tentu saja, ini nomor rekeningku!" seru Arif dengan nada gemetar karena senang. Ia segera menunjukkan nomor rekening melalui ponselnya. Proses itu tidak memakan waktu lama. Setelah memastikan uang masuk ke rekeningnya, arif tersenyum lebar. "Kita memang tidak saling mengenal, tetapi terima kasih banyak," ucapnya. "Kamu benar-benar penyelamatku, kawan!" pungkasnya tanpa rasa malu. "Arif, kamu sudah menerima uangku lebih dulu! Jangan berkhianat!" Temannya yang tadi merasa tidak terima dan mulai tersulut emosi. "Kamu tidak bisa melakukan ini! Kesepakatan adalah kesepakatan!" "Aku kembalikan uangmu. Maaf saja, nominalmu jauh lebih kecil, jadi jangan banyak protes." Arif melemparkan kembali sepuluh juta itu ke atas meja dengan angkuh. "Urusan kita selesai." "Sekarang wanita ini sudah menjadi milikku sepenuhnya. Jangan pernah berani mengganggunya lagi, jangan menemuinya, atau aku akan mematahkan kakimu," sela pria asing itu. Suaranya terdengar sangat tenang, namun membawa ancaman yang nyata dan berbahaya. "Jika aku melihatmu mendekatinya walau hanya satu inci, kamu akan menyesal pernah dilahirkan," tambahnya dengan nada yang membuat bulu kuduk berdiri. Arif yang awalnya diliputi kegembiraan seketika mematung saat menatap pria itu. Ia hanya bisa tersenyum kaku dan mengangguk pelan. "Baik, baik. Aku mengerti. Dia milikmu," jawab Arif gugup. Aku menatap mereka dengan perasaan linglung, beralih antara Arif dan pria yang baru saja menyelamatkanku atau mungkin membeliku. Hatiku dipenuhi rasa was-was. Mengapa pria ini bersedia memberikan uang dalam jumlah besar untukku? Apa maksud dari perkataannya bahwa aku adalah miliknya? Apakah ini berarti Arif benar-benar telah menjualku? "Ayo pergi dari sini. Tempat ini tidak cocok untukmu," bisiknya pelan namun penuh penekanan. Begitu banyak pertanyaan menggantung di benakku hingga aku tidak menyadari bahwa ia telah menarik tanganku keluar dari bar. Hanya setelah aku terduduk di dalam mobilnya, aku menyadari satu kenyataan besar. Pria ini adalah pelanggan yang selalu disebut Mira sebagai pelanggan istimewaku. Pria yang selalu duduk di sudut terjauh, memerhatikanku dalam diam. Hening seketika menyergap begitu pintu mobil mewah itu tertutup rapat, meredam kebisingan bar yang baru saja kutinggalkan. Aku duduk membeku sambil meremas jemariku yang masih gemetar hebat. Di sampingku, pria itu duduk dengan tenang. Ia menyalakan mesin mobil. Sesaat kemudian, mobil mulai bergerak meninggalkan area parkir. Cahaya lampu kota berganti dengan deretan pepohonan dan jalanan yang semakin lengang. "Kenapa kamu diam? Apa kamu masih mengharapkan saudaramu itu mengejarmu dan membatalkan transaksi tadi?" Suaranya memecah kesunyian, dingin tapi tetap berwibawa. Aku menoleh perlahan, memandang wajahnya dari sisi yang diterangi cahaya redup lampu jalan. "Dia ... dia benar-benar melakukannya. Kak Arif benar-benar menjualku seolah aku hanyalah barang taruhan." Suaraku nyaris hilang, tertelan rasa sesak di dada. "Dunia tempatmu tinggal memang kejam. Darah sering kali lebih murah daripada tumpukan uang kertas," sahutnya sambil mengendalikan mobil yang terus melaju membelah jalanan malam. Ia melirikku sekilas, dan untuk sepersekian detik, dingin di wajahnya luruh saat matanya bertemu mataku. Ada kehangatan yang asing di sana, seolah ia sedang memastikan aku tidak terluka. "Berhentilah menangisi pria yang baru saja menukar masa depanmu dengan angka di rekening, Karin," lanjutnya. "Lalu apa bedanya kamu dengan mereka, Tuan?" tanyaku dengan keberanian yang tersisa. "Kamu membeliku dengan harga yang lebih tinggi. Apa itu menjadikanku milikmu sekarang?" Jemari pria itu mengencang pada kemudi. Beberapa detik kemudian, ia mengurangi kecepatan sebelum akhirnya menepikan mobil di sisi jalan yang lengang. Mesin