LOGINDituduh mandul dan dipaksa tunduk demi keluarga suaminya, Annisa bangkit dari kehancuran dengan bantuan pria yang mencintainya diam-diam, untuk membongkar perselingkuhan, menelanjangi kebohongan, dan membuat mereka yang merendahkannya berlutut dalam penyesalan.
View MorePlak!
“Apa tujuanmu, Annisa? Kenapa kamu memalsukan hasil ini? Kamu melawan kuasa Tuhan?” tanya Bu Rahma dengan suara melengking dan bergetar saking marahnya.
Rasa panas menjalar cepat di pipi kiri Annisa. Telinganya berdenging sesaat, menatap nanar selembar kertas berlogo laboratorium klinik ternama yang kini tergeletak di atas meja.
“Hah? Palsu? Ini dari laboratorium klinik, Ma. Bagaimana bisa palsu?” Annisa menjawab bingung, tangannya gemetar menyentuh pipinya yang kebas.
Kertas itu adalah hasil tes kesehatan reproduksi antara ia dan Ilham. Tiga tahun pernikahan tanpa tangisan bayi perlahan mengubah rumah ini menjadi neraka. Setiap bulan, datangnya tamu bulanan adalah bencana. Harapan mertua dan suaminya berubah menjadi tuntutan, lalu perlahan beralih menjadi makian dan kekerasan fisik.
“Kamu memalsukan hasil ini! Tidak mungkin Ilham mandul!” bentak Bu Rahma menggema. Wanita paruh baya itu merenggut kertas tersebut, meremasnya kuat-kuat hingga menjadi gumpalan, lalu melemparnya ke sudut ruangan.
Padahal, deretan huruf di sana tercetak jelas, Azoospermia—nol persen sel hidup. Sperma Ilham tidak mampu membuahi. Selama ini bukan rahim Annisa yang bermasalah.
“Dasar wanita tidak tahu diri!” sambung Bu Rahma.
“Annisa…” panggil Ilham.
Annisa mendongak. Matanya yang berkaca-kaca menatap sang suami penuh harap. Lelaki itu ikut ke klinik bersamanya, pasti Ilham akan membelanya.
“Aku kecewa sama kamu.”
Harapan itu hancur seketika. Dada Annisa seketika sesak. Kalimat Ilham barusan membuktikan bahwa lelaki itu memilih memercayai ibunya.
"Memalsukan hasil medis, itu sudah keterlaluan. Kamu mengumbar fitnah tentang suamimu di depan keluarga besar," desis Ilham, tatapannya sedingin es. "Bagaimana kalau kebohonganmu ini terbongkar keluar?"
Annisa menggeleng lambat. “Itu tidak benar, Mas.”
Kerongkongannya terasa perih. Kata-kata pembelaannya tercekat, kalah oleh rasa sakit yang mencekik dada. Segala penjelasan yang ia siapkan mati di ujung lidah.
“Halah, sudahlah. Mbak Annisa itu cuma playing victim,” sahut Dinda dari sebelah Ilham. Gadis itu memutar bola mata, menyingkirkan ponselnya sejenak. “Dia sengaja bikin drama supaya Mas Ilham merasa bersalah. Aslinya pasti dia yang mandul, tapi takut diusir. Sadarlah, Mbak, kamu di sini tuh cuma numpang!”
Tiga pasang mata kini menatap Annisa dengan tatapan merendahkan. Bukti medis yang ia bawa tak ada artinya.
“Mas…” panggil Annisa, suaranya nyaris berbisik. Ia masih ingin meraih tangan suaminya, meminta perlindungan.
“Sudahlah. Meski kamu mandul, aku tidak akan menceraikanmu. Kamu tidak perlu membuat hasil palsu seperti ini,” potong Ilham dingin. Ia berbalik dan melangkah pergi tanpa menoleh lagi.
Annisa mematung. Lantai ubin di bawah telapak kakinya terasa membeku. Udara di ruangan itu seakan habis terhisap.
