LOGINQuando fui ao hospital para verificar se meu quarto tratamento de fertilização in vitro havia sido bem-sucedido, vi Antônio Wolff, que supostamente estava em uma viagem de negócios, saindo cuidadosamente do setor de obstetrícia com uma jovem bonita. A barriga dela estava visivelmente grande, indicando que o bebê estava prestes a nascer. Antônio ficou apenas um instante confuso, antes de proteger a jovem atrás de si. — Estela Torres, a família Wolff precisa de um herdeiro. Quando a criança nascer, tudo voltará a ser como antes entre nós. Eu ouvi a determinação em seu tom e sorri concordando, enquanto escondia silenciosamente os resultados dos exames. No dia em que a jovem deu à luz, deixei um acordo de divórcio para ele e o deixei para sempre.
View MoreLangkah kaki wanita itu tampak menghentak melihat anak laki-lakinya masih sibuk di depan laptop di ruang kerjanya. Putung rokok sudah memenuhi asbak dan ruangan yang pengap itu menguar bau rokok meski asapnya sudah menghilang.
Brak!
Terdengar suara sesuatu dibanting di meja.
“Jadi setiap hari kau sibuk dengan pekerjaan konyolmu ini hingga Mama telpon, kirim pesan tidak di balas!” tukas Hera mendekat, wanita itu sembari menjewer telinga anaknya.
“Ma, Ma, Ma!” Ardhan mengikuti saja langkah kaki Hera karena kupingnya diseret. “Jangan dijewer, Ma! Sakit, macam anak kecil saja!”
“Kamu memang anak kecil yang kurang ajar! Mamamu sakit di rumah sakit sampai mau mati kamu tidak perduli, hah!” Hera baru melepas telinga anaknya sambil berkacak pinggang.
“Ya elah, Mama! Kan Mama sehat wal’afiat, lihat sekarang bisa datang ke sini dengan semangat masih membara.” Ardhan mengusap-usap daun telinganya yang memerah itu.
“Besok pulang! Kalau tidak Mama bunuh diri!” Hera mengancam.
“Astagfirullah Mama, jangan begitu, nyebut!” Ardhan menggapai lengan wanita yang sudah melahirkannya itu, namun Hera menepisnya.
“Kayak orang bener saja kamu nyuruh Mama nyebut. Kamu tuh yang nyebut, udah tua hobinya masih main mlulu. Mama sedih lihat kamu begini terus, bagaimana kalau tiba-tiba Mama dipanggil yang kuasa sementara kamu belum juga mau menikah . . . “ dan serentetan ocehan masih terdengar seperti sebuah lagu seriosa di telinga Ardhan.
Duh, kumat lagi Drama TV-nya. Ardhan menyesal kenapa tadi tidak pakai earphonenya. Mudah-mudahan telinganya baik-baik saja setelah ini.
“Ya udah, Ma! Besok Ardhan datang, Kok!” Demi nada seriosa itu lenyap dari telinganya, Ardhan akhirnya menyanggupi pulang.
Suara ocehan itu tiba-tiba hening. Wajah wanita separuh baya itu terlihat mengembangkan senyumnya, dia mengelus bahu putranya dengan lembut.
Tuh,kan! Mudah sangat mengambil hati wanita ini.
“Begitu kan, bagus! Mama udah kangen kamu makan bersama di rumah.”
“Iya, Mama! Insyaallah besok Ardhan pulang,” ucap Ardhan agar wanita itu senang.
Namun kesenangan itu hanya terlihat sebentar karena wajah Hera berubah judes lagi.
“Awas kalau sampai tidak datang! Aku suruh Papamu coret dari KK biar gak dapat warisan sekalian!” gerutu Hera sambil mengambil tasnya.
“Hati-hati ya, Ma!” Ardhan segera membukakan pintu untuk Hera. Namun sekali lagi dia ditatap tajam wanita itu.
‘Apalagi sih, Ma?!’
“Semangat banget bukain pintu? Ngusir Mama?” Hera melotot.
