Se connecterSetelah Hayden mengomel dengan kesalnya, dia mengirim pesan kepada Caden. [ Papa, Putih sudah menemukan tempat persembunyian mereka. Ada lima orang di dalam ruang makam dan ada banyak obat terlarang di dalamnya! ]Caden membalas. [ Aku sudah mengerti. Kamu dan Putih pulang dulu. Sisanya serahkan kepada pihak kepolisian saja. ]Hayden membalas dengan tidak rela. [ Oke. ]Setelah beberapa menit kemudian, Hayden telah kembali ke Vila Maison. Begitu melihat Caden, Braden, dan Rayden, dia pun mulai mengomel, “Kata Putih, mereka telah menumpuk banyak obat terlarang di dalam ruang makam. Kalau sampai obat-obatan itu beredar di Kota Jawhar, bukannya ada banyak orang yang akan celaka! Menjengkelkan sekali!”“Selain itu, mereka semua angkuh sekali. Mereka bahkan kepikiran untuk memberi pelajaran kepadaku dan Papa! Kalau bukan karena takut akan merusak rencana pihak kepolisian, aku pasti nggak akan melepaskan mereka!”Braden berkata, “Kamu memang bukan bermaksud, tapi mereka memang merasa waswas
“Bos, gimana kalau kita sekalian habisi si Caden?”“Ada begitu banyak orang di pasar gelap yang ingin membeli nyawanya. Kita habisi dia saja. Kita juga bisa dapat pemasukan tambahan.”Anjas sedang menggantung rokok tebal di dalam mulutnya. Di tangannya pun terlihat sebuah cincin giok besar. Tatapannya kelihatan sangat meremehkan. “Nggak usah hiraukan dia dulu. Bos Eza sangat mementingkan transaksi kali ini. Kita bahas lagi setelah misi kali ini selesai.”Para bawahan segera mengangguk. Salah satu di antaranya berkata, “Ada lagi bocah tengik yang bernama Hayden itu. Dia juga mesti diberi sedikit pelajaran. Dia yang sudah membuatku takut selama ini!”“Bocah itu memang harus diberi pelajaran! Serahkan kepadaku. Aku akan biarkan dia merasakan apa yang dinamakan hidup bagai di neraka!”Anjas mengisap rokok. Tatapannya seketika kelihatan galak. “Kelak kita akan punya kesempatan untuk beri pelajaran kepadanya!”Hayden sedang berdiri di atas pohon sembari menggigit bibirnya. Para berengsek itu
Hayden diam-diam berjalan ke depan sejenak. Dia tidak berani sembarangan berjalan lagi. Ada anjing di dalam desa yang sedang menggonggong. Dia takut akan menghebohkan situasi.Hayden mengamati sekeliling. Dia menyadari ada sebatang pohon besar. Matanya seketika berkilauan. Dia segera memanjat ke atas pohon untuk mengamati. Dengan berdiri di ketinggian, dia pun bisa mengamati seluruh isi desa.Desa ini tidaklah besar, hanya terdiri dari belasan penghuni saja. Kebanyakan di antaranya sudah memadamkan lampu dan beristirahat, hanya tersisa sedikit rumah yang lampunya masih menyala.Tidak lama kemudian, tatapan Hayden tertuju pada suatu tempat, yaitu di sebuah rumah yang paling dekat dengan Gunung Giana.Lampu rumah itu bukan hanya sedang menyala saja. Ada banyak orang yang diam-diam menjaga di sekitarnya.Hayden tidak bertindak gegabah langsung menerobos untuk melakukan penyelidikan. Dia takut akan menghebohkan massa, nantinya malah akan merusak rencana mereka.Hayden membuka jam tangan pi
Anjas berkata, “Nggak usah cari lagi. Hubungi Shian, suruh dia langsung ambil barang di sini malam ini juga!”Bawahan merasa syok. “Malam ini?”“Emm! Biar kita nggak hidup dalam rasa waswas terus. Lagi pula, kita juga nggak perlu cari tempat baru untuk menyembunyikan barang transaksi malam ini.”“Tapi ….” Bawahan merasa cemas. “Kalau mengubah jam dan lokasi transaksi secara tiba-tiba, sepertinya Shian akan merasa curiga, belum pasti dia akan bekerja sama dengan kita.”Anjas berkata, “Nggak apa-apa. Aku akan hubungi Bos Eza, biar Bos Eza ngomong sama dia. Dia memang nggak percaya sama kita, tapi dia pasti percaya sama Bos Eza.”“Emm!”“Oh ya, apa kamu sudah mengutus orang untuk mengawasi Caden?”“Sudah, tadi dia lagi makan malam di rumah mertuanya. Seharusnya dia sudah pulang ke rumah saat ini.”“Apa nggak ada gerak-gerik lain lagi?”“Sementara ini masih belum ada.”Anjas menghela napas berat. Tatapannya dipenuhi dengan amarah. “Dia memang cari masalah! Kalau ada kesempatan nanti, aku p
Pada saat yang sama, di rumah seorang petani di dekat Gunung Giana.Anjas menggebrak meja dengan telapak tangannya. Dia sungguh merasa murka saat ini.“Sialan, si Caden itu benar-benar nggak tahu diri. Dia pikir setelah membunuh Winston, dia bisa berkuasa penuh sendirian? Kalau bukan karena didukung oleh polisi Negara Carika, sebesar apa juga kemampuannya sampai berani bertingkah di Segitiga Emas?”“Bos Eza kita bukan buronan seperti Winston. Kalau dia berani menghalangi jalan rezeki kita, Bos Eza bisa membunuhnya kapan saja!”“Bukan cuma dia saja, sisa keturunan Keluarga Juanda itu juga akan mati dengan sangat mengenaskan!”Bawahan berkata dengan kening berkerut, “Masalah terasa agak janggal. Hari ini bukan Pak Caden naik ke gunung, yang naik gunung itu putra keduanya, namanya Hayden, tahun ini dia baru berusia enam tahun saja.”Raut wajah Anjas menjadi murung. “Apa dia naik gunung sendiri?”“Emm.”“Apa … kamu yakin? Anak kecil mana yang akan main di gunung terlantar sendirian? Apa si
Tidak masalah jika mengabaikan diri sendiri, intinya tidak boleh mengabaikan anggota keluarga. Andrew tidak ingin membuat Tiara bersedih.Selain itu, ada Caden dan pihak kepolisian di Kota Jawhar. Sepertinya tidak masalah juga kalau Andrew tidak pulang.Andrew mengangkat tangannya mengusap kepala Tiara dengan perlahan. “Aku nggak usah pulang. Aku telepon dulu.”Tiara merasa gembira. “Emm, kamu telepon saja. Aku tunggu kamu.”Ujung bibir Andrew melengkung ke atas. “Oke.”Di Kota Jawhar.Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Caden mengangkat sebuah telepon. “Halo, Pak Caden, aku Rudy, kepala tim pemberantasan obat terlarang. Tadi Andrew sudah telepon aku dan memberi tahu apa yang terjadi. Apa kita bisa bicarakan dengan detail?”“Emm ….”Beberapa saat kemudian, Caden mengakhiri panggilan, lalu kembali ke ruang baca.Hayden segera bertanya, “Apa katanya?”Ekspresi Caden kelihatan serius. “Aku sudah berhubungan dengan pihak kepolisian. Polisi bukan hanya mau menangkap orangn







