Dijodohkan Dengan Ayah Tunggal

Dijodohkan Dengan Ayah Tunggal

last updateTerakhir Diperbarui : 2026-01-18
Oleh:  Raffarania Baru saja diperbarui
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
1 Peringkat. 1 Ulasan
40Bab
197Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Serena tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah hanya karena satu keputusan keluarganya yaitu perjodohan. Ia dijodohkan dengan Arkan, pria dingin, kaku, dan terkenal hanya memikirkan pekerjaan. Namun yang paling mengejutkan Serena bukanlah sifat Arkan melainkan kenyataan bahwa pria itu adalah ayah Nayel. Sejak kecil Nayel tumbuh tanpa kasih sayang ibu, dan perhatian ayah yang minim membuatnya menjadi anak pemalu, tertutup, dan tidak percaya diri. Di mata banyak orang, Nayel tampak baik-baik saja. Tetapi Serena melihat sesuatu yang orang lain lewatkan kesepian yang dalam. Pertemuan tak sengaja Serena dengan Nayel di mall membuat keduanya saling tertarik secara emosional. Pertemuan kedua di sekolah, ketika Nayel terlantar menunggu ayahnya, membuat Serena melihat lebih jelas anak itu sendirian, terlalu sering sendirian. Di balik perjodohan yang awalnya ingin ia tolak, Serena perlahan merasakan ikatan aneh dengan Nayel, seolah ia dipanggil untuk menjadi pelindung bagi anak itu. Sementara Arkan, yang dingin dan keras, mulai goyah melihat bagaimana Nayel yang biasanya tertutup tiba-tiba dekat dengan Serena. Namun menerima Nayel berarti menerima masa lalu Arkan, termasuk rahasia kelam tentang ibunda Nayel yang tiba-tiba kembali muncul. Mampukah Serena menjadi rumah bagi Nayel? Dan mampukah Arkan membuka kembali hatinya untuk membangun keluarga yang sebenarnya?

Lihat lebih banyak

Bab 1

1. Keluarga Atmaja

Pagi hari di sebuah rumah mewah keluarga Atmaja, suara alarm yang cukup keras terdengar dari salah satu kamar. Bunyi itu membuat pemilik kamar terbangun dan melakukan peregangan ringan sebelum akhirnya mematikan alarm. Setelah bangun, ia segera menuju kamar putranya.

“Nayel, ayo bangun,” ucap Arkan pada anak semata wayangnya. Bocah itu segera bangun dari tidurnya ketika mendengar suara sang ayah. Mengerjapkan matanya pelan menyesuaikan cahaya matahari pagi.

“Ayo bangun, Nayel. Cepat siap-siap. Jangan lama. Kalau kamu lama, Papa nggak akan antar kamu ke sekolah,” tegas Arkan pada putranya.

Nayel pun bergegas mandi dan bersiap. Arkan memang tipe orang tua yang tegas, dan itu selalu ia terapkan pada Nayel. Hasilnya, Nayel tumbuh menjadi anak yang mandiri.

Setelah selesai mandi dan bersiap, Nayel dan Arkan bergabung untuk sarapan bersama keluarga besar Atmaja.

“Kamu semalam lembur, kan? Pulang jam berapa?” tanya ibu Arkan, Kinanti.

Arkan menoleh sebentar. “Jam dua belas, Bu,” jawabnya singkat.

“Ibu mohon kamu mulai ngurangin lembur. Kasihan Nayel, dia hampir nggak ada waktu buat main sama ayahnya. Kamu sibuk terus,” ujar Kinanti dengan nada mengingatkan.

“Arkan bukannya nggak mau main sama Nayel, Bu. Lagi banyak kerjaan di kantor,” sangkal Arkan padahal sebenarnya memang benar Arkan menghindar dari Nayel.

“Itu alasan kamu dari dulu! Minimal kalau ada acara sekolah Nayel, kamu yang datang! Jangan apa-apa Ibu atau Eliza yang datang,” keluh Kinanti yang terlihat jengah dengan sikap anaknya yang selalu cuek.

“Arkan sudah bilang Bu, nanti biar asisten Arkan aja yang datang. Lagian Arkan juga sudah bilang ke Nayel, kalau ada apa-apa gurunya bisa hubungi Arkan langsung, ibu aja yang suka datang,” balas Arkan tak mau kalah.

“Terserah kamu, deh. Kalau kamu masih begini terus, mending kamu nikah lagi aja. Minimal ada istri yang ngurus kamu sama Nayel,” gerutu Kinanti.

Arkan terdiam, tak menanggapi lagi.

“Sudah, Bu. Masih pagi. Jangan bertengkar di depan makanan,” nasihat ayah Arkan, Samudra.

Aksa dan istrinya, Eliza, yang juga berada di meja makan hanya diam, tak ingin ikut campur.

Setelah sarapan, para laki-laki di rumah itu berpamitan untuk berangkat ke kantor masing-masing.

*****

Dalam perjalanan menuju sekolah, Arkan menatap anaknya melalui kaca spion.

“Nayel, kan Papa sudah bilang. Kalau ada apa-apa di sekolah, bilang sama Papa aja. Nggak usah bilang sama Nenek atau Tante Eliza,” omel Arkan.

“Maaf, Pa… Waktu itu memang harus ada perwakilan orang tua yang datang. Nayel mau bilang sama Papa, tapi Nayel nggak mau ganggu Papa. Papa pasti sibuk. Maaf ya, Pa,” jawab Nayel sungguh-sungguh.

Arkan terdiam sejenak, lalu menghela napas pelan.

“Papa maafkan. Tapi lain kali jangan gitu lagi, ya? Kalau memang mendesak dan harus ada orang tua yang datang, Papa bakal usahakan datang,” ucap Arkan dengan nada lebih lembut.

“Ya, Papa…” jawab Nayel pelan.

*****

Siang itu, sesuai janji dengan bundanya, Serena bersiap untuk pergi jalan-jalan ke mall.

“Na, jadi kan siang ini?” tanya Amira sambil memastikan rencana mereka.

“Ya ampun, Bunda… Serena ingat kok. Tapi temani Serena ke toko kue dulu sebentar, ya? Serena sudah terlanjur ada janji sama klien yang mau pesan untuk acara pernikahan. Nggak enak kalau tiba-tiba dibatalin,” pinta Serena hati-hati.

Amira menghela napas panjang. Ini hal yang paling tidak ia sukai dari putrinya, Serena terlalu sibuk dengan pekerjaannya, hampir tidak punya waktu untuknya. Kadang Amira menyesal hanya memiliki satu anak. Ia merasa kesepian, dan waktu bersama Serena selalu terasa begitu berharga namun jarang terjadi.

“Yaah… kamu mah selalu begitu," keluh Amira.

Amira akhirnya mengangguk. “Ya sudah, Bunda temani dulu. Tapi janji, sebentar aja.”

Serena mengangguk cepat. Ia tahu bundanya pasti sangat menantikan waktu berdua ini. Rasa bersalah menghampiri Serena di satu sisi ia tak ingin mengecewakan Bundanya, tapi di sisi lain ia juga tak bisa mengabaikan klien yang sudah berjanji lebih dulu.

Serena pun memeluk Amira hangat. “Maaf ya, Bun… Serena nggak enak sama klien. Tapi abis ini kita langsung ke mall, beneran.”

Amira membalas pelukan itu, meskipun hatinya masih sedikit sendu.

*****

Sesampainya di toko kue milik Serena, suasananya ramai dan harum aroma butter memenuhi ruangan.

“Bunda duduk di sini ya. Mau minum apa?” tanya Serena sambil merapikan apron yang ia ambil dari stafnya.

“Hot chocolate aja. Bunda tunggu di sini. Tapi ingat, jangan lama-lama,” pesan Amira.

“Iya, Bunda,” jawab Serena sebelum berjalan ke ruang meeting kecil di samping dapur.

Amira duduk sambil mengaduk minumannya. Matanya mengikuti Serena yang sibuk, berbicara, mengatur pesanan, dan memberikan instruksi pada staff. Hatinya bangga, putrinya hebat, pekerja keras, mandiri. Tapi bersamaan dengan itu, hatinya juga pedih… karena keberhasilan itu membuat Serena semakin jauh darinya.

Bunda cuma ingin waktu sama anak sendiri… itu saja, batinnya sedih.

Tak sampai lima menit, seorang pelayan datang menghampiri.

“Bu, mohon maaf ya… sepertinya Mbak Serena harus meeting agak lama. Kliennya datang tiga orang dan pesanannya banyak sekali,” ujar pelayan itu gugup, takut membuat Amira tersinggung.

Amira tersenyum kecut. “Oh… iya. Terima kasih informasinya.”

Ia memandang jendela, menunggu… dan menunggu.

Lima belas menit berlalu.

Kemudian dua puluh.

Lalu tiga puluh.

Satu jam kemudian.

Hatinya mulai menegang. Tangannya meremas gelas hot chocolate yang kini sudah hampir dingin.

Akhirnya Serena muncul tergesa-gesa, wajahnya lelah namun memaksakan senyuman.

“Bun, maaf ya. Tadi kliennya minta revisi konsep juga. Tapi sudah selesai kok. Ayo kita...”

Sebelum Serena sempat menyelesaikan kalimatnya, Amira berdiri perlahan.

“Serena…” suara Amira pelan namun tegas, “Bunda cuma minta satu hal hari ini. Waktu. Waktu dengan kamu.”

Serena terdiam. Wajahnya langsung berubah.

Amira melanjutkan, “Bunda tidak apa-apa menunggu. Tapi… setiap kamu bilang ‘sebentar’, selalu berubah jadi lebih lama. Kamu ingat nggak kapan terakhir kali kita jalan berdua tanpa kamu diganggu kerjaan?”

Serena terdiam. Ia benar-benar tidak bisa mengingat.

“Bun, maaf… Serena....”

“Bunda bukan marah,” potong Amira lembut tapi matanya berkaca-kaca. “Bunda cuma… rindu. Kamu anak Bunda satu-satunya.”

Serena mendekat dan menggenggam tangan ibunya erat.

“Maafin Serena… Bunda benar. Mulai hari ini Serena bakal atur ulang jadwal. Kita ke mall sekarang, janji. Ponsel Serena pun dimatikan,” ucapnya sambil mematikan HP tepat di depan Amira.

Amira tersenyum kecil, akhirnya merasa diperhatikan.

“Begitu dong… ayo, sebelum Bunda tambah tua,” candanya mencoba mencairkan suasana.

Serena tertawa dan memeluk ibunya.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mereka akhirnya melangkah keluar toko, tanpa gangguan apa pun.

*****

"Lho.... Amira?"

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Ulasan-ulasan

Itz_Zara
Itz_Zara
Bagus ceritanya, tapi setiap bab nya terlalu singkat. Bisa di tambahkan lagi ya!
2025-12-25 21:44:22
1
0
40 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status