LOGINSetelah diputuskan secara sepihak, sepulang kerja Shanum seharusnya langsung pulang. Namun, ia memilih menunda kepulangannya, mencoba mengalihkan pikirannya dengan minum. Tapi segalanya berubah ketika ia dihubungi bosnya untuk diambilkan barang. tanpa sengaja melihat barang ‘pribadi’ bosnya. Rasa ‘penasaran’ yang salah tempat mendorongnya melakukan hal konyol, yaitu membeli ‘pengaman’ ukuran besar hanya untuk membandingkan isi dibalik barang pribadi bosnya. Sayangnya, Michael, bosnya bukan tipe pria yang mudah dilewati begitu saja. Ia terlalu observatif untuk tidak menyadari perubahan sikap bawahannya. “Saya perhatikan, fokusmu dari tadi ke sini?” Michael menunjuk jari ke pangkal pahanya. “Yang ini ... ingin lihat?”
View More“Sekarang, aku paham mengapa Allah mempertemukan kita, Shine. Itu karena... kita memang sudah ditakdirkan bersama, bahkan sejak kita belum dilahirkan.”Shanum mendongak, menatap lekat manik mata suaminya yang berkilat di bawah cahaya lampu kristal. “Dan apa kau bersyukur karena itu?” tanyanya dengan senyum tipis yang menggoda.“Tentu saja. Aku sangat bersyukur karena sekarang kamu resmi menjadi istriku. Kita akan bersama selamanya,” jawab Michael mantap.Seolah tak lagi memedulikan ribuan pasang mata yang memerhatikan mereka, Michael langsung menangkup wajah Shanum dengan kedua tangannya. Di atas lantai dansa yang megah itu, ia mendaratkan ciuman dalam yang penuh perasaan, menyalurkan seluruh emosi yang sempat tertahan sejak pagi tadi.Disaksikan oleh seluruh tamu undangan di tengah dekorasi biru muda yang magis, Michael tak ragu lagi menghujani istrinya dengan kecupan-kecupan hangat, merayakan kemenangan cinta mereka yang kini telah sah Kilat lampu blitz menyambar bertubi-tubi, men
“Memberi cucu untuk Mama?” Shanum mengulang kalimat itu. Dia lantas tersenyum simpul ke arah Michael yang juga tersenyum malu-malu.Michael maka mendekati mamanya dan membisikkan sesuatu, pelan sekali, “Tentu saja kami akan memberikannya. Bukankah sejak dulu, kami sudah membuatnya? Jadi, potensi Mama memiliki cucu tahun depan akan terlaksana.”Lucy tersenyum bahagia mendengarkan itu. Kini, ia peluk anak dan menantunya itu dengan penuh kasih. “Ya sudah kalau begitu. Berbahagialah kalian berdua.”Usai pelukan itu terlepas, Shanum dan Michael mengambil tempat duduk di samping Damar, ayahnya Shanum.Tak lama berselang, penghulu pun tiba. Setelah mengecek kelengkapan berkas-berkas pernikahan dan memastikan tak ada yang salah, barulah penghulu itu memulai acara dengan cara menjabat tangan Michael dan mengucapkan ikrar ijab kabul.Dan dalam satu tarikan napas, Michael akhirnya mampu melakukannya. Lancar, dan tanpa hambatan. Begitu para saksi berkata ‘Sah’, ia menangis lantaran haru. Usai p
“Mempelai wanita sudah siap, Tuan. Anda harus segera turun.”Suara ketukan di pintu itu memecah keheningan di dalam ruang ganti. Pukul 07.45, Michael sudah berdiri tegak di depan cermin besar. Ia tampil berbeda dengan setelan baju kurung putih lengkap dengan kopyah berwarna senada. Biasanya, ia lebih akrab dengan potongan jas atau tuksedo yang kaku, namun pagi ini, kesederhanaan pakaian tradisional itu justru membuatnya tampak jauh lebih tenang sekaligus berwibawa.Ia tersenyum tipis pada bayangannya sendiri, sembari sesekali membetulkan posisi kopyah yang sebenarnya sudah pas. Jemarinya sedikit bergetar saat ia mencoba mengatur napas yang mulai pendek. Tidak ada persiapan yang berlebihan, fokusnya hanya satu: kalimat ijab kabul nanti harus tuntas dalam satu tarikan napas.“Saya terima nikahnya Shanum ….”Kalimat itu terus ia tancapkan dalam memori, mengulanginya berulang kali di dalam hati. Ada ketakutan konyol yang membayangi. Jika ia sampai salah berucap ijab kabul sebanyak tiga
“Bajingan kamu, Mike! Mikeeee! Lepaskan aku! Lepaskan!”Di dalam jet pribadi, Felice diikat kencang oleh bawahan Michael. Ia meronta berulang kali meminta dilepaskan. Bahkan saat Michael mendekat, ia meludahi pria itu hingga membuatnya marah.Telapak tangan kanannya kemudian bergerak mencapit dagu wanita itu. “Kamu menyebutku bajingan, tetapi kamu sendiri brengsek, Sialan. Kalau kamu tidak membuatku marah—mengadu dombaku dengan Shanum, mungkin aku tidak akan begini.”Sebelum Felice meludahinya lagi, ia menambahkan, “Sekarang, kamu tahu kemarahanku, ‘kan? Aku bukan pria yang bisa kamu singgung, Felice. Sudahi kegilaanmu itu!”Michael segera mengempaskan wajah Felice. Dengan napas terengah, ia bersiap pergi dari kabin itu. Tapi, langkahnya melambat ketika ia mendengar rintihan wanita itu yang menyayat hati.“Bagaimana aku bisa menyudahi kegilaanku, sementara sejak dulu aku sangat-sangat menginginkanmu,” katanya getir. Felice kembali terisak dan dia berteriak-teriak, “Bahkan, kita sejak






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore