Beranda / Fantasi / Anak Haram Sang Kaisar / Bab 7 : Istana [Bagian 3]

Share

Bab 7 : Istana [Bagian 3]

Penulis: Bakpaokukus
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-17 03:40:24

Mata Cassian masih rileks, ia melangkah ke salah satu pintu cahaya dengan arahan.

Dalam sekejap tubuhnya berpindah.

Di hadapannya, bangunan megah yang terbentang dengan luas terpampang.

Pagar dan taman bunga mengerubungi di sekelilingnya.

"Silahkan yang mulia." wanita itu melanjutkan.

Dari jauh, mata Cassian menangkap sosok tak asing.

"Salam kepada bintang kekaisaran." Lucien membungkuk, tangan berpaut di dada.

Memberikan salam penghormatan di ikuti seorang wanita muda di belakangnya.

"Anda tidak perlu formal denganku." ujar Cassian, menatap pria itu,bibirnya naik ke atas.

"Aturan harus dijalankan." mata Lucien terpejam.

Suaranya datar.

Cassian hanya mengangguk sebagai pengusai formalitas.

"Yang mulia, saya akan menempatkan wanita ini sebagai salah satu pengikut anda. Dia orang yang dapat anda percaya." Lucien melanjutkan dengan niatnya.

"Saya Lux, bersedia melayani anda." wanita itu melangkah ke depan, penuh ketundukan.

Suaranya lembut namun tegas.

Cassian menyetujui, hanya selang beberapa menit seorang penjaga datang berhirit dengan para wanita bertunik hitam putih.

"Memberi hormat kepada bintang Kekaisaran!" ucapannya diikuti suara lain, totalnya sekitar 15 orang.

"Yang mulia, permaisuri menghadiahkan anda para pelayan ini sebagai penyambutan." ucap penjaga itu, suaranya bergetar dengan penekanan.

Ah.

Begitu rupanya.

Wanita itu sudah menyiapkan banyak mata-mata.

"Sampaikan rasa terimakasihku." Cassian mengibas tangannya lirih.

Lucien menghimpit kedua matanya, bibirnya tak membuat lekuk.

Ia memindai muda-mudi yang baru datang itu dengan wajah penghakiman, sesaat berlalu dan menghadap Cassian kembali.

"Kalau begitu saya juga harus pamit yang mulia." ucapnya seraya menundukkan kepala.

Cassian merendahkan kepalanya sekilas mengembalikan penghormatan dengan baik. Kini matanya mendarat pada Lux.

"Lux, kau ikut aku." cetus Cassian menuju jalan keluar.

"Baik yang mulia." wanita itu mengikuti dari belakang.

Matanya membulat dengan segudang tanya.

***

Di kehidupan sebelumnya aku mati karena meneguk racun dari permaisuri.

Kemungkinan sebagian asalnya juga dari efek makanan yang dihidangkan setiap hari.

Tidak ada yang menjamin hal yang sama tak terulang kembali.

Aku membawa wanita bernama Lux itu pergi ke pusat kota.

Pusat kota.

Area yang terbentang luas berbatas dinding besar yang kokoh.

Terbagi menjadi empat distrik utama dengan masing-masing empat menara penjaga di setiap distriknya.

Distrik Utara, kekaisaran sebagai jantung pemerintahan dan area para bangsawan.

Distrik Timur merupakan militer dan pertahanan.

Distrik Selatan, perdagangan dan rakyat jelata.

Terakhir, distrik Barat adalah seni dan hiburan.

Tujuanku adalah Distrik Selatan, area perdagangan dan rakyat jelata.

Hal kedua yang sudah ku putuskan yaitu meminimalisir tragedi racun.

Aku dan Lux berangkat dengan kereta tandu sederhana, melewati jalan setapak, bukit, jalan hutan Merah, lalu menerobos ke area penuh dengan warga berbusana biasa.

Perhentian kami ada di sebuah rumah tua yang warga sekitar bilang sebagai tempat mantan alkemis bersembunyi.

Rumor menyebutkan ia memilih kehidupan biasa daripada harus terlibat dengan para bangsawan.

Karena mereka tesibukkan dengan politik dan ketamakan akan kekuasaan.

Lux mendahului, masuk untuk memantau keadaan sekitar.

Memastikan keamanan.

Begitu melangkahkan ke dalam rumah, kami disambut dengan dekorasi yang berantakan.

Lantai itu terbuat dari kayu, warnanya coklat gelap.

Sisi kiri terdapat rak dengan banyak sekali jenis obat-obatan juga ramuan, mirip seperti tata letak apoteker.

Sedangkan sisi kanan, sebuah meja luas berisi ramuan-ramuan yang terlantar.

Aroma obat-obatan saling bercampur menciptakan kepulan bau aneh yang tak menyenangkan.

Sosok manusia dengan lembar koran menutupi wajahnya terpajang di bawah kolom meja, dari sosok itu bunyi dengkuran keras menggema.

Lux mendekati sosok itu terlebih dahulu.

"Sebutkan identitamu!"

Tangan itu meraih lembar tipis yang menutupi wajahnya.

Pupil berwarna putih dengan lekuk mata tajam.

Kulitnya terlihat bersih dan segar.

Terlihat seperti seorang siswa akademi yang membolos di jam pelajaran.

"Ugh...siapa?"

"Kenapa kalian mengganggu waktu istirahatku?" ujar pria itu dengan bualan setengah sadar.

Lux menatap pria itu tajam.

"Perhatikan tingkah lakumu! Di hadapanmu saat ini adalah—" ucapan itu kupotong segera.

"Lux, tenanglah!" lugasku.

Memberikan informasi seperti itu cukup berbahaya apalagi untuk anggota keluarga istana.

Lux menoleh ke arahku dengan kepala tertunduk, mengambil napas dalam sampai akhirnya membisu.

"Tuan muda, apa anda pemilik apotek ini?" tanyaku dengan senyum.

Pria itu berdiri dari duduknya melewati kolong meja sampai tiba-tiba kepalanya berhantam dengan sisi meja yang tajam.

"KEUGHH!"

"Bocah kecil, ini bukan tempat bermain anak-anak." lanjutnya, ia mengusap kepalanya berulang-ulang dengan gigi yang meringis.

Lengan baju Lux terangkat, tawa gelinya samar terdengar.

"Hmm...bukan aku pemiliknya, pak tua itu sedang punya urusan. Tapi jika kalian membutuhkan sesuatu, aku bisa membantu." aku mengangguk. Suara pemuda itu tenang dengan pandangan teduh.

Kedua jarinya berisyarat agar aku segera duduk.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Anak Haram Sang Kaisar    Bab 166 : Kurungan (Part 3)

    "Saya yakin kalian punya rencana atau setidaknya sedang memantau situasi. Ibu saya selalu mengatakan bahwa saya orang yang cukup pintar. Jadi saya tahu untuk bersikap biasa." Gadis itu menjelaskan, membantu anak lain untuk berjalan. "Nin, obati mereka." Valerius berujar dan Nin segera datang dengan pil yang sama yang ia gunakan untuk menolong yang lain. Daphone memindahkan gelombang air itu di hadapan setiap orang yang akan memakan obat-obatan sehingga ketika mereka membuka mulut air-air itu akan masuk dengan perlahan-lahan seperti layaknya minum air putih."Terimakasih ketua, maafkan saya karena sebelumnya sempat mencurigai anda." kata gadis itu dengan alis yang turun. Daphone mengangguk lalu menggerakkan jarinya membentuk segel komunikasi."Semuanya, masuk ke ruangan terlarang!" hanya dalam beberapa menit saja dan semua anggota organisasi telah berkumpul. Mulai dari pengguna benih roh tingkat lima hingga tingkat tujuh. Dengan jubah resmi organisasi, mereka tampak istimewa dan la

  • Anak Haram Sang Kaisar    Bab 165 : Kurungan (Part 2)

    Kunci besi telah ditemukan, nyaring berbunyi di antara mulut Vanressan ketika ia membawanya kepada Nin. Sedangkan dari samping, Valerius segera melangkah ke sisi Daphone yang tergeletak di dinding dengan sekujur tubuh yang kaku, urat-uratnya timbul karena racun."Cough-kalian hampir melupakan aku." Suara dahak keluar dan mata pria itu layu. Valerius menoleh ke arah Nin."Tabib agung, tolong obati dia." cetusnya sebagai perintah, Nin yang tanggap segera pergi setelah menerima kunci dari Vanressan. Ia memindahkan kunci itu ke telapak tangan Valerius kemudian melakukan tugasnya. Kantung berwarna merah muda dengan corak bunga indah keluar dari sutra Nin, ia memasukkan jemarinya membawa tiga pil berwarna putih. Tangannya pelan memasukkan benda-benda itu ke sela bibir Daphone. Untuk sesaat Daphone menggenggam pergelangan tangan Nin seakan ia menolak bantuannya, namun tenaganya tak lagi penuh, sedikit dorongan dan obat-obatan itu telah masuk ke dalam tenggorokannya."Apa anda punya sisa

  • Anak Haram Sang Kaisar    Bab 164 : Kurungan (Part 1)

