Home / Fantasi / Anak Haram Sang Kaisar / Bab 8 : Pesta Teh [Bagian 1]

Share

Bab 8 : Pesta Teh [Bagian 1]

Author: Bakpaokukus
last update Last Updated: 2025-10-20 06:38:07

"Apakah ada ramuan yang dapat menangkal segala jenis racun?" tanyaku pelan, bersama dengan tubuh yang terbenam di atas kursi kayu tua.

Pemuda itu diam sejenak, menggaruk bagian belakang kepalanya.

Lalu pandangannya berubah.

"Ada..."

"Tapi itu barang yang sangat langka. Selain itu, jika belum pernah meneguk racun yang kuat. Maka efeknya tidak akan bekerja maksimal dan justru menyerang balik."

Ternyata ini lebih rumit dari dugaanku.

Jariku menyapu dagu.

Aku bergumam, masih beputar dalam pikiranku sendiri.

"Bagaimana dengan racun ular perak?" tanyaku pelan.

Tiba-tiba suasana menjadi hening.

"Racun ular perak?" ulang pemuda itu, pandangannya perlahan kosong kemudian bibirnya timbul dengan seringai.

"Orang yang meracunimu dengan benda itu benar-benar bodoh!" aku menaikkan alisku, suara pemuda itu lantang penuh dengan kepercayaan diri.

"Apa maksudmu?" kepalaku miring, satu alisku terangkat dengan kening yang berkerut.

Pemuda itu berdiri sambil melanjutkan.

"Racun ular perak adalah racun yang terkenal langka karena memberikan sensasi mengerikan di tubuh, lebih dari racun lainnya.

Namun, Racun itu benar-benar sangat istimewa." Pemuda itu melangkahkan kaki ke bagian sisi rak.

Ungkapan yang ia lontarkan bagai sebuah dongeng misteri.

"Apa kau tahu kenapa racun itu dijuluki racun ular perak?" aku menggelengkan kepalaku pelan.

Suara pemuda itu pecah.

"Racun itu bisa menciptakan katalisator darah atau sihir darah, membuka segel garis keturunan tertentu dan mengaktifkan sihir kuno."

Aku melebarkan mataku.

Pupilku bergetar bagai mencari kepastian.

Apa benar hal seperti itu ada?

Jangan-jangan aku kembali ke masa lalu karena racun ular perak?

Pemuda itu meraih rak paling atas, terdapat ramuan berwarna biru tua.

Baunya sedikit menyengat, campuran antara bunga mawar dan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan.

Ia menyodorkan ramuan itu ke meja.

"Ini penangkal racun yang kau cari." sorot mata pemuda itu lancip.

Suaranya menjadi berat.

Pria ini tidak mempermainkanku kan?

Apa dia bisa dipercaya?

Tidak.

Sekarang bukan waktunya untuk pilih-pilih.

Pada akhirnya aku harus mengambil resiko.

"Berapa?" tanyaku, mengukir botol ramuan itu dengan telunjuk.

Sejujurnya ada beberapa hal yang masih terasa aneh.

Penjelasan pemuda itu juga sulit untuk kumengerti.

"Gratis." jawaban singkat itu membuat gerakku terhenti, rasa curiga yang kumiliki meningkat begitu saja.

"Kenapa?" tanyaku dalam suara yang menukik.

"Yah, soalnya. Akan merepotkan Kalau ternyata seseorang mati." kedua bahu pria itu terangkat bersama cetusan singkat.

Sepertinya dia tidak bercanda.

Lux melangkah maju.

"Yang mulia, apa anda yakin?" aku terdiam, tak menjawab pertanyaan Lux.

Aku sendiri juga tak yakin dengan jawabannya.

Aku beralih pandang ke pemuda itu.

"Jika justru hal buruk terjadi, apa yang harus aku lakukan supaya selamat?"

Pemuda itu menyeringai.

Ia melirikku sambil menyanggah dagunya seakan sedang berpikir.

"Hm, apa yang harus dilakukan ya...?" ia mendekatkan kepalanya dan berbisik.

"Ya tinggal mati saja." ucap pemuda itu dengan alunan menggoda.

Kedua bibirnya membentuk seringai. Setelah itu dia diam, menatap dengan dalam.

Lux menyentak pria itu.

"Lancang!" sebelum pertengkaran terjadi, aku mengangkat tanganku mencoba mengarahkan Lux supaya tetap tenang. Lalu suara pemuda itu menimpali kembali.

"Yah, soalnya aku tidak tahu. Kenapa tidak pakai keberuntunganmu saja." apa yang dia katakan hanya menambah pertanyaan lain dalam pikiranku.

Aku harus menanggapi perkataannya dengan serius atau tidak?

Lalu keberuntunganku?

Apa maksudnya?

"Karena sudah dapat yang kau cari, silahkan pergi." ketusnya melanjutkan.

Ia berbalik ke tempat di mana tubuhnya terbaring tadi.

Aku melihat rak-rak itu untuk terakhir kalinya kemudian berkata.

"Aku mengerti, terimakasih."

Aku dan Lux keluar, ramuan penangkal racun sudah kusimpan dengan baik di kantong.

"Yang mulia, pria itu jelas-jelas mencurigakan!" Lux menambahkan, alisnya turun ke bawah.

Bukan hanya dia yang merasa seperti itu.

Aku juga sama, tapi anggap saja beruntung karena mendapatkan barang gratis.

"Cukup, ayo kita pulang." Lux mengangguk, misi itu berakhir dengan perintah pulang dari kedua bibirku.

***

Sore hari : Istana kekaisaran

Sebuah tandu kereta kuda berwarna putih tiba di halaman istana Bulan.

Dengan berpijak pada jalan setapak beberapa saat, sesosok pria melangkah masuk ke istana permaisuri.

Koridor telah di lalui.

Ia berdiri di hadapan pintu kayu berukir rumit hingga suara membunyi.

DRETTT

Pintu terbuka, sosok itu melangkah pelan begitu memasuki ruangan.

"Yang mulia, tugas yang anda minta sudah saya kerjakan." ucap pria itu, gelagatnya tunduk bersama bahu yang bergetar samar-samar.

"Mulai sekarang, makanan yang masuk ke paviliun Cassian telah dicampur dengan racun yang tidak terasa maupun berbau."

Tawa mencuat dengan berat namun nyaring.

Wanita bergaun beludru merah menyenderkan tubuhnya di atas kursi busa tebal panjang.

Rambutnya terurai dengan gelombang di setiap ujungnya.

"Kerja bagus." cetus wanita itu, kedua bibirnya naik dengan sorot mata dingin.

Pria itu merendahkan tubuhnya kemudian meninggalkan ruangan.

Sedangkan tangan wanita itu meraih anggur merah yang tergeletak di atas piring.

Melahapnya satu persatu dengan jemari lentiknya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Anak Haram Sang Kaisar    Bab 166 : Kurungan (Part 3)

    "Saya yakin kalian punya rencana atau setidaknya sedang memantau situasi. Ibu saya selalu mengatakan bahwa saya orang yang cukup pintar. Jadi saya tahu untuk bersikap biasa." Gadis itu menjelaskan, membantu anak lain untuk berjalan. "Nin, obati mereka." Valerius berujar dan Nin segera datang dengan pil yang sama yang ia gunakan untuk menolong yang lain. Daphone memindahkan gelombang air itu di hadapan setiap orang yang akan memakan obat-obatan sehingga ketika mereka membuka mulut air-air itu akan masuk dengan perlahan-lahan seperti layaknya minum air putih."Terimakasih ketua, maafkan saya karena sebelumnya sempat mencurigai anda." kata gadis itu dengan alis yang turun. Daphone mengangguk lalu menggerakkan jarinya membentuk segel komunikasi."Semuanya, masuk ke ruangan terlarang!" hanya dalam beberapa menit saja dan semua anggota organisasi telah berkumpul. Mulai dari pengguna benih roh tingkat lima hingga tingkat tujuh. Dengan jubah resmi organisasi, mereka tampak istimewa dan la

  • Anak Haram Sang Kaisar    Bab 165 : Kurungan (Part 2)

    Kunci besi telah ditemukan, nyaring berbunyi di antara mulut Vanressan ketika ia membawanya kepada Nin. Sedangkan dari samping, Valerius segera melangkah ke sisi Daphone yang tergeletak di dinding dengan sekujur tubuh yang kaku, urat-uratnya timbul karena racun."Cough-kalian hampir melupakan aku." Suara dahak keluar dan mata pria itu layu. Valerius menoleh ke arah Nin."Tabib agung, tolong obati dia." cetusnya sebagai perintah, Nin yang tanggap segera pergi setelah menerima kunci dari Vanressan. Ia memindahkan kunci itu ke telapak tangan Valerius kemudian melakukan tugasnya. Kantung berwarna merah muda dengan corak bunga indah keluar dari sutra Nin, ia memasukkan jemarinya membawa tiga pil berwarna putih. Tangannya pelan memasukkan benda-benda itu ke sela bibir Daphone. Untuk sesaat Daphone menggenggam pergelangan tangan Nin seakan ia menolak bantuannya, namun tenaganya tak lagi penuh, sedikit dorongan dan obat-obatan itu telah masuk ke dalam tenggorokannya."Apa anda punya sisa

  • Anak Haram Sang Kaisar    Bab 164 : Kurungan (Part 1)

    Vanressan berdecak, siapa lagi yang bisa memerintah Dewa dengan semaunya jika itu bukan putra angkatnya sendiri."Lemparkan aku dengan kuat ke leher pria itu." Vanressan mendesis lirih, Nin tersenyum tipis mendapati persetujuan Van dan menatap Valerius seraya mengangguk. Dari sana Daphone dan Lavetan masih berdiri memandangi satu sama lain dengan ketidakcocokan."Kau memang layak menjadi pengguna benih roh tingkat tujuh, ketua." cetus Lavetan mengangkat kedua lengannya dengan bebas."Tapi aku belum mengeluarkan senjata terakhir yang kumiliki. Aku ingin lihat apa nyawamu masih utuh setelah menerimanya." Lavetan menaikkan bibirnya miring, belati yang ia genggam dengan tangan kanan itu naik ke atas kemudian turun menyayat telapak tangannya, darah meluncur tipis, meksipun niatnya bernyali namun giginya meringis menahan rasa perih. Tidak ada yang tahu langkah Lavetan selanjutnya, oleh karena itu semua orang sudah mempersiapkan diri dengan waspada. Lavetan menyapu darah dengan dua jarinya

  • Anak Haram Sang Kaisar    Bab 163 : Ruang Rahasia (Part 3)

    "Aku memanggapmu sebagai rekan kerja yang dapat diandalkan selama ini! Kau sungguh mengecewakan!" tubuh Daphone bergetar hebat sampai perlahan-lahan ia mendesah dan tangannya kembali ke samping, sia-sia saja jika ia harus berkelut dengan emosi yang hanya akan membuang waktunya."Lalu teh yang kau berikan?! Apa itu untuk menjebakku dalam halusinasi?!" Pertanyaan itu membuat Lavetan menyimpan kembali seringainya dan matanya tamapk gelap."Semuanya sudah sempurna! Hanya tinggal beberapa hari lagi dan anak-anak itu akan jadi bahan yang sempurna untuk membangkitkan pemimpin kultus! Tapi, semuanya sia-sia hanya karena teh!" Lavetan mengigit giginya dan kerutan dahinya menampilkan ketidakpuasan yang nyata. "Lupakan saja. Aku bisa membunuh semua anggota organisasi Dewa pelindung dan menjadikan kalian bahan pengganti! Hahahahah! Kegelapan akan mendominasi cahaya!" pekikan Lavetan membuat ruangan itu tenggelam dalam kengerian. Valerius hendak melangkah dan membantu Daphone tetapi Nin menyentu

  • Anak Haram Sang Kaisar    Bab 162 : Ruang Rahasia (Part 2)

    "Lukisan apa itu?" tanya Valerius, matanya merayapi tembok di hadapannya."Aku tidak bisa mengatakannya sebelum segalanya pasti." Daphone bersikeras dan tak ada paksaan lebih dari Valerius. Tangannya datang dan dengan waspada, ia meletakkannya di batu berbentuk persegi itu. Dorongan yang tak begitu kuat lalu dari arah depan suara gemuruh datang.ZRRTTTSemua orang terkejut melihat tembok itu dapat terbuka, tidak ada yang menyangka ruang rahasia berada di tempat yang dilarang untuk dimasuki. Daphone bergegas ke ruangan itu terlebih dahulu dan ternyata di hadapannya area ya cukup luas telah terpampang dengan banyak jeruji-jeruji besi dan obor yang menempel pada temboknya. Ia memandang lebih dekat kemudian terbelalak. Langkahnya mundur beberapa jengkal dan ia bergumam dengan dirinya sendiri."Tidak mungkin...ini... bukanlah organisasi Dewa pelindung. Semua ini.... bukanlah organisasi yang Tuan Yivon ciptakan! Siapa yang merencanakan ini semua!" Daphone histeris dalam kepala yang berp

  • Anak Haram Sang Kaisar    Bab 161 : Ruang Rahasia (Part 1)

    Nin mengumpulkan kedua tangannya dan berdoa lebih khusyuk, kekuatan intinya adalah keberuntungan dari alam semesta, dimana hukum timbal balik akan datang beserta jiwa yang murni. Semakin suci pikiran, semakin doanya akan lekas dikabulkan. Setelah beberapa waktu ia membuka matanya dan perlahan-lahan serbuk-serbuk cahaya keluar dari tubuhnya melesat ke salah satu pintu seakan sebuah pemandu arah. Valerius dengan cepat segera pergi mengikuti cahaya itu seakan sudah tahu bahwa itu adalah kekuatan Nin, sedangkan dari sisi satunya, Daphone berdiri dengan bingung dan bertanya-tanya kemana sang kaisar akan pergi.Tanpa pikir panjang, ia mengikuti dari belakang, diikuti Nin yang tengah kembali membuka matanya.Mereka berjalan terus setelah melalui beberapa ruangan dan lorong hingga sampailah pada sebuah pintu yang digembok dengan beberapa rantai tua. Daphone melangkah terlebih dahulu seraya menatap Valerius."Tunggu, kita tidak bisa pergi. Ini adalah ruangan yang tidak boleh dimasuki oleh s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status