Tiba-tiba, tarikan kasar di belakang kepalanya membuat Annisa mendongak paksa.
“Kamu itu sudah beruntung dinikahi Ilham! Malah sekarang memfitnah. Bersyukur kamu masih bisa tinggal di rumah ini!” desis Bu Rahma, jemarinya mencengkram kuat rambut Annisa sebelum menghempaskan kepala wanita itu.
Belum sempat Annisa mengatur nafasnya yang memburu, terdengar suara bantingan pintu kamar dari lantai atas.
“Annisa! Siapkan air hangat! Aku mau mandi!” teriak Ilham, nadanya mutlak, menganggap Annisa tak lebih dari sekadar pelayan.
Mendengar suara melengking suaminya, tubuhnya seketika bergerak otomatis mengikuti perintah itu. Bertahun-tahun dikuasai ketakutan membuat Annisa selalu patuh.
“Mas, airnya sudah siap,” ucap Annisa setelah menyiapkan air hangat untuk ilham.
“Jadi istri tuh begitu, jangan malah menyebar fitnah!” jawab Ilham sambil melepas kancing kemejanya.
Deg!
Jantung Annisa seperti diremas kuat, suaminya masih menganggapnya menyebar fitnah. Padahal, surat itu asli dari laboratorium klinik. Dan mereka datang bersama saat pengambilan sampel.
Annisa bahkan tidak diberikan kesempatan membela diri, ia ditekan sampai ia sendiri terjebak dalam rasa bersalah. Siksaan psikologisnya semakin berat.
“Apa aku yang salah menyampaikan hasil itu?” tanya Annisa pada dirinya sendiri.
Saat ini, ia berada di kamar mandi menatap pantulan wajahnya di cermin yang agak berembun. Mata yang semakin cekung, bahkan tulang-tulang pipinya tampak menonjol. Bulan demi bulan, pikirannya terus terkuras memikirkan bagaimana agar ia segera hamil?
Mengkonsumsi vitamin yang entah sudah berapa banyaknya, mengkonsumsi sayur taoge setiap hari. Bahkan, sampai merasa sangat muak. Tapi, mertuanya terus memaksanya. Bahkan pengorbanan itu dibalas dengan tamparan dan tuduhan penyebar fitnah serta mandul.
“Seharusnya aku diam saja dengan hasil itu,” sambungnya lagi.
Malam harinya, saat Annisa masuk ke kamar, ia melihat bantalnya berada dibawah, di atas karpet.
“Kamu tidur di bawah, aku tidak mau tidur dengan wanita yang dengan sengaja menyebar fitnah tentang suaminya,” ujar Ilham datar tanpa mengalihkan pandangan dari layar ponselnya.
“Bawah?” tanya Annisa membeo.
“Iya, di lantai.”
“Tapi, dingin Mas.”
“Jangan manja, ini agar kamu menyadari kesalahan yang kamu perbuat!” Ilham langsung mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur yang redup. Lalu memunggungi Annisa.
