Alpha Sugar Daddy

Alpha Sugar Daddy

last updateLast Updated : 2026-01-02
By:  S. MendezOngoing
Language: English
goodnovel18goodnovel
10
1 rating. 1 review
32Chapters
1.4Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

“We are mates, Blaze. Why were you kissing another woman when I’m right here? We belong to each other.” “Belong to each other? You and I?” A cruel chuckle escaped Blaze’s mouth. He stood so close that he was only a breath away. His thumb brushed over my bottom lip, making me shiver. “What kind of fantasy world do you live in, Natalia? I should talk to your father and advise him to stop buying you some useless fairytale books.” “But it’s true,” I insisted even if my confidence was shattering. “The mark on your wrist-“ “Doesn’t mean anything. I will never belong to a girl. Much more, to someone like you.” “I’m no longer a little girl, Blaze. I’m a woman now.” To prove my point, I tiptoed and grabbed his nape. I pulled him to me and crashed my lips on his, fulfilling another dream of mine. To kiss him. But it was like kissing a statue. The fire that he had shown as he kissed another woman was gone. Instead, the man in front of me was… ice cold. In the end, I was the one who had to pull away. His voice was mocking when he asked, “Have you had your fun, little princess?” Blaze rejected our bond and left me broken that night. I swore to never meet him again, but destiny had another plan. Three years later, here we are, forced into an arranged marriage for the benefit of our kingdom. I’ve moved on. I learned my lesson. But Blaze, my father’s best friend, and his soldier, has changed. Whatever Blaze wants, he makes sure to get using any means necessary. And this time, what he wants is me.

View More

Chapter 1

Chapter 1

Di tengah malam yang gelap gulita, Audrey duduk menghadap telepon umum.

Digenggamnya beberapa koin uang yang tersisa.

Sejak perceraian orang tuanya, masa kecil Audrey hanya penuh dengan pemandangan suram.

Sang ayah terjatuh dalam jurang depresi.

Setiap hari dia berangkat bekerja sebagai buruh pabrik dan meninggalkan Audrey sendirian di rumah. Upah buruh yang tidak seberapa selalu habis untuk biaya makan dan mabuk-mabukan Arman, tidak jarang Arman menjual barang-barang rumah demi bisa mabuk.

Audrey pun harus bertahan di rumah yang berdinding tambalan kayu yang saat hujan akan bocor dan saat musim salju selalu ada banyak arang yang terbakar di setiap penjuru tempat karena tidak ada penghangat ruangan.

Audrey sangat marah. Namun, dia tidak bisa membenci sikap ayahnya setelah mendengar cerita dari banyak orang bahwa Arman berubah menjadi pemabuk semenjak ditinggal oleh isterinya yang berselingkuh.

Menyedihkannya sejak Audrey menginjak usia lima belas tahun, Arman mulai berhenti bekerja karena terkena kanker. Sehingga, ketika Audrey lulus sekolah SMA, dia harus banting tulang menerima pekerjaan apapun untuk menggantikan peran ayahnya agar bisa bertahan hidup dan mencari biaya pengobatan. Satu tahun setelah Audrey lulus sekolah, kini keadaan Arman semakin parah dan tidak lagi bisa hanya meminum obat di rumah.

“Keadaan ayah Anda semakin memburuk, namun biaya untuk kemoterapi cukup banyak, pihak rumah sakit tidak dapat memberi keringanan lagi,” ucap seorang perawat, “Untuk melakukan beberapa kali kemoterapi dan biaya lainnya, kemungkinan Anda butuh seratus ribu dollar.”

Audrey terhenyak kaget, darimana dia bisa mendapatkan uang sebesar itu?

“Apa dengan kemoterapi, ayah saya bisa sembuh?” tanya Audrey.

“Ya, ada banyak pasien yang bersih dari kanker setelah kemoterapi.”

Audrey mengusap sikunya dengan tangan yang berkeringat dingin. “Tolong lakukan yang terbaik untuk ayah saya, saya akan mengusahakan semua biayanya,” pinta Audrey dengan suara bergetar menahan tangisan.

“Waktu Anda hanya tinggal dua hari lagi Nona Audrey. Hubungilah kerabat Anda agar bisa mereka bisa membantu.”

“Saya akan mengusahakannya,” jawab Audrey penuh keyakinan saat itu.

Tapi, kini Audrey putus asa.

Seluruh kenalan dan kerabat Arman yang ditelpon untuk meminta pertolongan–menyatakan bahwa mereka tidak bisa.

Tes!

Gerimis mulai turun, membawa kilauan cahaya di bawah terangnya lampu jalanan.

Wajah Audrey terangkat, matanya berkaca-kaca menahan tangisan putus asanya, tidak tahu harus kemana lagi kini dia meminta pertolongan.

Dikeluarkannya buku kecil dari saku jaketnya yang lusuh, melihat satu-satunya nomer telepon yang belum dia coba hubungi, yaitu ibunya.

Sejak ditinggal pergi bercerai, wanita itu sama sekali belum pernah datang berkunjung menemui Audrey, bahkan sekadar menanyakan kabar.

Sejujurnya, Audrey sama sekali tidak pernah tahu seperti apa kehidupan ibu dan kembarannya sekarang.

Begitupun dengan rupa ibunya yang telah tidak ada lagi dalam ingatan.

Apakah bisa, kini Audrey menghubunginya untuk meminta tolong?

Setelah cukup lama mempertimbangkannya dalam perenungan, Audrey masuk ke dalam ruang telepon umum lagi dan memasukan koin-koin terakhir yang dia miliki, mengharapkan bantuan ditengah keputus asaannya.

Suara deringan telepon yang tersambung terdengar. Audrey menantinya sambil merapalkan do’a, berharap ibunya bersedia membantunya.

“Hallo,” suara seorang wanita terdengar dibalik telepon.

Bibir Audrey bergetar, beberapa kali dengan mengatur napas untuk mengumpulkan keberanian berbicara, “Saya ingin berbicara dengan Nyonya Salma.”

“Saya Salma, Anda siapa?”

Audrey meringis, menekan dadanya yang berdebar kencang menyadari bahwa itu suara ibunya yang selama ini tidak pernah diketahui. “Sa saya Audrey, adik Aurelie.”

Hening….

Salma tidak memberikan reaksi apapun dibalik teleponnya setelah tahu dia berbicara dengan Audrey, kembarannya Aurelie.

“Kebetulan sekali, bagaimana kabarmu Audrey?” tanya Salma setelah cukup lama diam.

Audrey mengusap sudut bibirnya tidak kuasa menahan tangisan yang sudah mendesak. “Saya baik-baik saja, ta tapi ayah sakit,” jawabnya terbata.

“Kau butuh bantuan?” tanya Salma langsung menyadarinya.

Audrey terdiam sejenak, menggenggam erat gagang telepon. “Jika Ibu berkenan, saya ingin meminta tolong kepada Ibu,” jawab Audrey tidak membuang waktu, itu koin terakhirnya dan dia tidak bisa menghubungi Salma lagi jika waktunya telah habis.

“Jadi apa yang kau butuhkan?”

Audrey tercekat kaget mendengar tanggapan ibunya yang begitu cepat menjawab tanpa meminta banyak kepastian apakah Audrey jujur atau berbohong.

Beberapa kali Audrey mengatur napasnya, mengumpulkan keberanian untuk berkata, “Saya butuh seratus ribu dollar untuk ayah kemoterapi,” jawab Audrey terbata.

“Itu uang yang cukup besar, kau bisa mendapatkannya asal bersedia memenuhi satu syarat.”

Tanggapan baik Salma yang langsung bersedia membantu meski harus syarat, sedikitpun tidak memunculkan kecurigaan, justru membangkitkan harapan Audrey untuk bisa memperjuangkan kesembuhan ayahnya.

“Syarat apa yang harus saya penuhi?” tanya Audrey dengan penuh semangat.

Apapun akan dia lakukan jika itu bisa membuat ayahnya kemoterapi dan sembuh dari sakitnya.

Mungkin, Tuhan menjawab doanya lewat sang ibu?

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

reviews

Myeong Cantado
Myeong Cantado
Interesting. Hope you upload more chapters.
2025-09-25 06:59:56
2
0
32 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status