LOGINArra menelan ludah. Ia tahu betul alasan di balik gagalnya pertunangan itu. Revan menolak perjodohan tersebut karena mencintainya—setidaknya itulah yang ia dengar langsung dari pria itu kemarin, di dalam mobil, saat mereka pulang bersama.
Belum sempat Arra mencerna sepenuhnya informasi tersebut, telepon di atas mejanya tiba-tiba berdering. Nama Kevin, asisten pribadi Revan, tertera di layar.“Bu Arra, boleh minta waktunya sebentar?” ujar Kevin di seberang sana. “Sekretaris Pak Revan izin sakit hari ini. Pak Revan meminta saya menghubungi Ibu untuk menggantikannya sementara dalam rapat sekarang. Beliau membutuhkan seseorang yang bisa mengetik dengan cepat.”“Tapi, Pak Kevin, saya dari bagian administrasi keuangan, bukan staf administrasi umum. Kenapa harus saya?” tanya Arra ragu.“Ini perintah langsung dari Pak Revan, Bu. Saya pun tidak bisa membantah. Mohon segera datang ke ruang rapat.”Sambungan telepon terputus tak lama kemudian. Arra“Papi? Kok bisa nggak suka?” Rafa mengernyit heran. “Padahal enak, tahu. Kalau Om Revan, suka nggak pizza keju mozzarella?”Revan menatap Arra dengan ragu. Seolah tengah menimbang apakah harus mengiyakan atau tidak. Faktanya, ia memang benar-benar tidak menyukai keju mozzarella. Namun, apakah ini saat yang tepat untuk memberitahu Rafa bahwa dirinya adalah ayah kandungnya?Sebelum Revan sempat menjawab dengan jujur, ponselnya berdering. Nama asistennya, Kevin, terpampang di layar. Tanpa ragu, ia langsung mengangkat panggilan itu.Arra mengembuskan napas lega. Hampir saja ia membongkar rahasia terbesar dalam hidupnya. Ia merutuki ucapannya sendiri, terdengar seperti sedang menantang Revan. Ia lupa bahwa pria itu selalu jujur, dan jika Revan menjawab apa adanya, Rafa pasti akan kebingungan. Anak itu bisa saja curiga, menyamakan selera Revan dengan sosok papi yang selama ini ia ceritakan. Padahal papi itu adalah Revan sendiri.“Baik, saya akan ke sana,” ucap Revan datar sebelum mematikan
Revan duduk di samping Rafa yang tengah menyantap makanannya dengan lahap. Sementara itu, Arra mengambilkan piring untuk Revan dan menyerahkannya pada pria tersebut. Dengan wajah antusias, Revan menyendok nasi goreng buatan Arra ke piringnya, lalu menghirup aromanya perlahan. Harumnya masih sama seperti dulu.Pemandangan dua pria di hadapannya menikmati nasi goreng buatannya membuat hati Arra mengembang bahagia. Ia ingin sekali menghentikan waktu, mengabadikan momen sederhana antara ayah dan anak itu. Dari cara mereka makan hingga kebiasaan mengelap sudut bibir saat ada sisa makanan, semuanya terasa begitu mirip. Tanpa perlu tes DNA, Arra tahu, kebiasaan Revan menurun sempurna pada Rafa.Bahkan cara mereka meminum air dari gelas pun sama. Jari kelingking keduanya terangkat tanpa sadar. Arra menghela napas lirih. Ia yang mengandung sembilan bulan dan membesarkan Rafa selama lima tahun, namun hampir semua kemiripan justru berasal dari Revan.Satu-satunya sifat Rafa yang ia rasa menurun
Revan menatap Arra yang sesekali melirik ke arahnya dan Rafa. Ia sangat yakin. Perlahan, hati Arra mulai melunak. Revan tak akan menyerah untuk mendapatkan Arra kembali. Ia tahu, jauh di lubuk hati wanita itu masih tersimpan rasa cinta padanya. Arra menjauh bukan karena perasaannya hilang, melainkan karena bayang-bayang orang tua Revan. Dan kini, yang perlu ia lakukan hanyalah membuat Arra kembali percaya dan merasa aman bergantung padanya.“Oh iya, tunggu sebentar. Om juga bawa hadiah buat kamu, sama makan siang kita,” ucap Revan sambil mengecup pelipis putranya, lalu tersenyum ke arah Arra.Ia kembali ke mobil dan membuka bagasi belakang. Dari sana, Revan mengeluarkan berbagai mainan dinosaurus yang ia pesan semalam, disusul dua kotak pizza untuk Arra dan Rafa.Melihat Revan membawa banyak barang, Arra merasa tak tega. Ada rasa haru yang menyelinap di dadanya melihat perhatian pria itu pada Rafa. Ia pun membantu membawa sebagian barang. Rafa sendiri terlihat paling bersemangat, meme
Revan merogoh saku celananya dan mengambil ponsel. Ia membuka sebuah aplikasi belanja online—aplikasi yang seumur hidup belum pernah ia gunakan untuk membeli apa pun. Selama ini, segala kebutuhannya selalu diurus oleh Kevin.Jarinya mengetik di kolom pencarian: Mainan dinosaurus terbaik.Ribuan hasil langsung bermunculan. Revan mengernyit. Ia tak tahu mana yang benar-benar bagus. Ia tidak ingin mainan sembarangan. Putranya harus mendapatkan yang terbaik.Ia pun beralih ke mesin pencari.“Best dinosaur toys for 5 year old boy, premium quality.”Setelah membaca beberapa ulasan dan perbandingan, jari Revan mulai menari di layar ponsel.Klik.Masukkan ke keranjang.Action figure T-Rex dengan suara realistis.Set Lego Jurassic World ukuran terbesar.Boneka Brontosaurus jumbo—cukup besar untuk dinaiki.Ensiklopedia dinosaurus 4D dengan teknologi augmented reality.Revan tak sedikit pun melirik harga. Yang ia perhatikan hanya keterangan: Best Seller, Premium, Educational.Dalam waktu kurang
Sepanjang perjalanan pulang menuju kontrakan Arra, Rafa berceloteh riang, seolah kejadian penculikan yang menegangkan itu sudah menguap begitu saja. Mungkin karena Revan terus mengajaknya bicara, berusaha mengalihkan perhatian Rafa agar ingatannya tak kembali pada rasa takut.Rafa bercerita tentang temannya yang terjatuh dari ayunan, tentang bekal makan siangnya yang sangat enak, juga tentang Rexy—boneka dinosaurus kesayangannya—yang katanya berhasil mengalahkan monster di kolong tempat tidur.Revan mendengarkan dengan penuh perhatian. Sesekali ia menimpali dengan pertanyaan sederhana namun antusias, membuat Rafa semakin bersemangat. Dari sudut matanya, Arra mengamati interaksi itu dalam diam. Hatinya menghangat, sekaligus terasa nyeri. Ikatan antara ayah dan anak itu tampak begitu alami, seolah darah memang selalu menemukan jalannya sendiri.Saat mobil berhenti di depan rumah kontrakan, Rafa menguap lebar. Matanya tampak berat, energinya terkuras setelah seharian beraktivitas. Terleb
“Dasar bodoh! Menculik seorang anak kecil saja tidak bisa!” teriak Nathania penuh frustrasi.Ia menyibakkan rambut panjangnya dengan kasar. Wajahnya menegang, jelas menahan amarah setelah mendengar laporan dari asistennya. Orang-orang yang ia sewa untuk menculik putra Arra gagal menjalankan tugas. Rencananya berantakan.Nathania mondar-mandir di dalam ruangan dengan langkah gelisah. Tujuannya memberi peringatan pada Arra justru berakhir kacau. Ia bahkan tak menghiraukan dua pria yang berdiri kaku di hadapannya, dua orang yang seharusnya menjalankan perintah itu dengan sempurna.Dengan gerakan kasar, Nathania meraih botol minum plastik, meneguk isinya hingga habis, lalu melemparkan botol itu ke arah mereka. Salah satu pria tersentak ketika botol tersebut mengenai tubuhnya.“Kalian ini bisa kerja nggak, sih?” bentaknya tajam. “Nyulik anak kecil saja nggak becus! Badannya sekecil itu, sementara kalian gede-gede! Malu nggak? Badan besar tapi buat nyulik bocah saja gagal!”Tangannya mengep







