Anak Haram Sang Kaisar

Anak Haram Sang Kaisar

last updateTerakhir Diperbarui : 2025-12-30
Oleh:  Bakpaokukus Tamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
2 Peringkat. 2 Ulasan-ulasan
166Bab
894Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Ibunya telah tewas atas permaisuri sebagai dalangnya. Cassian yang lahir dari hubungan tak sah seorang kaisar dan pelayan harus hidup dalam nestapa. Setelah penolakan yang ibunya terima dari istana tepat pada insiden hujan darah, tak ada yang mengenal mereka lebih dari seorang buangan. Pada usia 25 tahun, Ia mengira ada secercah harapan, ketika Alactra sang putra mahkota mengundangnya untuk memasuki istana. Namun kenyataannya, tak lebih untuk menempatkannya sebagai seorang pelayan. Ia telah melakukan tugasnya dengan sungguh-sungguh demi bertahan hidup selama setahun. Masih tak puas dengan itu, rupanya permaisuri sudah merencanakan banyak hal untuknya. Ia tewas di usia 26 tahun dengan racun ular perak dan satu tebasan pedang atas perintah wanita itu. Sedangkan sang kaisar telah tenggelam bersama kekuasaannya akibat pemberontakan. Mungkin hanya kegelapan yang tersisa bagi pemuda itu. Namun dalam kegelapan yang sama, tiba-tiba ia kembali ke 14 tahun yang lalu, terbangun di tubuhnya yang masih berusia 12 tahun. Sebuah kesempatan kedua dengan dendam yang berkemuluh, mampukah ia menggulingkan permaisuri dan menghentikan segala tragedi?

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1 : Aku Kembali [Bagian 1]

Rasa sakit yang luar biasa merambat ke dalam tubuhku.

Ini racun Ular Perak, racun yang kabarnya sukar ditemukan. Namun begitu ia bersarang dalam tubuh, tak diragu, imbasnya terlampau bengis.

Hadirnya benda ini tak lain melalui otoritas yang memiliki kekuasaan di istana, yakni wanita bersurai ungu gelap yang tak kapok dalam misinya menyingkirkanku sejak dulu.

Rosetta Derek Magnus, sang permaisuri.

Ia berdiri di atas marmer, sepatu hak tingginya berdenting nyaring.

Suaranya menggema pada langit-langit ruangan.

"Belum mati juga?" cetusnya tajam.

"Ini sedikit mengecewakan, aku bahkan sudah repot-repot menyewa seseorang untuk mencuri racun itu dari jauh-jauh hari." matanya memandang dengan dalam namun tak mengandung satupun simpati.

"Khusus untukmu dari kediaman tabib agung." ucap wanita itu, tatapannya merendahkan.

Tawaku datang sesaat.

Wanita itu mengatakan hal mengerikan tanpa ragu.

Menakutkan namun juga memuakkan.

Darah turun dari sudut bibirku.

Tanganku bergetar di atas meja bulat dekat jendela, tepat bersebrangan dengan tempat permaisuri berpijak.

Sudah terlambat untuk mencoba melindungi diri sendiri.

Tapi aku tidak akan puas sebelum melampiaskan rasa frustasi ini pada wanita itu.

"Ternyata kalian para bangsawan sangat lemah sampai ketakutan oleh anak dari seorang pelayan?!" ucapku serak, berhasil memadamkan seringai wanita itu, langkahnya habis hingga bersemayam di atas kursi kayu berpahat rumit— kedua kakinya bersilang tertutup gaun tebal yang meliuk mengikuti lekuk tubuhnya.

Bercak darah terlempar keluar.

Asalnya dari tenggorokanku.

Wanita itu tersenyum miring.

"Yah... karena kau akan menyusul ibumu sebentar lagi. Aku akan menganggap ini sebagai kalimat terakhirmu!" ujarnya mengitari permukaan cangkir teh dengan telunjuknya yang lentik.

Aku mengernyit, pandanganku mulai menjadi samar bagai kabut.

Aku ambruk dalam timpuh itu.

Duduk berlutut dengan wajah yang aku sendiri tak tahu.

Enggan melihat wanita itu.

Dia mungkin tersenyum dengan puas.

"Beginikah akhirnya?" bisikku lirih, napasku keluar kukuh, mataku berlekuk setengah bagai potongan bulan purnama.

