เข้าสู่ระบบKedua mata Lia membulat saat mendengar percakapan dua pemuda dan pemudi di hadapannya. Wanita itu kini kembali tersadar dari pikiran-pikiran di dalam kepalanya. "Cukup!" sentaknya tiba-tiba. Tatapannya yang tadinya bingung kini berubah tajam kembali."Enak saja kamu mengambil untungnya saja. Kalian pikir setelah kalian bersenang-senang, aku akan merawat kalian? Jangan bermimpi! Aku sudah cukup sakit melahirkan anak nggak berguna ini!" cecar Lia tajam.Dengan tangan yang masih sedikit gemetar karena sisa amarah dan ketakutan, Lia meraih pulpen dari tangan Niko. Tanpa membaca lebih detail lagi, ia menggoreskan tanda tangannya di atas materai yang sudah menempel di surat tersebut.Sret sret sretBegitu tanda tangan itu selesai dibuat, Niko segera menarik surat tersebut. Ia memeriksanya sejenak, memastikan semuanya sah, lalu memasukkannya kembali ke dalam map cokelat bersama dengan surat keterangan medisnya. Sementara dokumen bukti kejahatan ayah dan kakaknya sengaj
Lia menelan ludah yang terasa getir. Ada kilat kepanikan di matanya, bukan karena mengkhawatirkan nyawa anaknya, melainkan karena ia sadar bahwa harapan terakhirnya kini sedang di ujung tanduk."Kalau Mamah menuntutku untuk bertanggung jawab sebagai anak keluarga Pramana, maka sesuai hukum, keluarga Pramana juga harus bertanggung jawab penuh atas diriku. Aku menuntut kompensasi atas seluruh pengabaian masa kecilku, dan aku menuntut keluarga ini menanggung seluruh biaya pengobatanku dan operasi yang nilainya milyaran rupiah," ancam Niko dengan nada yang menusuk."Milyaran rupiah?! Dari mana Mamah punya uang sebanyak itu sekarang?!" seru Lia panik. "Semua aset Papah dan Liam dibekukan oleh polisi!""Aku tahu," Niko tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh dengan kemenangan pahit. "Dan aku juga bisa saja menyebarkan semua dokumen pengabaian anak ini, beserta rekam medis ini ke media massa. Bayangkan bagaimana tanggapan publik dan sisa kolega bisnis kalian saat mengetahui bahwa keluarg
Lia tertegun sejenak mendengarkan nada anak bungsunya yang tak biasa. Baru pertama kali ini ia mendengar Niko bicara dingin padanya dan ia sedikit terkejut. Namun ego tingginya segera mengambil alih kembali."Apa maksudmu bertanya seperti itu? Jawab saja pertanyaan Mamah! Kapan kamu akan membebaskan Papah dan kakakmu?!" bentak Lia.Niko melepaskan pelukan tangan Gina di lengannya dengan lembut, memberikan senyuman tipis yang mengisyaratkan agar kekasihnya tetap tenang. Niko kemudian melangkah menuju meja kaca di depan sofa, lalu meletakkan tas kerja kulit hitamnya di sana. Dengan gerakan yang sangat tenang, ia membuka risleting tas tersebut dan mengeluarkan sebuah map tebal berwarna cokelat tua yang sejak semalam telah ia persiapkan tanpa sepengetahuan siapa pun.Klak!Niko menjatuhkan pelan map tebal itu di atas meja kaca. Namun gerakan itu mampu membuat vas bunga kecil di atas meja sedikit bergetar."Aku menolak," ucap Niko tegas, menatap lurus ke dalam manik mata ibunya. "Aku tidak
Ruang keluarga itu seketika diselimuti atmosfer yang mencekam. Lia Pramana, ibu kandung Niko, duduk bersandar di sofa beludru impor dengan dagu terangkat tinggi. Tatapannya tertuju pada tangan Gina yang masih melingkar di lengan putra bungsunya, seolah sedang melihat kotoran yang menjijikkan.Lia mendengus sinis, mengabaikan pembelaan Niko. "Calon istri? Niko, jangan membuat Mamah tertawa. Baik selera hukummu di perusahaan dan juga selera wanitamu benar-benar murahan. Tapi lupakan soal perempuan itu. Kita punya urusan yang jauh lebih penting daripada membahas mainanmu." Wanita itu jelas menghina Gina.Niko tidak membalas. Rahangnya semakin mengeras, namun ia tetap berdiri tegak, membiarkan ibunya menumpahkan segala ucapan kasar yang sudah dipersiapkan sejak wanita itu memintanya pulang. Ia sendiri menggenggam tangan Gina dengan perasaan bersalah dan takut gadis di sampingnya itu akan tersakiti.Lia sedikit memajukan tubuhnya. Ia duduk tegap dengan dada membusung angkuh. Wajahnya dilap
Jalanan ibu kota di pagi hari belum terlalu padat saat mobil SUV putih milik Niko membelah jalanan. Di dalam mobil, keheningan yang nyaman menyelimuti pasangan itu. Gina sesekali melirik ke arah kursi belakang, di mana sebuah tas kerja kulit berwarna hitam milik Niko tergeletak rapi. Di dalam tas itu, Niko sudah menyiapkan sebuah map tebal berisi berkas-berkas penting yang sengaja ia bawa dari ruang kerja pribadinya semalam. Gina tidak tahu pasti apa isinya, namun dari raut wajah Niko yang dingin dan fokus saat memasukkannya, ia tahu berkas itu sangat penting."Jika kamu nanti merasa nggak nyaman, kamu bilang padaku. Aku akan antar kamu pulang," ucap Niko sembari menggenggam tangan Gina dengan satu tangan kiri, sedangkan tangan kanannya masih memegang kemudi.Gina balas menggenggam tangan kekasihnya. "Tenang saja. Aku akan baik-baik saja selama ada kamu. Justru aku khawatir sama kamu, Sayang."Niko tersenyum tipis. "Makasih sudah khawatir padaku. Tapi aku akan baik-baik saja. Aku janj
Aroma mentega yang meleleh di atas wajan datar berpadu dengan harum gurih roti yang terpanggang. Di dapur apartemen yang minimalis namun berbalut cahaya pagi yang hangat, Gina bergerak dengan cekatan saat memanggang roti sebagai menu makan pagi mereka. Rambutnya yang sepanjang bahu, dicepol asal-asalan, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya yang tampak segar.Setelah roti matang dari panggangan, dengan hati-hati Gina memindahkannya ke atas piring keramik putih, lalu mengoleskan selai cokelat kesukaan Niko di atasnya. Di sebelahnya, dua cangkir susu hangat sudah mengepulkan uap tipis, menebarkan aroma vanila yang menenangkan dan manis.Meskipun status mereka adalah sepasang kekasih, Gina dan Niko tetap memegang teguh batasannya. Semalam, setelah tangis Niko mereda dan ciuman penenang itu berakhir, Niko mengantar Gina ke kamar utamanya. Ia sendiri memilih untuk tidur di sofa. Bagi Niko, menghormati komitmen dan menjaga kesucian hubungan mereka sebelum pernikahan adalah bent
"Ah, maaf...." cicit Aya yang tersadar akan tindakannya. Wanita itu menegakkan badannya dan melepaskan genggaman tangannya.Ibra hanya diam dengan ekspresi datar. Membuat suasana semakin canggung. Aya cepat-cepat menoleh ke jendela dan membiarkan dirinya memandangi lampu jalanan yang mulai menyala.
Ibra masih terdiam. Ia menerima cacian ibunya tanpa membela diri. Untuk pertama kalinya, ego sang Presdir yang arogan itu terusik oleh kenyataan pahit yang ia paparkan sendiri."Aku tidak tahu dia hamil, Mah," gumam Ibra pelan."Itu bukan alasan!" potong Dewi. "Seorang pria sejati akan memastikan w
Tawa Ibra berhenti, tetapi kilatan di matanya justru semakin intens saat kembali menatap Aya. Ia mengusap sudut bibirnya yang sedikit basah akibat pagutan tadi, sebuah gerakan yang membuat wajah Aya semakin memanas."Hyper?" Ibra mengulang kata tersebut dengan nada mengejek. "Mungkin kamu ben
Darah Aya terasa membeku. Ancaman itu adalah kelemahan terbesarnya. Ia menelan ludah, matanya mulai berkaca-kaca karena amarah yang tertahan. "Kamu... kamu jahat sekali. Ternyata kamu memang licik.""Itu bukan licik. Tapi begitulah dunia bekerja," jawab Ibra santai meski tiba-tiba dadanya nye







