JANGAN NAKAL, TUAN CEO!

JANGAN NAKAL, TUAN CEO!

last update最終更新日 : 2026-01-23
作家:  OTHOR CENTILたった今更新されました
言語: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
10
2 評価. 2 レビュー
9チャプター
21ビュー
読む
本棚に追加

共有:  

報告
あらすじ
カタログ
コードをスキャンしてアプリで読む

概要

Cinta yang Manis

Dewasa

Novel Ringan

Bos / CEO

Sekretaris

Sugar Baby

Perbedaan Usia

Romansa Kantor

Diam-diam Perhatian

Setelah diputuskan secara sepihak, sepulang kerja Shanum seharusnya langsung pulang. Namun, ia memilih menunda kepulangannya, mencoba mengalihkan pikirannya dengan minum. Tapi segalanya berubah ketika ia dihubungi bosnya untuk diambilkan barang. tanpa sengaja melihat barang 'pribadi' bosnya. Rasa penasaran yang salah tempat mendorongnya melakukan hal konyol, yaitu membeli pengaman ukuran besar hanya untuk membandingkan isi dibalik barang pribadi bosnya. Sayangnya, Michael, bosnya bukan tipe pria yang mudah dilewati begitu saja. Ia terlalu observatif untuk tidak menyadari perubahan sikap bawahannya. “Saya perhatikan, fokusmu dari tadi ke sini?” Michael menunjuk jari ke pangkal pahanya. “ “Yang ini. Ingin lihat?”

もっと見る

第1話

1. Sejak Kapan Kamu Nakal?

Seharusnya hari ini Shanum sedang memilih warna lipstik untuk akad.

Seharusnya, setelah ini ada kata ‘sah’ menggema kepalanya. Namun, realita justru menamparnya dengan cara yang paling menyakitkan.

“Kita putus.”

Hanya dua kata itu yang keluar dari mulut Elzio. Singkat, tanpa beban, seolah waktu tiga tahun yang mereka habiskan tidak lebih dari sekadar kontrak bulanan.

“M–maksud kamu?” Mata Shanum berkaca-kaca, menahan badai di dadanya.

“Nesya hamil dan aku harus tanggung jawab.”

Dunia Shanum runtuh seketika. Nesya adalah sahabatnya sendiri. Pengkhianatan ganda itu membuat telapak tangan Shanum mengepal hingga kukunya memutih.

Banyak pertanyaan terus bergumul di benaknya. Bagaimana bisa?

“Makanya kamu tuh gak usah sok suci. Buktinya Nesya mau ‘main’ sama aku dan sekarang hamil anakku.”

Ucapan Elzio dari sebulan lalu kembali terngiang, menusuk tanpa ampun.

Gila! Benar-benar gila!

Shanum tidak ingat sejak kapan gelas ketiga itu habis.

Atau keempat.

Yang ia tahu, kepalanya terasa ringan—terlalu ringan untuk perempuan yang sebulan lalu kehilangan tunangan, sahabat, dan masa depan sekaligus.

Saat ia hendak pulang dari bar untuk meluapkan emosi dan tangisnya, nama bosnya terpampang di layar ponselnya.

Ngapain juga sang bos mengganggunya malam ini?

“Ya, Pak? Ada apa?” ujarnya seraya berdeham setelah ponsel menempel pada daun telinga. Namun, matanya masih mengerjap kecil. Menyadarkan dirinya sebelum sadar suaranya tak terdengar. Berpacu dengan musik di belakangnya.

“Belum pulang?” sahut pria itu di seberang telepon.

“Belum, Pak,” jawab Shanum singkat. Lalu, dengan sedikit jeda, ia menambahkan, “Ada apa ya, Pak, hubungi malam-malam begini? Setahu saya, kerjaan saya sudah selesai.”

Beberapa detik hening. Lalu, terdengar helaan napas singkat dari seberang.

Shanum mengernyit samar. Pipi hangatnya ia tepuk pelan, berusaha tetap sadar. Ucapannya barusan … aman, ‘kan? Tidak akan membuat bosnya murka, ‘kan?

“Tolong ambilkan flashdisk hitam di laci meja saya,” ujar sang bos akhirnya. Nadanya tegas, khas dirinya. “Antarkan ke Cafe Delonix. Setengah jam dari sekarang.”

Lalu telepon itu diputuskan sepihak.

Bosnya— agak gila ya?

Menyuruh sesuka hati tanpa peduli ini jam berapa!

Namun mau tak mau, ia menuruti sambil memegang kepalanya yang sudah berat.

Perjalanan ke kantor terasa sangat aneh.

Lampu jalan memanjang seperti garis-garis cair. Lift naik terlalu lambat, atau mungkin kepalanya yang terlalu cepat berputar.

Shanum bersandar di dinding, memejamkan mata sesaat.

Satu bulan lalu dia perempuan waras.

Sekarang? Dia memenuhi perintah bos di tengah malam dengan sisa alkohol di darahnya.

“Keren,” gumamnya lirih sambil terkekeh sendiri. “Hidup aku keren banget.”

Pintu lift terbuka.

Kantor lantai atas sunyi. Terlalu sunyi sampai langkah sepatunya sendiri terdengar memalukan.

Shanum membuka pintu ruang kerja Michael dengan kartu akses, lalu menutupnya pelan—seolah ruangan itu bisa marah kalau dibanting.

“Oke. Fokus. Flashdisk hitam. Laci meja.”

Dia mendekat, membuka laci satu per satu. Isinya rapi. Terlalu rapi untuk pria yang, entah kenapa, selalu membuatnya gugup bahkan sebelum ia mabuk.

“Flashdisk … flashdisk …,” gumamnya, matanya menyipit, kepalanya miring sedikit.

Dan di laci terakhir, “Aha … ketemu! Ini yang kucari!”

Shanum menarik flashdisk hitam itu, lalu menghela napas kecil. Selesai. Harusnya selesai.

Namun saat ia berdiri dan berbalik—

Langkahnya terhenti.

Di belakang kursi kerja Michael, di lantai berlapis karpet gelap itu, ada sesuatu yang … tidak seharusnya ada.

Shanum mengerjap.

“… hah?”

Dia melangkah mendekat, sedikit sempoyongan, lalu menunduk.

Celana dalam.

Abu-abu. Bahan kelihatan mahal. Dan—Shanum menelan ludah—

Besar.

Bukan besar biasa di bagian depannya, tapi ….

Besar yang bikin kepalanya mendadak kosong.

Otaknya haus pelarian, mulai merancang skenario yang tidak masuk akal.

Ia menggeleng kecil, mengenyahkan pikiran liarnya terhadap bosnya.

Buru-buru, Shanum menarik flashdisk lalu diselipkan ke tas kecilnya. Namun, tangannya berhenti saat melihat kain abu-abu itu masih ada di genggamannya.

Wajah Shanum terasa terbakar. Bayangan Michael yang selama ini hanya ia lihat sebagai atasan yang otoriter, kini berubah menjadi sosok predator yang memenuhi fantasinya.

Tiga tahun bersama kekasihnya, Shanum bahkan tidak pernah membayangkan hal seekstrim ini. Namun, pengkhianatan Elzio seolah memutus urat malu dan kewarasannya dalam semalam.

Shanum bergegas keluar dari ruangan CEO. Efek alkohol yang tadi sempat ia coba tekan, kini justru terasa semakin menguasai sarafnya.

Dengan napas yang sedikit memburu, ia berjalan sempoyongan. Sisa-sisa pening di kepalanya membuat jarak yang dekat itu terasa sangat jauh, membuatnya terus menggerutu.

Sampai di sana, Shanum melangkah masuk dengan sisa tenaga yang ada. Matanya yang sayu berpendar, mencari meja nomor 3 yang diucapkan bosnya.

“Nah, itu dia!” tunjuknya saat menemukan sosok bosnya.

Michael sedang meeting dengan kolega saat Shanum mendaratkan tubuhnya di sofa empuk, terlihat cukup kasar.

Ia duduk dengan posisi yang agak doyong. Dengan gerakan yang agak ceroboh, Shanum merogoh tasnya, meletakkan flashdisk di atas meja kayu.

“Ini flashdisk-nya, Pak!”

Michael yang sedang tertawa sambil menikmati minuman dengan koleganya, terhenti sejenak saat melihat kedatangan sang sekretaris yang tampak kurang professional.

Aura dominannya sangat kentara. Saat ia mencium bau alkohol dari mulut Shanum, ia menegur lirih, “Kamu— mabuk?”

“Dikit, Pak! Hanya 3 gelas whisky!” Shanum mengangguk tipis. Dia mengakui mabuk tiga gelas, tapi dia menunjukkan 5 jari.

“Kamu ini! Bisa-bisanya mabuk!”

Desisan lirih yang keluar dari bibir bosnya membuat dia grogi. Apalagi, paha mereka kini saling bersentuhan, membuatnya resah, gelisah dan membuatnya sangat tidak nyaman.

Setelah meeting selesai, Michael membawa Shanum keluar menuju parkiran. Dia agak kesal lantaran sekretarisnya yang tak pernah mabuk, kini justru menenggak alkohol yang cukup banyak.

Rasa penasaran menghantui benak Michael. Apa yang terjadi dengannya?

Sampai di parkiran, kondisi Shanum makin teler. Gadis itu menempel pada Michael, membuatnya risih.

“Pulang aja sana, kayaknya kamu gak baik-baik aja,” ucap Michael setelah melepaskan cengkeramannya pada pergelangan tangan Shanum.

“Hm.” Shanum mengangguk patuh. Baru juga lima langkah, ia nyaris terjatuh.

Michael berdecak pelan, lalu menghampirinya, “Ceroboh!”

Takut sekretarisnya melakukan tindakan impulsif, ia bawa Shanum menuju ke mobilnya. Begitu ia meletakkannya, Shanum justru menariknya dan tubuh mereka berbenturan.

“Aw! Sakit, Pak!” rintih Shanum sambil memegang dahinya yang baru saja bertubrukan dengan dada bidang sang bos.

Di sisi lain, Michael tidak menanggapi rintihan itu. Ia justru tertegun kaku.

Saat Shanum kehilangan keseimbangan, isi tote bag miliknya tercecer di karpet mobil. Di antara tumpukan barang yang berhamburan itu, samar-samar Michael melihat pemandangan yang mustahil.

Bukannya marah, Michael justru penasaran.

Lalu, Michael dekatkan wajahnya ke telinga Shanum yang masih mematung, berbisik dengan suara rendah, menggetarkan jiwa lawan bicaranya.

“Kamu—sejak kapan senakal ini?”

もっと見る
次へ
ダウンロード

最新チャプター

続きを読む

読者の皆様へ

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

レビュー

sarang Heo
sarang Heo
bru baca, smg bagus Tante
2026-01-23 21:23:02
0
0
OTHOR CENTIL
OTHOR CENTIL
Hallo, semuanya. Saya penulis buku ini, Mohon dukungannya, ya. Thanks ^_^
2026-01-23 17:48:56
3
0
9 チャプター
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status