LOGINLema mulai menata beberapa buku catatan, buku paket matematika dari mulai tingkat SD hingga SMA, dan buku-buku lain yang membahas berbagai model pembelajaran di lemari arsipnya. Selain buku, Lema juga merapikan dokumen-dokumen yang masih tercecer di meja. Dokumen-dokumen yang tercecer itu seperti surat perjanjian kerja, jadwal rapat, dan agenda kegiatan peneliti divisi Pendidikan Matematika di Puspemas.
Wah, banyak juga ya, tugasku.
Lema menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum menyeringai.
Ah, sudahlah. Payah sekali kau, Lema, baru masuk sehari sudah mengeluh. Jalani saja, jangan hanya dipikirkan.
Lema meregangkan tubuhnya. Tak lama setelah Lema melakukan peregangan, terdengar suara pintu ruangannya diketuk.
“Masuk!” Lema sedikit meninggikan nada bicaranya agar suaranya terdengar hingga keluar. Yang mengetuk pintu pun masuk ke dalam ruangan setelah mendengar jawaban dari dalam ruangan.
“Halo, Lema.”
Pria berbadan tegap itu berdiri di hadapan Lema dan membuka obrolan.
“Iya, Bang. Ada apa?”
Lema dan pria itu terdiam sejenak.
“Oh, silakan duduk, Bang.” Lema berdiri dan mempersilakan pria itu untuk duduk.
“Thanks,” ucap pria itu sembari duduk. Lema pun ikut duduk.
“Gue Luhung, koordinator divisi Pendidikan Matematika. Sebelumnya, gue mau bilang welcome and congratulations buat lu karena sudah diterima bekerja di sini.” Pria yang bernama Luhung itu menggenggam kedua tangannya di atas meja.
“Iya, makasih, Bang. Gue juga bersyukur bisa gabung sama Abang dan peneliti-peneliti bertalenta lainnya di sini. Mohon bimbingannya ya, Bang.”
“Sip, tenang aja. Pokoknya jangan sungkan kalau mau bertanya. Oh iya, panggil gue Luhung aja, jangan pakai ‘Abang’. Gue seumuran sama lu kok.”
“Oh, really? Oke deh, makasih ya, Luhung.” Lema mengucap dengan ragu-ragu dan sedikit mencondongkan badan sambil tersenyum segan.
“Aduh, enggak usah terlalu hormat begitu lah sama gue. Santai aja,” ujar Luhung sambil tersenyum ramah dan berusaha memecah kecanggungan di antara keduanya. “Oh, gue ke sini cuma mau mengingatkan kalau besok Pak Eksin mau mengadakan rabar divisi Pendidikan Matematika. Sudah dibaca jadwalnya?” sambung Luhung.
“Rabar?” Lema terkesiap dan dengan spontan mencari dokumen jadwal rapat lalu membacanya.
“Nah, jangan sampai terlewat baca jadwalnya ya. Besok kita ada rabar atau rapat bareng jam 7 pagi di ruang rapat lantai 5.”
“Oh iya, rapat bersama.”
“Iya, rapat bersama. Kita di sini biasa menyebutnya rabar. Jangan lupa ya besok! Jangan sampai telat juga!”
“Oke, makasih, Luhung. Oh iya, besok kita mau bahas apa? Ada enggak yang perlu gue siapkan sebelum rapat?"
“Cukup siapkan pulpen dan kertas untuk mencatat. Besok kita rapat membahas Petitur atau Proyek Penelitian Caturwulan. Proyek ini diberikan setiap empat bulan sekali untuk para peneliti. Jadi, para peneliti akan dibagi ke dalam beberapa kelompok. Satu kelompok berisi lima orang peneliti. Selain dibagi ke dalam beberapa kelompok, Pak Eksin juga nanti akan memberi tau lokasi penelitian dan latar belakang permasalahannya.”
“Wah .… Berarti, setelah rapat kita langsung survei ke lokasi yang ditunjukkah?”
“Belum. Kita perlu diskusi jenis dan tahapan penelitiannya. Design Research, RnD, atau PTK. Baru setelah itu kita buat makalah tahapan penelitiannya.”
“Wow .… Seperti membuat skripsi ya?”
“Hm .… Sebetulnya enggak juga sih. Kalau skripsi dilakukan per individu sedangkan Petitur disusun dan dikerjakan secara berkelompok. Latar belakang permasalahan dan lokasi peelitiannya juga sudah ditentukan dalam Petitur. Berbeda dengan skripsi yang sedari awal, peneliti perlu mencari sendiri latar belakang permasalahan dan lokasi penelitiannya. Jadi, dalam Petitur, peneliti tinggal membuat rancangan penelitian dan ngelaksanain di lapangan. Makanya proyek penelitian ini hanya dikasih waktu selama empat bulan, lebih singkat dari skripsi yang biasanya dikerjakan selama enam bulan kan?”
“Oh iya, betul juga. Jadi, empat bulan itu untuk menyusun rancangan penelitian sekaligus sudah selesai dengan pelaksanaannya ya?”
“Betul,” jawab Luhung sambil menjentikkan jari lalu mengarahkan jempol dan telunjuknya yang membentuk pistol ke arah Lema.
“Oke, oke, paham. Makasih ya, Luhung.”
“Sip!” Luhung menunjukkan jempolnya. “Semangat ya! Kelihatannya pekerjaan kita memang berat. Ya sebetulnya memang berat, sih. Toh yang namanya peneliti pasti disibukkan dengan mencari referensi dan menyusun penelitian. Tapi, tenang aja, kalau sudah terbiasa menjalaninya pasti enggak akan terasa berat,” sambungnya.
Lema tersenyum sambil mengangguk tanda setuju dengan pernyataan Luhung.
“Oke. Kayaknya, udah lama juga ya gue nyeramahin lu,” kata Luhung lalu bangkit berdiri.
“Enggak kok, itu bukan nyeramahin.” Lema tertawa dan ikut berdiri.
“Oh, satu lagi. Lu bisa banget cari referensi dari sekarang supaya nanti setelah dibagi kelompok sudah tau apa yang mau didiskusikan bareng kelompok tadi.”
“Siap!” Lema mengangkat kedua jempol kanan dan kirinya.
“Oke. Semoga betah ya di sini.”
“Aamiin, insyaa Allah.”
Luhung mengulurkan tangannya pada Lema. Lema pun menjabat tangan Luhung. Setelah kurang lebih mereka berjabat tangan selama satu menit, Luhung keluar meninggalkan ruangan Lema dan kembali ke ruangannya.
Siang itu, udara di lantai 3 Puspemas terasa pekat. Lema, Luhung, Mirah, Gendhis, dan Ceko duduk melingkar, melanjutkan diskusi Petitur yang tadi sempat tersendat. Di atas meja, terserak lembar demi lembar proposal penelitian untuk diserahkan ke Pak Eksin. Mirah dan Gendhis, sudah bersiap sedari tadi, untuk menjilidnya agar rapi terjalin. Lema mengusap wajahnya yang lelah. Matanya masih menangkap beberapa paragraf yang sempat ia revisi berdasarkan diskusi terakhir mereka. Namun, di tengah keheningan kecil itu, pikirannya justru melayang pada sebuah penemuan tak sengaja. Tentu saja, apa lagi kalau bukan postingan blog yang ia temukan mengenai SMP Kalpasastra? "Oh iya, aku baru ingat sesuatu," Lema menyenggol lengan Luhung yang sedang merapikan rambut. "Apa, tuh?" Luhung mendekatkan badannya ke Lema. Ceko pun refleks menatap ke arah Lema. "Aku tuh pernah baca, ada blog yang ditulis sama salah satu siswa di SMP Kalpasastra. Katanya ada adik kelasnya yang sering datang bergantian," cer
Ruangan itu dipenuhi segerombolan manusia. Ada yang membuka proposal, ada juga yang diam penuh tanya. Mungkin karena penuhnya isi kepala mereka. Satu per satu dari mereka, keluar sambil membawa tumpukan kertas. Ada yang ingin konsultasi bimbingan, ada juga yang sudah mulai bersiap untuk terjun ke lapangan. Lema, Luhung, Mirah, Gendhis, dan Ceko berkumpul di meja sudut ruangan Puspemas. Di lantai 3, tersedia beberapa meja dan kursi untuk para peneliti yang akan menghadap ke atasan untuk konsultasi bimbingan. Mereka berkumpul dengan laptop yang menyala dan otak yang panas, membara hingga ke batas. Mereka berusaha sekuat tenaga mengumpulkan serpihan data untuk merampungkan proposal penelitian. Gendhis menghela napas panjang, merapikan tumpukan jurnal referensi mengenai Teori Instruksional Lokal dan Pendekatan Matematika Realistik Indonesia, juga tentang Hipotesis Lintasan Belajar yang berserakan di dekat laptopnya. Sedangkan Lema sibuk mengetik baris demi baris kerangka metodologi. "Se
Mirah mulai mengocok kumpulan kertas yang sudah digulung-gulung. Sejenak, Lema, Luhung, Gendhis, dan Ceko terdiam, fokus mengamati Mirah. Lema mulai memasang raut wajah datar, antara gugup dan terbawa suasana timnya yang mulai hening. Mereka tak lagi penuh canda tawa, hanya bisa berpasrah."Yuk, kita mulai. Bang Luhung, silakan ambil pertama," Mirah menyodorkan kumpulan gulungan kertas lalu Luhung mengambilnya."Lanjut. Kamu duluan deh, Lema.""Astaga, Mir, lu udah ngincer Lema ya? Curiga nih, gue," ledek Luhung. Mirah hanya tersenyum jahil."Thank you, Mir." Lema mengambil gulungan kertas dengan agak sungkan."Lanjut, Kak Gendhis, lalu sisanya buat aku."Mereka mulai membuka lembaran kertas yang sudah ada di tangan masing-masing."Wah, gue dapat nomor 1, nih. Bab Pendahuluan, dong, berarti," Luhung terkekeh."Cocok. Lu kan suka melantur. Lu akalin aja deh, gimana caranya biar masih make sense dan logis nanti," komentar Gendhis."Dih, sial. Tapi iya juga, sih," timpal Luhung sambil ter
Sebuah meja berbentuk persegi yang di sekelilingnya terdapat lima buah kursi telah diisi dan digunakan oleh Lema, Luhung, Gendhis, dan Mirah di Kantin Puspadana. Kantin Puspadana merupakan kantin khusus berkumpulnya para peneliti Puspemas. Kantin Puspadana bisa dikatakan sebagai urban food court-nya Puspemas yang dikhususkan untuk para peneliti. Di dalamnya terdapat banyak stand sehingga para peneliti bisa memilih ingin memesan makanan dari stand kesukaannya. Selain itu, karena sifatnya yang urban, di dalam Kantin Puspadana terdapat beberapa spot foto yang instagramable. Lema sempat tak percaya, sebegitu sejahteranya peneliti yang bekerja di Puspemas ini."Bang, gue merasa bersyukur bisa kerja di sini. Takjub banget, fasilitas untuk para penelitinya betul-betul diperhatikan," kata Lema sambil menatap sekitar Kantin Puspadana.Mirah hanya menatap Lema sambil tersenyum."Lu kenapa cengar-cengir ngeliatin Lema, Mir?" ledek Luhung dengan menatap jahil Mirah."Ish, apa sih, Kak. Aku jadi ke
Sepasang bola mata berwarna kecokelatan itu menatap halaman buku satu per satu yang sedang dipegangnya. Sambil membaca buku, jemarinya mengetuk tombol kibor laptop. Di layar laptopnya, tertera sebuah nama kota di belahan Antapura yang lain dan masih asing baginya.Giriwarsa. Lema belum pernah sekalipun berkunjung ke kota ini. Pikirnya, yang namanya kota, pasti kehidupan di sana sudah maju. Sedangkan Luhung bilang kota ini termasuk daerah yang agak terpencil. Tentu saja hal itu memancing Lema untuk ingin tahu lebih lanjut mengenai Giriwarsa. Lema pun menelusuri informasi mengenai Giriwarsa di laptopnya melalui mesin pencari.Mesin pencari yang ada di layar laptop menampilkan beberapa situs yang berkaitan dengan kata kunci Giriwarsa. Beberapa situs yang muncul itu seperti, Sepuluh Tempat Wisata yang Wajib Dikunjungi di Giriwarsa, Begini Indahnya Penampakan di Atas Gunung Jatarupa Giriwarsa, serta Hutan Pinus yang Masih Lestari di Giriwarsa.Kenapa kebanyakan situs yang muncul berkaitan d
Luhung memutar-mutar bolpoinnya. Kakinya digerakkan ke depan dan belakang. Meskipun posisinya saat ini sedang duduk di kursi, hampir seluruh badannya sibuk bergerak, menunjukkan bahwa Luhung seorang yang kinestetik.“Jadi ....” Luhung menoleh ke arah Lema dengan tangannya masih memutar-mutar bolpoin.“Gue enggak sangka.”Lema menggenggam kedua tangannya di atas meja.“Kita sekelompok!”Buru-buru Luhung bangun dari kursi dan menunjuk ke arah Lema. Lema menutup mulutnya dengan kedua tangannya, lalu disusul dengan tertawa terbahak-bahak.“Terkadang gue masih enggak habis pikir ya. Orang kayak Kakak bisa jadi koordinator peneliti Pendmat.”Perempuan yang saat rapat tadi duduk di samping kiri Lema ikut angkat bicara melihat tingkah laku Luhung.“Jangan begitu dong, Mirah. Kalian seharusnya bersyukur, di Pendmat koordinatornya asyik diajak bercanda, enggak selalu serius.” Luhung membela diri.“Ya lihat-lihat juga dong, Kak, kalau mau bercanda. Kan sekarang kita sedang di perpustakaan.” Mirah
Sedari tadi, Effie masih berkutik dengan ponsel pintarnya. Jemarinya lincah menekan layar sentuh kapasitif pada ponsel itu. Sesekali, mata cokelatnya menatap ke atas langit-langit sembari mulutnya komat-kamit. Effie harus mengingat kembali apa saja materi yang diberikan gurunya, mencatat, lalu mengi
Lema memarkir motornya di tempat parkir bawah tanah sebelum lantas berlari kocar-kacir memasuki gedung Puspemas. Kemarin, sebelum resmi bekerja sebagai peneliti di sini, Lema memarkir motornya di tempat khusus pengunjung sehingga kelabakan mencari motornya saat pulang. Berbeda dengan tempat parkir
Semburat lembayung senja telah menampakkan dirinya di cakrawala yang mulai terlihat redup. Jarum kecil yang ada pada jam dinding di dalam ruangan Lema telah menunjuk pada angka 3 sedangkan jarum panjangnya menghadap angka 12. Setelah membaca beberapa buku mengenai jenis-jenis penelitian yang dipero
Pukul enam lewat enam menit, Lema sudah sampai di tempat kerjanya. Hari pertama bekerja, mengingat wejangan dari bapaknya, Lema harus menunjukkan kesan pertama yang bagus. Oleh karena itu, sebelum masuk, Lema merapikan rambutnya, dasinya, kemejanya, dan mengencangkan ikat pinggangnya.Setelah diras







