LOGINNiat mau lepas dari suami yang dingin dan kembali ke sang mantan, Rania justru yang dibuat terkejut dengan perselingkuhan suaminya selama ini. Niat itu kandas, ia justru mempertahankan demi membalas sakit hatinya. Apakah yang akan Rania lakukan?
View More"Kamu seharian ngapain aja di rumah?" Suara Elvino memecah kesunyian dengan nada datar. Ia menunjuk majalah dan beberapa buku yang berserakan di atas meja ruang keluarga.
"Rumah berantakan begini nggak dirapikan. Makanan juga belum siap di meja makan." "Aku tadi agak pusing, Mas. Habis minum obat terus ketiduran sebentar di kamar." Rania menjawab pelan. Ia melangkah mendekati meja untuk merapikan tumpukan buku itu. "Pusing terus alasanmu. Aku yang banting tulang mati-matian di luar aja nggak pernah ngeluh pusing." Elvino melonggarkan dasinya dengan kasar, menariknya lepas, lalu melemparkan tas kerjanya begitu saja ke atas sofa. "Aku cuma belum sempat beresin, Mas. Ini juga mau aku rapikan sekarang. Sebentar lagi aku panaskan makanan buat kamu." Rania mencoba menahan nada suaranya agar tidak ikut meninggi. "Belum sempat gimana maksudnya? Kerja kamu cuma di rumah tiap hari. Harusnya rumah bersih, makanan siap, baju disetrika. Bukan malah kayak kapal pecah begini. Apa sih susahnya ngurus hal kecil kayak gini?" "Kenapa kamu jadi marah-marah? Aku bilang aku lagi sakit, Mas. Aku butuh istirahat juga." Rania menghentikan gerakannya. Ia menatap wajah suaminya. Matanya mulai terasa panas menahan bendungan air mata. Elvino balas menatapnya. Sorot matanya sangat dingin. Tajam. Menusuk tepat di ulu hati Rania. Pria itu melangkah maju satu langkah, menjulang di hadapan istrinya. "Dua tahun, Rania." Nada suara Elvino perlahan meninggi. Tidak ada kelembutan di sana. "Dua tahun kita nikah. Kalau saja kamu bisa ngasih aku anak, rumah ini nggak akan terasa sedingin kuburan. Paling nggak ada alasan buat kamu diam saja di rumah tanpa ngerjain apa-apa!" Rania mematung. Napasnya seakan berhenti di tenggorokan saat itu juga. Elvino mendengus kasar, lalu membuang muka. Pria itu berjalan melewati Rania begitu saja menuju kamar mandi tanpa sedikit pun rasa bersalah. Meninggalkan Rania yang berdiri gemetar menahan kehancuran di dadanya sendiri dalam ruang tamu yang sunyi. Di saat perasaannya hancur tak bersisa, di saat ia tidak tahu lagi harus bersandar ke mana, pikirannya tanpa sadar mencari tempat berlindung. Tempat yang selalu mau menerimanya. Ingatannya perlahan melayang dan jatuh pada Zayyan. Sudah satu tahun mereka menjalani hubungan diam-diam ini. Ia bimbang. Rasa takut ketahuan berbaur dengan rasa rindu yang teramat sangat. Hatinya menginginkan pelukan hangat pria itu, tapi logikanya terus meneriakkan kata dosa. Hubungan kita ini salah, Rania." Suara Zayyan dari seberang telepon terdengar berat. Ada nada putus asa yang tertahan. Rania berdiri kaku di balik jendela kaca ruang tamu. Jari-jarinya mencengkeram ponsel begitu kuat. Matanya menatap kosong ke arah jalanan malam yang sepi di bawah sana. "Tapi aku cinta sama kamu, Zay." ucap Rania bergetar. Ia menelan ludah, menahan sesak yang mendadak menumpuk di dada. "Dan aku udah nggak nyaman sama suamiku." "Rania..." lirih Zayyan. "Sampai kapan kita harus sembunyi-sembunyi begini?" "Kamu lelah dengan hubungan ini?" tanya Rania getir. "Aku cuma takut kamu makin hancur." Hening sejenak. Hanya terdengar helaan napas Zayyan yang panjang dan lelah. Rania memejamkan mata. Udara malam di luar sana terasa menusuk, tapi tidak sedingin perasaan yang kini menyelimuti hatinya. Di dalam rumah yang sunyi dan terasa kelewat besar ini, ia kembali menatap layar ponselnya. "Besok kita ketemu, ya. Di tempat biasa. Aku kangen banget sama kamu." Pesan terakhir Zayyan kembali terngiang di kepalanya. Pria itu. Pria yang jarang sekali ia temui selama satu tahun terakhir karena kehati-hatian mereka. Pria yang tidak tinggal di rumah besar ini bersamanya. Namun di sela-sela kesibukan pekerjaannya, Zayyan selalu memastikan Rania makan tepat waktu. Zayyan selalu mengirim pesan panjang sekadar untuk menanyakan perasaan Rania hari ini. Zayyan selalu mendengarkan keluh kesahnya tanpa pernah menghakimi atau menyalahkan takdir. Zayyan memberinya setitik kehangatan yang tidak pernah Elvino berikan sejak awal pernikahan mereka yang terasa salah ini. Di dalam keheningan kamar yang terasa menyiksa itu, satu memori tentang suara Zayyan di ujung telepon kembali menguasai isi kepalanya tanpa bisa dihentikan "Aku akan menunggumu sampai kamu ke pelukanku, Rania.”"Kita perlu bicara, Zay. Berdua saja." Suara Megan dari seberang sambungan telepon terdengar sangat pelan. Nada bicaranya begitu berhati-hati, dijaga sedemikian rupa agar tidak bergetar. Namun efek dari beberapa kata itu mampu menghentikan laju napasku seketika. Aku terdiam cukup lama. Pikiranku berkecamuk hebat, dihantam kenyataan bahwa masa laluku yang belum tuntas kini datang menagih utang di saat yang paling hancur. Aku menelan ludah yang terasa menyumbat tenggorokan, lalu mengiyakan permintaannya tanpa ragu sedikit pun. "Besok di tempat biasa," jawabku. Panggilan itu terputus sangat cepat. Bunyi nada putus dari speaker menyisakan layar ponsel yang perlahan meredup di atas meja kerjaku. Ada beban berat yang mendadak menekan dadaku hingga rasanya aku sulit sekali meraup udara bebas. Segala dosa yang pernah kulakukan pada wanita itu berputar kembali di kepalaku layaknya sebuah kaset rusak. Sore harinya, langit kota menumpahkan rintik gerimis di atas atap rumah Rania. Aku berdi
POV Zayyan“Ternyata kamu..” lirihku.Mataku terpaku pada sosok wanita yang berdiri di belakang pria brengsek itu. Jantungku seakan berhenti berdetak detik itu juga. Darah mendesir dingin merayapi tengkuk. Wanita itu adalah Megan.Tatapan kami berserobok membuat udara mendadak terasa pekat. Ada keterkejutan yang sama besarnya tergambar jelas di sepasang mata bulat wanita itu. Namun Megan buru-buru menunduk. Ia menyembunyikan wajah pucatnya di balik map dokumen yang ia peluk erat di depan dada.Aku nyaris kehilangan kendali atas suaraku sendiri. Kenyataan ini menghantamku telak tanpa ampun. Pertemuan bisnis berbalut kebohongan itu baru saja kuakhiri setelah semua urusan selesai. Pintu kayu berukir itu kini tertutup rapat dari luar seiring langkah Elvino dan Megan yang menjauh.Begitu bunyi ketukan sepatu mereka hilang, Rania melangkah keluar dari balik tirai persembunyiannya di sudut ruangan. Wajah wanita yang kucintai itu terlihat pias. Matanya menyala oleh kemarahan dan rasa jijik
"Bagus kalau suami kamu selingkuh!"Suara Zayyan memecah keheningan di antara kami.Aku terkesiap. Mataku menatap pria di hadapanku ini dengan sorot tidak percaya. Dadaku masih berdenyut nyeri mengingat rasa sakit semalam."Bagus bagaimana maksudmu, Zay?" "Ini peluang buat kita, Rania." Zayyan menatapku dengan binar mata penuh harap.Bagi Zayyan, pengkhianatan Mas Elvino adalah jalan pintas. Sebuah celah besar agar ia bisa memilikiku seutuhnya tanpa perlu sembunyi lagi. Namun di balik rasa sakit yang mencekik leher ini, tumbuh rasa penasaran yang amat gelap di dalam kepalaku."Siapa yang lebih dulu bermain api, Zay?" "Kamu tidak perlu memikirkan itu. Kita urus perpisahan kamu secepatnya.""Tidak akan semudah itu.""Kenapa, Rania?""Aku butuh validasi. Aku butuh bukti nyata. Aku ingin menjadikannya senjata di pengadilan nanti. Selama dua tahun dia selalu menuntutku menjadi istri sempurna. Dia menuduhku sebagai penyebab rumah kami terasa mati karena aku belum hamil. Aku tidak akan mem
"Mas Elvino," lirihku.Pria yang semalaman mendiamkanku. Pria yang memarahiku habis-habisan karena aku belum bisa memberinya anak. Pria yang terus menuntutku menjadi istri sempurna tanpa celah. Laki-laki itu sedang berjalan pelan keluar dari pintu kamar lain di lorong yang sama.Dan ia tidak sendirian.Rasa kaget menghantam dadaku begitu keras. Pikiranku kosong tak bersisa. Kakiku seketika kehilangan kemampuan untuk menopang berat badanku sendiri.Lututku melemas. Punggungku merosot perlahan menyusuri dinginnya dinding bercorak emas di lorong itu. Dadaku naik turun menahan isak tangis yang tertahan paksa di ujung tenggorokan."Mas nanti malam janji mau temani aku lagi, kan?" Suara wanita itu terdengar begitu manja dan ringan. Ia merangkul lengan suamiku dengan sangat erat, menyandarkan kepalanya di bahu suamiku.Mas Elvino membisikkan sesuatu yang membuat wanita itu tertawa kecil."Kamu ini menggemaskan sekali. Tentu aku janji. Apa sih yang nggak buat kamu?" sahut suamiku dengan nada






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.