Masuk"Siang ini, temani aku makan siang seperti biasanya," bisik Ibra pelan di telinga Aya.
"Iya, tapi lepasin dulu. Aku mau kerja," sahut Aya sembari mencoba melepaskan pelukan suaminya.Ya. Siang itu saat suasana kantor sedang sibuk-sibuknya, sang Presdir malah membiarkan sang istri duduk di pangkuannya. Tangannya pun tak mau lepas dan pria itu sesekali menciumi ceruk leher sang istri yang harum dan lembut."Nggak. Kamu duduk di sini saja sudah kerja," sahut Ibra tegas.Pria ituTina sudah mengulurkan kedua tangannya, bersiap untuk mengangkat tubuh gempal Lili dengan perlahan. Namun, Aya segera memberikan isyarat dengan lambaian tangan kecilnya, meminta wanita paruh baya itu untuk menghentikan niatnya."Nggak usah, Bi. Jangan dipindahkan," tolak Aya lembut sembari menyunggingkan senyuman hangat."Biarkan saja Lili tidur di sini dulu. Lagipula, dia sama sekali nggak berat kok. Dan dia tidak menimbulkan masalah untuk kehamilanku. Justru kehadirannya di sini membuat kandunganku terasa lebih tenang. Lihat deh, adiknya Putra langsung berhenti menendang sejak Lili menyandarkan kepalanya di sini. Sepertinya mereka sama-sama janjian tidur siang," ucap Aya sembari mengusap lembut kepala Lili.Tina memerhatikan tangan mungil Lili yang masih menempel pas di perut Aya, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan senyuman yang mengembang di wajahnya yang mulai berkerut. "Lili ini memang pintar ya, Nyonya. Sepertinya dia tahu betul kalau sebentar lagi mau punya adik baru, m
Sementara itu, di kediaman megah keluarga Ibra, suasana mendadak terasa begitu sepi setelah keberangkatan suami dan anaknya. Aya berjalan perlahan kembali ke dalam rumah. Langkah kakinya terasa sedikit lebih berat karena usia kandungannya yang sudah memasuki bulan ketujuh lebih. Satu tangannya tidak pernah lepas dari bagian bawah perutnya, menopang bobot sang calon buah hati yang akhir-akhir ini semakin aktif bergerak.Aya kemudian duduk di sofa ruang keluarga yang luas. Pandangannya menerawang menatap langit-langit rumah. Ucapan Putra yang terpotong tadi pagi kembali terngiang-ngiang di kepalanya.'Bunda! Selamat ulang tahun, ya! Nanti sore Ayah mau bawa Bunda ke-'Aya menghela napas panjang. Ia tersenyum lembut. "Setidaknya Putra ingat hari ulang tahunku. Dan Mas Ibra sepertinya juga ingat...." gumamnya dengan suara lirih. Sebuah perasaan hangat dan haru menjalar di dalam dadanya.Hubungan mereka memang berawal dari ikatan bisnis semata saja. Demi pengorbanan Aya terhadap keselamata
Mobil Maybach hitam itu terus melaju dengan tenang membelah jalanan kota yang mulai padat oleh kendaraan. Di kursi belakang, setelah drama kecil yang menegangkan sekaligus menggemaskan tadi, keheningan yang nyaman kembali tercipta. Putra sibuk memandangi pemandangan di luar jendela, sementara Ibra kembali meraih tabletnya. Namun, fokus pria itu tidak lagi sepenuhnya berada pada deretan angka laporan keuangan atau email dari para investor. Pikirannya melayang kembali pada ekspresi curiga Aya di teras rumah tadi.Ibra mengulum senyum tipis. Mengelabui wanita secerdas dan sepeka Aya memang bukan perkara mudah. Sejak awal pernikahan mereka, Aya selalu memiliki intuisi yang sangat tajam. Ibra tahu, penjelasannya tadi untuk menutupi kecurigaan Aya sama sekali tidak meyakinkan. Tapi untungnya, kondisi fisik Aya yang sedang mengandung anak kedua mereka membuat wanita itu lebih mudah merasa lelah dan memilih untuk tidak memperpanjang urusan kecil tersebut."Pak Santo," panggil Ibra dengan suar
Satu jam kemudian, suasana rumah mulai ramai. Putra, anak laki-laki mereka yang menggemaskan, sudah rapi dengan seragam taman kanak-kanaknya. Mereka bertiga kini berada di ruang makan, menikmati sarapan pagi yang hangat seperti biasa, tanpa ada aroma bawang sama sekali.Sebelum Ibra menyantap makanannya, pria itu mengambilkan nasi dan lauk untuk sang istri. Ia lalu mengambil makanan ke piringnya lalu membaca email di tabletnya sebentar, sementara Aya memperhatikan suaminya dengan senyuman.Setelah sarapan selesai, Ibra berdiri dan merapikan dasinya, bersiap untuk berangkat kerja. Seperti biasa, dia akan mengantar Putra ke sekolah TK-nya terlebih dahulu sebelum menuju ke kantor pusat."Ayo, Ayah!" seru Putra dengan penuh semangat."Semangat sekali," gumam Aya sembari tersenyum.Aya mengantar suami dan anaknya hingga ke teras depan, tempat mobil Maybach mewah Ibra sudah terparkir rapi dengan pintu yang dibukakan oleh Santo."Aku berangkat dulu," ucap Ibra, melangkah mendekat ke arah Aya
Ibra mengangguk, memberikan senyuman tipis terakhir sebelum melangkah pergi. Saat menuju pintu keluar, ia melihat Samuel yang juga sudah selesai makan dan menunggunya. "Pak," sapa Samuel sopan."Ayo kembali. Masih ada beberapa hal yang harus aku lakukan," ajaknya dengan ekspresi datar dan satu tangannya menepuk saku jas di mana ponsel yang menyimpan catatan kesukaan istrinya ada di sana.Langkah kaki Ibra kembali tegap dan tegas, memancarkan aura wibawa seorang Presdir papan atas yang semula sempat luntur oleh rasa malu di dalam restoran tadi.Setelah punggung Ibra benar-benar menghilang di balik pintu kaca restoran, Gina langsung menyandarkan tubuhnya ke bahu Niko, mengembuskan napas panjang seolah baru saja lolos dari ujian paling menegangkan dalam hidupnya."Huffttt... gila, Yang! Aku masih nggak percaya dengan apa yang baru saja terjadi," gumam Gina dengan suara setengah berbisik namun penuh penekanan. "Seorang Presdir kaku, dingin, dan berwajah datar sepert
Ibra terpaku. Lidahnya mendadak kelu untuk merangkai kata. Pertanyaan Gina tidak salah, sangat logis bagi seorang sahabat yang peduli. Namun, bagi pria dengan harga diri setinggi langit seperti Ibra, mengakui bahwa dirinya terlalu kaku untuk bertanya langsung pada istrinya sendiri adalah hal yang sangat menguji rasa malunya. Ketegangan pun kembali menyelimuti di antara mereka bertiga.Melihat rahang Ibra yang mengeras dan tatapan matanya yang mendadak lurus menatap cangkir teh chamomile di depannya, Gina langsung menyadari bahwa pertanyaannya mungkin sudah melewati batas. Ketakutan mulai merayap di benak gadis itu. Bagaimana jika sang Presdir tersinggung dan membuat Niko kesulitan dalam memulai kembali bisnisnya?Sadar suasana menjadi terlalu tegang, Gina segera memutar otak. Dengan cepat, ia mengulas senyum lebar dan melepaskan tawa renyah yang sengaja dibuat sedikit heboh untuk mencairkan keheningan yang membeku."Ahahaha! Maaf, maaf, Pak Ibra! Aduh, saya ini kalau bicara memang suk







