LOGINOlivia Wade never asked for the bond. A servant. A latent. A girl without a wolf — she knew better than to dream of being Luna. But when Alpha Luther Reed returned from training, fate betrayed her. His storm-dark eyes found hers. His wolf growled mine. For one night, he kissed her, claimed her, whispered promises that set her soul on fire. For one night, she believed she mattered. The next night, beneath the chandeliers and the eyes of the entire pack, he shattered her. Humiliated. Broken. Cast aside. Olivia fled into the forest with nothing but the scraps of her pride. She swore she would never beg again — not for love, not for recognition, not even for her mate. But bonds do not break. And Luther’s wolf refuses to let her go. Torn between the Alpha who destroyed and humiliated her and the destiny she refuses to accept, Olivia must choose: freedom, or a reckoning powerful enough to bring an entire pack to its knees. The Alpha’s regret has only just begun.
View More“Sheza agak cemberut gue tinggal touring. Padahal pulang touring gue janji bakal ngajak makan malam di luar. Dio juga udah rewel banget minta mainan VR.” Prabu harus sedikit berteriak agar Satria menangkap suaranya dari balik helm.
“Kenapa nggak bilang kalau lo punya janji di rumah? Dua minggu lagi ada touring lain. Harusnya kita bisa ikut yang itu aja. Gue jadi nggak enak, Prabu …. Kan gue yang ngajak. Ck!” Satria mengacungkan tinjunya. “Gue cuma kasian sama duda kalau nggak ada yang nemenin. Coba Roman doyan motor dan masuk club kita. Bisa berduaan terus lo berdua karena berstatus pria single,” seru Prabu lagi. “Roman, sih, doyannya night club, bukan club motor!” balas Satria, terbahak di motornya. “Atau sekali-kali lo ikut Roman ke night club. Biar aura lajang Roman nular. Lo nggak kayak duda anak satu lagi!” Prabu lalu tertawa terbahak-bahak. Setengah jam saling berbalas omongan, jalan yang ditempuh semakin mendaki. Permainan gas, kopling dan rem dilakukan dengan handal oleh peserta tour agar motor tetap stabil di tanjakan. Jalan berliku-liku dan mereka nyaris tiba di titik istirahat pertama saat hujan mulai turun. Awalnya hujan tipis, namun kemudian semakin deras. Airnya meluncur membasahi jaket kulit yang membalut rapat tubuh mereka. Dua pria bertubuh nyaris sama tinggi dan tegapnya saling pandang. Satria melirik langit. Terlihat awan gelap bergulung makin menebal. Di sisi kirinya, Prabu menoleh sambil tertawa kecil. "Gas, nggak?" "Tunggu reda dikit, Bu. Anginnya kenceng banget. Neduh dulu, yuk.” Satria menyalakan lampu sen, menuju bawah jembatan kecil. Satria tidak punya firasat apa pun. Pagi itu semuanya normal dan semuanya baik-baik saja. Prabu ada janji dengan keluarga kecilnya dan ia sendiri berjanji akan menjemput Nayla; putrinya di rumah mantan istrinya. Akhir pekan adalah giliran ia menjalankan co-parenting untuk gadis kecil semata wayangnya. Bagi Satria sendiri, ia merasa tidak ada yang berbeda dengannya. Prabu juga cerita seperti biasa. Kecuali kalau boleh dibilang agak berbeda, Prabu memang kadang-kadang diam dan mengecek ponselnya sedikit lebih lama. Prabu kadang berdecak dan menghela napas panjang. Meski sepintas, Satria melihat perubahan wajah sahabatnya itu. “Ada masalah?” tanya Satria saat mereka berdiri bersisian di bawah jembatan. “Nggak adalah. Memangnya muka gue keliatan muka pria ada masalah?” Prabu meninju lengan Satria sambil tertawa. Sama cerianya seperti kemarin-kemarin. "Itu yang lain udah pada jalan. Ada iring-iringan club mobil juga kayaknya. Kita ikut aja. Biar cepet sampai." Prabu naik ke motor dan menyalakannya. "Udah, santai aja. Kita nggak perlu nyusulin yang lain. Masih deras,” kata Satria, berjalan ke tepi jembatan dan mendongak. “Ayo, deh. Gue nggak mau kalau Sheza dan Dio nunggu gue kelamaan.” Prabu bersiap-siap memakai sarung tangannya. Satria meraih lengan Prabu, menahannya. Rautnya jadi ikut gelisah. “Lo tuh, ya. Kalau memang ada janji sama Sheza dan Dio harusnya nggak perlu iyain kalau gue ajak. Asli gue jadi kasian sama mereka. Mau digas sekarang juga jalanan licin, Bu.” Jawaban Prabu saat itu hanya mengangkat bahu. Ia menepuk lengan Satria sebelum melaju. “Ayo, Sat! Gue tinggal juga, nih,” katanya. Entah karena memang firasat, atau entah karena ia yang ingin menghabiskan waktu sedikit lebih lama untuk bercakap-cakap sesama pria. Yang jelas, tak ada alasan lagi untuk berdiri di bawah jembatan kecil itu tanpa Prabu. Satria segera menyalakan motor dan melesat untuk memperpendek jarak dengan sahabatnya. Tikungan sempit. Aspal basah. Kabut putih menelan pandangan. Satria menahan napas. Ia tak melihat lampu belakang motor Prabu. Tangan kanannya menekan gas tapi kemudian urung karena dari arah berlawanan terlihat padat. Ketika pikiran ragu-ragu itu muncul, sebuah bunyi memekakkan telinga membuat matanya terpejam sepersekian detik. BRAAAK! Raungan klakson panjang. Suara besi menghantam besi. Suara yang membuat ulu hati siapa pun mencelos. Satria baru saja keluar dari tikungan ketika dunia dirasanya melambat. Ia melihat sesuatu terlempar ke udara. Sebentuk siluet yang sangat ia kenal. Helm pecah dan serpihannya melayang bersama air hujan. Mata Satria tertuju pada sesuatu. Motor Prabu yang menghantam pembatas jalan, lalu tergilas keras oleh truk kontainer yang tak sempat mengerem. Dentuman logam menggemuruh membuat detik itu tangannya reflek menarik rem. Semua kendaraan di depannya kini terhenti dan gaduh. Satria melompat turun dari motornya. Jantungnya berdebar tak karuan. Ia berlari dengan teriakan tanpa suara. Tak tahu harus berlari ke mana. Darah di mana-mana. Helm Prabu pecah. Ringsek. Tangannya terangkat ke atas. Gemetar menggapai udara. Memegangi kepalanya dengan linglung. “PRABU!” jerit Satria. “Prabu …!” Satria kembali menjerit. Tubuh sahabatnya itu tergeletak di bawah truk. Masih bernapas. Ia masih melihat Prabu menghela napas meski kepayahan. Matanya separuh terbuka. Bibirnya terbuka pelan. Mencoba mengatakan sesuatu yang tak bisa ditangkap telinga. “Tolong! Tolong!” jerit Satria, meraba-raba ponsel dan menekan nomor darurat yang bisa diingatnya saat itu. ***** (IGD Rumah Sakit Pinggiran Kota) Satria berdiri membeku. Bajunya basah kuyup. Sepatunya berlumpur. Jaket kulitnya tertempel bercak darah yang sudah mengering. Sejak tadi tatapannya tak beranjak dari sosok tampan yang kini bergeming dengan wajah penuh luka lecet. Bagian sisi kanan kepalanya ada jahitan besar. Seorang dokter menutup catatan medis, suaranya datar. “Kepalanya parah, ada pendarahan masif. Kami sudah berusaha, Pak.” Kalimat itu seperti palu godam, tapi Satria bergeming. Rahangnya mengeras, matanya memerah. Ia hanya menatap kain putih yang kini menutupi sahabatnya hingga dada. Tangan Prabu sudah rapi disedekapkan. Suster berjalan pelan ke arahnya. "Bapak kenal korban?" Satria mengangguk seraya menelan ludah. Rahangnya tiba-tiba saja mengeras. "Saya kenal istrinya. Biar saya yang kasih tau,” ucapnya. Entah sudah berapa kali ia mengusap wajahnya sejak tadi. Air mata yang berusaha dihalaunya tak kunjung berhenti. “Bapak telepon atau kita….” “Saya yang kabari langsung. Saya ke rumahnya sekarang.” Satria menggigit bibir bawahnya. “Sekalian urus surat-suratnya juga,” tambahnya pelan. Kali ini sepertinya ia harus benar-benar meninggalkan perawat itu. …POV: Olivia Reporters waited like gulls at low tide patient, hungry, sure something would wash up. They surged when my car stopped. Flashes. Questions. “Ms Wade, were the kidnappers tied to your company?” “Are you in contact with the Alpha?” “Are your children hybrids?” I didn’t answer. Security opened a path with a steady hand, avoiding headlines. The mirrored doors of Wade Global threw back the version of me I’d brought for public use: black suit, obedient hair, new scars blurred by the wrong shade of foundation. Composed. Cold. Not honest. “Welcome back, Ms Wade,” the receptionist chirped too loudly, as if to drown out the silence. The lift purred upward. I used to love that sound height as proof. Now it has only proved that the sky can be boxed in chrome and sold as victory. At thirty, my assistant, Hana, met me at the glass gate, tablet to chest. “The board’s already in,” she said softly. “And… messages from the councils.” “The human ones or the wolves?” A small smile.
POV: Olivia The valley still smelled like a wet match. Ash dusted hair and hems, the Hall steps, the river stones where grief had washed its hands and left grey fingerprints. I kept the children on a strip of grass by the east wall where the wind moved. Daisy sorted pebbles by “shiny.” Lily made a crooked crown and set it on Hyden’s head; he sighed and let it be. Rowan used my phone to photograph everything that wasn’t a face. Luther stopped a pace from our blanket and didn’t touch it. Small mercy. Bandage under his rolled sleeve, dirt on his cuffs, eyes that brightened when they found me, then remembered not to. “Olivia,” he said. “Alpha.” I didn’t offer a seat. The word landed. He turned to the children. Lily stared back. Rowan nodded like a man. Hyden watched the horizon. Daisy clutched her whale patch like a seal. “I need to discuss safety,” he said. “Do you?” “There are still threats from the Creed. I want you and the children inside Red Moon territory. Not the Hall,” he
POV: OliviaThe rebuilt hall breathed like a chest relearning rhythm. Open arches replaced bannered walls; scrubbed stone kept its scars. Dawn fell in long bands across a single table, not a throne.They put me in the witness circle.Garron stood at my shoulder with a scuffed case. Elara waited with the elders, the Luna’s sign inked small on her wrist. Luther stood at the far end, hands folded, head unbowed. The children were behind good doors with the smells of sugar and sleep exactly right.The Council called it an emergency hearing to “restore order.” You can’t restore what never existed.I set the case on the table. The room quieted.“You summoned me,” I said. “You wanted an accounting.”“The pack demands it,” an elder in rings began. “You broadcast images not meant for”“I showed cages,” I said. “If panic followed, it followed truth.”A younger councillor flinched. Good.Marcus rose, older where it matters eyes and jaw. “Proceed. Ms Wade, present your evidence.”Garron passed me
POV: Elara Night stayed quiet. We worked under canvas and lamp enough light to see, not to perform. Garron’s crew moved with quiet purpose: ropes coiled, winches oiled, salt kept dry. The pine court well sat close to the hall still learning to be a home. I chose to start here. If any rot remained, I’d cut it near my grandchildren’s laughter. Marcus stood at the edge, leaning on his cane without shame. Pride is for the young. He leaned on wood, not rank. That was mercy enough. “Lines set,” Garron said, pale beneath the grit. “Pump primed. We’ll go slow. If the readings spike” “We stop. We salt. We close,” I said. “No heroics.” He nodded. The pump coughed, then found rhythm. Water climbed, dark first, then clear. The smell rose rust, lime, and that faint sweetness memory leaves behind. “I should’ve done this years ago,” Marcus said. “You should have,” I answered. “You didn’t. So we will.” We lowered the first sensor. It slipped beneath the rim with a soft chime. The line trembl
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.