LOGINLila didn't expect her life to change so dramatically just days after arriving at the pack. She certainly didn't anticipate being married to the Alpha almost instantly. All she wanted was to return and find a mate, but circumstances changed, and now she has to pay for a sin she didn't commit. "Please Rafael," pulling my undies away, I begged. ''It's Alpha to you... It's only when I'm making that pussy of yours feel good, then you can call me God," his voice was like a whisper, sending cold shivers down my spine.
View More"Mas ... jangan keluar di dalam, nanti aku bisa hamil!" tukas Laila sambil mendesah karena hampir sampai ke puncak kenikmatan bersama Dimas.
"Kamu ... ah ..." Dimas seperti sudah tak mendengarkan apa yang diminta oleh Laila, bahkan ia mengeluarkan cairan sp*manya di dalam rahim Laila. Pria itu pun luluh lantah di atas tubuh Laila.
"Ya elah, Mas. Kenapa dikeluarkan di dalam. Bagaimana kalau aku hamil?" protes Laila dengan nafasnya yang tersengal-sengal.
Pria itu menaikkan wajahnya dan menatap wajah cantik Laila yang sudah basah dengan keringat. Ia menatap lembut kepada wanita itu.
"Ya ... kalau kamu hamil gak apa dong. Kamu kan istri aku. Kita ini sudah menikah loh. Kita tuh halal banget," bujuk Dimas.
Pria itu pun turun dari tubuh indah Laila dan terlentang, di sebelahnya seolah puas dengan apa yang baru ia lakukan dengan Laila.
"Mas ..." Lalia memiringkan tubuhnya lalu memeluk erat Dimas yang berada di sebelahnya itu.
"Mas .. aku mau tanya dong"
"Apa itu, Sayang?" Dimas mencium lembut puncak kepala Laila.
"Kalau dibandingkan nih ... Antara aku sama Mbak Hesti, siapa yang paling memberikan kepuasaan saat melayani Mas?" tanya Laila genit. Wanita itu memainkan jarinya di atas dada kekar Dimas, membuat tubuh pria itu merinding karena perbuatan dari Laila.
"Kamu lah, Sayangku, cantikku. Hesti itu kalau di ranjang sudah seperti batang pohon. Sangat kaku. Begitu saja. Dia tak bisa memuaskan aku dan tak bisa mengeksplor apa yang seharusnya dilakukan agar kegiatan di ranjang itu menyenangkan." balas Dimas begitu merendahkan Hesti, istrinya sendiri. Wanita yang memulai segalanya dari nol bersama dengan Dimas dan juga merupakan wanita yang sangat mendukung Dimas hingga menjadi seperti sekarang ini.
Ya ...bisa dikatakan Dimas bisa sesukses ini juga berkat bantuan dari Hesti. Mereka berdua berjuang dari nol hingga sekarang memiliki jabatan di perusahaan dan juga memiliki aset berharga saat ini.
"Hihi ..." Laila terkekeh geli. Ia merasa menang atas istri pertama dari Dimas yang terlihat sangat berkuasa itu. Setidaknya, di mata Dimas, Laila lebih baik daripada Hesti di atas ranjang untuk memuaskan hasrat Dimas. Artinya, ia berhasil membuat Dimas bertekuk lutut di hadapannya dan Dimas akan menuruti apapun yang Laila inginkan.
"Kamu memang the best deh kalau melayani mas, dari atas sampai bawah. Mas tuh sampai ketagihan banget loh sama kamu. Pinter banget istri mas ini. Pinter masak, pinter dandan terus pinter di ranjang lagi." Dimas terus memuji Laila dan menciumi pipi Laila dengan mesra.
"Ih ... geli dong, Mas."
"Duh ... kamu buat mas turn on terus deh, Sayang."
"Ih... jangan dulu. Aku masih capek dong. Masa digempur terus sih, Mas."
"Hehe ... habisnya kamu membuat Mas seperti ini. Jadinya harus tanggung jawab dong sama Mas."
"Nanti dulu, Ah. Laila capek. Hmm ... kita bicara dulu saja ya."
"Bicara apa, Sayang?"
"Mas ..." panggil Laila yang manja.
"Kenapa, Sayang?"
"Kapan Mas akan beritahu Mbak Hesti kalau Mas itu sebenarnya sudah nikah siri dengan aku?" tanya Laila manja sekaligus merajuk manja kepada Dimas.