"Kau berani ya?" tanya Dinda. "Kenapa takut?" Annisa yang kini sudah sepenuhnya terbangun menatap Dinda dengan tajam, entah kekuatan dari mana yang ia miliki. Biasanya, ia akan memilih diam dan menurut. "Baru bekerja sehari saja sudah sombong." "Aku bekerja sehari sudah bisa menyelamatkan keuangan butik," jawab Annisa yang membuat Dinda terdiam. Wajah Dinda memucat, ia tidak menyangka kalau ternyata Annisa tahu permasalahan di butik. Akhirnya, gadis itu melenggang pergi kembali ke kamarnya. Annisa menghela nafas berat. "Haacchim!" Annisa bersin-bersin, mungkin karena tubuhnya yang kedinginan akibat guyuran air oleh Ilham tadi. Tapi, sekalipun begitu, Annisa tetap memaksakan diri membersihkan semua yang berantakan. Saat ini, Annisa tahu dan sadar ia dimanfaatkan. Tapi, ada sesuatu yang membuatnya masih harus mengalah. Surat kepemilikan butik itu masih disimpan oleh Ilham. Setelah dua jam berkutat dengan pekerjaan rumah, akhirnya selesai juga. Kepalanya terasa sangat sakit, be
"Ada apa, Mas?" tanya Annisa dengan setengah sadar. Matanya masih sangat mengantuk. Ia sudah lama tidak berlenggak lenggok di depan kamera, dan hari ini hari pertama ia kembali terkena cahaya kamera, tentu saja ia mengalami culture shock, sehingga ia merasa sangat lelah. Tubuhnya terasa menggigil, tapi ngantuknya tidak bisa ditahan. "Hah? Kau tidak tahu apa salahmu?!" tanya Ilham berteriak. Ilham semakin kesal, apalagi Annisa terlihat hendak kembali merebahkan tubuhnya diatas kasur. "Aku salah apa?" Tanya Annisa. "Kau itu adalah istri, selayaknya sekalipun kau bekerja kau tetap melakukan tugasmu sebagai istri di rumah ini! Kau bukan bos!" Bentak Ilham. Annisa bangun dan menghela nafas berat. "Aku tidak mengerti." Mata Annisa menatap Ilham lekat, bagi Ilham itu adalah sinyal bahaya. Selama ini, Annisa tidak pernah berani menatapnya seperti itu. "Kau lihatlah, rumah ini berantakan. Kau pergi sejak pagi, orang maklum kalau kau tidak sempat beberes pagi hari. Tapi, saat pulang ke
"Apa yang kau katakan?" tanya Bu Rahma.Annisa tersenyum kecut. "Paman membeli ini untuk kalian, agar aku tidak perlu masak. Sebab, besok masih ada pemotretan.""Sombong! Kalau bukan karena Ilham, kau tidak akan kenal Salman!" ketus Bu Rahma."Iya, Ma."Annisa segera berlalu menuju kamarnya setelah meletakkan makanan itu diatas meja. Kata-kata Salman terngiang di kepalanya. 'Penjara'.Satu kata itu tidak bisa ia lupakan. Pernikahan mereka berdua sama-sama seperti penjara.Dan Annisa baru sadar itu sekarang, sebab ternyata selama ini bukan cinta, bukan pula sebuah ketaatan, melainkan Ilham ingin mengurung dirinya agar ia tidak tahu apa-apa.Ia tidak tahu keadaan butik yang sebenarnya, ia hanya menerima laporan lisan yang selalu mengatakan semuanya baik-baik saja, namun nyatanya keadaan butik sedang berdarah-darah.Ketika diimingi dengan uang milyaran rupiah, Ilham langsung membiarkan ia menjadi model."Kau mau kemana?" tanya Bu Rahma menghentikan langkah Annisa yang hampir masuk ke ka
“Hah? Bukan sekali ini saja?” tanya Annisa syok.Salman menggelengkan kepalanya seraya tetap fokus pada jalanan lalu tersenyum. “Kamu tidak membacanya. Apakah Ilham juga tidak menjelaskan apapun padamu?”“Tidak, Mas Ilham menyodorkan lembar terakhir dan langsung memintaku tanda tangan semuanya. Katanya dia sudah memeriksa semuanya dan aman.”“Iya, semuanya memang aman. Isinya seperti yang aku katakan tadi,” jawab Salman.Kepala Annisa terasa berat, bahkan dadanya terasa sesak seperti dihantam beban besar. Ia menyukai pekerjaan ini karena memang ini bagian dari dirinya. Namun, disisi lain ia seperti dijual oleh suaminya sendiri demi mendapatkan suntikan dana dari Salman.Dalam pemotretan ini pun ia tidak menerima pembayaran sepeserpun. Semuanya diatur oleh Ilham, dan uangnya keringatnya ini dialirkan untuk menyelamatkan keuangan butik yang sekarat.“Bagaimana? Kamu mau makan dimana?” tanya Salman lagi.“Terserah Paman saja.”Salman mengangguk, ia kembali melajukan mobilnya dan berhenti






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews