ログインSetelah diputuskan secara sepihak, sepulang kerja Shanum seharusnya langsung pulang. Namun, ia memilih menunda kepulangannya, mencoba mengalihkan pikirannya dengan minum. Tapi segalanya berubah ketika ia dihubungi bosnya untuk diambilkan barang. tanpa sengaja melihat barang 'pribadi' bosnya. Rasa penasaran yang salah tempat mendorongnya melakukan hal konyol, yaitu membeli pengaman ukuran besar hanya untuk membandingkan isi dibalik barang pribadi bosnya. Sayangnya, Michael, bosnya bukan tipe pria yang mudah dilewati begitu saja. Ia terlalu observatif untuk tidak menyadari perubahan sikap bawahannya. “Saya perhatikan, fokusmu dari tadi ke sini?” Michael menunjuk jari ke pangkal pahanya. “ “Yang ini. Ingin lihat?”
もっと見るSeharusnya hari ini Shanum sedang memilih warna lipstik untuk akad.
Seharusnya, setelah ini ada kata ‘sah’ menggema kepalanya. Namun, realita justru menamparnya dengan cara yang paling menyakitkan. “Kita putus.” Hanya dua kata itu yang keluar dari mulut Elzio. Singkat, tanpa beban, seolah waktu tiga tahun yang mereka habiskan tidak lebih dari sekadar kontrak bulanan. “M–maksud kamu?” Mata Shanum berkaca-kaca, menahan badai di dadanya. “Nesya hamil dan aku harus tanggung jawab.” Dunia Shanum runtuh seketika. Nesya adalah sahabatnya sendiri. Pengkhianatan ganda itu membuat telapak tangan Shanum mengepal hingga kukunya memutih. Banyak pertanyaan terus bergumul di benaknya. Bagaimana bisa? “Makanya kamu tuh gak usah sok suci. Buktinya Nesya mau ‘main’ sama aku dan sekarang hamil anakku.” Ucapan Elzio dari sebulan lalu kembali terngiang, menusuk tanpa ampun. Gila! Benar-benar gila! Shanum tidak ingat sejak kapan gelas ketiga itu habis. Atau keempat. Yang ia tahu, kepalanya terasa ringan—terlalu ringan untuk perempuan yang sebulan lalu kehilangan tunangan, sahabat, dan masa depan sekaligus. Saat ia hendak pulang dari bar untuk meluapkan emosi dan tangisnya, nama bosnya terpampang di layar ponselnya. Ngapain juga sang bos mengganggunya malam ini? “Ya, Pak? Ada apa?” ujarnya seraya berdeham setelah ponsel menempel pada daun telinga. Namun, matanya masih mengerjap kecil. Menyadarkan dirinya sebelum sadar suaranya tak terdengar. Berpacu dengan musik di belakangnya. “Belum pulang?” sahut pria itu di seberang telepon. “Belum, Pak,” jawab Shanum singkat. Lalu, dengan sedikit jeda, ia menambahkan, “Ada apa ya, Pak, hubungi malam-malam begini? Setahu saya, kerjaan saya sudah selesai.” Beberapa detik hening. Lalu, terdengar helaan napas singkat dari seberang. Shanum mengernyit samar. Pipi hangatnya ia tepuk pelan, berusaha tetap sadar. Ucapannya barusan … aman, ‘kan? Tidak akan membuat bosnya murka, ‘kan? “Tolong ambilkan flashdisk hitam di laci meja saya,” ujar sang bos akhirnya. Nadanya tegas, khas dirinya. “Antarkan ke Cafe Delonix. Setengah jam dari sekarang.” Lalu telepon itu diputuskan sepihak. Bosnya— agak gila ya? Menyuruh sesuka hati tanpa peduli ini jam berapa! Namun mau tak mau, ia menuruti sambil memegang kepalanya yang sudah berat. Perjalanan ke kantor terasa sangat aneh. Lampu jalan memanjang seperti garis-garis cair. Lift naik terlalu lambat, atau mungkin kepalanya yang terlalu cepat berputar. Shanum bersandar di dinding, memejamkan mata sesaat. Satu bulan lalu dia perempuan waras. Sekarang? Dia memenuhi perintah bos di tengah malam dengan sisa alkohol di darahnya. “Keren,” gumamnya lirih sambil terkekeh sendiri. “Hidup aku keren banget.” Pintu lift terbuka. Kantor lantai atas sunyi. Terlalu sunyi sampai langkah sepatunya sendiri terdengar memalukan. Shanum membuka pintu ruang kerja Michael dengan kartu akses, lalu menutupnya pelan—seolah ruangan itu bisa marah kalau dibanting. “Oke. Fokus. Flashdisk hitam. Laci meja.” Dia mendekat, membuka laci satu per satu. Isinya rapi. Terlalu rapi untuk pria yang, entah kenapa, selalu membuatnya gugup bahkan sebelum ia mabuk. “Flashdisk … flashdisk …,” gumamnya, matanya menyipit, kepalanya miring sedikit. Dan di laci terakhir, “Aha … ketemu! Ini yang kucari!” Shanum menarik flashdisk hitam itu, lalu menghela napas kecil. Selesai. Harusnya selesai. Namun saat ia berdiri dan berbalik— Langkahnya terhenti. Di belakang kursi kerja Michael, di lantai berlapis karpet gelap itu, ada sesuatu yang … tidak seharusnya ada. Shanum mengerjap. “… hah?” Dia melangkah mendekat, sedikit sempoyongan, lalu menunduk. Celana dalam. Abu-abu. Bahan kelihatan mahal. Dan—Shanum menelan ludah— Besar. Bukan besar biasa di bagian depannya, tapi …. Besar yang bikin kepalanya mendadak kosong. Otaknya haus pelarian, mulai merancang skenario yang tidak masuk akal. Ia menggeleng kecil, mengenyahkan pikiran liarnya terhadap bosnya. Buru-buru, Shanum menarik flashdisk lalu diselipkan ke tas kecilnya. Namun, tangannya berhenti saat melihat kain abu-abu itu masih ada di genggamannya. Wajah Shanum terasa terbakar. Bayangan Michael yang selama ini hanya ia lihat sebagai atasan yang otoriter, kini berubah menjadi sosok predator yang memenuhi fantasinya. Tiga tahun bersama kekasihnya, Shanum bahkan tidak pernah membayangkan hal seekstrim ini. Namun, pengkhianatan Elzio seolah memutus urat malu dan kewarasannya dalam semalam. Shanum bergegas keluar dari ruangan CEO. Efek alkohol yang tadi sempat ia coba tekan, kini justru terasa semakin menguasai sarafnya. Dengan napas yang sedikit memburu, ia berjalan sempoyongan. Sisa-sisa pening di kepalanya membuat jarak yang dekat itu terasa sangat jauh, membuatnya terus menggerutu. Sampai di sana, Shanum melangkah masuk dengan sisa tenaga yang ada. Matanya yang sayu berpendar, mencari meja nomor 3 yang diucapkan bosnya. “Nah, itu dia!” tunjuknya saat menemukan sosok bosnya. Michael sedang meeting dengan kolega saat Shanum mendaratkan tubuhnya di sofa empuk, terlihat cukup kasar. Ia duduk dengan posisi yang agak doyong. Dengan gerakan yang agak ceroboh, Shanum merogoh tasnya, meletakkan flashdisk di atas meja kayu. “Ini flashdisk-nya, Pak!” Michael yang sedang tertawa sambil menikmati minuman dengan koleganya, terhenti sejenak saat melihat kedatangan sang sekretaris yang tampak kurang professional. Aura dominannya sangat kentara. Saat ia mencium bau alkohol dari mulut Shanum, ia menegur lirih, “Kamu— mabuk?” “Dikit, Pak! Hanya 3 gelas whisky!” Shanum mengangguk tipis. Dia mengakui mabuk tiga gelas, tapi dia menunjukkan 5 jari. “Kamu ini! Bisa-bisanya mabuk!” Desisan lirih yang keluar dari bibir bosnya membuat dia grogi. Apalagi, paha mereka kini saling bersentuhan, membuatnya resah, gelisah dan membuatnya sangat tidak nyaman. Setelah meeting selesai, Michael membawa Shanum keluar menuju parkiran. Dia agak kesal lantaran sekretarisnya yang tak pernah mabuk, kini justru menenggak alkohol yang cukup banyak. Rasa penasaran menghantui benak Michael. Apa yang terjadi dengannya? Sampai di parkiran, kondisi Shanum makin teler. Gadis itu menempel pada Michael, membuatnya risih. “Pulang aja sana, kayaknya kamu gak baik-baik aja,” ucap Michael setelah melepaskan cengkeramannya pada pergelangan tangan Shanum. “Hm.” Shanum mengangguk patuh. Baru juga lima langkah, ia nyaris terjatuh. Michael berdecak pelan, lalu menghampirinya, “Ceroboh!” Takut sekretarisnya melakukan tindakan impulsif, ia bawa Shanum menuju ke mobilnya. Begitu ia meletakkannya, Shanum justru menariknya dan tubuh mereka berbenturan. “Aw! Sakit, Pak!” rintih Shanum sambil memegang dahinya yang baru saja bertubrukan dengan dada bidang sang bos. Di sisi lain, Michael tidak menanggapi rintihan itu. Ia justru tertegun kaku. Saat Shanum kehilangan keseimbangan, isi tote bag miliknya tercecer di karpet mobil. Di antara tumpukan barang yang berhamburan itu, samar-samar Michael melihat pemandangan yang mustahil. Bukannya marah, Michael justru penasaran. Lalu, Michael dekatkan wajahnya ke telinga Shanum yang masih mematung, berbisik dengan suara rendah, menggetarkan jiwa lawan bicaranya. “Kamu—sejak kapan senakal ini?”“Hmmmmph.” Shanum terdengar merintih. Kedua tangannya mendekap erat raga gagah Michael yang kini mulai mendobrak pertahanannya, membuatnya blingsatan ke kiri dan ke kanan saat c*mb*an terus-menerus datang tanpa jeda.Meski setengah sadar karena terpengaruh alkohol dan obat per*ngs*ng, tapi Shanum tetap bisa merasakan ‘benda pusaka’ Michael yang hangat mulai menyeruak masuk pelan ke liangnya.Perlahan, pinggul Michael bergerak maju, melesakkan se-inchi demi se-inchi ‘barangnya’ ke dalam tubuh Shanum. “Ssssssh …,” desis Shanum, terasa sakit, namun jelas ia sangat menginginkannya.Tak hanya melenguh, Shanum juga mencakar otot bisep Michael dengan kuat, dan Michael pun tahu Shanum sedang kesakitan karenanya. Dibayangi rasa bersalah, Michael pun bertanya, “Perlu kita hentikan?”Menggeleng lemah, Shanum tersenyum malu-malu, kedua mata terlihat sayu di bawah cahaya temaram yang menyorot tubuh polos keduanya. “No! Teruskan ….”Mendapat persetujuan, Michael tentu saja Michael akan meneruska
“Mungkinkah Mr. Sawyer memberi obat per4ngs4ng ke dalam minumanku? Tapi, itu mustahil. Minuman itu tersegel dan gelasnya pun bersih,” tanya Shanum dalam hati. Kedua matanya menyipit, lalu kecurigaan ia tujukan pada sang bos. Masih tak yakin, Shanum kembali bertanya dalam hati, “Atau justru … Pak Michael-lah yang melakukan ini secara diam-diam tanpa sepengetahuanku— karena dia telah menyadari aku mengambil cel4na d4l4mnya dan … membawa peng4m4n ke kantor?”Saat beranjak, Shanum sedikit oleng, hendak jatuh ke samping, Michael mendekati menarik lengannya. “Apa kamu baik-baik saja?” tanya Michael sambil memegangi lengan kanan Shanum.Shanum bergeming. Telapak tangan halus Michael yang kemudian mengusap lengannya, membuat sesuatu dalam dirinya menekan hebat dan membuatnya cukup gelisah. Ia tertegun susah payah, sebelum menghela napas berat sambil beranjak dari sofa. “Maaf, tapi aku harus pulang, Pak.”Michael menyusul berdiri, masih memegangi lengan Shanum agar gadis ini tidak jatuh. “Y
“Hans Bar?” Michael mengulang kata itu dengan sorot mata heran. Permintaan rekan bisnisnya— tidak wajar.Alis tebal Michael terangkat sebelah, sementara keningnya mengkerut dalam. Ia memutar kepalanya, menatap Shanum dengan intens—seolah tengah menuntut penjelasan lebih logis.“Iya, Pak. Saya tidak tahu kenapa beliau meminta meeting di sana.” Shanum menelan ludah dengan gugup. Dia pun menjelaskan, “Atau ... perlu kita batalkan saja meeting malam ini dan jadwalkan ulang besok pagi kalau Bapak tidak berkenan.”Michael tak ingin melepaskan kesempatan kerjasama ini. Maka dari itu, ia menyetujuinya saja—mengingat kalau Mario Sawyer merupakan pria yang agak ‘rewel’. “Tidak, setujui saja. Jam berapa?” tanya Michael kembali datar, seolah keberatan di wajahnya tadi menguap begitu cepat demi urusan bisnis.“Pukul delapan malam nanti, Pak.”..Pukul tujuh malam, Shanum sudah siap. Ia mengenakan blazer yang dipadukan dengan kemeja rapi dan rok pendek yang jatuh sepuluh sentimeter di atas lutut,
Usai turun dari mobil, Shanum belum juga bisa bernapas lega. Michael berdiri di sampingnya dengan aura otoritas yang begitu pekat. Pria itu bersikap biasa saja, seolah tak ada satu pun kekacauan yang terjadi di kabin tadi. Saat berjalan bersama, Michael menoleh pada Shanum, bertanya, “Kamu tahu Mr. Cho asli Tiongkok?”Shanum tersentak kecil. Ia pikir, Michael akan diam sepanjang jalan mengingat kejadian memalukan tadi. Namun tidak, pria itu justru menanyainya, mengurai suasana yang agak kaku tadi.Shanum, yang semula fokus pada jalan, kini mendongak demi menatap sang atasan. “Tahu, Pak.” Bahkan tanpa menoleh, Michael melempar instruksi pada Shanum. “Karena kamu bisa berbahasa Mandarin, saya mau kamu jelaskan presentasinya pakai bahasa Mandarin agar dia tidak perlu lagi menunggu penerjemah. Pastikan setiap detail tersampaikan dengan sempurna. Saya tidak mau ada kesalahan.”Meski agak gugup, namun Shanum tampak mengerti, dia tersenyum simpul sebelum akhirnya mengangguk tipis. “Saya me






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
レビュー