    Vanressan berdecak, siapa lagi yang bisa memerintah Dewa dengan semaunya jika itu bukan putra angkatnya sendiri."Lemparkan aku dengan kuat ke leher pria itu." Vanressan mendesis lirih, Nin tersenyum tipis mendapati persetujuan Van dan menatap Valerius seraya mengangguk. Dari sana Daphone dan Lavetan masih berdiri memandangi satu sama lain dengan ketidakcocokan."Kau memang layak menjadi pengguna benih roh tingkat tujuh, ketua." cetus Lavetan mengangkat kedua lengannya dengan bebas."Tapi aku belum mengeluarkan senjata terakhir yang kumiliki. Aku ingin lihat apa nyawamu masih utuh setelah menerimanya." Lavetan menaikkan bibirnya miring, belati yang ia genggam dengan tangan kanan itu naik ke atas kemudian turun menyayat telapak tangannya, darah meluncur tipis, meksipun niatnya bernyali namun giginya meringis menahan rasa perih. Tidak ada yang tahu langkah Lavetan selanjutnya, oleh karena itu semua orang sudah mempersiapkan diri dengan waspada. Lavetan menyapu darah dengan dua jarinya

  • Anak Haram Sang Kaisar    Bab 163 : Ruang Rahasia (Part 3)

    "Aku memanggapmu sebagai rekan kerja yang dapat diandalkan selama ini! Kau sungguh mengecewakan!" tubuh Daphone bergetar hebat sampai perlahan-lahan ia mendesah dan tangannya kembali ke samping, sia-sia saja jika ia harus berkelut dengan emosi yang hanya akan membuang waktunya."Lalu teh yang kau berikan?! Apa itu untuk menjebakku dalam halusinasi?!" Pertanyaan itu membuat Lavetan menyimpan kembali seringainya dan matanya tamapk gelap."Semuanya sudah sempurna! Hanya tinggal beberapa hari lagi dan anak-anak itu akan jadi bahan yang sempurna untuk membangkitkan pemimpin kultus! Tapi, semuanya sia-sia hanya karena teh!" Lavetan mengigit giginya dan kerutan dahinya menampilkan ketidakpuasan yang nyata. "Lupakan saja. Aku bisa membunuh semua anggota organisasi Dewa pelindung dan menjadikan kalian bahan pengganti! Hahahahah! Kegelapan akan mendominasi cahaya!" pekikan Lavetan membuat ruangan itu tenggelam dalam kengerian. Valerius hendak melangkah dan membantu Daphone tetapi Nin menyentu

  • Anak Haram Sang Kaisar    Bab 162 : Ruang Rahasia (Part 2)

    "Lukisan apa itu?" tanya Valerius, matanya merayapi tembok di hadapannya."Aku tidak bisa mengatakannya sebelum segalanya pasti." Daphone bersikeras dan tak ada paksaan lebih dari Valerius. Tangannya datang dan dengan waspada, ia meletakkannya di batu berbentuk persegi itu. Dorongan yang tak begitu kuat lalu dari arah depan suara gemuruh datang.ZRRTTTSemua orang terkejut melihat tembok itu dapat terbuka, tidak ada yang menyangka ruang rahasia berada di tempat yang dilarang untuk dimasuki. Daphone bergegas ke ruangan itu terlebih dahulu dan ternyata di hadapannya area ya cukup luas telah terpampang dengan banyak jeruji-jeruji besi dan obor yang menempel pada temboknya. Ia memandang lebih dekat kemudian terbelalak. Langkahnya mundur beberapa jengkal dan ia bergumam dengan dirinya sendiri."Tidak mungkin...ini... bukanlah organisasi Dewa pelindung. Semua ini.... bukanlah organisasi yang Tuan Yivon ciptakan! Siapa yang merencanakan ini semua!" Daphone histeris dalam kepala yang berp

  • Anak Haram Sang Kaisar    Bab 161 : Ruang Rahasia (Part 1)

    Nin mengumpulkan kedua tangannya dan berdoa lebih khusyuk, kekuatan intinya adalah keberuntungan dari alam semesta, dimana hukum timbal balik akan datang beserta jiwa yang murni. Semakin suci pikiran, semakin doanya akan lekas dikabulkan. Setelah beberapa waktu ia membuka matanya dan perlahan-lahan serbuk-serbuk cahaya keluar dari tubuhnya melesat ke salah satu pintu seakan sebuah pemandu arah. Valerius dengan cepat segera pergi mengikuti cahaya itu seakan sudah tahu bahwa itu adalah kekuatan Nin, sedangkan dari sisi satunya, Daphone berdiri dengan bingung dan bertanya-tanya kemana sang kaisar akan pergi.Tanpa pikir panjang, ia mengikuti dari belakang, diikuti Nin yang tengah kembali membuka matanya.Mereka berjalan terus setelah melalui beberapa ruangan dan lorong hingga sampailah pada sebuah pintu yang digembok dengan beberapa rantai tua. Daphone melangkah terlebih dahulu seraya menatap Valerius."Tunggu, kita tidak bisa pergi. Ini adalah ruangan yang tidak boleh dimasuki oleh s

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status