Masuk"Menangislah kalau mau menangis, Mas. Nggak papa... keluarin semuanya," bisik Gina di telinga Niko sembari terus mengusap punggung dan rambutnya berulang kali. "Kamu nggak perlu pura-pura kuat di depan aku. Dan kalau kamu nggak mau, kamu nggak perlu pulang. Di sini saja, aku akan selalu menemanimu."Niko melingkarkan kedua tangannya di pinggang Gina, memeluk wanita itu dengan sangat erat seolah Gina adalah satu-satunya pegangan hidupnya di tengah badai yang kembali datang menerjang. Ia menyembunyikan wajahnya di dada Gina, membiarkan rasa sesak di dadanya perlahan terurai melalui helaan napasnya yang berat dan bergetar."Aku capek, Sayang... Aku capek selalu jadi yang terakhir bahkan tidak dianggap di keluargaku sendiri. Aku capek cuma diingat kalau mereka lagi kesusahan seperti ini," gumam Niko dengan suara yang teredam di dada Gina.Gina menarik napas lalu mengembuskannya perlahan sebelum membalas. "Aku tahu, Mas. Aku tahu banget betapa sakitnya posisi kamu," sahut gadis itu dengan
[Mamah]Gina yang menyadari perubahan raut wajah kekasihnya ikut melirik ke arah layar ponsel. Ia bisa melihat guratan kecemasan sekaligus luka lama yang tiba-tiba mencuat di wajah tampan Niko."Siapa, Yang?" tanya Gina pelan, meskipun dia sebenarnya sudah bisa menebak dari reaksi kaku Niko."Mamah...." jawab Niko lirih. Suaranya terdengar tercekat di tenggorokan. Sudah berbulan-bulan lamanya wanita yang melahirkannya itu tidak pernah menghubungi nomornya. Bahkan saat dirinya pergi ke luar negeri untuk melakukan pengobatan, tak ada satu pun yang peduli.Niko menatap ponselnya dengan bimbang, seolah-olah benda persegi itu adalah bom yang bisa meledak kapan saja dan melukainya. Jarinya menggantung di atas tombol berwarna merah, berniat untuk mengabaikan panggilan tersebut dan mematikan ponselnya.Namun, Gina segera menahan pergelangan tangan Niko. Gadis itu menggelengkan kepalanya dengan lembut. "Angkat aja, Mas. Siapa tahu ada hal yang benar-benar penting atau darurat."Niko menatap Gi
Niko meletakkan cangkirnya ke atas meja. Ia memutar tubuhnya menghadap Gina. Tatapan matanya yang semula teduh kini berubah menjadi sangat dalam dan penuh kesungguhan. Ia meraih salah satu tangan Gina, menggenggam jemari lentik itu dengan kedua tangannya yang lebih besar."Kamu tenang saja, Sayang. Untuk sekarang aku baik-baik saja. Setidaknya aku sudah merasa lega karena meminta maaf pada Kak Ibra dan keluarganya," jawab Niko sembari menatap kedua mata Gina.Gina tersenyum. "Iya, Sayang. Aku juga ikut lega mendengarnya. Tapi... semua itu bukan salah kamu. Jadi kamu jangan merasa bersalah, Sayang," ucapnya mencoba menenangkan sang kekasih."Tapi darah Pramana juga mengalir di dalam diriku," balas Niko.Gina membalas menggenggam tangan Niko dengan erat dan hangat. Gadis itu menatap wajah Niko dengan tulus. "Kamu berbeda, Sayang. Kamu lebih mulia dari mereka. Lagian... maaf... kamu sudah terlalu lama menderita karena mereka. Jadi kamu nggak pantas menanggung dosa ayah dan kakakmu."Niko
Acara tujuh bulanan Aya dan Ibra pun selesai. Satu per satu tamu mulai pamit undur diri, menyisakan ruang tamu keluarga itu yang kembali tenang.Di parkiran luar, Niko dan Gina berjalan beriringan menuju mobil SUV putih milik Niko. Sore itu pun terasa hangat, atmosfer di antara mereka juga terasa hangat dan penuh kenyamanan yang tak terucapkan setelah Niko meminta maaf kepada keluarga Bagaskara."Aku antar kamu pulang," ucap Niko sembari tersenyum lembut.Gina diam sejenak sebelum membalas. "Mas... Aku nggak usah pulang ke rumah ya malam ini?" ucapnya tiba-tiba, tepat saat Niko membukakan pintu mobil untuknya.Niko sempat terpaku sejenak, tangannya masih memegang gagang pintu. Kedua alisnya terangkat, menatap Gina dengan tatapan menyelidik namun lembut. "Eh? Tapi ini sudah petang, Sayang. Kak Hendra nanti nyariin. Aku bisa antar kamu pulang dulu sekarang, baru aku balik ke apartemen."Gina tersenyum manis. Ia melirik ke arah mobil sang kakak yang sudah lebih dulu
Setelah mengatakan hal itu, Ibra kembali menatap Aya. Tangannya pun mengelus perut wanita itu dengan lembut. "Setidaknya dia berjasa dan aku tidak akan membiarkan siapa pun mencelakainya," tegas pria itu."Iya, Mas. Kita harus berterima kasih dan tahu balas Budi pada mereka berdua," sahut Aya sembari tersenyum manis. Dewi pun ikut tenang mendengarnya dan wanita paruh baya itu memilih mendekati sang cucu dan mengajaknya duduk, menjauh dari anak dan menantunya."Eh? Dia... Dia menendang," bisik Ibra dengan ekspresi penuh keterkejutan. Kedua alis tebalnya bahkan terangkat ke atas dan pria itu tampak senang. Tangan kanannya masih berada di perut Aya, merasakan pergerakan di dalam sana."Anak kita pintar sekali, kan? Dia tahu kalau ayahnya baru saja melakukan hal yang hebat," bisik Aya sembari menengadahkan wajahnya, menatap Ibra dengan penuh cinta."Ehem." Ibra berdeham pelan. Tampak samar bahwa pria itu salah tingkah. "Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan oleh seorang kepala kelu
"Aku nggak meminta kalian untuk melupakan semuanya dengan mudah karena kesalahan mereka terutama Papah yang tidak bisa dimaafkan," lanjut Niko dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Tapi sebagai anak dan adik, aku merasa memiliki kewajiban moral yang harus kutunaikan sebelum aku menata kembali hidupku yang baru. Aku ingin kalian tahu bahwa aku mengutuk keras apa yang telah mereka lakukan. Aku sangat, sangat menyesal...."Ibra terdiam selama beberapa saat. Lalu pria kaku yang biasanya tidak banyak bicara itu menatap Niko dengan pandangan yang perlahan melunak. Ibra melangkah satu langkah ke depan, menghapus jarak di antara mereka. Alih-alih melayangkan amarah atau kata-kata makian, Ibra justru mengulurkan tangan kanannya ke arah Niko.Niko tertegun menatap telapak tangan Ibra yang terbuka di depannya."Tegakkan kepalamu, Niko," ujar Ibra dengan nada suara baritonnya yang tegas, namun sama sekali tidak ada nada permusuhan di dalamnya. "Semua itu bukan kesalahanku, dan jelas
Ibra masih terdiam. Ia menerima cacian ibunya tanpa membela diri. Untuk pertama kalinya, ego sang Presdir yang arogan itu terusik oleh kenyataan pahit yang ia paparkan sendiri."Aku tidak tahu dia hamil, Mah," gumam Ibra pelan."Itu bukan alasan!" potong Dewi. "Seorang pria sejati akan memastikan w
Tawa Ibra berhenti, tetapi kilatan di matanya justru semakin intens saat kembali menatap Aya. Ia mengusap sudut bibirnya yang sedikit basah akibat pagutan tadi, sebuah gerakan yang membuat wajah Aya semakin memanas."Hyper?" Ibra mengulang kata tersebut dengan nada mengejek. "Mungkin kamu ben
Darah Aya terasa membeku. Ancaman itu adalah kelemahan terbesarnya. Ia menelan ludah, matanya mulai berkaca-kaca karena amarah yang tertahan. "Kamu... kamu jahat sekali. Ternyata kamu memang licik.""Itu bukan licik. Tapi begitulah dunia bekerja," jawab Ibra santai meski tiba-tiba dadanya nye
"Berbaliklah," ucap Ibra tiba-tiba. Aya mendongak menatap wajah tampan di bawah sinar lampu putih di dalam kamar pas tersebut."Cepat," tekannya."Saya bisa sendiri," desis Aya, mencoba menutupi punggungnya yang terekspos dengan tangannya."Diamlah. Kamu hanya akan merusak gaun mahal ini," ucap Ibr







