FAZER LOGINSetelah selesai, Rose meringkuk di pelukanku, jarinya mengait jariku. "Darius, kamu sudah janji akan menikahiku. Jangan kamu ingkari, ya!"Meski aku menjawabnya saat sedang mabuk kepayang, sebagai pria sejati, kata-kataku harus bisa dipegang. "Setelah Lisa keluar dari rumah sakit, kita bicarakan dulu dengan Virly. Baru kita urus akta nikah kita."Rose kegirangan dan mencium pipiku. Dia berkata, "Aku ikut apa katamu saja."Kami berdua pergi ke rumah sakit. Setelah kuras lambung, Lisa sedang menjalani infus.Dokter bilang dia harus diobservasi satu hari sebelum boleh pulang. Aku meninggalkan Rose untuk menjaganya, lalu mengajak putriku keluar untuk memberitahu rencana pernikahanku. Putriku sangat setuju. Lagi pula, semenjak istriku meninggal, aku sudah lama tidak menjalin hubungan dengan wanita. Sekarang, aku menemukan pasangan hidup lagi, dia sangat senang.Sekarang tinggal masalah sahabat putriku, Lisa. Namun yang mengejutkan, saat Lisa pulang dan mendengar kabar ini, dia tidak me
Sepanjang jalan, tangan kecil Lisa terus meraba-raba tubuhku, membuat hatiku merasa gelisah bukan main. Sesampainya di rumah sakit, aku hanya mengatakan bahwa Lisa tidak sengaja meminum obat hewan tanpa menceritakan detail lainnya. Dokter segera melakukan prosedur kuras lambung padanya.Saat Lisa dibawa masuk ke ruang tindakan, putriku berkata padaku, "Ayah, sebenarnya aku nggak keberatan Ayah punya hubungan dengan Bibi Rose. Bertahun-tahun Ayah sendirian pasti berat, aku senang ada yang merawat Ayah. Tapi kalau Ayah benar-benar menyukainya, jangan lakukan hal yang bisa mengkhianatinya."Aku tahu, putriku masih menyimpan sedikit keraguan. Aku pun meyakinkannya berkali-kali bahwa aku tidak akan mengganggu wanita lain, apalagi sahabatnya sendiri. Putriku akhirnya merasa tenang. Dia bilang akan menunggu di rumah sakit dan menyuruhku pulang untuk menjelaskan semuanya pada Rose.Aku menelepon Rose. Setelah tahu dia sudah di rumah, aku segera pulang. Saat aku tiba, mata Rose masih sembab
Melihatnya sudah duduk di atasku, aku tersadar dan segera berusaha mendorongnya menjauh.Lisa sepertinya tidak menyangka bahwa meski dia sudah melakukan sejauh ini, aku tetap ingin menolaknya. Sambil menggertakkan gigi, dia turun dari tempat tidur.Aku mengira dia sudah menyerah. Namun tak kusangka, dia mengambil sebuah botol dari atas meja nakas, membukanya, dan meminum isinya dengan rakus. Itu pasti benda yang dia bawa sendiri.Belum sempat aku bertanya apa yang dia minum, Lisa menggoyangkan botol kosong itu di depanku."Paman, aku baru saja meminum obat perangsang hewan dan dosisnya sangat kuat. Kalau Paman nggak membantuku, aku mungkin akan mati di sini. Kita lihat saja, bagaimana Paman akan menjelaskan ini pada orang-orang nanti!"Gadis ini benar-benar gila, dia sampai berani mengancamku dengan nyawanya sendiri. Aku melihat botol di tangannya, itu memang benar obat hewan. Mengingat jumlah yang dia minum, jika tidak kubantu, dia benar-benar dalam bahaya."Kenapa kamu begitu ker
Seluruh tubuh Rose memerah, tubuhnya yang panas terus bergetar hebat. Namun, dia tidak mendorongku. Ini adalah tanda setuju yang sangat jelas. Meskipun tidak mabuk, Rose memang kesepian dan ingin melakukan hal itu denganku.Mendapat izin tersirat, aku tidak lagi bersikap sungkan. Tanganku yang besar menyingkap roknya. Saat merasakan jejak kebasahan di sana, aku semakin memahami keinginannya. Aku menarik turun celana dalamnya, lalu menempelkan tubuhku erat-erat....Setelah bergelut dengan peluh cukup lama, aku berniat mandi. Tak disangka, saat aku sedang mandi, Rose kembali mendekat. Wanita matang memang berbeda, dia benar-benar lapar seperti singa kelaparan.Kami pun menghabiskan waktu berjam-jam di kamar mandi. Saat kami akhirnya keluar, langit di luar sudah benar-benar gelap."Kak Darius, aku akan memasakkan sesuatu yang bergizi untuk memulihkan tenagamu."Dengan wajah yang tampak segar dan bersemu merah, Rose pergi ke dapur. Melihat meja makan yang penuh dengan hidangan berg
Meskipun tubuh gadis muda tidak semontok wanita matang, keunggulan tubuh gadis muda terletak pada kesegaran dan kehalusan kulitnya. Tanganku yang besar mengusap setiap inci kulitnya yang lembut, memperhatikan bagaimana rona merah mulai menjalar di atas kulit putih itu. Rasanya seperti sedang membuat mahakarya dengan tangan sendiri, ada rasa pencapaian yang luar biasa."Paman, pelan-pelan ya ... aku takut Paman akan menyakitiku ...."Lisa gemetar di bawah belaianku. Tubuhnya sekarang benar-benar lembut, ranum, dan becek."Tenang saja, Lisa. Paman akan sangat lembut padamu."Mengingat sebentar lagi aku harus pergi untuk simulasi kebakaran, aku menjadi terburu-buru. Aku segera melepas ikat pinggang dan memosisikan tubuhku."Lisa, kamu di rumah? Lisa ...."Tiba-tiba suara putriku terdengar dari luar, langkah kakinya semakin mendekat."Kelas kita mau mengadakan pesta, Bu Dosen menyuruhku pulang menjemputmu, Lisa ...."Mendengar putriku berjalan menuju kamar tidur ini, aku terperanjat kage
Antara gadis muda yang manis atau janda yang sangat menggoda, aku sudah tidak tahan lagi.Pelukanku pada Lisa menjadi semakin erat.Mungkin karena pengaruh alkohol, Rose menjadi jauh lebih berani dari biasanya. Setelah menyingkirkan Lisa, dia menerjang ke arahku.Tubuhnya yang lembut dan berisi menekan tubuhku, aroma wanita matang itu sangat sulit untuk ditolak."Darius, kamu ... bagian bawahmu benar-benar perkasa. Pilihanku memang nggak salah, cepat kemarilah ...."Tubuhnya bergetar hebat seolah tersengat listrik. Suhu tubuhnya yang panas membuatku hampir hilang kendali. Tak kusangka, Lisa yang tadi didorong, tidak terima. Dia menarik kuat-kuat tubuh Rose, berusaha menjauhkannya dariku."Nggak bisa! Aku yang lebih dulu mencari Paman Darius. Bibi Rose harus antre. Tunggu aku selesai bersenang-senang dengan Paman Darius, baru giliranmu!"Tubuh Rose sudah lemas seperti air. Saat ditarik oleh Lisa, dia hampir terlepas dariku. Dia lalu menoleh dan melototi Lisa."Antre? Kamu itu masih ke







