ANMELDENJenny Wong telah menghabiskan delapan tahun hidupnya demi satu mimpi: menjadi supermodel dunia. Tepat ketika impiannya berada di depan mata, keluarganya menuntut satu hal yang tak pernah ia bayangkan-menikah dengan Xander William, pewaris konglomerat yang sudah menjadi musuhnya sejak remaja. Baginya, pernikahan hanya akan mengubur semua kerja keras yang telah ia bangun dari nol. Namun ketika perjanjian keluarga mulai mengancam masa depan kedua belah pihak, mampukah Jenny tetap mempertahankan mimpinya? Atau justru ia akan kehilangan semuanya?
Mehr anzeigen“Sesuai sama perjanjian leluhur kita dulu, kalian berdua harus menikah tepat di hari ulang tahun Jenny yang kedua puluh lima.”
Mata Jenny langsung melotot sempurna karena saking syoknya. Sebagai seorang model papan atas yang kariernya lagi naik daun dan sering wara-wiri di majalah fashion ternama, boro-boro mikirin nikah, kepikiran buat punya pacar saja tidak pernah ada di otaknya. Menikah di usia dua puluh lima tahun? Menikah minggu depan? Yang benar saja! Dunia rasanya seperti runtuh seketika. “WHAT?! Maksud Tante Rosa, Jenny harus nikah? Minggu depan banget, nih? Lagian perjanjian leluhur apa sih, Tante? Kok kesannya kuno dan nggak masuk akal banget!” cerocos Jenny beruntun. Napasnya memburu, benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar di ruang keluarga yang besar itu. Rosa cuma tersenyum tulus, seolah sudah menebak reaksi heboh itu. Dia meraih jemari Jenny dan mengusapnya dengan lembut, berusaha menenangkan. “Iya, Sayang. Tepat di hari lahirmu yang kedua puluh lima minggu depan, kamu harus menikah sama Xander William.” Rosa bergantian menatap Jenny dan putranya yang duduk berseberangan. Jenny langsung melirik pria yang duduk di depannya dengan tatapan luar biasa sebal. Dari kecil, Jenny itu paling anti sama yang namanya Xander. Bagi Jenny, Xander adalah manusia paling menyebalkan, kaku, dan sok berkuasa sedunia. Menatap wajahnya saja sudah bikin mood Jenny anjlok, dan sekarang, dia harus menghabiskan sisa hidupnya bersama pria itu? Sungguh konyol. Sementara itu, Xander yang merupakan pewaris tunggal dari bisnis keluarga William kelihatan santai-santai saja. Cowok berusia 29 tahun itu tetap duduk tegap dengan setelan jas formalnya yang rapi. Ekspresi wajahnya santai dan terlihat angkuh. Tidak ada drama panik, tidak ada protes, atau tanda-tanda penolakan seperti yang dilakukan Jenny. Xander membetulkan posisi duduknya, lalu menatap ibunya. “Ma... tolong jelasin lebih detail lagi. Maksud dari semua ini apa? Kita nggak bisa mutusin hal sebesar ini cuma lewat obrolan santai,” tanya Xander dengan suara rendah yang tenang. Rosa kemudian membuka sebuah gulungan kertas kain yang kelihatan sudah sangat usang, warnanya kekuningan dan sedikit rapuh di bagian ujungnya. “Ini surat perjanjian pernikahan generasi ketiga dari keluarga William dan keluarga Wong. Di sini tertulis jelas kalau pernikahan harus dilaksanakan tepat pada hari lahir mempelai wanita yang kedua puluh lima,” kata Rosa sambil berusaha menerjemahkan tulisan aksara China kuno di wasiat tersebut dengan hati-hati. Rosa menghela napas pendek, lalu terkekeh pelan melihat wajah kedua anak muda di depannya. “Lagian takdir tuh kadang selucu itu, ya. Bagaimana bisa di generasi ketiga, anak tunggalnya cuma kalian berdua? Terus kalau dihitung-hitung, usia Xander sekarang dua puluh sembilan dan Jenny mau dua puluh lima. Selisih empat tahun itu angka yang paling bagus menurut tradisi leluhur kita, lho! Katanya hubungan kalian bakal