LOGINSamuel meletakkan map cokelat itu di meja Ibra. "Aya mulai bangkit beberapa minggu kemudian dan dia bekerja sebagai pegawai kafe kenalannya hanya sekitar satu bulan saja. Setelah itu, Aya menghilang dari kampung halamannya tanpa jejak. Dan tidak ada uang tahu apa dan bagaimana yang telah dia lakukan di tempat lain, yaitu di kota ini."
Dada Ibra terasa sesak dan kepalanya sakit. Bayangan wajah Putra yang mirip dengannya, tangisan pilu Aya di hotel, dan ucapannya yang menyebut dirinya mandu"Kita mau ke pantai," jawab Aya sembari tersenyum lebar.Ketika Aya menyampaikan ide itu saat mobil semakin menjauh dari rumah, Ibra sempat ragu. "Apa nggak terlalu jauh? Kamu sedang hamil, Aya.""Enggak, kok, Mas," sahut Aya."Aku khawatir kamu lelah." Ibra meraih tangan Aya dan menggenggamnya dengan lembut."Nggak papa, Mas. Lagian jaraknya hanya beberapa jam dari sini, Mas. Kita bawa Pak Santo untuk menyetir, jadi Mas bisa istirahat di mobil. Bi Tina juga ikut di mobil belakang buat bantu jaga Putra. Nanti Bi Tina bantu menyiapkan keperluan kita. Aku hanya ingin kita bertiga... ah, maksudku berempat, bersantai sejenak," ujar Aya sambil mengelus perutnya."Itu benar, Ayah. Sudah lama sekali Putra pengen ke pantai. Kita bisa liburan di sana!" seru Putra tampak ceria.Melihat binar harapan di mata istri dan anaknya, pertahanan Ibra runtuh. "Baiklah. Kalau begitu tiga hari dua malam cukup, kan? Aku akan minta Samuel menghandle semua masalah kantor."Kedua mata Aya membulat. "Tiga hari
"Putra, mau jalan-jalan sama Ayah dan Bunda, nggak?" tanya Aya sambil mengusap kepala anaknya."Mau! Ke mana, Bun?" Kedua mata Putra langsung berbinar."Ke... Rahasia.""Yah....""Pokoknya hari ini kita liburan bareng bertiga. Gimana? Bunda jamin Putra pasti seneng," jawab Aya sembari tersenyum lebar."Mau, mau, mau!" seru Putra sembari bertepuk tangan. Lili pun terkejut dan hampir melompat dari pangkuan Putra. Meski tidak tahu ke mana tujuannya, namun bocah polos itu percaya saja pada ucapan sang ibu."Ya sudah. Kalau gitu kamu ganti baju dulu. Biar Bunda yang panggil Ayah," ujar wanita itu lembut, kembali mengusap kepala anaknya."Oke, Bunda. Kalau gitu Putra mau ganti baju dulu, ya?" sahut bocah tampan itu. Ia mendudukkan Lili di atas sofa sebelum dirinya melompat turun dan berlari menuju ke kamarnya.Aya segera berjalan menuju ke ruang kerja suaminya yang juga berada di lantai satu. Dan Lili bukannya tidur di sofa, kucing kecil berbulu putih itu malah melompat turun dan berjalan m
Setelah momen pelepasan yang terasa hambar di kamar mandi kantor, Ibra keluar dengan langkah yang masih terasa berat. Meskipun ketegangan fisiknya sedikit berkurang, beban pikiran dan rasa rindu yang tertahan pada istrinya justru menyisakan ruang kosong di hatinya.Pria itu segera merapikan diri, mengeringkan tubuhnya dengan handuk terbeli dahulu sebelum mengenakan kemeja bersih. Ia berdiri di depan cermin. Menatap pantulan wajahnya sendiri.'Sial... Kenapa sekarang aku malah semakin menginginkannya?' rutuknya dalam hati.Ibra merapikan rambutnya yang masih basah. Kedua matanya pun terpejam sejenak. "Nggak... Ini karena aku memang membutuhkannya karena sudah lama tidak melakukannya...." gumamnya pelan.Setelah beres, Ibra melangkah keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang lebih segar. Pria itu kembali duduk di kursi kebesarannya, menyelesaikan beberapa dokumen penting.Akan tetapi, semakin ia berusaha menekan hasratnya pada Aya, pria itu semakin tak tenang. Ia p
