LOGINSerena tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah hanya karena satu keputusan keluarganya yaitu perjodohan. Ia dijodohkan dengan Arkan, pria dingin, kaku, dan terkenal hanya memikirkan pekerjaan. Namun yang paling mengejutkan Serena bukanlah sifat Arkan melainkan kenyataan bahwa pria itu adalah ayah Nayel. Sejak kecil Nayel tumbuh tanpa kasih sayang ibu, dan perhatian ayah yang minim membuatnya menjadi anak pemalu, tertutup, dan tidak percaya diri. Di mata banyak orang, Nayel tampak baik-baik saja. Tetapi Serena melihat sesuatu yang orang lain lewatkan kesepian yang dalam. Pertemuan tak sengaja Serena dengan Nayel di mall membuat keduanya saling tertarik secara emosional. Pertemuan kedua di sekolah, ketika Nayel terlantar menunggu ayahnya, membuat Serena melihat lebih jelas anak itu sendirian, terlalu sering sendirian. Di balik perjodohan yang awalnya ingin ia tolak, Serena perlahan merasakan ikatan aneh dengan Nayel, seolah ia dipanggil untuk menjadi pelindung bagi anak itu. Sementara Arkan, yang dingin dan keras, mulai goyah melihat bagaimana Nayel yang biasanya tertutup tiba-tiba dekat dengan Serena. Namun menerima Nayel berarti menerima masa lalu Arkan, termasuk rahasia kelam tentang ibunda Nayel yang tiba-tiba kembali muncul. Mampukah Serena menjadi rumah bagi Nayel? Dan mampukah Arkan membuka kembali hatinya untuk membangun keluarga yang sebenarnya?
View MoreSekarang Arkan tengah berada dalam perjalanan pulang. Sebenarnya masih ada beberapa pekerjaan yang harus ia selesaikan, namun semuanya masih bisa dikerjakan dari rumah. Tanpa ragu, ia memutuskan untuk pulang lebih awal agar bisa segera menyusul Serena di rumah sakit.Di dalam mobil, Arkan duduk diam menatap jalanan yang melaju cepat di balik kaca jendela. Ponselnya sesekali ia genggam, seolah berharap ada pesan baru masuk dari Amira atau Serena.“Pak, kita estimasi sampai bandara satu jam lagi,” lapor Dewa dari kursi depan.“Percepat sebisa mungkin,” jawab Arkan singkat. “Kalau ada rapat susulan, pindahkan ke online.”“Siap, Pak.”Arkan menghela napas panjang, lalu menyandarkan kepala ke sandaran kursi. Bayangan wajah Serena yang pucat di rumah sakit terus terlintas di benaknya. Perasaan bersalah perlahan menggerogoti dadanya, seharusnya ia ada di sana sejak awal.Ponselnya bergetar.Pesan dari Amira.“Arkan sekarang Serena udah diruang rawat, dia sudah agak mendingan. Jangan panik, y
“Malam, Ar. Maaf Bunda ganggu kamu,” pesan dari Amira masuk ke ponsel Arkan.Arkan yang baru saja berdiri dari kursinya langsung menghentikan langkah. Alisnya berkerut, firasat tak enak kembali menyeruak sejak membaca kalimat pembuka pesan itu.“Bunda cuma mau ngabarin kalau Serena dibawa ke rumah sakit. Tadi perutnya sempat kram. Tapi kamu jangan khawatir, kata dokter kondisinya nggak apa-apa. Hanya saja Serena harus dirawat beberapa hari di sini untuk observasi.”Tangan Arkan sedikit gemetar saat menggenggam ponsel. Dadanya terasa sesak, napasnya tertahan beberapa detik.Dirawat. Rumah sakit.Kata-kata itu berputar di kepalanya.Ia langsung menekan tombol panggil tanpa berpikir panjang.“Bun,” suaranya terdengar lebih berat dari biasanya saat panggilan tersambung. “Serena gimana sekarang?”“Tenang, Nak,” jawab Amira dari seberang, berusaha menenangkan meski suaranya terdengar lelah. “Serena sudah lebih enakan. Cuma kram karena kecapekan. Dokter bilang masih aman. Kamu jangan khawati