masih menyala ketika ia memutar tubuhnya dan menatapku lurus. Tatapan matanya begitu dalam dan intens. "Tentu saja," ucapnya rendah, suaranya kini lebih berat. "Dalam hukum pasar, penawar tertinggi adalah pemilik sah. Dan malam ini, aku telah mengeluarkan seratus juta untuk membebaskanmu dari tangan pria-pria kotor itu." "Seratus juta hanya untuk seorang pelayan bar sepertiku?" Aku mendengus getir, air mata mulai menggenang di sudut mataku. "Apa yang kamu inginkan dariku? Apa yang akan kamu lakukan padaku sekarang?" Dia mencondongkan tubuh lebih dekat, memangkas jarak di antara kami hingga aku bisa mencium aroma parfum maskulinnya. Jari telunjuknya terangkat, menyeka setetes air mata dari pipiku dengan sangat perlahan. "Aku tidak suka membuang uang untuk sesuatu yang tidak berguna," bisiknya. Meskipun kata-katanya terdengar angkuh, ibu jarinya mengusap kulit pipiku dengan lembut. "Jadi, jangan bertanya apa yang aku inginkan. Pertanyaannya adalah, apa kamu siap untuk tidak lagi menjadi milik siapa pun, kecuali milikku?" Aku tertegun. Matanya yang tajam kini tampak lembut, seolah ada perlindungan besar di balik intimidasi itu. Suasana kembali hening. Ia menjalankan mobilnya lagi tanpa memaksaku untuk menjawab pertanyaannya lebih lanjut. Aku menyandarkan kepala pada kaca jendela mobil yang dingin, memperhatikan bagaimana lampu-lampu kota melesat mundur seiring pergerakan kami. Aku tidak tahu ke mana dia akan membawaku, tapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, rasa takutku kalah oleh rasa aman yang aneh dari pria asing ini. .....................***..................Sinar matahari pagi yang menembus celah gorden membangunkan aku dengan sapaan yang hangat. Belum sempat aku mengumpulkan seluruh kesadaran, ponsel di atas nakas bergetar hebat.Sebuah nama muncul di layar, membawa debar yang selalu sama setiap kali aku melihatnya."Selamat pagi, Karin." Suara Aska menyapa, terdengar jauh lebih segar dan bersemangat dibandingkan semalam.Ada nada riang yang tidak bisa ia sembunyikan.Aku mengerjapkan mata, mencoba menghalau kantuk. "Selamat pagi, Aska. Kamu bangun sepagi ini?""Aku bahkan tidak yakin apakah aku benar-benar tertidur semalam." Ia terkekeh pelan, dan aku bisa membayangkan binar di matanya saat ini. "Karin, aku punya kabar baik. Aku sedang dalam perjalanan pulang. Semua urusan di sini selesai lebih cepat dari perkiraanku."Jantungku melonjak kegirangan. "Kamu pulang hari ini? Benarkah?""Ya, Sayang. Aku pulang. Aku sudah tidak tahan lagi berada jauh darimu. Tiga hari ini terasa seperti tiga tahun bagiku," ucapnya dengan nada yang sang
Tiga hari berikutnya adalah rangkaian rindu yang terjaga melalui pendar layar ponsel.Di unit apartemen yang luas ini, suara Aska menjadi satu-satunya melodi yang mengusir sepi. Ia benar-benar membuktikan ucapannya. Hampir setiap jam, di tengah hiruk pikuk kantor atau di sela kesibukan yang menghimpit, ia selalu menyempatkan diri untuk menghubungiku."Sedang apa, Sayang? Aku baru saja selesai rapat, tapi pikiranku masih tertinggal di apartemen bersama kamu," ucapnya.Suara itu terdengar hangat dan jernih di seberang telepon pada siang hari pertama.Aku tersenyum sembari menyandarkan tubuh pada sofa kulit yang dingin. "Aku sedang membaca buku di balkon. Jangan terlalu memaksakan diri, Aska. Fokuslah pada pekerjaanmu di sana.""Bagaimana aku bisa fokus jika wajahmu terus membayangi setiap dokumen yang kubaca?" Ia tertawa kecil, suara khasnya yang berat selalu berhasil membuat jantungku berdesir. "Tunggu aku pulang, ya. Aku ingin memelukmu lebih lama dari biasanya."Keesokan harinya, A
"Aku akan pergi ke luar kota selama tiga hari. Ada cabang perusahaan di sana yang harus segera kutangani secara langsung."Aku terpaku saat membawakan jas kantor miliknya. Sudah dua hari belakangan ini kalimat yang sama terus ia ucapkan, seolah ingin memastikan aku benar-benar mencerna setiap katanya hingga aku merasa jenuh mendengarnya."Kamu tidak keberatan jika kutinggalkan sendirian?" Aska berbalik tepat sebelum langkahnya mencapai pintu keluar.Aku masih membisu. Bukan karena aku enggan memberi jawaban, melainkan karena lidahku terasa kelu.Setiap kali aku mencoba merangkai kata, kerongkonganku tercekat dan tak ada satu pun suara yang mampu keluar."Mengapa kamu diam saja?" Aska mengulurkan tangan, menyentuh kedua pipiku dengan lembut sembari menatapku penuh kekhawatiran. "Katakan padaku, ada apa?""Aku, aku hanya...." Sebelum kalimat itu tuntas, pertahanan yang kubangun dengan susah payah akhirnya runtuh.Air mata yang sejak tadi kupendam kini mengalir deras tanpa mampu k
Hampir sebulan lamanya aku menghabiskan waktu di apartemen Aska, berbagi ruang dan napas dalam kediaman yang sama. Dalam rentang waktu yang singkat itu, aku mulai memahami setiap jengkal kepribadiannya dengan lebih mendalam.Aku mengenal hobi yang ia tekuni, deretan menu makanan yang menjadi kegemarannya, hingga kebiasaan kecil yang sering ia lakukan tanpa sadar. Bahkan, aku mulai mampu membaca perubahan suasana hatinya yang terkadang hadir bagaikan cuaca yang sulit ditebak, namun perlahan mulai terasa akrab di mataku.Sejak pernyataan cintanya waktu itu, kami mulai berbagi tempat tidur. Namun, tidak ada hal melampaui batas yang terjadi di antara kami.Aku menyadari sepenuhnya bahwa di usiaku yang masih sangat muda, menjalin hubungan yang terlalu intim belum saatnya dilakukan. Aku bersikeras menjaga kesucian diriku, dan aku merasa sangat beruntung karena Aska menghormati keputusan tersebut.Ia sama sekali tidak keberatan. Ia justru berjanji akan menunggu dengan sabar hingga aku lebi
Sesuai dengan keinginannya, aku selalu berdiri menyambutnya setiap kali pintu itu terbuka.Begitu Aska melangkah masuk dan melihat senyumku, keletihan di wajahnya seolah menguap. Ia segera mendekat, lalu menarik pinggangku agar jarak di antara kami terkikis habis."Terima kasih sudah menyambutku. Setiap hari, kamu terlihat semakin cantik di mataku," bisiknya tepat di telingaku, membuat bulu kudukku meremang.Aku tergelak pelan, mencoba menutupi kegugupan yang selalu muncul setiap kali ia sedekat ini. "Mulutmu sangat manis, Aska. Apa kamu mengatakan hal yang sama pada setiap wanita?"Aska menjauhkan wajahnya sedikit, hanya untuk menatap mataku dengan kesungguhan yang mematikan. "Tidak pernah. Perhatianku hanya kuberikan padamu seorang, Karin.""Benarkah?" tanyaku dengan mata berbinar, mencari kepastian di balik manik hitamnya yang tajam."Tentu saja." Ia berhenti sejenak, memandangku lekat seolah sedang merekam setiap inci wajahku ke dalam ingatannya. "Aku merindukanmu. Apa kamu
Aku memutuskan untuk mengikuti saran Aska. Setiap kali rasa bosan melanda dan tidak ada aktivitas yang berarti, aku meminta Arum untuk tidak datang ke apartemen. Sebagai gantinya, aku akan terbangun saat fajar menyingsing, lalu mulai membersihkan seluruh ruangan dan menyiapkan hidangan.Seperti pagi ini, aroma masakan memenuhi dapur. Selesai memasak, aku segera menata hidangan di meja makan. Namun, karena Aska belum juga keluar dari kamarnya, aku terpaksa melangkah ke sana untuk mengajaknya sarapan."Aska, makanan sudah siap," ucapku lembut."Iya, sebentar lagi," jawabnya singkat.Ia menoleh sekilas ke arahku sebelum kembali menghadap cermin, tampak sibuk bergelut dengan simpul dasinya."Sepertinya dasi ini sedang tidak bersahabat denganku pagi ini," gerutunya pelan.Aku melangkah mendekat, merasa terpanggil untuk membantu. "Biarkan aku yang melakukannya. Kamu bisa terlambat jika terus bertengkar dengan selembar kain itu," godaku sambil meraih ujung dasinya.Untuk pertama kalinya







