LOGINDi atas gunung bersalju yang dingin, mantan tentara berbahaya bernama Oliver Gunnar hidup terisolasi dari dunia luar. Ketika badai besar menerjang, dia menyelamatkan Avery dari kematian dan mengurungnya di dalam kabin miliknya yang kokoh. Avery mengira pria besar penuh bekas luka itu adalah penyelamatnya, tetapi dia keliru. Di bawah kepungan badai es, Avery segera menyadari bahwa dia tidak akan pernah bisa melarikan diri dari hasrat posesif sang pemburu.
View MoreHujan es tidak lagi terasa seperti air dari langit, melainkan ribuan jarum tajam yang menusuk setiap jengkal kulit wajah Avery. Di dalam sarung tangan kain murahan seharga beberapa sen, jemarinya sudah lama mati rasa. Kaku, beku, dan kikuk saat dipaksa menggenggam gagang palu besi yang berat.
Untuk ketiga kalinya dalam sepuluh menit, Avery mengayunkan lengan yang gemetar, mencoba menghantam kepala paku, dan kembali meleset total. Palu justru menghantam kayu lapuk, menimbulkan bunyi berdebum basah disertai serpihan busuk yang mencuat ke mana-mana.
"Ayolah," desis Avery dengan gigi yang saling gemeletuk parah melawan amukan angin. "Masuklah ke dalam kayu itu. Kumohon, kali ini saja."
Paku baja di hadapannya seolah mengejek ketidakberdayaan Avery. Posisinya membungkuk miring empat puluh lima derajat, menancap setengah jalan di atas permukaan kayu abu-abu yang basah kuyup—persis seperti gigi berkarat yang mencuat dari gusi yang membengkak.
Gubuk tua di Pine Valley ini seharusnya menjadi awal yang baru baginya. Sebuah tempat perlindungan yang tenang, jauh dari hiruk-pikuk kota yang sempat menghancurkan sisa-sisa semangat hidupnya.
Ketika pengacara menelepon seminggu lalu mengabarkan tentang warisan sebidang tanah dari paman yang bahkan tidak pernah dikenal seumur hidup, fantasi indah sempat menari di kepalanya. Rumah panggung estetis, perapian batu yang hangat, dan karpet bulu domba tebal. Avery tidak membayangkan kenyataan pahit ini.
Bangunan ini berdiri miring dalam sudut yang berbahaya, seolah siap menyerah pada hukum gravitasi kapan saja. Namun, gubuk tua ini adalah miliknya. Satu-satunya hal di dunia ini yang sepenuhnya menjadi hak pribadinya. Untuk pertama kalinya dalam dua puluh tiga tahun sejarah hidupnya yang telantar, berpindah-pindah dari satu panti asuhan ke panti asuhan lain.
Avery akhirnya memiliki sesuatu yang tidak bisa direnggut oleh siapa pun. Meskipun, miliknya yang satu ini sedang berusaha membuatnya mati perlahan karena hipotermia.
Hembusan angin kencang menderu dari lereng atas gunung, hampir mengempaskan Avery dari bangku kayu kecil tempatnya berpijak.
"Oke, Avery," gumamnya, menyeka titik air di mata dengan lengan baju yang basah. "Fokus. Kamu bisa selamat dari sistem panti asuhan kota. Kamu pasti bisa menjinakkan sepotong kayu tua ini."
Avery menarik lengankanya jauh ke belakang, memejamkan mata sejenak untuk menghalau terpaan angin malam, lalu menghantamkan palu besi ke depan sekuat tenaga.
KRETEK.
Itu bukan suara paku yang menancap dalam. Itu adalah suara patahan kayu penyangga yang terbelah menjadi dua.
Seketika itu juga, pagar teras tempatnya bertumpu berderit keras, condong ke arah luar beranda, siap ambruk ke atas tumpukan salju di bawah sana. Avery menjerit panik. Palu besi di tangannya terlepas, jatuh ke halaman dengan bunyi cipratan kuat. Tanpa sempat berpikir, dia melemparkan seluruh tubuh ke depan, menyergap sisa bilah pagar dengan kedua tangan, menahan beban strukturnya agar tidak hancur berkeping-keping.
Pagar itu luar biasa berat karena kayunya telah mengisap air hujan selama puluhan tahun. Ujung sepatu bot karetnya terpeleset di atas lantai teras yang mulai terlapisi es tipis. Pinggulnya menghantam dinding kabin dengan bunyi benturan keras, menyisakan rasa nyeri yang menjalar ke sepanjang sendi.
"Jangan! Jangan roboh sekarang!" geramnya melalui celah gigi yang mengatup rapat.
Namun, kayu tua yang rapuh itu terus berderit parah. Avery tidak cukup kuat menahannya sendirian. Dengan tinggi badan seadanya, dia jelas kalah telak dalam pertarungan fisik ini.
