LOGINSiang hari di sela-sela pertemuan Xander dengan beberapa investor di Sydney, Ryan berdiri mendekat di sampingnya. Menyodorkan tablet yang menyala di atas meja.Dahi Xander berkerut sangat dalam. Membaca detail setiap narasi yang tersebar.“Jenny Wong Hadiri Award Tanpa Suami.”“Keretakan Rumah Tangga Jenny Wong.”“Xander William Tak Dampingi Sang Istri di Malam Penghargaan.”“Jenny Wong Bercerai?”Narasi demi narasi terus bermunculan. Media Sosial Jenny mulai di banjiri komentar tidak masuk akal.Xander mengepalkan tangannya di atas meja. Rahangnya mengeras seketika. “Cari tahu media mana yang pertama kali membuat berita sampah ini!” geramnya dengan suara terlampau datar.Tatapannya kembali lurus ke depan. Menutup layar tablet di tangannya. Dan kembali melanjutkan pembicaraan bisnis. Meeting kembali berjalan dengan serius. Namun, hatinya terus memikirkan kondisi Jenny.Ia kembali menjeda meeting sesaat, dan beralih kepada asistennya. “Ryan, cari tahu kondisi istri saya sekarang.”Ryan
Pikiran Jenny langsung berlari ke mana-mana. Xander sedang sendirian di negara orang, sementara dirinya bahkan tidak tahu apa yang sedang dilakukan suaminya di sana.Entah kenapa, mendengar bel kamar hotel di tengah malam membuat pikirannya mulai menciptakan berbagai kemungkinan yang sebenarnya tidak masuk akal.“Sebentar,” kata Xander sambil bangkit dari ranjang dan hampir memencet tombol di layar ponselnya.“Jangan!”Xander seketika berhenti dengan dahi berkerut. “Jangan apa?” pria itu menoleh lagi ke arah pintu saat bel kembali berbunyi.Jenny langsung duduk tegak di depan kamera dengan tatapan tajam siap menguliti Xander. “Jangan di matikan teleponnya,” serunya semakin curiga.“Hm? Kenapa emangnya?”“Aku mau lihat siapa yang datang. Arahkan kameranya ke pintu!”Xander mengangkat alisnya. “Sayang, ini hotel.” Pria itu tidak paham dengan jalan pikiran istrinya.Jenny tetap menatap tajam penuh selidik. Ia tidak akan memberi sedetik pun kesempatan untuk Xander membohonginya. Lebih bai
Jenny kembali melirik ponsel di tangan Vero. “Biarin…bilang aja aku masih ngobrol,” bisiknya lirih ke telinga Vero.Vero menggeleng dan menahan lengan Jenny. Ia bersikeras menyerahkan ponselnya ke genggaman tangan Jenny.Jenny menghela napas pelan. Kemudian mengangkat telepon suaminya dengan sangat santai.“Halo.”“Kamu dimana? Aku telepon dari tadi enggak kamu jawab,” protes Xander begitu mendengar suara istrinya.“Kamu sudah dapat jawaban dari Vero kan, apa perlu aku jelaskan lagi.” Jenny berjalan sedikit menjauh dari keramaian agar tidak terlalu terdengar rekan-rekannya. “Aku belum buka hp, kenapa?”Xander menghela napas cukup keras, hingga Jenny bisa mendengarnya dengan sangat jelas. “Pulang sekarang.”“Nanti dulu, aku masih ngobrol.”“Jenny.” Suara Xander mulai terdengar tidak sabar menghadapi istrinya. “Pulang.”“Aku enggak minum, kok. Aku juga menjauhi area asap rokok. Jadi semua tetap aman.” Jenny tetap kekeh tidak mau mengindahkan permintaan suaminya begitu saja. Lagipula dia
Jenny sedikit tersenyum mendengar celotahan putus asa suaminya. Dia memang kesal dengan keputusan Xander, tapi kata-kata manis itu sedikit mengobati rasa kesalnya.Setelah memastikan pintu tertutup dan Xander sudah benar-benar turun, Jenny langsung berdiri dari ranjang. Cepat-cepat dia berjalan ke balkon, mengintip suaminya yang baru saja masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan rumah mereka.“Huft…” Jenny mendengus kesal. “Beneran pergi ternyata.”Jenny kembali masuk ke kamar dengan mata yang kembali memanas dan merah. Entahlah, setelah memastikan Xander benar-benar berangkat, ternyata membuatnya kembali sedih.Setelah hampir satu jam berada di kamar mandi, akhirnya Jenny segera turun ke bawah.“Non, sarapannya sudah siap.” Mbok Ratih menarik kursi makan, lalu menuangkan segelas air ke gelas Jenny. “Tadi pesan Bapak, Non Jenny enggak boleh telat makan.”Jenny hanya mengangguk dan langsung menyuap sarapannya dengan malas. Setelah menghabiskan seluruh jajaran menu yang disiapkan Mbo
Xander akhirnya segera menyusul istrinya. Dia membuka pintu kamar perlahan. Jenny sudah berbaring di ranjang dan membelakanginya.“Sayang…”Tidak ada jawaban, ataupun pergerakan dari Jenny.Xander mencoba berjalan mendekat, lalu duduk di sisi tempat tidur. “Aku minta maaf,” ucapnya lembut, dengan wajah penuh penyesalan.Jenny tetap terdiam, bahkan tidak mau memandang wajah suaminya sedikit pun.“Aku benar-benar lupa soal acara kamu. Aku salah kali ini, maaf…”Alih-alih menjawab, Jenny malah menarik selimut sedikit lebih tinggi dan langsung memejamkan matanya.Xander menarik napas dalam-dalam, menahan rasa kesalnya sendiri. Dia sadar bahwa dia sudah melakukan kesalahan, tapi dia juga berharap istrinya bisa memahami kondisinya. “Sayang, aku sudah berusaha minta maaf.”“Aku tahu,” gumam Jenny acuh tak acuh, masih tetap dengan mata terpejam.“Terus kenapa masih tetap marah?” suara Xander mulai terdengar frustasi, ia tidak suka pergi dalam kondisi bertengkar.Jenny sedikit menggeser tubuh
Setelah dua hari Jenny dan Xander menginap di rumah Rosa, memperbaiki hubungan ibu dan anak, dan membuat Rosa membatalkan kepergiannya. Akhirnya mereka kembali ke rumah pribadinya.Sore menjelang malam Jenny duduk bersantai di sofa ruang keluarga sambil menonton televisi.Sementara Xander duduk di sampingnya dengan laptop menyala. Dia memeriksa beberapa file dan email dengan wajah serius. Tak lama ponselnya berbunyi, nama Ryan tertera jelas di layar.“Halo.” Xander dengan cepat menerima panggilan itu. “Ada apa?”“Selamat malam, Pak.” Suara sang asisten terdengar cukup kencang, hingga membuat Jenny bisa mendengarnya dengan jelas. “Maaf mengganggu, saya mau memberi kabar bahwa Mister Steve meminta bertemu besok.”Mendengar kabar itu, sudut bibir Xander terangkat tipis. Ia menganggukkan kepalanya, walaupun asistennya tidak bisa melihatnya. “Bagus. Kalau begitu atur penerbangan ke Sydney besok pagi.”Jenny yang mendengarnya langsung melotot tajam ke arah Xander. “Xander!” pekiknya pelan d