“Sayang, maaf baru ngabarin. Tadi aku sibuk banget meeting. Kamu udah tidur belum?” pesan Arkan masuk ke ponsel Serena.Serena yang sejak tadi masih terjaga langsung bangun dari posisi rebahnya. Ia meraih ponsel di meja samping ranjang, matanya menelusuri nama Arkan di layar dengan perasaan lega yang tak bisa ia sembunyikan."Belum tidur, Mas. Baru mau merem," balas Serena cepat.Tak sampai semenit, balasan Arkan kembali masuk."Mas lega. Dari tadi kepikiran kamu terus. Kamu gimana? Ada mual atau sakit?"Serena tersenyum kecil sambil mengusap perutnya. "Aku baik. Adek juga anteng. Nayel udah tidur dari tadi, Bunda juga udah tidur sama Ayah."Arkan membayangkan suasana apartemen itu hangat, tenang, seperti biasanya. Dadanya sedikit mengendur."Syukurlah. Jangan begadang ya. Kamu harus istirahat."Serena mengetik pelan. "Iya, Mas. Mas sendiri udah makan?""Udah. Jangan khawatir. Kamu tidur ya, Sayang. Besok Mas kabarin lagi."Serena menatap layar beberapa detik sebelum membalas. "Mas ju
Serena tersenyum lembut melihat Nayel kembali ke apartemen setelah puas bermain di taman bersama Amira. “Gimana, sayang? Senang main sama Oma di taman?” tanya Serena sambil membuka kedua tangannya. Nayel langsung berlari kecil dan memeluknya erat. “Senang, Mama. Tadi Nayel juga dibelikan es krim sama Oma,” jawabnya dengan wajah ceria. Serena tertawa kecil. “Wah, enak dong. Udah bilang terima kasih belum sama Oma?” “Sudah, Mama,” jawab Nayel mantap, lalu melirik ke arah Amira yang baru keluar dari dapur. Amira tersenyum melihat kedekatan ibu dan anak itu. “Habis main langsung nempel ke Mama,” godanya pelan. Serena mengusap rambut Nayel lembut. “Habis main pasti capek. Sekarang cuci tangan dulu, ya.” Nayel mengangguk patuh dan berlari ke kamar mandi. Amira kembali ke dapur, membuka kulkas dan mengecek beberapa bahan. “Ser, makan siang mau makan apa?” tanyanya sambil menoleh. “Apa aja, Bun,” jawab Serena santai. “Tapi nanti aku mau dibikinin puding sama Bunda.” Amira t
Usia kandungan Serena kini memasuki tujuh bulan. Selama masa itu, Arkan hampir tak pernah jauh darinya. Semua urusan luar kota maupun luar negeri selalu ia batalkan atau limpahkan pada asistennya kecuali jika memang benar-benar tak bisa diwakilkan.Dan hari ini, adalah salah satu hari yang tak bisa
Arkan terkejut saat suara bel apartemennya berbunyi bertubi-tubi pagi itu. Ia mengerjap, menoleh ke arah jam dinding—06.30 pagi.“Siapa sih sepagi ini…” gumamnya pelan.Dengan hati-hati, Arkan melepaskan pelukan Serena yang masih terlelap di sisinya. Ia bangkit perlahan, berjalan gontai menuju pint
Di kediaman keluarga Arkan, suasana sore berjalan seperti biasa. Mereka berkumpul di ruang keluarga, menikmati teh hangat sambil berbincang ringan obrolan yang tampak sederhana, namun menyimpan rasa penasaran.Samudra meletakkan cangkirnya, lalu menoleh pada anak sulungnya.“Arkan sudah dua hari ng
Mobil Arkan berhenti tepat di depan gerbang sekolah Nayel. Jam pulang baru saja usai, anak-anak kecil berlarian keluar dengan wajah ceria, tas menggantung di punggung mereka. Serena masih duduk diam di kursi penumpang, tangannya tak lepas dari perutnya sendiri gerakan refleks yang bahkan belum ia s


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews