MasukNirmala tak pernah menyangka bahwa kepulangannya setelah diusir oleh Darma, suaminya sendiri, justru menjadi awal kehancuran hidupnya. Dalam keadaan hamil besar dan tubuh penuh luka, ia berharap menemukan pelukan hangat ibunya. Namun, takdir berkata lain. Sang ibu telah pergi untuk selamanya, meninggalkan Nirmala dengan sejuta penyesalan dan mimpi yang belum terwujud. Kini, ia harus bertahan di tengah kehilangan, luka pengkhianatan, dan rahasia wasiat mendiang ayahnya yang menyeretnya ke dalam pernikahan penuh penderitaan. Mampukah Nirmala bangkit demi buah hati yang dikandungnya? Ataukah takdir masih menyimpan ujian yang lebih menyakitkan untuknya?
Lihat lebih banyak"Dan orang itu ..." Jeda yang terasa panjang. "... sudah kami amankan. Dia sudah bicara. Dan mulai malam ini, jangan coba-coba lagi mengganggu Nirmala!"Sambungan terputus.Ponsel itu terlepas dari tangan Fatma dan jatuh ke lantai mobil. Tak lama kemudian, mobil hitam yang menghalangi jalan bergerak mundur dengan tenang, diikuti dua motor tanpa plat nomor yang menghilang ke dalam gelap, seakan tak pernah ada."Jalan, cepat jalan!" teriak Fatma pada sopirnya, suaranya serak.Sepanjang perjalanan pulang, tubuhnya tidak berhenti menggigil. Berkali-kali ia menoleh ke belakang, memastikan tidak ada yang mengikuti. Kebaya mahalnya basah oleh keringat dingin.Sesampainya di rumah, langkah Fatma terseret-seret. Wajahnya pucat pasi, bibirnya membiru.Darma yang sedang duduk di ruang tengah langsung berdiri. "Ada apa, Bu? Ibu kenapa?""T-tidak apa-apa," jawab Fatma terbata. Ia memalingkan wajah, tidak berani menatap mata putranya. "Ibu hanya capek. Ibu mau istirahat."Ia bergegas masuk ke kamar
Pintu kamar didorong tanpa ketukan. Di ambangnya berdiri Fatma, ibu Darma, dengan kebaya mahal, kacamata hitam, dan tatapan dingin yang menyapu seluruh kamar kecil itu seakan sedang melihat kandang."Jadi di sini kamu bersembunyi," ucapnya sambil melepas kacamata. "Tidak butuh waktu lama untuk menemukan tikus yang kabur.""Ibu ..." Nirmala berdiri tertatih, satu tangannya melindungi perut. "Dari mana Ibu tahu saya di sini?"Fatma tidak menjawab. Ia melangkah masuk, menatap dipan tua dan dinding yang catnya mengelupas, lalu tersenyum sinis."Pantas. Perempuan seperti kamu memang cocoknya di tempat begini.""Bu, saya tidak pernah melakukan apa yang dituduhkan. Foto-foto itu fitnah.""Cukup!" bentak Fatma. Dari dalam tasnya, ia melemparkan sebuah map ke atas dipan. "Pengacara kami sedang mengurus surat cerai. Dalam waktu dekat kamu akan menerima panggilan dari pengadilan. Tanda tangani saja dan jangan mempersulit."Nirmala menatap map itu dengan tangan gemetar. Sesuatu di dalam dadanya,
"Maaf mengganggu malam-malam begini. Saya diminta menyerahkan ini kepada Anda."Pria itu mengulurkan map cokelat tua di tangannya. Nirmala menerimanya dengan ragu. Kertasnya lembap, tetapi isinya masih terlindung rapi di dalam plastik bening."Ayah Anda meninggalkan tabungan atas nama Anda," lanjut pria itu. "Selama ini disimpan lewat pihak ketiga, dan baru sekarang bisa diserahkan. Isinya cukup untuk biaya persalinan dan menyelesaikan pendidikan Anda."Nirmala menatapnya tak percaya. "Tabungan? Ayah tidak pernah bercerita apa pun soal itu.""Beliau berpesan agar Anda tidak banyak bertanya." Pria itu menunduk sopan. "Gunakan saja, Nona. Itu hak Anda."Tangan Nirmala bergetar. Di dalam map ada buku tabungan, kartu, dan secarik kertas bertuliskan nama sebuah bank. Ia ingin bertanya lagi, tetapi pria itu sudah berpamitan dan melangkah kembali ke tengah hujan, lalu menghilang di balik mobil hitam yang menunggu di ujung gang.Nirmala berdiri lama di ambang pintu. Ia mendekap map itu di dad
Ia berjalan menuju ruang tengah, lalu duduk di lantai karena kakinya sudah tidak sanggup menopang tubuh lebih lama. Di sudut ruangan, ada beberapa barang milik ibunya yang belum sempat dirapikan. Sebuah gelas berada di atas meja kecil. Selimut tipis terlipat di atas kursi, dan sepasang sandal usang masih terletak di dekat pintu kamar.Benda-benda sederhana itu kini terasa begitu berharga. Aroma samar minyak kayu putih masih menempel di selimut itu, aroma yang dulu selalu menyambutnya pulang. Kini aroma itu justru menusuk dadanya, seakan mengingatkan bahwa pemiliknya tidak akan pernah kembali.Nirmala mengambil gelas milik ibunya, memeluknya sebentar, kemudian meletakkannya kembali dengan hati-hati. Ia takut merusak sesuatu, seolah-olah jika benda-benda itu masih utuh, keberadaan ibunya pun akan terasa sedikit lebih dekat.Pandangan Nirmala kemudian tertuju pada sebuah foto yang terletak di atas meja.Foto mendiang ayahnya.Ia meraih foto itu dengan tangan gemetar, lalu memeluknya erat












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.