LOGIN"Kalau memang itu jawaban dari masalah kita, aku mohon kamu jangan memaksakan diri, Aya," pinta Ibra lembut dan penuh kasih sayang.Aya diam sejenak. Tubuhnya masih merasa gemetar. Mimpi buruk itu seolah memang pernah terjadi bertahun-tahun yang lalu. Dan kini seolah terpanggil karena sesuatu yang memancingnya tanpa sengaja."Mas...." panggilnya pelan."Aku di sini," sahut Ibra."Mas, bolehkah aku lihat foto terakhir Papah? Aku mau memastikan sesuatu karena selama ini aku belum pernah melihat wajah Papah saat sebelum meninggal...." ucap Aya sedikit ragu.Ibra diam sejenak. Lalu pria itu melepaskan pelukannya. Aya pun merasa bersalah."Maaf, Mas...." cicit Aya saat Ibra turun dari tempat tidur.Pria itu hanya diam. Tangannya bergerak mengambil sesuatu dari rak buku dan kembali setelah mendapatkan sebuah album foto."Ini," ucap Ibra lagi. Pria itu duduk di samping Aya. Membuka album foto yang menampilkan potret seorang pria paruh baya yang sedang tersenyum ke arah kamera dengan pose dud
Ibra mengerang pelan dalam tidurnya sebelum akhirnya kelopak matanya terbuka. Kesadarannya tersentak saat merasakan pergerakan gelisah di sampingnya. Ia menoleh dan mendapati Aya terduduk dengan bahu yang naik turun tidak beraturan.Di bawah cahaya lampu tidur yang temaram, wajah Aya tampak pucat pasi. Tampak putih, pucat, seputih kapas dengan butiran keringat yang membanjiri pelipisnya. Napas wanita itu juga terdengar tak beraturan dengan tatapan mata antara takut dan kebingungan."Aya? Kamu kenapa?" Ibra langsung bangkit duduk, suaranya serak khas orang baru bangun tidur namun penuh kecemasan.Aya tidak langsung menjawab. Ia hanya memegangi kepalanya, jemarinya meremas rambutnya sendiri seolah mencoba menahan isi kepalanya agar tidak meledak."Ughhhh... pusing...." erangnya pelan.Ibra menyadari ada yang tidak beres dengan istrinya. Pria itu kemudian meraih jemari Aya yang gemetar dan terasa dingin. Merasa kondisi istrinya seperti syok, Ibra segera mengambil segelas air putih yang a
Kedua mata Aya membulat. Sekitar tiga puluh meter di depannya, tepatnya di pinggir jalan raya yang sepi, ada sebuah mobil mewah yang rusak parah karena menghantam pohon besar yang kokoh. Di dalamnya ada seorang pria yang terluka dan sedang mencoba menyelamatkan diri."Sssstt...." suara desisan pelan itu kembali membuat Aya menoleh pada sang ibu yang juga tengah menonton."Tolong aku!" teriak pria yang ada di dalam mobil. Pintunya memang sudah terbuka lebar, sehingga seharusnya ia bisa langsung berlari, namun, kedua kakinya tampak terluka cukup parah."Bu... kita harus menolongnya," bisik Aya seolah mulutnya berbicara sendiri tanpa ia suruh.Sang ibu diam dengan perasaan bingung. "Bu? Orang itu terluka parah karena kecelakaan...." bisik Aya lagi.Ningsih kembali membungkam mulut putrinya dan memeluk Aya erat. "Ibu sebenarnya juga pengen menolong, tapi orang itu menakutkan. Hape juga dibawa Bapak kerja," sahutnya sembari masih berbisik.Aya diam. 'Bapak?' tanya dalam hati. Ia ingat bet
Aya mengusap lembut rambut Ibra. "Mas, bukti fisik bisa dimanipulasi, tapi kemampuan dan jasa seseorang yang sudah tiada tertanam dalam ingatan orang-orang yang mencintainya. Mamah percaya pada Papah, kamu percaya pada Papah. Itu hal terpenting yang kita miliki. Kebenaran tidak pernah benar-benar terkubur, Mas. Aku yakin kebenaran akan segera terungkap. Dan aku juga percaya almarhum Papah nggak mungkin melakukan hal tersebut meski aku sendiri belum pernah bertemu beliau."Ibra mengangkat kepalanya sedikit, menatap mata istrinya yang jernih. "Terima kasih, Aya... Kamu benar-benar istri terbaik," pujinya dengan tatapan sendu.Aya tersenyum lembut. "Sebaiknya kita istirahat saja , Mas. Sudah malam.""Iya, Istriku." Ibra mengangguk lemah. Tekadnya kembali sedikit mengeras karena dukungan dan perhatian Aya. Ia mengecup kening istrinya cukup lama, sebuah tanda terima kasih yang tak terucapkan lagi, sebelum akhirnya mereka berdua merebahkan diri di bawah selimut tebal. Ibra mem
