LOGINSepasang bola mata berwarna kecokelatan itu menatap halaman buku satu per satu yang sedang dipegangnya. Sambil membaca buku, jemarinya mengetuk tombol kibor laptop. Di layar laptopnya, tertera sebuah nama kota di belahan Antapura yang lain dan masih asing baginya.
Giriwarsa. Lema belum pernah sekalipun berkunjung ke kota ini. Pikirnya, yang namanya kota, pasti kehidupan di sana sudah maju. Sedangkan Luhung bilang kota ini termasuk daerah yang agak terpencil. Tentu saja hal itu memancing Lema untuk ingin tahu lebih lanjut mengenai Giriwarsa. Lema pun menelusuri informasi mengenai Giriwarsa di laptopnya melalui mesin pencari.
Mesin pencari yang ada di layar laptop menampilkan beberapa situs yang berkaitan dengan kata kunci Giriwarsa. Beberapa situs yang muncul itu seperti, Sepuluh Tempat Wisata yang Wajib Dikunjungi di Giriwarsa, Begini Indahnya Penampakan di Atas Gunung Jatarupa Giriwarsa, serta Hutan Pinus yang Masih Lestari di Giriwarsa.
Kenapa kebanyakan situs yang muncul berkaitan dengan tempat wisata di Giriwarsa? batin Lema.
Melihat hasil pencarian yang kurang memuaskan, Lema pun mengganti kata kuncinya dengan mengetik SMP Kalpasastra Giriwarsa. Barangkali dengan menyebutkan kata kunci secara gamblang seperti ini, selain mendapat informasi mengenai Giriwarsa, Lema juga dapat mengetahui tempat penginapan terdekat dari sana. Seperti peribahasa yang berbunyi, Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampaui.
Setelah mengganti kata kunci di mesin pencarian, layar monitor itu kini menampilkan berbagai situs yang berkaitan dengan SMP Kalpasastra Giriwarsa. Namun, mesin pencarian itu lebih banyak memunculkan beberapa situs resmi pemerintah yang menampilkan informasi mengenai berbagai sekolah negeri di Antapura, bukan Giriwarsa. Sangat lama Lema menekan pointer, menggeser hingga ke bawah, bahkan menelusuri hingga ke halaman selanjutnya untuk mencari informasi mengenai SMP Kalpasastra Giriwarsa. Selang beberapa lama hingga ke halaman sepuluh di mesin pencarian, Lema menemukan sebuah situs blog yang berjudul, Pengalamanku tinggal di Giriwarsa.
Pada awal paragraf, kiriman situs blog itu menceritakan tentang pemandangan di Giriwarsa yang indah, sejuk, dan masih kental dengan suasana pedesaan. Diceritakan pula berbagai macam tempat wisata yang ada di Giriwarsa. Paragraf-paragraf selanjutnya barulah menceritakan pengalaman si empunya blog yang bersekolah di SMP Kalpasastra.
Seperti sekolah negeri pada umumnya, untuk bisa bersekolah di SMP Kalpasastra, calon siswa dapat menempuh dua jalur, jalur prestasi dan jalur tes. Jalur prestasi ditempuh untuk calon siswa yang memiliki nilai rapor tinggi atau bisa juga dengan menunjukkan sertifikat menang lomba tingkat provinsi. Sedangkan jalur tes berisi serangkaian tes yang harus dilalui oleh calon siswa. Jika lulus hingga tahap terakhir, pendaftar tersebut resmi menyandang status sebagai siswa SMP Kalpasastra.
Penulis blog tersebut menceritakan bahwa dirinya memasuki SMP Kalpasastra melalui jalur prestasi. Saat ini, penulis blog duduk di bangku kelas 9. Sangat detail cerita yang ditulisnya, mulai dari pengalamannya menemukan kakak kelas tambatan hati yang kini telah lulus, sewaktu teman-temannya yang menjahilinya di hari ulang tahunnya, bahkan ketika ia bercerita sempat menangis tersedu-sedu karena tidak ingin berpisah dari teman-teman dan wali kelasnya.
Setelah menceritakan pengalaman-pengalaman menyenangkan itu di postingan blognya, penulis kemudian menceritakan ada pula beberapa pengalaman ganjil menurutnya. Salah satunya adalah mengenai adik kelasnya. Belum sempat Lema membaca lebih lanjut, postingan blog tersebut, laptopnya mati.
Yassalam, bisa-bisanya keenakan baca sampai lupa charge laptop, gerutu Lema.
Lema membuka resleting ranselnya dan mencari charger laptop di dalamnya. Setelah charger laptop itu ditemukan, Lema mencolok kabel charger itu ke stopkontak. Belum sempat Lema menyalakan kembali laptopnya untuk kembali membaca postingan blog mengenai Giriwarsa, terdengar suara ketukan pintu beberapa kali dari luar. Lema pun refleks berjalan untuk membuka pintu tersebut.
"Oi, Lema. Lagi sibuk?" Rupanya, Luhung yang mengetuk pintu.
"Hmm, lagi santai aja sih. Ada apa, Bang?"
"Nanti, kita istirahat siang di Kantin Puspadana, yuk. Sambil ngobrolin buat Petitur. Si Gendhis katanya dapat beberapa info tentang DR. Mirah juga dapat rekomendasi beberapa tempat kos yang dekat dari SMP Kalpasastra."
"Oh, boleh, Bang. Btw, nanti gue ke ruangan lu ya, Bang, biar sekalian bareng ke sana. Gue belum eksplor tempat-tempat di sini ada apa aja."
"Oh iya, betul juga. Gue berasa lu teman lama gue, sampai lupa kalau lu masih baru di sini." Luhung menepuk-nepuk pundak Lema.
"Ada-ada aja lu, Bang. Muka gue muka anak lama ya? Atau kelihatan tua?" Lema tertawa.
"Enggak dong, santai aja. Gue suka gitu soalnya kalau sama orang, agak blak-blakan." Luhung melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. "Eh iya, sebentar lagi istirahat nih."
Lema refleks mengikuti gerak Luhung, melihat jam tangan di tangan kanannya.
"Wah iya, cepat juga. Oke Bang, gue siap-siap beresin barang-barang ya. Nanti gue ke ruangan lu."
"Alright, dude. Gue balik ke ruangan gue ya. See you there!"
Luhung kembali berjalan ke ruangannya. Lema pun menutup pintu dan berjalan menghampiri meja kerjanya.
Ini kalau ditaruh di sini aja, aman kan ya? Enggak akan dicuri? Lema membatin sambil celingak-celinguk.
Ah sudahlah, bismillah aja. Lema pun membiarkan laptopnya di meja dan merapikan posisi tasnya di kursi. Setelah semua dirasa beres, Lema pun bergegas berjalan keluar ke arah ruang kerja Luhung.
Ruang kerja Luhung terletak berdekatan dengan lift. Di perjalanan menuju ruang kerja Luhung, sesekali, Lema melihat kiri-kanan yang merupakan sederetan ruang kerja peneliti.
Wah, baru sadar, ternyata di tiap pintu ruang kerja ada nama divisi penelitinya. Berarti ruang kerjaku juga begitu, ya?
Lema berjalan santai sambil asyik mengamati tiap ruangan dan berbicara dalam hati.
Oh, ada papan nama juga toh, di samping kanan pintu? Walah, aku ke mana aja.
Lema masih asyik mengamati dan mengomentari satu per satu ruang kerja yang ada di kanan kirinya. Tak lama kemudian, sampailah Lema di ruang kerja Luhung.
Tok tok tok ....
Lema mengetuk pintu.
"Masuk!"
Terdengar suara dari luar ruang kerja Luhung.
"Yo, Bang!" Lema masuk ke dalam ruang kerja Luhung.
"Oi, Lema. Gue mau hubungi yang lain dulu ya. Lu duduk aja di sini." Luhung mempersilakan Lema untuk duduk di kursi. Kini, posisi Lema berhadapan dengan Luhung. Lema asyik mengamati sekeliling ruang kerja Luhung sementara Luhung sibuk dengan ponselnya, menelepon yang lain satu per satu.
Gelap perlahan luruh. Kini, azan Subuh menggema membubung jauh. Lema membasuh muka 'tuk menghadap Sang Pencipta dalam sujud yang penuh. Mulutnya tak henti melantunkan doa, memohon keselamatan yang utuh. Usai menunaikan salat Subuh, ia pun mengisi perut dan menyegarkan tubuh.Di atas ranjang kayu, berjejer tas, tumpukan baju, alat tulis, dan buku-buku yang telah dikemas untuk dibawa jauh. Lema bersama rekan-rekannya siap mengarungi Giriwarsa yang dipenuhi pepohonan teduh. "Lema?" panggil Bu Huriah, memastikan anaknya sudah bersiap. Namun, di kamar itu, hanya tersisa senyap."Lema, kamu sedang mandi?" Bu Huriah setengah berteriak."Iya, Bu!" Tak lama, Lema keluar dari kamar mandi. Rambutnya masih klimis, dengan pakaian yang cukup necis."Maa syaa Allah, anak Ibu. Rapi sekali," puji Bu Huriah."Barang-barangmu sudah siap semua, belum? Ini, Ibu bawakan makanan kering, ya. Buat camilan di sana." Bu Huriah menyerahkan tote bag berisi beberapa makanan."Alhamdulillah, terima kasih, Bu. Tapi
Siang itu, udara di lantai 3 Puspemas terasa pekat. Lema, Luhung, Mirah, Gendhis, dan Ceko duduk melingkar, melanjutkan diskusi Petitur yang tadi sempat tersendat. Di atas meja, terserak lembar demi lembar proposal penelitian untuk diserahkan ke Pak Eksin. Mirah dan Gendhis, sudah bersiap sedari tadi, untuk menjilidnya agar rapi terjalin. Lema mengusap wajahnya yang lelah. Matanya masih menangkap beberapa paragraf yang sempat ia revisi berdasarkan diskusi terakhir mereka. Namun, di tengah keheningan kecil itu, pikirannya justru melayang pada sebuah penemuan tak sengaja. Tentu saja, apa lagi kalau bukan postingan blog yang ia temukan mengenai SMP Kalpasastra? "Oh iya, aku baru ingat sesuatu," Lema menyenggol lengan Luhung yang sedang merapikan rambut. "Apa, tuh?" Luhung mendekatkan badannya ke Lema. Ceko pun refleks menatap ke arah Lema. "Aku tuh pernah baca, ada blog yang ditulis sama salah satu siswa di SMP Kalpasastra. Katanya ada adik kelasnya yang sering datang bergantian," cer
Ruangan itu dipenuhi segerombolan manusia. Ada yang membuka proposal, ada juga yang diam penuh tanya. Mungkin karena penuhnya isi kepala mereka. Satu per satu dari mereka, keluar sambil membawa tumpukan kertas. Ada yang ingin konsultasi bimbingan, ada juga yang sudah mulai bersiap untuk terjun ke lapangan. Lema, Luhung, Mirah, Gendhis, dan Ceko berkumpul di meja sudut ruangan Puspemas. Di lantai 3, tersedia beberapa meja dan kursi untuk para peneliti yang akan menghadap ke atasan untuk konsultasi bimbingan. Mereka berkumpul dengan laptop yang menyala dan otak yang panas, membara hingga ke batas. Mereka berusaha sekuat tenaga mengumpulkan serpihan data untuk merampungkan proposal penelitian. Gendhis menghela napas panjang, merapikan tumpukan jurnal referensi mengenai Teori Instruksional Lokal dan Pendekatan Matematika Realistik Indonesia, juga tentang Hipotesis Lintasan Belajar yang berserakan di dekat laptopnya. Sedangkan Lema sibuk mengetik baris demi baris kerangka metodologi. "Se
Mirah mulai mengocok kumpulan kertas yang sudah digulung-gulung. Sejenak, Lema, Luhung, Gendhis, dan Ceko terdiam, fokus mengamati Mirah. Lema mulai memasang raut wajah datar, antara gugup dan terbawa suasana timnya yang mulai hening. Mereka tak lagi penuh canda tawa, hanya bisa berpasrah."Yuk, kita mulai. Bang Luhung, silakan ambil pertama," Mirah menyodorkan kumpulan gulungan kertas lalu Luhung mengambilnya."Lanjut. Kamu duluan deh, Lema.""Astaga, Mir, lu udah ngincer Lema ya? Curiga nih, gue," ledek Luhung. Mirah hanya tersenyum jahil."Thank you, Mir." Lema mengambil gulungan kertas dengan agak sungkan."Lanjut, Kak Gendhis, lalu sisanya buat aku."Mereka mulai membuka lembaran kertas yang sudah ada di tangan masing-masing."Wah, gue dapat nomor 1, nih. Bab Pendahuluan, dong, berarti," Luhung terkekeh."Cocok. Lu kan suka melantur. Lu akalin aja deh, gimana caranya biar masih make sense dan logis nanti," komentar Gendhis."Dih, sial. Tapi iya juga, sih," timpal Luhung sambil ter
Sebuah meja berbentuk persegi yang di sekelilingnya terdapat lima buah kursi telah diisi dan digunakan oleh Lema, Luhung, Gendhis, dan Mirah di Kantin Puspadana. Kantin Puspadana merupakan kantin khusus berkumpulnya para peneliti Puspemas. Kantin Puspadana bisa dikatakan sebagai urban food court-nya Puspemas yang dikhususkan untuk para peneliti. Di dalamnya terdapat banyak stand sehingga para peneliti bisa memilih ingin memesan makanan dari stand kesukaannya. Selain itu, karena sifatnya yang urban, di dalam Kantin Puspadana terdapat beberapa spot foto yang instagramable. Lema sempat tak percaya, sebegitu sejahteranya peneliti yang bekerja di Puspemas ini."Bang, gue merasa bersyukur bisa kerja di sini. Takjub banget, fasilitas untuk para penelitinya betul-betul diperhatikan," kata Lema sambil menatap sekitar Kantin Puspadana.Mirah hanya menatap Lema sambil tersenyum."Lu kenapa cengar-cengir ngeliatin Lema, Mir?" ledek Luhung dengan menatap jahil Mirah."Ish, apa sih, Kak. Aku jadi ke
Sepasang bola mata berwarna kecokelatan itu menatap halaman buku satu per satu yang sedang dipegangnya. Sambil membaca buku, jemarinya mengetuk tombol kibor laptop. Di layar laptopnya, tertera sebuah nama kota di belahan Antapura yang lain dan masih asing baginya.Giriwarsa. Lema belum pernah sekalipun berkunjung ke kota ini. Pikirnya, yang namanya kota, pasti kehidupan di sana sudah maju. Sedangkan Luhung bilang kota ini termasuk daerah yang agak terpencil. Tentu saja hal itu memancing Lema untuk ingin tahu lebih lanjut mengenai Giriwarsa. Lema pun menelusuri informasi mengenai Giriwarsa di laptopnya melalui mesin pencari.Mesin pencari yang ada di layar laptop menampilkan beberapa situs yang berkaitan dengan kata kunci Giriwarsa. Beberapa situs yang muncul itu seperti, Sepuluh Tempat Wisata yang Wajib Dikunjungi di Giriwarsa, Begini Indahnya Penampakan di Atas Gunung Jatarupa Giriwarsa, serta Hutan Pinus yang Masih Lestari di Giriwarsa.Kenapa kebanyakan situs yang muncul berkaitan d
Semburat lembayung senja telah menampakkan dirinya di cakrawala yang mulai terlihat redup. Jarum kecil yang ada pada jam dinding di dalam ruangan Lema telah menunjuk pada angka 3 sedangkan jarum panjangnya menghadap angka 12. Setelah membaca beberapa buku mengenai jenis-jenis penelitian yang dipero
Lema mulai menata beberapa buku catatan, buku paket matematika dari mulai tingkat SD hingga SMA, dan buku-buku lain yang membahas berbagai model pembelajaran di lemari arsipnya. Selain buku, Lema juga merapikan dokumen-dokumen yang masih tercecer di meja. Dokumen-dokumen yang tercecer itu seperti s
Pukul enam lewat enam menit, Lema sudah sampai di tempat kerjanya. Hari pertama bekerja, mengingat wejangan dari bapaknya, Lema harus menunjukkan kesan pertama yang bagus. Oleh karena itu, sebelum masuk, Lema merapikan rambutnya, dasinya, kemejanya, dan mengencangkan ikat pinggangnya.Setelah diras
Setra dikenal sebagai kota dengan suasana yang unik. Kota yang berumur tiga puluh tahun ini mengalami banyak kemajuan. Tiang-tiang utilitas yang digunakan untuk mendistribusikan listrik-listrik dengan daya tinggi telah banyak dipasang di kota ini. Gedung-gedung yang dibangun setinggi langit juga tel