Jika ibu bukan seorang pelayan?

Apakah ada sesuatu yang berbeda?

Entahlah.

Saat ini istana dalam genggaman permaisuri, setelah insiden pemberontakan, bahkan ayahku yang seorang kaisar juga tak selamat dari rencana licik wanita itu.

Aku tidak mengasihi pria tua itu.

Dia telah membuang kami sejak aku lahir.

Hanya saja, aku kira putra mahkota akan berbeda.

Tak kusangka, undangan putra mahkota tentang memasuki istana tidak lebih untuk memberiku posisi sebagai pelayannya.

SRATTT! CRATTTT!

Tebasan pedang mendarat secepat kilat, nyawaku diambil dalam satu gerakan tanpa aku sempat bereaksi.

BRUKK

Tubuhku jatuh dalam posisi terlentang di marmer itu dengan kucuran darah yang menetes perlahan-lahan.

Akhirnya sudah selesai.

Aku menatap langit ruangan dengan pikiran itu, bibirku pucat, kering tak berair.

Telapak tangan yang lemas sampai ijakan permaisuri melumatnya.

Tapi, itu tak sakit sama sekali.

Mungkin jasadku tenggelam dalam kubangan darah.

Jika aku mendapatkan kesempatan kedua, permaisuri dan anggota istana yang bersekongkol dengannya, aku pastikan kalian membayar hutang ini.

Lalu Kaisar bodoh itu harus menerima ibuku sebagai istri sahnya.

Putra mahkota, kau tak akan kubiarkan semudah itu mendapatkan tahta.

Perang saudara harus terjadi!

Tapi apa gunanya sekarang?

Permaisuri sudah berhasil merebut segala kekuasaan ayah dan seluruh isi dari kekaisaran Magnus.

Yang tersisa hanyalah kegelapan.

Aku jelas ingat bahwa aku mati karena permaisuri, kenapa sekarang malah mendengar suara-suara yang tak asing.

Anehnya, rasa sakit di tubuhku seketika hilang.

"Hei anak haram!" sebuah suara menggema hingga dengungnya mengetuk gendang telinga.

"Masih belum mau bangun juga?!" suara itu datang dua kali, namun aku menghiraukannya.

BYUURRR! GELONTANG!

Terasa ombak baru saja memukul wajahku. Mataku terbuka dan mendapati seluruh tubuhku basah kuyup dengan air.

Napasku terengah-engah mencari udara, sedangkan pandanganku tertuju pada ember yang tengkurap di lantai kayu tua berserat.

Bola mata membulat menelusuri lekuk sekitar, semuanya tampak tak asing.

"Ini?" bisikku lirih, menyeka wajah yang basah dengan kedua tangan.

"Tch, akhirnya bajingan ini bangun juga!" sentak seseorang sampai tiba-tiba kerah bajuku ditarik dengan paksa, di hadapanku saat ini adalah sosok yang sangat aku kenal.

Aron.

Seorang pelayan berusia 15 tahun yang terus merundungku saat aku masih kecil.

Awalnya ia hanya mengejekku dengan hinaan ringan, tapi karena selalu diam, tingkahnya semakin menjadi-jadi.

Meskipun mengetahui fakta bahwa aku adalah keturunan kaisar—dengan otoritasnya.

Permaisuri membatasi tunjangan juga pelayan untuk kami.

Beberapa rumor juga menyebar hingga semua orang di kekaisaran mengucilkan aku dan ibu.

Tak menganggap kami lebih daripada seorang buangan.

"Sejak kapan kau boleh bermalas-malasan!" telapak tangan Aron menepuk-nepuk pipiku.

Suaranya bergetar dengan kedua bibir maju.

Tamparan dilayangkan padaku hingga bunyi kulit itu meruah.

SLAP!

Kepalaku terdorong ke samping, rasa nyeri bercampur panas berhasil membelalakkan kedua mataku.

Namun, ada hal yang lebih membuatku heran dan bertanya-tanya.

Kenapa ini terasa sakit?

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Ulasan-ulasan

Black Fox
Black Fox
Semangat kaks
2025-12-06 22:26:50
1
0
Janu
Janu
Semangat kak!
2025-11-22 11:04:08
1
0
166 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status