"Nanti ya, Sayang."
Mood Dimas jadi berubah tegang kalau membicarakan Hesti atau pun rencana cerainya dengan sang istri pertama. Resiko terlalu besar.
"Aku sudah bertahan satu bulan loh, Mas di sini. Aku sebal sekali diperkenalkan sebagai adik sepupu dari mas loh oleh ibu. Mas juga tidak menyanggahnya sama sekali. Aku kan istri sahnya mas Dimas juga. Masa aku harus sembunyi-sembunyi begitu sih? Mau mesra-mesraan sama Mas Dimas saja harus tunggu Mbak Hesti pergi. Duh gak bebas banget. Gak tahan aku tuh." gerutu Laila.
"Sabar ya, Sayang. Orang sabar disayang Tuhan." Dimas mencoba menenangkan istri yang baru ia nikahi selama satu bulan ini.
"Sabar terus aku ini sih. Lama-lama pantat bisa lebar kalau disuruh sabar, Mas." cebik Laila karena sang suami tidak juga mengatakan kepada istri pertamanya kalau mereka itu sudah menikah secara siri.
"Hehe ... kamu bisa saja sih humornya. Mas tambah gemas deh sama kamu." goda Dimas.
"Mas ... "
"Hum ... kenapa istriku yang cantik dan menggoda ini?" tanya Dimas.
"Mas itu lebih cinta aku atau sama Mbak Hesti sih?" Laila seolah meminta kepastian dari Dimas. Sebuah afirmasi kepada dirinya sendiri atas jawaban dari Dimas, suaminya yang baru ia nikahi selama satu bulan ini.
"Tentu sama kamu, Sayang. Kamu segalanya loh buat, Mas. Bisa mati mas tuh kalau kamu gak ada. Gak bisa makan, gak bisa tidur ... gak bisa segalanya deh kalau kamu gak ada. Mas ketergantungan banget sama kamu," rayu Dimas agar Laila tidak marah kepadanya.
"Kalau begitu, belikan aku rumah baru dong, Mas. Biar kita tuh bisa santai kalau mau mesra-mesraan. Gak seperti ini terus. Masa sembunyi-sembunyi terus di hadapan mba Hesti," bujuk Laila.
"Sabar ya, Sayang." Hanya kata sabar saja yang bisa diucapkan oleh Dimas. Dia sendiri bingung kalau disuruh beli rumah baru. Memangnya membeli rumah bisa semudah dan semurah bicara saja? Tentu saja Dimas harus mengumpulkan uang yang banyak untuk memenuhi kemauan dari Laila.
"Ih ... Mas tuh suruh aku sabar terus. Bosan aku tuh untuk sabar." protes Laila.
"Ya mas harus bagaimana lagi? Beli rumah kan gak semudah dan semurah itu, Cintaku. Uangnya mas kamu ini belum terlalu banyak untuk membeli rumah baru buat kita berdua."
"Ih ... sebal sekali sih. Mas tidak mengerti rasanya menjadi kedua dan sembunyi-sembunyi di depan Mbak Hesti sih."
"Mas minta maaf ya, Sayang. Benar-benar minta maaf atas ketidaknyamanan yang kamu rasakan. Tapi, Mas janji akan cari jalan secepatnya agar kamu nyaman hidup bersama dengan Mas."
"Ok. Kalau belum bisa beli rumah lagi, minimal kita mengontrak rumahlah supaya aku bisa menjadi nyonyadi rumah sendiri. Aku malas berada di rumah ini."
"Kontrak rumah?"
"Iya ... lebih baik kontrak dulu supaya bisa mandiri, jangan terus sama Mbak Hesti." rengek Laila.
Dimas terdiam. Mengontrak rumah juga bukan perkara mudah. Apalagi uangnya kini juga dipegang oleh Hesti. Tak terlalu bebas untuk mengeluarkan uang begitu banyak dari tabungan.
"Mas ... koq diam saja sih. Mas mendengarkan aku bicara gak sih?"
AVAIt’s been three days since the incident, three days of dreams I can’t piece together. Three nights of visions that slip through my fingers the moment I wake. Voices. Screams. The same chant over and over. But this time, it's not clearer. Scenes of Selene. Begging. Pleading to be forgiven. Her voice filled with desperation. And then, water. She’s drowning, her body going still, lifeless.I don’t know what’s worse, the fact that I’m seeing this, or the fact that I can’t make sense of why it’s happening to me. The visions blur like smoke, and yet they feel too real to dismiss.I Meanwhile, Nicklaus’s lawyer is still busy hammering out stipulations on the contract. Legal jargon and terms that don’t make my head ache any less. And still, i have to keep showing up at work, plastering on a face, pretending Fernando doesn’t want me six feet under. Afterall they say, Fear is a murderer with patience; awareness just pulls the trigger faster.I push my way through the stairs and the busy bo
AVAI don’t know why I feel so overly confident when my idea is stupid. Seriously, how does going to a place where someone died years ago solve anything?Nicklaus’ hand closes around mine as he leads me to the car I came with. His jaw is tight, but his grip, steady, grounding.He glances at me, voice that speaks disbelief. “You’re quite a handful… How the hell did you even find Georgia and convince her to bring you here?”I slide into the passenger seat, buckling up like I own the ride. “You told me her phone number was in the envelope, so I sorted it out.”His brows snap together. “And stole my phone? What are you now, a thief?”I smirk at his poor attempt at humor, leaning back. “You weren’t going to tell me about it. A girl’s gotta do what she’s gotta do.” I roll my eyes for good measure.I roll my eyes, smirking at him. “You’re so damn lucky you’ve got my heart. And luckier still that I’m not the Ava you first met, because trust me, I would’ve dumped your ass, mate or not.”He sho
AVAMy heart is still thumping from the piece I just put together, when suddenly, there’s a rustle at the door.I freeze.Georgia’s eyes snap to mine, wide and questioning.“I didn’t bring anybody, I swear,” I whisper, my throat dry.The handle twists, the door creaks open, and I almost scream at the top of my lungs.Nicklaus. Busted."Ava?"Y’know that moment when you’re staring at someone you love, but it suddenly hits you he might actually be a murderer? Yeah, that’s me right now—hands clammy, heart racing, eyes desperate for an answer."Leave us." His eyes don’t leave mine, but I know he’s talking to Georgia.Georgia gulps, gives me one last nervous glance, and slips out, the door clicking shut behind her. Now it’s just me and him.My heart keeps screaming he’s my Nicklaus, but my brain won’t stop whispering the odds are stacked against him.One step. Two steps. I inch back."Please," my voice cracks, "tell me you didn’t do it."He swallows hard, his gaze still pinned on me. The s
AVAYou know that feeling when the air gets punched right out of your lungs? Yeah, that’s me right now. Selene. The name stares back at me from the screen like it’s laughing at me, daring me to connect the dots.It’s wild, how your brain kicks into overdrive when you’re chasing secrets. I swear I feel almost superhuman, every detail clearer, every clue glowing brighter, as if the universe itself wants me to solve the mystery my mate refuses to tell me.Georgia clicks on the girl’s profile picture, and my stomach knots. It’s her, the same blonde. They definitely talked, but the chat history is wiped clean, Nicklaus must have deleted it.Sure, this feels like a crumb of evidence that they talked, but crumbs won’t cut it. I need more. I need something solid, concrete, something that tells me what really went down. A clue. A hint. A fight. Anything that can drag me closer to cracking this wide open.“So, what do we do now?” I ask, watching Georgia’s face stay locked on the screen. Her fin
AVAAfter several rounds of back-and-forth with Nicklaus, he finally lets me go. I can already picture Fernando’s face when I walk in late, scratch that. For sure, he's going to be mad upset at me for coming an hour to the minutes he had spared me. Fuck him anyways.Of course, Nicklaus doesn’t just
AVAIt’s another morning, and Nicklaus hasn’t caught a wink of sleep. Neither have I. At the last minute, I had to climb on top of him, ride him until his brain was nothing but sex and sweat, just to distract him from whatever puzzle he’s trying to rack in that stubborn head of his.But even then,
AVAIt feels like I’ve just been slapped with something out of nowhere. Why the hell is he telling me to leave? What’s going on? It’s not even my closing hour yet.I’m about to text back, my fingers already typing why, when his call flashes across my screen.“Ava, you need to listen to me, leave th
AVAIt's been almost a week since Lila's gender reveal party, and now all we're doing is counting down. Our baby girl's going to slip into the world any day now, and the excitement is practically oozing through the Pack.One week of avoiding Nicklaus like the plague. One week of trying to piece my






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ratings
reviewsMore