Ibra seolah tidak mengindahkan ucapan istrinya. Tangan pria itu masih saja meremas dada Aya yang semakin sintal dan padat. Merasakan kelembutannya di salah satu telapak tangannya itu."Mas...." bisik Aya dengan napas yang mulai tidak beraturan. Apa lagi tangan Ibra terus meremas dadanya dengan gerakan nakal."Aya... aku ingin," bisik Ibra singkat. Napasnya terdengar berat. Aya pun menoleh menatap wajah suaminya. Dan Ibra langsung menatap lekat-lekat wajah Aya yang memerah. Wanita itu pun terdiam.Ibra kembali meremas lembut dada Aya. Ia merasakan perbedaan yang nyata. Payudara Aya terasa jauh lebih penuh, kencang, dan semakin sensitif. Efek dari kehamilan membuat tubuh Aya menjadi begitu menggoda di mata Ibra."Mas... Lepasin tanganmu...." bisik Aya mulai merasa kegelian.Remasan Ibra menguat, membuat Aya memejamkan mata. Sensasi itu menyulut api di bawah perut Ibra. "Ahhh... Mas...." desah Aya pelan.Ibra juga ikut memejamkan kedua matanya. Merasak
Beberapa hari berlalu dengan ketegangan yang perlahan mencair. Beatrice dan Timo telah dijatuhi hukuman penjara yang setimpal dengan kejahatan mereka.Gedung pencakar langit yang menjadi markas besar Bagaskara Group kini kembali stabil, namun dengan aura yang jauh lebih waspada. Berita tentang penangkapan Beatrice dan keterlibatan Timo dalam masalah yang terjadi di perusahaan telah menjadi buah bibir dan pemberitaan di mana-mana. Namun begitu, tim keamanan yang dipimpin oleh Samuel berhasil membalikkan keadaan.Nama baik Bagaskara Group tidak hanya pulih, tetapi justru menguat. Pasar melihat betapa tangguhnya sistem pertahanan perusahaan dan betapa cepatnya sang Presdir dalam mengambil tindakan hukum yang tegas. Di bawah perintah Ibra, sistem keamanan digital perusahaan dirombak total. Tidak ada lagi celah untuk pengkhianat."Pak, semuanya sudah beres. Opini publik juga sudah berbalik dan nilai saham kita kembali naik," lapor Samuel beberapa menit sebelum waktu makan siang tiba."Bagu
"Beneran, Nek?" tanya Putra dengan mata berbinar."Iya, Sayang. Jadilah anak pintar ya, nurut sama Ayah dan Bunda. Nenek pulang dulu," sahur Dewi.Setelah mengantar Dewi sampai ke depan pintu dan memastikan mobilnya berlalu, Ibra kembali ke dalam. Suasana rumah terasa lebih tenang, hanya ada suara denting piring dari dapur tempat Aya menyiapkan makan malam."Mas mandilah dulu. Kita makan," ucap Aya lembut.Ibra mendekati istrinya terlebih dahulu. Lalu memeluk Aya dari belakang dan mengusap lembut perutnya. "Iya, Aya. Kamu duduk saja. Biar Bi Tina yang siapin semuanya.""Nggak papa, Mas. Sudah. Sana mandi." Aya berujar lembut."Aku tidak akan mandi kalau kamu tidak mau duduk," sahut Ibra sembari menarik tangan sang istri. Membawa wanita itu agar duduk di kursi makan."Baiklah." Aya akhirnya menurut. Wanita itu duduk di kursinya. Sementara Putra ikut mendekat dan duduk di hadapan sang ibu."Ayah, biar Putra aja yang bantuin Bunda. Ayah mandi aja," ucap bocah tampan nan menggemaskan itu.
[Pastikan kamu ada di kantorku jam 7 tepat. Jangan terlambat satu detik pun.]Aya menghela napas, menatap bubur ayam yang sedang ia siapkan untuk Putra. Ia harus mengantar Putra ke sekolah lebih awal dari biasanya setelah menerima pesan singkat dari sang Presdir."Putra, bangun, Sayang," bisik Aya
"Mah? Kenapa kita tiba-tiba ke TK? Aku masih ada urusan di kantor." Ibra terlihat kesal.Dewi menahan lengan putranya. "Ibra, tunggu dulu. Kamu harus ikut Mamah pergi," ucapnya.Ibra menoleh menatap sang ibu. Terdiam sejenak di kursinya. Bayangan wajah Aya yang pagi tadi melayaninya membu
Putra mengerutkan kening kecilnya, tampak berpikir keras. "Emm... Bunda bilang tempat kerjanya besar sekali, Nek. Banyak orang pakai baju bagus. Tapi Putra nggak tahu namanya apa. Bunda nggak pernah ajak Putra ke sana."Dewi menghela napas panjang. Hatinya mencelos mendengar jawaban polos itu
Matanya terus mengejar motor yang perlahan menjauh dari tempatnya. Bayangan wajah mungil itu masih tertinggal jelas di pelupuk mata Ibra.Denyut jantung Ibra kian kencang, seolah menghantam rusuknya dengan keras. Ia teringat kembali kata-kata ibunya beberapa hari yang lalu di mana menyatakan