Mereka bertiga akhirnya duduk melingkar di ruang tengah. Putra, anak mereka, sudah tertidur lelap di dalam kamarnya, tidak sadar bahwa dunia orang tuanya sedang runtuh."Om Hengki punya bukti yang sangat kuat, Mah." Suara Ibra terdengar parau. "Nomor referensinya sama persis dengan bukti yang kita miliki, tapi tujuan transfernya tertuju pada rekening pribadi Papah di luar negeri. Ini benar-benar jebakan yang dirancang dengan sangat rapi. Sangat mustahil bagi mereka memiliki dokumen itu jika tidak ada orang dalam yang membantu... atau jika itu memang benar terjadi.""Itu fitnah, Ibra! Ayahmu orang yang jujur!" Dewi memukul dadanya sendiri, menahan sesak. "Keluarga Pramana itu...kenapa mereka berubah mencari selicik ini?" Ia kembali terisak.Aya memeluk ibu mertuanya. Wanita itu tak menyangka jika masalah akan berubah menjadi semakin rumit."Apa mereka belum puas menghancurkan perusahaan yang dibangun ayahmu dulu? Sekarang... mereka ingin menghancurkan namanya bahkan setelah dia telah l
"Kedua bukti ini memiliki nomor referensi yang sama, namun tujuan transfernya berbeda. Ini sangat tidak lazim."Hengki tetap diam, tidak mengucapkan satu patah kata pun. Ia membiarkan kuasa hukumnya menjalankan tugasnya dengan sempurna. Liam di sampingnya mulai menyeringai puas melihat wajah Ibra yang memucat. Opini publik mulai berganti menatap lain ke arah Ibra sebagai anak kandung mendiang Ronal Bagaskara.Ibra merasa dunianya berputar. Bagaimana bisa ada dua bukti yang identik namun berlawanan? Ia teringat kembali pada mimpi buruk Aya semalam, tentang ibunya yang membungkam mulutnya karena ketakutan. Ia juga teringat dengan ucapan Aya dan ia sadar bahwa Aya memiliki ingatan yang sangat tajam.'Apa mungkin mimpi buruk Aya ada kaitannya dengan masalah ini? Tapi... sepertinya itu muatahil. Aku baru bertemu dengannya enam tahun lalu dan bahkan belum pernah bertemu ibunya....' gumam Ibra dalam hati. Menepis kemungkinan yang terasa mustahil itu."Yang Mulia...." Kuasa hukum Hengki melan
Aya hanya mendengus melihat tingkah Ibra yang sok kuat, padahal tangannya masih sedikit gemetar saat memegang sendok. Ia memilih beranjak untuk mengambil gelas teh hangat yang ia bawa tadi."Minum ini setelah buburnya habis," ujar Aya sembari meletakkan gelas di meja nakas yang dekat dengan posisi
Pintu kamar mandi terbuka perlahan. Aya keluar dengan tubuh segar. Dan ia sudah mengenakan kaos dan celana pendek yang menampilkan kaki jenjangnya.Wanita itu melangkah keluar. Rambutnya yang panjang digelung tinggi sehingga leher jenjangnya terlihat. Dan saat menutup pintu kembali, Aya melihat ke
"Emmmhhh...." Lenguhan pelan itu terdengar. Aya membuka kedua matanya dan menoleh ke arah suaminya.Pagi itu, cahaya matahari merayap masuk melalui celah gorden yang sedikit terbuka, menerangi kamar yang mewah. Aya baru saja bangun. Tubuhnya memang terasa pegal luar biasa, namun tanggung jawabnya s
"Ah, maaf...." cicit Aya yang tersadar akan tindakannya. Wanita itu menegakkan badannya dan melepaskan genggaman tangannya.Ibra hanya diam dengan ekspresi datar. Membuat suasana semakin canggung. Aya cepat-cepat menoleh ke jendela dan membiarkan dirinya memandangi lampu jalanan yang mulai menyala.







