Mirah mulai mengocok kumpulan kertas yang sudah digulung-gulung. Sejenak, Lema, Luhung, Gendhis, dan Ceko terdiam, fokus mengamati Mirah. Lema mulai memasang raut wajah datar, antara gugup dan terbawa suasana timnya yang mulai hening. Mereka tak lagi penuh canda tawa, hanya bisa berpasrah."Yuk, kita mulai. Bang Luhung, silakan ambil pertama," Mirah menyodorkan kumpulan gulungan kertas lalu Luhung mengambilnya."Lanjut. Kamu duluan deh, Lema.""Astaga, Mir, lu udah ngincer Lema ya? Curiga nih, gue," ledek Luhung. Mirah hanya tersenyum jahil."Thank you, Mir." Lema mengambil gulungan kertas dengan agak sungkan."Lanjut, Kak Gendhis, lalu sisanya buat aku."Mereka mulai membuka lembaran kertas yang sudah ada di tangan masing-masing."Wah, gue dapat nomor 1, nih. Bab Pendahuluan, dong, berarti," Luhung terkekeh."Cocok. Lu kan suka melantur. Lu akalin aja deh, gimana caranya biar masih make sense dan logis nanti," komentar Gendhis."Dih, sial. Tapi iya juga, sih," timpal Luhung sambil ter
Last Updated : 2025-12-22 Read more