“Ya Salaaam…, kan emang Mama mau pulang. Tuh tasnya sudah ditenteng!”
Hera melengos lalu berlalu keluar. Supirnya langsung sigap membukakan pintu untuk sang nyonya.
“Bang Rom, hati-hati ya!” Ardhan melambai pada supir mamanya.
“Ya, Mas! Monggo…,” ucap Romi lalu segera berlari ke pintu kemudi.
Huft!
Sepertinya Ardhan memang harus pulang besok. Bisa jadi ada acara penting sampai mamanya ngancam bunuh diri kalau dia tidak datang.
Ting!
Notifikasi pesan masuk ke ponsel Ardhan. Dari Mamanya? Udah pergi juga masih kirim pesan.
[Mama lupa kasih tahu kamu, di meja ada baju yang harus kamu pakai besok. Ingat kalau kamu tidak datang Mama akan bunuh diri!]
Tuh, kan! Diingetin lagi.
“IYA IYA MAMAKU YANG BAWEL DAN CEREWET!” ucap Ardhan yang tentu tidak bisa di dengar mamanya.
Heran sama Papanya. Kok bisa tahan dan sabar menghadapi wanita itu. Batin Ardhan mengambil paperbag di meja lalu melemparnya begitu saja di kamarnya. Saat kembali pada laptopnya dia jadi kepikiran. Ada acara apa besok di rumahnya?
Ketika Ardhan datang dengan pakaian yang diberikan mamanya semua orang menyambutnya dengan sangat bahagia. Semua keluarga besarnya datang dan tampak rapi. Ardhan masih bingung, acara apa? Hingga dia melihat di halaman samping ada pergola kecil yang dihias bunga-bunga. Di sampingnya ada meja dan 4 kursi yang dua diantaranya sudah diduduki seseorang. Sepertinya petugas KUA.
‘Siapa yang menikah?’ batinnya.
“Kak Ardhan! Ayo makan-makan dulu!” panggil sepupunya yang sudah menenteng makanan dan minuman.
“Hei, Laila! Jangan makan dulu, acara belum di mulai,” tukas seorang wanita meletakan makanan yang dipegang Laila. Itu Kamila, tantenya.
“Ardhan, kamu ganteng deh hari ini. Tante jadi pangkling!”
“Makasih, Tan!” ucap Ardhan.
“Mama, kapan dong acaranya. Siapa yang nikah?” Masih Laila yang sedikit gembul itu merengek pada mamnya.
“Iya bentar lagi, itu Kak Ardhan juga sudah datang. Pasti akan segera dimulai acaranya!” ucap Kamila saat melewati depan Ardhan.
‘Memang siapa yang menikah? Kenapa nunggu aku datang?’
“Ardhan, Sayangku! Akhirnya …”
Hera keluar dengan kebaya yang sangat indah dan elegan. Wajahnya pun dirias dengan sangat cantik. Di sampingnya dia melihat Papanya yang juga tersenyum padanya.
“Pa, siapa yang mau nikah? Jangan-jangan Papa mau nikah lagi?” tukas Ardhan mencandai papanya. Dia pria keturunan arab, biasanya orang dari sana punya istri lebih dari satu.
“Eh, sembarangan kamu!” Hera melotot. Lalu dia mendorong punggung anaknya sampai duduk di kursi di samping petugas KUA.
“Ta-tapi siapa yang menikah?” Ardhan masih heran.
Dan keheranan itu terhenti saat seorang laki-laki berjalan lalu duduk tepat di hadapannya. Dia kenal lelaki itu. Ayah dari seorang gadis yang dijodohkan dengannya.
‘Mama apa-apaan sih! Ya Allah… gini amat punya orang tua.’
Hingga kata ‘sah’ membahana di penjuru halaman itu membuat Ardhan terhenyak. Dirinya sudah mengucapkan akad untuk seorang gadis yang bahkan tidak dicintainya itu.
“Asyiik, sudah boleh makan ya, Ma!” teriak Laila membuyarkan sisi khidmat setelah kata ‘sah’ itu terucap.
“Ehh, dengerin doa dulu!” Kamila masih memegangi tangan anaknya yang sudah tidak sabar makan itu. Sementara hadirin yang lain tertawa.
Hera tampak berkaca-kaca dan memeluk Ardhan. “Terima kasih, Sayang! Mama bisa tenang sekarang karena anakku sudah menikah!” Hera masih terisak.
“Apaan, sih, Ma? Ini Prank ya?” Ardhan masih bergumam ditelinga Mamanya.
“PRANK KEPALAMU! Mana mungkin Mama mau keluarin banyak duit untuk semua ini kalau bukan untuk pernikahanmu!” Hera menjitak kepala Ardhan.
“Ma,” tukas Hamid, papa Ardhan mengingatkan Hera agar tidak keblalasan ngomel-ngomel di depan banyak orang.
“Ardhan, tidak ada prank tentang pernikahan. Semua sudah sah di hadapan Allah dan hukum. Kamu sudah menikahi Alea putri Pak Nadim. Kau harus jadi laki-laki yang bertanggung jawab untuk istrimu!” tukas Hamid menepuk pundak Ardhan meski melihat tatapan protes putranya itu.
Kedua mempelai kemudian dipertemukan. Tidak ada senyum terkembang di wajah Ardhan. Pun dia tidak terlalu memperhatikan wajah sang istri. Toh, dia tidak pernah mencintainya. Bagaimana dengan Naysila kekasihnya yang kini masih menempuh pendidikan di luar negri? Bagaimana perasaannya jika ternyata mengetahui dirinya sudah menikah dengan wanita lain? Padahal semalam mereka masih ngobrol di telpon dengan sangat mesra.
A competição, desde a fase inicial até a final, durou uma semana.Durante essa semana, reencontrei velhos amigos.Foi através deles que fiquei sabendo dos acontecimentos após minha partida.— Ah, Beatriz realmente cavou a própria cova. Mas quem eu tenho pena é aquela criança. Faz anos que Antônio nunca foi vê-lo. Os pais dele levaram a criança, mas ele não deu atenção. Ouvi dizer que no mês passado o menino ainda ficou gravemente doente...Meus amigos perceberam a gafe no meio da conversa e mudaram de assunto rapidamente.Eu sorri, sem dar importância.Essas coisas não tinham mais a ver comigo.Mas, naquela semana, Antônio fazia questão de, todo santo dia, trazer café da manhã e lanche noturno, o que me incomodava.Os outros grupos já estavam comentando.Percebi que não podia deixar isso continuar assim.Na noite anterior à final, procurei por ele para conversarmos.O sorriso dele se desfez, e ele desviou o olhar, relutante.— Podemos não falar sobre isso? Estela, eu te conheço bem dem
Cinco anos depois, eu levei as crianças do nosso orfanato para participar de uma competição de dança beneficente em Cidade Z.Não esperava encontrar Antônio lá.Durante a competição, ele estava sentado na mesa dos jurados.Ao me ver, ficou paralisado.Eu também fiquei surpresa.Mas rapidamente recuperei a compostura.Na segunda metade da competição, o olhar de Antônio praticamente não se desviou de mim.Até mesmo as câmeras perceberam algo.Minha expressão ficou cada vez mais séria.Finalmente, quando a competição terminou, suspirei profundamente de alívio.Após a competição, não fiquei surpresa ao encontrar Antônio nos bastidores.Ele estava visivelmente emocionado ao me ver, com lágrimas discretas nos olhos.Ele me olhou profundamente e disse. — Estela, finalmente te encontrei.Ao falar, parecia usar toda sua energia, e sua voz estava embargada.Respirei fundo, avancei e estendi a mão com confiança. — Agradeço ao Diretor Wolff pelo apoio às obras de caridade. Com tanta bondade, certa
