MasukTina menatap wajah cantik majikannya yang tampak sedikit pucat karena kelelahan baik fisik maupun pikiran. "Kalau teman dekat, Tuan hanya dekat dengan Pak Samuel. Tapi saya ragu kalau Pak Samuel yang berkhianat. Bagaimana pun juga, mereka sudah seperti kakak adik, Nyonya."Aya mengangguk. "Aku juga sepemikiran, Bi. Samuel selalu ada untuk Mas Ibra."Tina ikut mengangguk menanggapi. "Terus... seingat saya teman dekat yang lain adalah Pak Niko. Tapi mereka tidak bisa dibilang terlalu dekat. Lalu... bukan teman tapi orang yang dulu cukup akrab dengan Tuan, umurnya tidak sebaya dengan Tuan Ibra...." Aya kembali menatap wajah Tina yang sudah tua. Tampak dari keriput yang tercipta pada lipatan mata dan keningnya. Namun, Tina memiliki wajah yang teduh dan menenangkan."Dulu sebelum Tuan Besar, Tuan Ronal meninggal, beliau dekat dengan beberapa orang. Tapi yang paling dekat adalah Pak Hengki Pramana. Beliau adalah sahabat karib Tuan Ronal dan juga cukup akrab dengan Tuan Ibra," jelasnya.Aya
Samuel mundur satu langkah, tangannya terangkat di depan dada. "Pak, saya bersumpah demi nyawa saya. Saya tidak mungkin melakukan ini. Saya sudah bekerja bersama Anda selama bertahun-tahun!""Tapi pesan misterius itu, Sam... pesan yang bilang ada pengkhianat di dekatku," cicit Ibra sembari mengepalkan kedua tangannya. Amarah mulai membakar akal sehatnya. "New World Development tahu persis kelemahan psikologis mitra kita. Mereka menyerang dengan isu lahan di saat yang sangat tepat. Siapa yang memberikan celah itu kalau bukan orang dalam yang mengatur jadwal komunikasi?""Pak Ibra. Saya juga bingung, Pak! Saya berani diaudit, silakan periksa semua rekening saya, ponsel saya, bahkan tempat tinggal saya!" Samuel terdengar putus asa.Ibra menatap wajah sedih Samuel. Pria itu pun terdiam, teringat ucapan Aya yang selalu diucapkan saat ia mulai mencurigai orang yang selalu ada untuknya.'Tetaplah waspada, tapi jangan biarkan rasa curiga itu merusak kinerja timmu.'Kalim
Sementara itu, suasana di kantor pusat Bagaskara Group berbanding terbalik 180 derajat. Langit siang hari di kota itu yang mendung seolah menjadi latar belakang yang sempurna untuk kekacauan yang akan meledak.Pukul dua siang. Hanya tersisa kurang dari dua puluh empat jam sebelum 'grand launching' proyek besar dan terbaru Bagaskara Group yang disusun oleh tim Ibra, serta merupakan ide dari Aya dan Ibra. Sebuah mega-proyek superblok ramah lingkungan yang diprediksi akan merevolusi pasar properti Asia Tenggara.Saat Ibra baru saja menyesap teh camomile buatan Aya, tiba-tiba saja pintu ruang kerjanya dihantam terbuka tanpa ketukan.Brak!Ibra tentu saja terkejut. Dirinya ingin marah atas ketidak sopanan Samuel. Namun saat melihat Samuel masuk dengan wajah sepucat kertas, napasnya memburu, dan tablet di tangannya gemetar. Pria itu mengurungkan niatnya dan kini malah berubah cemas."Pak Ibra... kita punya masalah besar. Masalah yang sangat buruk." Suara Samuel tercekat."Tenangkan dirimu,
"Ayah cepatlah mandi, lalu kita makan," ucap Aya sembari berjalan mendekat."Iya, Bunda."Setelah Ibra membersihkan diri dan berganti pakaian santai, mereka bertiga berkumpul di meja makan. Menu malam ini sederhana namun menggugah selera, favorit Ibra karena tidak ada bau bawang sama sekali. Selama makan, Putra bercerita dengan antusias tentang kegiatannya di sekolah dan bagaimana Lili hampir saja menjatuhkan vas bunga di ruang tamu, lalu dengan pertemuannya dengan Niko.Aya lebih banyak diam, namun matanya tak lepas dari suaminya. Ia melihat gurat lelah di sudut mata Ibra, sebuah kelelahan yang berusaha disembunyikan di balik senyum tegasnya. Ada rasa rindu di hati Aya untuk kembali duduk di samping Ibra di kantor, menyusun strategi dan menghadapi musuh bersama. Namun, ia tahu Ibra sangat keras kepala soal kesehatannya sekarang. Apa lagi karena ia mengandung anak kedua mereka dan pria itu sangat protektif."Mas," panggil Aya lembut. Ibra pun menoleh menatap istrinya
