登入Nirmala menarik selimut sampai ke dagu dengan gerakan secepat kilat. Jari-jarinya gemetar saat mengancingkan baju satu per satu, tetapi karena terlalu gugup, kancing kedua nyaris masuk ke lubang yang salah."Maaf," cicitnya, nyaris tak terdengar. "Aku ... aku tidak sadar.""Tidak! Tidak apa-apa!" Taufan menjawab terlalu cepat, terlalu keras, dan masih menatap dinding. "Aku tidak lihat apa-apa. Maksudku, aku memang tidak lihat. Aku cuma ... melihat wallpaper."Hening.Nirmala menutup mulut dengan punggung tangan. Antara ingin menangis karena malu dan ingin tertawa karena kalimat itu terlalu konyol keluar dari mulut lelaki setegap itu."Wallpapernya ... bagus?" tanyanya lirih."Sangat bagus." Taufan mengangguk khidmat. "Motif daunnya detail. Pasti dipesan khusus."Dan untuk pertama kalinya sejak kemarin, sudut bibir Nirmala bergetar. Satu tawa kecil lolos, pelan, nyaris seperti hembusan napas, tetapi cukup untuk membuat bahu Taufan akhirnya sedikit turun.Tepat saat suasana mulai mencai
Malam itu terasa seperti tak pernah berujung. Fatma duduk di kursi di samping ranjang Darma, punggungnya menegang, matanya tak berhenti mengawasi setiap bayangan yang lewat di balik tirai. Lampu lorong yang berkedip, langkah sepatu perawat yang berderap di kejauhan, bunyi roda brankar yang berdecit, semuanya terdengar seperti ancaman. Darma sudah tertidur dengan napas berat akibat obat pereda nyeri. Wajahnya yang pucat tampak jauh lebih tua dari biasanya. Beberapa kali Fatma terlonjak ketika seorang suster datang menyuntikkan obat lewat selang infus. Setiap kali pintu tirai tersibak, jantungnya nyaris copot. Setiap kali ponselnya bergetar, tangannya gemetar sebelum berani melihat layar. Kosong. Tidak ada pesan baru. Dan justru kekosongan itu yang paling menakutkan. "Kalau diteror seperti ini terus, bisa-bisa aku mati ketakutan," batinnya sambil memeluk tas di pangkuan. Pandangannya menyapu sudut ruangan yang remang. "Aku harus membayar seseorang untuk jadi bodyguard. Besok pagi,
"Halo?" Wajahnya berubah serius saat mendengarkan. Alisnya berkerut, rahangnya mengeras. "Apa maksudmu hilang? Sudah kamu cek lagi? ... Jangan ke mana-mana, aku ke sana sekarang." Ia menutup telepon dan langsung berdiri, menyambar jasnya dari sandaran kursi. "Darma?" Fatma ikut bangkit. "Kamu mau ke mana? Ini sudah larut malam." "Ada urusan mendadak di kantor, Bu." "Besok saja, Nak. Sudah hampir tengah malam." "Urgent, Bu!" Darma menyela tanpa menoleh, sambil memasang jasnya terburu-buru. "Ini menyangkut dokumen penawaran tender kita. Kalau sampai bocor, semuanya habis." "Hati-hati di jalan!" seru Fatma, tetapi pintu sudah tertutup. Mobil sedan perak itu melesat keluar dari halaman, menembus jalanan kota yang sepi. Sisa hujan masih menggenangi aspal, memantulkan lampu jalan yang berkelebat satu demi satu. Di balik kemudi, Darma mencengkeram setir dengan kedua tangan. Pikirannya berkecamuk. Dokumen tender hilang. Proyek terbesar tahun ini. Investor yang sudah menaruh harapan.
Taufan menelan ludah. Jantungnya langsung berdegup tak karuan. Dalam kepalanya, berbagai kemungkinan buruk berlomba muncul. Penyakit serius, komplikasi pascaoperasi, atau sesuatu yang membuat perempuan itu harus kembali menderita.Ia mengikuti ibunya turun ke ruang kerja dengan langkah kaku. Diana duduk di balik meja, membuka map cokelat itu dengan gerakan pelan, lalu membiarkan putranya menunggu selama hampir satu menit penuh."Ma, tolong," suara Taufan nyaris pecah. "Apa yang terjadi pada Nirmala? Dia sakit apa?"Diana mengangkat kepala, menatap wajah pucat putranya, dan bibirnya langsung bergetar menahan tawa."Sakit?" Ia menutup map dan menyandarkan punggung. "Dia sehat, Fan. Tekanan darahnya sempat turun sedikit karena kelelahan, tapi kondisinya stabil. Bayinya juga sehat."Taufan berkedip. "Lalu ... yang tadi?""Mama hanya ingin lihat reaksimu." Diana akhirnya tertawa kecil. "Dan ternyata Mama tidak salah. Wajahmu barusan seperti orang kehilangan separuh nyawa."Taufan menghembu
"Nanti malam Mama tunggu di rumah," ucap Diana tegas, lalu membuka map di mejanya tanpa menoleh lagi. "Dan jangan terlambat."Itu bukan permintaan. Taufan tahu betul nada seperti itu tak pernah bisa ditawar.Ia bangkit perlahan, mengangguk, lalu keluar dari ruangan dengan langkah berat. Di koridor, ia berhenti. Pandangannya tertuju pada pintu kamar VVIP di ujung lorong, tempat Nirmala sedang terbaring lemah. Kakinya seperti terpaku.Ia ingin sekali menemani perempuan itu malam ini. Ia ingin duduk di kursi dekat ranjang, memastikan napasnya teratur, memastikan bayi mungil itu tidur nyenyak, memastikan tak ada satu pun orang yang berani mengganggu mereka.Tapi Mama menunggu. Dan ada urusan yang tak bisa ia tunda lagi.Ia merogoh ponsel dari saku, lalu menekan satu nomor. Nada sambung hanya berbunyi sekali."Lex," ucapnya pelan. "Kirim siapa pun yang bisa dipercaya untuk menemani Nirmala malam ini. Perempuan, yang tenang dan tidak banyak bicara. Aku harus bicara serius dengan Mama.""Sia
Suara itu. Taufan mengenalinya dalam sekali dengar, nada tenang yang selalu terdengar tegas, suara yang sejak kecil membacakan dongeng sebelum tidur, memarahinya karena pulang larut, dan memeluknya saat ia terjatuh dari sepeda. "Astaga. Itu suara Mama?" Dari balik masker, sepasang mata tajam itu menoleh sekilas. Hanya sepersekian detik, tetapi cukup untuk membuat punggung Taufan dingin. Tidak salah lagi. Wanita yang melahirkannya, seorang dokter spesialis kandungan, berdiri di hadapannya dengan pisau bedah di tangan. "Kenapa aku bisa lupa kalau Mama praktik di rumah sakit ini?" rutuknya dalam hati. Ia tetap berdiri tenang, bahkan tampak santai di luar. Hanya tangannya yang menggenggam jemari Nirmala sedikit lebih erat dari seharusnya, dan jantungnya berdegup tak karuan di balik baju steril. "Mama pasti bertanya-tanya. Anak lelakinya yang tidak pernah dekat dengan perempuan mana pun mendadak berada di ruang operasi, mendampingi seorang wanita hamil yang bukan siapa-siapa.