kokoh banget, mirip kayak empat kaki meja yang seimbang.” Jenny refleks memutar bola matanya mendengar filosofi kaki meja yang barusan diucapkan Tante Rosa. Dia menatap sekeliling ruangan besar itu. Semua anggota keluarga besarnya berkumpul di sana, dan sialnya, mereka semua menatap Jenny dengan pandangan penuh harap yang justru membuat Jenny merasa tertekan. “Ini semua pasti lagi pada prank Jenny, kan? Lucu banget deh, asli! Mendiang Mami sama Papi dulu nggak pernah tuh cerita soal perjanjian aneh kayak gini. Tolong dong, stop bercandanya,” ujar Jenny sambil tertawa garing. Rosa menggeleng kecil melihat wajah panik Jenny yang campur aduk antara marah dan bingung. Rosa ingat betul, mendiang Meli-ibu kandung Jenny—adalah orang yang paling getol mengingatkan soal janji leluhur ini sebelum beliau tiada, demi menjaga hubungan baik kedua keluarga. Xander tiba-tiba mengulurkan tangan, mengambil gulungan kertas usang itu dari ibunya, lalu membacanya sekilas. Tatapan matanya yang dingin sempat melirik ke arah Jenny yang wajahnya sudah memerah menahan kesal. Xander tahu betul bagaimana mereka berdua selalu hobi ribut sejak masih remaja, dan Jenny tidak pernah mau mengalah darinya. “Kalau kesepakatan dari leluhur ini dilanggar, konsekuensinya apa buat kita berdua?” tanya Xander langsung ke inti masalah, tanpa mau berbelit-belit. Wajah Rosa yang tadinya ceria langsung berubah serius. Dia menatap Jenny dengan pandangan agak khawatir dan cemas. “Kalau pernikahan ini nggak jalan, kejayaan bisnis keluarga William bakal hancur total dalam sekejap karena melanggar sumpah. Dan bukan cuma itu...” Rosa sengaja menggantung kalimatnya, membuat suasana ruangan mendadak mencekam. “...karier model Jenny juga bakal ikut hancur. Kalian berdua bakal kena apes dan kutukan seumur hidup.” DEG! Jantung Jenny rasanya seperti berhenti berdetak detik itu juga. Bulu kuduknya merinding. Karier model yang dia rintis setengah mati dari bawah, kilau panggung catwalk yang sangat dia cintai melebihi apa pun, mau hancur begitu saja karena sebuah kutukan kuno? Ini benar-benar mimpi buruk yang jadi nyata! “Nggak! Aku tetep nggak bisa nikah kayak gini! Aku nggak percaya sama takdir, tradisi, atau kutukan leluhur sialan ini! Ini abad dua puluh satu, Tante!” tolak Jenny dengan nada bicara yang meninggi karena frustrasi. Dia berdiri dari duduknya, bersiap untuk pergi dari ruangan itu. Mendengar penolakan keras dan egois dari Jenny, Xander justru melipat kembali gulungan kertas di tangannya dengan gerakan lambat. Pria itu ikut berdiri dari kursinya, berjalan mendekat ke arah Jenny yang sedang berapi-api, lalu memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana bahan mahalnya. Alih-alih kesal karena ditolak secara kasar, sebuah senyuman tipis yang sangat misterius mendadak muncul di sudut bibir. Xander berdiri tepat di depan Jenny, dengan ekspresi yang sulit dibaca. “Oke,”ucapnya santai. Jenny mengernyit. “Oke apa?” Sudut bibir Xander terangkat tipis penuh arti. “Aku setuju menikah.”Jenny menatap kedua wanita yang terus berjalan mendekat ke arahnya. "Kak Meta... Sandra," sapa Jenny lirih.Meta menatap Jenny dengan pandangan tajam penuh selidik, seolah menanti penjelasan. "Jenny, kenapa kamu bisa ada di butik pengantin bersama Pak Xander?" tanya Meta beruntun.Xander segera berdiri dari sofa. Langkah kakinya yang tegas langsung mengambil posisi berdiri tepat di samping Jenny, seolah memasang barikade pelindung. Sorot matanya tak kalah tajam dari Meta. "Apa ada masalah jika Jenny berada di sini bersama saya?""Oh, bukan begitu maksud saya, Pak." Meta buru-buru mengubah ekspresinya menjadi lebih sopan dan menunduk hormat kepada Xander. "Saya hanya ingin memastikan model saya tidak terlibat skandal apa pun. Mengingat Jenny saat ini terikat kontrak sebagai brand ambassador eksklusif untuk beberapa merek besar."Xander mengangguk singkat, menerima alasan profesional Meta. Ia kemudian melirik Jenny yang terlihat pucat, lalu kembali menatap Meta. "Saya yang membawa Jenn