Aya memeluk sahabatnya itu. "Aku yakin Mas Niko-mu pasti akan segera sembuh. Kalian juga pasti akan hidup bahagia.""Aamiin, Ay. Makasih."Kembali lagi pada Putra dan Niko, keduanya tampak begitu akrab."Oh iya, Om Niko harus lihat Lili!""Lili siapa?""Kucing Putra yang sudah kaya adek sendiri. Dia sudah besar sekarang!" Putra menarik tangan Niko menuju halaman belakang."Jangan lari-lari, Sayang!" seru Aya memperingatkan."Iya, Bunda. Ayo, Om!"Gina dan Aya hanya memerhatikan dari kejauhan, membiarkan mereka bermain, sementara para wanita itu berbincang di paviliun kecil.Di halaman belakang yang dipenuhi dengan tanaman dan bunga, Putra memanggil Lili, kucing putih kesayangannya. Kucing itu mengeong manja, melompat-lompat mengejar bola bulu yang dilemparkan Putra. Niko tertawa kecil, meski sesekali ia harus menutup mulutnya karena batuk yang tertahan."Dia sangat aktif, ya?" ujar Niko terdengar lemah."Iya, Oma. Ayah bilang Lili harus rajin olahraga supaya tidak malas seperti kucing
'Tidak mungkin Samuel yang melakukannya... Tidak mungkin dia berkhianat. Dia sudah cukup lama bekerja bersamaku dan membereskan masalah denganku,' gumam Ibra dalam hati. Mulai ragu dengan pemikirannya sendiri.Ibra termenung cukup lama di kursinya. Kata-kata dalam pesan itu seolah menjadi racun yang perlahan merayap di pikirannya. 'Senyum yang paling kamu kenal.'Siapa lagi yang paling sering tersenyum di dekatnya selain Aya, Samuel, dan Sinta? Samuel, asistennya itu selalu tahu kapan harus memberikan dukungan, kapan harus bergerak cepat, dan kapan harus menenangkan keadaan. Namun, pemikiran itu segera ditepisnya. Ibra menggelengkan kepala, mencoba mengusir keraguan yang mulai menyelimuti pikirannya."Tidak, Samuel sudah bersamaku sejak aku masih merintis di posisi bawah. Dia tidak punya alasan untuk menghancurkanku," bisiknya pada diri sendiri. Namun, benih kecurigaan adalah sesuatu yang berbahaya. Gara-gara pesan itu, pemikiran yang sekali ditanam, ia akan terus tumbuh
Putra kembali masuk ke dalam mobil mewah ayahnya. Bocah itu membuka pintu sendiri, namun ternyata kekuatannya kurang dan pintu masih tertutup. Ibra mengamatinya dalam diam. Lalu pria itu membukakan pintu tersebut untuknya."Makasih," ucap Putra ketus sembari duduk di bangku belakang.Ibra
Bertambah satu hari. Aya tak bisa tidur sama sekali. Terlihat dari wajah lelahnya dan juga lingkar hitam di bawah kedua matanya. Wanita itu terus memikirkan keberadaan anaknya. Dan Ibra sama sekali tak bisa dihubungi.Wajah Aya pucat pasi, seperti tanpa tenaga. Bahkan ada lingkar hitam yang m
Seseorang turun dari sebuah mobil mewah. Aya menyadari kehadirannya dan segera mendongak. Kedua matanya membulat saat melihat siapa yang saat ini berlari ke arahnya."Aya!"Sebelum wanita itu sempat merespon, tubuhnya dipeluk erat."Aya... astaga... Aku benar-benar rindu padamu, Ay... Bagaimana kab
Pertanyaan polos namun tajam dari bocah berusia lima tahun itu menggantung di udara, menciptakan keheningan yang menyesakkan di dalam mobil mewah tersebut. Ibra, pria yang biasanya memiliki jawaban untuk segala negosiasi bisnis bernilai miliaran, kini mendadak diam. Lidahnya kelu, dan tenggorokan







