Share

Bab 38

Penulis: Rizu Key
last update Tanggal publikasi: 2026-01-16 21:51:56

Ia menatap cangkir keramik itu dengan kening berkerut. Resep ini, perbandingan susunya, hingga aroma biji kopi yang dipanggang dengan teknik khusus ini membuatnya tertegun. Aya pernah merasakannya bertahun-tahun lalu di tempat tinggal lamanya.

"Bunda, enak?" tanya Putra yang mulutnya sudah penuh dengan nasi.

"Iya," jawab Aya yang masih mengingat-ingat rasa familiar yang tercecap lidahnya, matanya menerawang.

Tak mau berpikir panjang, Aya dan Putra segera menyelesaikan makan siang mereka. Aya su
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 205

    Aya terdiam. "Maksudnya?" tanya wanita itu heran."Itu baru spekulasi, Aya. Tapi... setidaknya kita memang harus berhati-hati," jawab Ibra."Iya, Mas. Aku mengerti. Setidaknya masalah ini harus segera diselesaikan supaya kita bisa hidup tenang," imbuh Aya."Ya sudah. Sekarang kita tidur. Ibu hamil nggak boleh begadang. Besok aku akan meminta laporan penyelidikan lagi," ujar Ibra lembut sembari mengelus perut Aya.Wanita itu perlahan berbaring. Ibra membantunya memakai selimut dengan gerakan lembut."Tidurlah," ucap Ibra lembut sembari mencium kening istrinya dan dirinya ikut berbaring. Tak lupa pria itu mematikan lampu utama dan menggantinya dengan lampu tidur.Malam itu, hujan turun rintik-rintik di luar. Di dalam kamar dengan pencahayaan yang remang-remang, Ibra berbaring menyamping, memeluk Aya dari belakang. Tangannya mengusap lembut perut Aya yang sudah besar, ingin merasakan gerakan halus dari calon buah hati mereka."Dia... semoga sehat dan semakin besar biar aku bisa merasakan

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 204

    Samuel tertegun mendengar perintah itu. "Audit menyeluruh, Pak? Termasuk keluarga dan orang kepercayaan Anda?" tanya pria itu.Ibra tidak menjawab. Matanya yang sedingin es sudah cukup menjadi jawaban. Samuel segera mengangguk patuh dan melangkah keluar dengan cepat, meninggalkan Ibra sendirian di ruang rapat yang kini terasa mencekam."Sam," panggil Ibra kemudian."Iya, Pak?""Periksa saja orang-orang terdekat. Termasuk para tim IT. Periksa mereka lagi. Juga... periksa para mitra saat ini. Apakah mereka melakukan tindakan yang mencurigakan akhir-akhir ini atau tidak. Soal keluargaku, biar aku sendiri yang memastikan," lanjutnya.Samuel menatap wajah sang Presdir. "Maaf, Pak. Apa Anda mencurigai Bu Aya?" tanyanya.Ibra diam lagi. Lalu pria itu menatap ke luar jendela yang menunjukkan gedung pencakar langit lain di sebelah gedung perusahaannya."Aku sendiri tidak percaya. Aya tidak pernah memiliki niat seperti itu. Tapi untuk meyakinkan dan mencari bukti kalau istriku tidak bersalah, a

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 203

    Semua orang terdiam. Termasuk Danu dan Wawan. Atmosfer di dalam ruangan itu pun berubah dingin dan penuh tekanan. Ibra kembali menunjukkan kekuasaan dinginnya.Ibra menatap mata mereka satu per satu. Tatapan tajam dan dingin yang selalu melekat padanya. "Saya harap kita akan melanjutkan kerjasama sesuai kontrak lama yang sedang berjalan. Namun untuk proyek baru ini, kami minta Anda sekalian memberikan waktu satu minggu lagi untuk pembuktian akhir. Keputusan final akan diambil minggu depan."Jawaban yang tegas itu tidak menyisakan ruang untuk debat. Meski beberapa wajah masih tampak ragu, mereka tahu bahwa Ibra telah memberikan jalan tengah yang paling logis. Rapat pun resmi ditutup dalam damai.Ibra menghela napas, menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi yang empuk dengan satu tangan yang mengetuk-ngetuk pelan meja.Satu per satu peserta rapat mulai meninggalkan ruangan dengan langkah terburu-buru, seolah ingin segera lepas dari atmosfer berat yang menyelimuti mereka selama dua j

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 202

    Suasana di dalam ruang rapat lantai lima gedung perusahaan Bagaskara Group terasa seperti medan perang yang dingin. Meskipun pendingin ruangan diatur pada suhu 22 derajat celsius, keringat dingin tampak mengintip di pelipis beberapa orang.Meja jati panjang yang mengilap di tengah ruangan seolah menjadi pembatas antara dua kubu yang sedang menimbang nasib. Sebagian dari mereka yang ingin melangkah maju demi keuntungan besar, dan satu kubu yang masih meragukan Bagaskara Group karena insiden yang menghebohkan beberapa waktu yang lalu.Ibra duduk di kursi kebesarannya, posisi punggungnya tegak, menunjukkan kekuasaan yang tak tergoyahkan. Di sebelah kanannya, Samuel, asisten kepercayaannya, telah menyiapkan setumpuk dokumen digital yang terpampang jelas di layar proyektor besar.Di dalam ruang itu, suasana terasa formal dan sedikit lebih tegang meski yang hadir adalah orang-orang yang sudah lama bekerja sama dengan Ibra. Ada beberapa direktur dari perusahaan rekanan yang cukup dekat secar

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 201

    Gedung pencakar langit berlogo Bagaskara Group itu tampak jauh lebih hidup hari ini. Setelah berhasil menangani masalah kebocoran data, hari ini adalah hari penting bagi perusahaan Ibra untuk kembali mendapatkan kepercayaan dari mitranya.Setelah menikmati waktu liburan tiga hari dua malam, Ibra kembali ke kursi kebesarannya. Ia sedang duduk di kursi kerja sembari memeriksa beberapa dokumen penting yang diserahkan oleh Samuel.Siang itu Ibra sedang menatap tumpukan laporan keuangan saat pintu ruangannya diketuk pelan kemudian terbuka perlahan. Ia tidak perlu bertanya siapa itu. Dari aroma parfum bunga yang lembut selalu mendahului langkahnya."Mas Ibra?" Sapaan lembut terdengar dari ambang pintu.Ibra langsung mendongak. Wajah yang tadinya kaku karena angka-angka, mendadak melembut dengan senyuman. Di ambang pintu, Aya berdiri dengan balutan dress sutera untuk ibu hamil berwarna pastel yang longgar namun tetap memancarkan keanggunan. Di tangannya, sebuah tas bekal tersampir."Aya? Kam

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 200

    "Sayang?" panggil Gina lembut."Hm?"Gina mengendurkan pelukannya dan mendongak menatap wajah pucat sang kekasih. Meski pucat, wajah Niko cukup tampan dengan alis tebal dan hidung yang mancung. Rahang tegasnya pun menambah ketampanannya yang memiliki sisi imut."Apa ada masalah? Sebenarnya Mas tadi mau minta tolong apa sama Putra?" tanya Gina sembari menatap wajah Niko.Pria itu diam sebentar. Lalu ia menarik pinggang Gina ke dalam pelukannya. "Kita makan, yuk? Aku sudah lapar," ajaknya. Pria itu sengaja mengalihkan pembicaraan.Gina pun tak berani bertanya lagi. Mereka akhirnya masuk ke dalam vila untuk makan pagi bersama.*Di sisi lain, sekitar pukul delapan, Ibra, Aya, dan Putra kembali ke vila mereka. Tina sudah menyiapkan buah-buahan segar di meja ruang tengah. Putra yang kelelahan tapi juga kekenyangan, segera merangkak ke sofa dan tertidur pulas dengan sekumpulan kerang yang masih dalam genggaman."Ya ampun, dia ketiduran," gumam Aya sembari mendekati anaknya."Biarkan saja."

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 55

    Ibra melangkah keluar dari kamar utama dengan langkah tegap, meninggalkan Aya yang masih bergelung di balik selimut dengan tatapan penuh kebencian."Ya Tuhan... kenapa jadi begini? Kenapa pria itu ingin sekali menikahiku...?" gumam Aya sembari meremat kemeja putih di pangkuannya.Setelah menutup pi

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-22
  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 56

    Ibra muncul dengan Putra yang ia gendong dengan satu tangan. Putra tampak tertawa kecil sambil memeluk bahu ayahnya, sementara Ibra berjalan dengan tenang seolah beban seberat bocah kecil itu bukanlah apa-apa baginya.Dalam pandangan Aya, mereka berdua tampak sangat serasi. Seperti dua wajah

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-22
  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 50

    "Ay, kamu harus makan. Jangan sampai masuk rumah sakit lagi," ucap Hendra sambil menyentuh bahu Aya dengan lembut, mencoba memberikan kekuatan. Ada sorot mata yang lebih dari sekadar rasa peduli. Di dalam tatapannya, ada rasa kasih sayang yang telah lama Hendra pendam untuk Aya.Pemandangan itu men

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-22
  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 54

    "Jadi... kamu sudah tahu?" Suara Aya terdengar parau. Ia mendorong dada bidang Ibra dengan sisa tenaganya.Pria itu hanya diam menatapnya. "Lalu apa? Kamu merasa kasihan? Atau kamu merasa menang karena sudah tahu betapa malangnya nasibku? Apa kamu puas sekarang melihatku menderita dan tidak bergun

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-22
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status