Jenny berdiri dengan wajah pucat. "Kamu tahu dari mana soal tanggal itu, Vero?" tanya Jenny sekali lagi.Vero langsung panik. Gadis itu menutup rapat bibirnya, merutuki kecerobohannya sendiri. Bagaimana bisa mulutnya bergerak lebih cepat daripada otaknya?"Vero. Aku tanya, kamu tahu dari mana tanggal itu?" Kali ini nada suara Jenny jauh lebih tinggi, menuntut jawaban mutlak."Em... aku...""Kamu menyelidiki masa laluku?""Enggak! Enggak, Ci, sumpah!" Vero buru-buru mengacungkan dua jarinya, membentuk tanda damai ke arah Jenny."Jangan bohong!"Vero adalah tipe orang yang paling payah dalam berbohong. Wajahnya seketika terlihat sangat gugup. Ia meremas ujung jarinya sendiri dan terus berusaha menghindar dari tatapan mengintimidasi milik Jenny.Jenny menghapus sisa air mata di pipinya dengan kasar. "Vero, jawab aku!" bentak Jenny tidak sabar."Aku... aku tahu dari orang lain, Ci.""Siapa?""Eee... itu..." Semakin Vero berusaha menjawab, semakin ketahuan bahwa ia sedang menyembunyikan se
"Ma... maksudmu apa?" tanya Jenny lirih. Jantungnya masih bertalu kacau di dalam rongga dada.Xander menatapnya selama beberapa detik. Tatapan itu terasa terlalu lama, terlalu dekat, dan entah mengapa membuat seluruh pertahanan Jenny runtuh seketika."Kamu benar-benar enggak sadar apa pun, ya?" ulang Xander, suaranya merendah seiring dengan jarak wajah mereka yang semakin terkikis."Apa yang enggak aku sadari?" bisik Jenny, menahan napas.Tatapan tajam Xander turun sesaat, terkunci pada bibir Jenny yang sedikit terbuka. Napas hangat pria itu menyapu kulit wajah Jenny, membuat atmosfer di dalam mobil mendadak terasa begitu pekat dan intim.Jantung Jenny berdetak semakin liar. Ia mengira Xander akan melakukan sesuatu yang lebih jauh.Namun pada detik berikutnya, pria itu justru menarik diri dan mendesah pelan."Kamu enggak sadar kalau kamu sedang menghancurkan citramu sendiri sebagai supermodel," ujar Xander, suaranya kembali sedingin es.Jenny seketika melotot. Rasa tegang yang sempat
Ehem!Xander refleks berdeham, mencoba mengusir sisa kepanikan di wajahnya. Ia tahu betul tabiat wanita di depannya. Jenny tidak akan berhenti sampai di sini. Sifat keras kepalanya pasti akan memaksa laci itu terbuka demi memuaskan rasa ingin tahu.Maka, untuk mengalihkan perhatian Jenny dari tumpukan foto itu, Xander terpaksa mengalah."Sudah mau jam empat sore," cetus Xander dengan suara datar, sengaja menyerahkan diri pada kegilaan ritual Jenny. "Katanya ritualmu harus selesai sebelum jam empat?"Jenny tersentak. Ia menepuk dahinya sendiri karena hampir melupakan batas waktu kutukan. Dengan cepat, ia merogoh tasnya dan mengeluarkan sebotol air mineral yang sudah dipersiapkan."Buka," perintah Jenny sambil menyodorkan botol itu tepat di depan wajah Xander.Xander menerimanya lalu memutar tutup botol dengan satu gerakan cepat. Tanpa protes. Tanpa drama penolakan. Tindakan pasrahnya membuat Ryan tercengang di sudut ruangan. Dunia rasanya sedang jungkir balik melihat seorang Xander Wil












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.