As outras três pessoas ficaram pasmas.O pai dele ficou furioso ao ver o filho assim. — Que conversa é essa? Você é um ingrato, vai abandonar seus pais, e também seu filho, por causa daquela mulher?Antônio nem olhou para os pais, apenas serviu-se de uma cachaça. — Esse é o neto de vocês, não tem nada a ver comigo.O filho dele, já tinha sido destruído por ele mesmo.Beatriz se aproximou e agarrou o braço de Antônio, chorando. — Antônio, eu errei no passado, mas eu realmente te amo. Me apaixonei por você desde a primeira vez que te vi. Agora que a Estela se foi, fique comigo. Eu vou te tratar melhor do que a Estela tratava, vamos dar um lar completo para nosso filho, não é?Antônio explodiu de raiva, ele agarrou o pescoço de Beatriz. — Como você tem a cara de pau de dizer que gosta de mim? Você não chega nem perto de um fio de cabelo da Estela. Por causa do bebê, eu estava pensando em te deixar ir, mas se você quer me irritar, não me culpe então.Ele parecia um demônio, assustando Beat
Antônio não conseguia encontrar Estela.Ele já tinha tentado de tudo.Ligou para os amigos dela, dizendo que tinha deixado Joana chateada e agora não conseguia encontrá-la, perguntando se eles tinham visto Estela.Todos os amigos achavam que ele estava brincando.— Sério? Vocês dois são inseparáveis, e agora brigaram?— Estela nunca ficou brava com você. O que você fez para irritá-la?Ele ficou sem palavras.Só pôde desligar o telefone em silêncio.Pois é, ninguém acreditava que ele pudesse irritar Estela.Nem ele mesmo acreditava.Mas ele tinha cometido um erro, e um erro enorme.Ele verificou os registros de passagens dela e não encontrou nada em lugar nenhum.Ela realmente não queria ser encontrada por ele.Estela nunca o perdoaria.Só de pensar nisso, seu coração doía tanto que ele mal conseguia respirar.Não tinha vontade de fazer nada.Já fazia duas semanas que ele não ia à empresa.Nem ao hospital ver o filho.Todos os dias ele ficava apenas em casa, que dividia com Estela, bebe
Antônio me levou para uma das casas dele.A casa tinha sinais evidentes de que duas pessoas viviam lá juntas.Na entrada, dois pares de chinelos, um grande e um pequeno, e na mesa, canecas de casal lado a lado...Tudo ali me lembrava que, sem eu saber, Antônio tinha construído outra vida fora do nos
Senti uma onda de náusea e corri para o banheiro, vomitando até não aguentar mais.Antônio, em pânico, bateu levemente nas minhas costas, tentando me fazer sentir um pouco melhor.— Não me toque! — Virei-me para ele, lançando um olhar furioso.Não era de se admirar que ele estivesse agindo de forma
Eu segui discretamente.Na sala de consulta, Antônio descrevia a situação ao médico com a voz trêmula.Ele sempre foi tão calmo, era a primeira vez que o via tão apavorado.Aquela mulher apertava a mão dele com força, murmurando incoerentemente. — Antônio, estou com muita dor na barriga, estou com m
Quando vi Antônio no setor de obstetrícia, achei que estava enganada. Na noite anterior, ele ainda me beijava repetidamente dizendo que me amava mais do que tudo. Eu mesma fiz as malas para a viagem dele, peça por peça.Mas agora, lá estava ele, usando as roupas que eu tinha escolhido, ajudando cui


















Bem-vindo ao Goodnovel mundo de ficção. Se você gosta desta novela, ou você é um idealista que espera explorar um mundo perfeito, e também quer se tornar um autor de novela original online para aumentar a renda, você pode se juntar à nossa família para ler ou criar vários tipos de livros, como romance, leitura épica, novela de lobisomem, novela de fantasia, história e assim por diante. Se você é um leitor, novelas de alta qualidade podem ser selecionados aqui. Se você é um autor, pode obter mais inspiração de outras pessoas para criar obras mais brilhantes, além disso, suas obras em nossa plataforma chamarão mais atenção e conquistarão mais admiração dos leitores.