LOGIN"Paman, aku mohon. Bantu aku melepaskan belenggu ini ...." Gadis yang merupakan teman putriku itu mengangkat roknya, aku pun melihat sesuatu yang biasanya hanya dipakai wanita zaman kuno. Sebuah celana dalam khusus dengan gembok kecil yang hanya bisa dibuka oleh pria. Tepat saat gadis itu menerjang ke pelukanku dengan sudut mata memerah... Teman satu kosnya, seorang wanita berusia tiga puluh tahun, pulang ke rumah. Melihat pemandangan itu, wanita itu terbakar cemburu. Di bawah pengaruh alkohol, wanita itu justru melepas pakaian luarnya dan ikut menerjang ke arahku. "Nak, kamu minggir dulu. Biarkan Bibi yang berkomunikasi lebih lama dengan Paman ...." Antara gadis muda yang manis dan polos, atau wanita matang yang penuh pesona, aku tidak sanggup lagi menahannya.
View More“Aku rasa ini bukan ide yang bagus, Daniel.” Jessie berdiri kaku di tengah kamar hotel mewah itu. Cahaya temaram lilin aromaterapi memantul di dinding marmer, menciptakan suasana intim yang justru membuat perutnya mual.
“Ayolah, Jess.” Daniel meraih tangan Jessie, jemarinya menggenggam lembut tetapi terasa memaksa. “Kita hanya butuh waktu berdua sebelum besok. Tanpa keluarga, tanpa teman-temanmu yang cerewet itu.”
Jessie menelan ludah. Ia selalu tahu bahwa pernikahan ini hanyalah kesepakatan dua keluarga. Ayahnya mengejar kekayaan keluarga Sanjaya, sementara ia hanya ingin lepas dari rumah, dari ibu tiri yang selalu meremehkannya, dari tekanan keluarga yang tak pernah peduli pada dirinya.
Tapi berada di kamar hotel seperti ini, malam sebelum pernikahan, tetap terasa salah.
Jessie mengedarkan pandangan. Ranjang besar, tirai tebal, anggur merah di meja, dan lilin-lilin wangi… semuanya seperti terlalu ‘disiapkan’.
“Kita bisa bicara di lobi, atau di restoran,” ucap Jessie lirih. “Kenapa harus di sini?”
Daniel terkekeh, nada tawanya ringan tapi matanya dingin. “Kamu terlalu tegang. Sedikit minum tidak akan membuatmu kehilangan kendali, kan?” Ia mengangkat dua gelas sampanye. Jessie ragu.
Tapi sebelum ia sempat menolak, Daniel sudah menyodorkan gelas ke bibirnya, seolah mendorongnya agar minum.
“Untuk masa depan kita,” ujar Daniel sambil tersenyum.
Jessie mengangkat gelas hanya untuk menghargai. Cairan itu hangat ketika melewati tenggorokan, namun rasa getir samar membuat alisnya terangkat. Aneh. Sampanye biasanya tidak seperti itu.
Ia baru meneguk sedikit, tetapi pandangannya langsung berputar. “Aku... kenapa rasanya—”
Dunia mulai memudar di sekelilingnya.
“Daniel… apa yang kamu—”
Kalimatnya terputus. Jantungnya berdetak terlalu cepat. Napasnya memburu. Tubuhnya panas seperti sedang demam tinggi.
Dalam penglihatan yang mulai kabur, bayangan Daniel bergerak ke arah pintu. Jessie melihatnya samar berbicara dengan seseorang di luar kamar.
Satu kalimat dari Daniel samar terdengar di telinganya.
“…tiduri wanita itu…”
“Apa…?” Jessie mencoba menangkap arti kalimat itu. Tapi kepalanya berat, matanya menutup dengan sendirinya, dan ia jatuh ke ranjang tanpa daya.
Entah berapa lama ia tertidur. Ia hanya ingat tubuhnya terasa… aneh. Panas merayap dari ujung kaki sampai punggungnya. Nafasnya pendek. Kulitnya sensitif terhadap udara yang menyentuh.
Jessie menggeliat, meraih tepi selimut. “Daniel…?” panggilnya lemah.
Tidak ada jawaban dari pria itu.
Yang ada justru… seseorang lain.
Siluet seorang pria tinggi berdiri tak jauh dari ranjang. Jessie memaksa matanya membuka lebih lebar. Ia ingin berteriak, tapi tubuhnya seperti tidak mau bekerja sama.
“Siapa…” Jessie menarik napas keras, dada naik turun tak teratur. “Apa yang… kamu lakukan di sini?”
Pria itu tampak terkejut melihat kondisinya. Matanya menajam, kemudian melirik gelas-gelas sampanye di meja. “Nona, kamu... apa kamu sadar apa yang kamu minum?”
Jessie tidak bisa menjawab. Otaknya kabur. Tubuhnya panas. Pikirannya berkata ia harus menjauh, tapi tubuhnya justru bergerak mendekat.
“Tol—tolong…” suaranya pecah, antara sadar dan tidak.
Pria itu tampak ragu. Tangan besarnya terulur hanya untuk memastikan Jessie tidak terjatuh. “Kamu tidak baik-baik saja. Duduk dulu.”
Namun ketika ia mencoba menjauh, Jessie malah meraih kerah kemejanya dan menarik pria itu ke arahnya.
Bibirnya menyentuh bibir pria itu.
Mata pria itu terbelalak. Ia tampak berniat mundur, tetapi Jessie sudah lebih dulu terseret oleh sensasi aneh yang membakar tubuhnya. Semua terasa berat dan panas, dan Jessie tidak punya kendali atas dirinya sendiri.
Yang terakhir ia ingat hanyalah tangan pria itu yang menahan pinggangnya agar ia tidak tumbang, lalu gelap.
Cahaya pagi yang tajam membangunkan Jessie.
Kepala berdenyut, tubuh terasa lelah dan… sakit di beberapa titik. Ia meraba ranjang, dan tubuhnya membeku.
Kulitnya menyentuh seprai langsung.
Tidak ada kain.
Tidak ada pakaian.
“Tidak… tidak…” Jessie menoleh panik. Sisi ranjang kosong, tapi suara pancuran air terdengar dari kamar mandi.
Ketika pintu terbuka, uap hangat keluar bersama sosok pria tinggi berhanduk. Rambutnya basah, menetes, dan garis luka memanjang di rusuk kirinya terlihat jelas.
Dia bukan Daniel.
“Siapa kamu!?” teriak Jessie dengan suara serak. “Apa yang kamu lakukan di sini?!”
Pria itu berhenti, menatapnya dengan ekspresi rumit.
“Semalam… kamu yang menarikku,” katanya pelan.
Jessie merasa wajahnya panas, antara malu, marah, dan takut. “Tolong jangan bercanda! Lihat cincin di jariku! Aku ini wanita yang akan segera menikah.”
Pria itu tidak membalas, hanya melirik gelas sampanye di meja. “Minumanmu dicampur obat. Bukan efek alkohol.”
Jantung Jessie mencelos. Samar-samar ia mengingat panas yang menyiksa tubuhnya semalam.
Berarti…
“Kamu bekerja sama dengan Daniel!?” tuduh Jessie gemetar.
Pria itu tidak menjawab. Ia hanya mengambil kemejanya, mengenakannya perlahan, lalu melangkah ke pintu.
“Jawab aku!” Jessie berteriak, suara pecah.
Pria itu berhenti, menoleh sedikit—namun tetap tanpa kata—lalu pergi.
Pintu tertutup dengan bunyi pelan, meninggalkan Jessie sendirian bersama seprai kusut dan tubuh yang terasa asing.
Getaran ponsel di meja membuatnya terlonjak.
Pesan dari Daniel.
[Kamu tidur nyenyak, calon pengantinku?
Aku lihat ada lelaki keluar dari kamar hotelmu pagi ini. Siapa dia?]Jessie menatap layar ponsel dengan tangan bergetar. Dunia seakan runtuh di sekelilingnya.
Dalam bisikan nyaris tak terdengar, ia berkata,
“Daniel… apa yang sebenarnya kamu rencanakan padaku? Kamu menjebakku…?”
Setelah selesai, Rose meringkuk di pelukanku, jarinya mengait jariku. "Darius, kamu sudah janji akan menikahiku. Jangan kamu ingkari, ya!"Meski aku menjawabnya saat sedang mabuk kepayang, sebagai pria sejati, kata-kataku harus bisa dipegang. "Setelah Lisa keluar dari rumah sakit, kita bicarakan dulu dengan Virly. Baru kita urus akta nikah kita."Rose kegirangan dan mencium pipiku. Dia berkata, "Aku ikut apa katamu saja."Kami berdua pergi ke rumah sakit. Setelah kuras lambung, Lisa sedang menjalani infus.Dokter bilang dia harus diobservasi satu hari sebelum boleh pulang. Aku meninggalkan Rose untuk menjaganya, lalu mengajak putriku keluar untuk memberitahu rencana pernikahanku. Putriku sangat setuju. Lagi pula, semenjak istriku meninggal, aku sudah lama tidak menjalin hubungan dengan wanita. Sekarang, aku menemukan pasangan hidup lagi, dia sangat senang.Sekarang tinggal masalah sahabat putriku, Lisa. Namun yang mengejutkan, saat Lisa pulang dan mendengar kabar ini, dia tidak me
Sepanjang jalan, tangan kecil Lisa terus meraba-raba tubuhku, membuat hatiku merasa gelisah bukan main. Sesampainya di rumah sakit, aku hanya mengatakan bahwa Lisa tidak sengaja meminum obat hewan tanpa menceritakan detail lainnya. Dokter segera melakukan prosedur kuras lambung padanya.Saat Lisa dibawa masuk ke ruang tindakan, putriku berkata padaku, "Ayah, sebenarnya aku nggak keberatan Ayah punya hubungan dengan Bibi Rose. Bertahun-tahun Ayah sendirian pasti berat, aku senang ada yang merawat Ayah. Tapi kalau Ayah benar-benar menyukainya, jangan lakukan hal yang bisa mengkhianatinya."Aku tahu, putriku masih menyimpan sedikit keraguan. Aku pun meyakinkannya berkali-kali bahwa aku tidak akan mengganggu wanita lain, apalagi sahabatnya sendiri. Putriku akhirnya merasa tenang. Dia bilang akan menunggu di rumah sakit dan menyuruhku pulang untuk menjelaskan semuanya pada Rose.Aku menelepon Rose. Setelah tahu dia sudah di rumah, aku segera pulang. Saat aku tiba, mata Rose masih sembab
Melihatnya sudah duduk di atasku, aku tersadar dan segera berusaha mendorongnya menjauh.Lisa sepertinya tidak menyangka bahwa meski dia sudah melakukan sejauh ini, aku tetap ingin menolaknya. Sambil menggertakkan gigi, dia turun dari tempat tidur.Aku mengira dia sudah menyerah. Namun tak kusangka, dia mengambil sebuah botol dari atas meja nakas, membukanya, dan meminum isinya dengan rakus. Itu pasti benda yang dia bawa sendiri.Belum sempat aku bertanya apa yang dia minum, Lisa menggoyangkan botol kosong itu di depanku."Paman, aku baru saja meminum obat perangsang hewan dan dosisnya sangat kuat. Kalau Paman nggak membantuku, aku mungkin akan mati di sini. Kita lihat saja, bagaimana Paman akan menjelaskan ini pada orang-orang nanti!"Gadis ini benar-benar gila, dia sampai berani mengancamku dengan nyawanya sendiri. Aku melihat botol di tangannya, itu memang benar obat hewan. Mengingat jumlah yang dia minum, jika tidak kubantu, dia benar-benar dalam bahaya."Kenapa kamu begitu ker
Seluruh tubuh Rose memerah, tubuhnya yang panas terus bergetar hebat. Namun, dia tidak mendorongku. Ini adalah tanda setuju yang sangat jelas. Meskipun tidak mabuk, Rose memang kesepian dan ingin melakukan hal itu denganku.Mendapat izin tersirat, aku tidak lagi bersikap sungkan. Tanganku yang besar menyingkap roknya. Saat merasakan jejak kebasahan di sana, aku semakin memahami keinginannya. Aku menarik turun celana dalamnya, lalu menempelkan tubuhku erat-erat....Setelah bergelut dengan peluh cukup lama, aku berniat mandi. Tak disangka, saat aku sedang mandi, Rose kembali mendekat. Wanita matang memang berbeda, dia benar-benar lapar seperti singa kelaparan.Kami pun menghabiskan waktu berjam-jam di kamar mandi. Saat kami akhirnya keluar, langit di luar sudah benar-benar gelap."Kak Darius, aku akan memasakkan sesuatu yang bergizi untuk memulihkan tenagamu."Dengan wajah yang tampak segar dan bersemu merah, Rose pergi ke dapur. Melihat meja makan yang penuh dengan hidangan berg
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.