Tepat di saat keputusasaannya berada di titik tertinggi, Avery mendengarnya. Bukan suara angin atau hujan es, melainkan derap langkah kaki yang berat, solid, dan berirama konstan. Seperti sepasang sepatu bot militer tebal yang menggilas tanah membeku.
Avery menolehkan kepala dengan susah payah, membiarkan rambut hitamnya yang basah menempel berantakan di pipi. Tubuhnya seketika membeku.
Seorang pria berdiri tegak di tepi batas hutan pinus. Sosoknya di tengah kegelapan tampak seperti bongkahan batu gunung yang mendadak memutuskan untuk berjalan tegak. Tubuhnya luar biasa besar dan tinggi menjulang, dibalut mantel kanvas gelap tebal yang kedap air. Tudungnya ditarik jauh ke depan, menyembunyikan wajahnya dalam kegelapan. Namun, Avery bisa merasakan tatapan intens dari balik tudung itu terkunci lurus padanya.
Sorot mata tak kasat mata itu terasa jauh lebih menusuk ketimbang hujan es yang merusak kulitnya. Sensasi asing yang mendadak membuat bulu kuduk Avery meremang hebat.
Pria itu tidak bergerak selama beberapa saat. Dia hanya berdiri diam, mengamati Avery yang kepayahan bergulat dengan runtuhan kayu di tengah amukan badai.
"Tolong!" teriakku sekuat tenaga, membuang harga diri ke dalam pusaran angin. "Bisa bantu aku menahan ini?!"
Pria itu tidak menunjukkan kepanikan. Dia mulai melangkah maju dengan ketenangan yang menyerupai pergerakan seekor predator puncak di teritorinya sendiri. Begitu sosoknya melangkah semakin dekat ke sorot lampu teras yang temaram, ukuran tubuhnya yang raksasa mengirimkan sinyal ngeri sekaligus getaran aneh ke kepala Avery. Tingginya berada jauh di atas rata-rata pria normal, dengan bentangan bahu yang begitu lebar hingga mampu menghalangi seluruh pemandangan langit abu-abu di belakangnya.
Dia menginjakkan kaki di anak tangga pertama. Kayu tua itu langsung berderit pasrah di bawah bobot tubuh raksasanya.
"Lepaskan," katanya.
Suaranya bergemuruh rendah, berat, dan dalam, menyerupai bunyi gesekan dua lempeng batu di dasar bumi. Getaran frekuensi suaranya merambat menembus udara dingin, menghantam langsung ke dalam rongga dada Avery dan menghantarkan hawa panas yang asing.
"Kamu gila?!" balas Avery berteriak dengan napas terengah-engah. Otot kedua lenganku sudah menjerit kesakitan menahan beban pagar kayu yang semakin miring. "Kalau aku melepaskannya sekarang, seluruh struktur teras ini akan hancur!"
Kini, pria raksasa itu sudah berdiri tepat di samping Avery. Jarak di antara mereka mengikis drastis. Dari kedekatan ini, kehadirannya membawa aroma khas yang sangat jantan: perpaduan pohon pinus basah, asap kayu bakar yang pekat, dan aroma tajam oli mesin.
Sosoknya menjulang tinggi di atas Avery, menciptakan dinding pembatas yang kokoh dan luar biasa hangat di tengah kekacauan badai. Insting Avery berbisik bahwa pria asing ini adalah perwujudan dari bahaya murni—namun di saat yang sama, kedekatan fisik mereka yang intimidatif ini mendadak memicu detak jantung Avery berpacu gila karena alasan yang berbeda.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, pria itu mengulurkan satu tangan kekarnya ke depan. Telapak tangannya luar biasa besar, terbungkus sarung tangan kulit tebal berwarna hitam. Dia mencengkeram bilah kayu pagar tepat di atas posisi jemari Avery sendiri yang sudah memutih pucat akibat kehabisan tenaga.
Kulit tangan mereka yang terbalut pembatas tipis sempat bergesekan, mengirimkan sensasi sengatan panas yang membuat napas Avery tertahan di tenggorokan. Mata Avery melebar saat menyadari betapa ringkih dan mungil tubuhnya di bawah kungkungan bayangan pria ini.
"Kubilang," pria itu mengulang. Wajahnya yang tersembunyi di balik tudung kini sedikit menunduk menatap Avery. Nadanya bergeser menjadi lebih rendah, tebal, penuh dominasi, dan tidak menerima bantahan. "Lepaskan, Avery."
Samuel tidak melepaskan pandangannya dari peta itu.Sudah hampir satu menit.Namun ia tetap diam.Tidak bergerak.Tidak bercanda.Tidak mengeluarkan komentar sinis yang selama beberapa jam terakhir terus membuat Avery ingin melempar sesuatu ke kepalanya.Keheningan itu jauh lebih mengganggu daripada semua lelucon Samuel.Karena untuk pertama kalinya pria tua itu terlihat takut.Benar-benar takut."Samuel."Avery melangkah lebih dekat."Ada apa?"Samuel berkedip.Seolah baru mengingat bahwa dirinya tidak sendirian.Kemudian perlahan melipat peta itu dan mengembalikannya."Di mana kau mendapatkannya?""Dari Nathaniel.""Aku tahu itu.""Aku menemukannya di Site B."Keheningan kembali jatuh.Samuel menghembuskan napas panjang."Seharusnya tidak ada peta.""Apa maksudmu?"Pria itu memandang danau.Tidak kepada Avery.Tidak kepada siapa pun.Kepada masa lalu."Karena Site B sudah hilang."Boom.Avery membeku."Hilang?""Ya.""Tidak mungkin.""Itulah yang kami yakini."Samuel mengusap wajahn
Samuel tidak langsung melanjutkan penjelasannya setelah mengucapkan kalimat itu."Nathaniel tetap keras kepala sampai akhir."Pria tua itu hanya menatap permukaan danau.Tenang.Diam.Seolah percakapan mereka baru saja berpindah dari masa kini ke empat puluh tahun lalu.Avery berdiri beberapa langkah darinya.Tidak menyela.Tidak mendorong.Karena untuk pertama kalinya sejak nama Samuel Voss muncul dalam hidupnya, ia merasa berada di hadapan seseorang yang benar-benar mengenal Nathaniel Nolan.Bukan versi yang ditinggalkan dalam surat.Bukan versi yang hidup dalam kenangan.Tetapi Nathaniel yang nyata."Dia sering membicarakanku?"tanya Samuel tiba-tiba.Avery mengangkat alis."Aku bahkan tidak tahu kau ada sampai beberapa bulan lalu.""Itu terdengar seperti Nathaniel.""Apa maksudmu?"Samuel terkekeh pelan."Nathaniel bisa menyimpan rahasia lebih lama daripada orang lain menyimpan dendam.""Itu pujian?""Tidak."Samuel mengambil batu kecil lalu melemparkannya ke danau."Sebenarnya it
Avery tidak tidur nyenyak malam itu.Bukan karena cuaca.Bukan karena suara angin yang sesekali mengguncang dinding kabin.Melainkan karena tiga kata yang terus berputar di kepalanya sejak sore.Datang sendiri.Samuel Voss akhirnya berbicara.Bukan melalui arsip.Bukan melalui catatan Nathaniel.Bukan melalui foto lama.Langsung.Dan entah bagaimana, Avery yakin pesan itu memang ditujukan kepadanya.Saat fajar mulai menyentuh puncak-puncak pinus, Avery sudah berada di dapur.Secangkir kopi dingin berada di depannya.Tak tersentuh.Ia sedang menatap catatan Samuel untuk kesekian kalinya ketika Oliver masuk.Pria itu hanya membutuhkan satu detik untuk mengetahui Avery telah membuat keputusan."Kau mau pergi."Bukan pertanyaan.Pernyataan.Avery menghembuskan napas."Ya."Keheningan langsung jatuh di antara mereka.Oliver menyandarkan bahunya ke kusen pintu."Aku tidak suka ide itu.""Aku tahu.""Itu bisa jadi jebakan.""Aku tahu.""Kita tidak tahu apa yang Samuel inginkan.""Aku tahu."
Kabut masih menggantung di antara pepohonan ketika Tristan menemukan jejak itu.Ia tidak mengatakan apa-apa.Tidak memanggil siapa pun.Tidak berteriak.Ia hanya berhenti di tepi hutan dan menatap tanah cukup lama hingga Logan mulai curiga."Apa?"Tristan menunjuk."Itu."Mereka semua mendekat.Jejak sepatu.Satu set.Jelas.Bersih.Dan sangat mudah diikuti.Terlalu mudah.Oliver langsung berjongkok.Tangannya menyentuh tanah yang sedikit lembap.Kemudian ia mengangkat kepala.Ekspresinya berubah."Seseorang ingin kita menemukannya."Keheningan turun."Apa maksudmu?"tanya Avery.Oliver menunjuk arah jejak.Jejak itu tidak berusaha bersembunyi.Tidak memanfaatkan batu.Tidak menghindari lumpur.Tidak seperti penyusup yang masuk ke kabin Nathaniel.Tidak seperti orang-orang Richard.Orang ini meninggalkan jejak seperti seseorang meninggalkan undangan.Logan menyilangkan tangan."Itu tidak kusukai.""Karena kau normal."gumam Austin."Tidak."kata Oliver.Matanya masih menatap jejak."K












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews