Short
Antara Gadis atau Janda

Antara Gadis atau Janda

By:  StarlaCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
9Chapters
1.1Kviews
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

"Paman, aku mohon. Bantu aku melepaskan belenggu ini ...." Gadis yang merupakan teman putriku itu mengangkat roknya, aku pun melihat sesuatu yang biasanya hanya dipakai wanita zaman kuno. Sebuah celana dalam khusus dengan gembok kecil yang hanya bisa dibuka oleh pria. Tepat saat gadis itu menerjang ke pelukanku dengan sudut mata memerah... Teman satu kosnya, seorang wanita berusia tiga puluh tahun, pulang ke rumah. Melihat pemandangan itu, wanita itu terbakar cemburu. Di bawah pengaruh alkohol, wanita itu justru melepas pakaian luarnya dan ikut menerjang ke arahku. "Nak, kamu minggir dulu. Biarkan Bibi yang berkomunikasi lebih lama dengan Paman ...." Antara gadis muda yang manis dan polos, atau wanita matang yang penuh pesona, aku tidak sanggup lagi menahannya.

View More

Chapter 1

Bab 1

“Aku rasa ini bukan ide yang bagus, Daniel.” Jessie berdiri kaku di tengah kamar hotel mewah itu. Cahaya temaram lilin aromaterapi memantul di dinding marmer, menciptakan suasana intim yang justru membuat perutnya mual.

“Ayolah, Jess.” Daniel meraih tangan Jessie, jemarinya menggenggam lembut tetapi terasa memaksa. “Kita hanya butuh waktu berdua sebelum besok. Tanpa keluarga, tanpa teman-temanmu yang cerewet itu.”

Jessie menelan ludah. Ia selalu tahu bahwa pernikahan ini hanyalah kesepakatan dua keluarga. Ayahnya mengejar kekayaan keluarga Sanjaya, sementara ia hanya ingin lepas dari rumah, dari ibu tiri yang selalu meremehkannya, dari tekanan keluarga yang tak pernah peduli pada dirinya.

Tapi berada di kamar hotel seperti ini, malam sebelum pernikahan, tetap terasa salah.

Jessie mengedarkan pandangan. Ranjang besar, tirai tebal, anggur merah di meja, dan lilin-lilin wangi… semuanya seperti terlalu ‘disiapkan’.

“Kita bisa bicara di lobi, atau di restoran,” ucap Jessie lirih. “Kenapa harus di sini?”

Daniel terkekeh, nada tawanya ringan tapi matanya dingin. “Kamu terlalu tegang. Sedikit minum tidak akan membuatmu kehilangan kendali, kan?” Ia mengangkat dua gelas sampanye. Jessie ragu.

Tapi sebelum ia sempat menolak, Daniel sudah menyodorkan gelas ke bibirnya, seolah mendorongnya agar minum.

“Untuk masa depan kita,” ujar Daniel sambil tersenyum.

Jessie mengangkat gelas hanya untuk menghargai. Cairan itu hangat ketika melewati tenggorokan, namun rasa getir samar membuat alisnya terangkat. Aneh. Sampanye biasanya tidak seperti itu.

Ia baru meneguk sedikit, tetapi pandangannya langsung berputar. “Aku... kenapa rasanya—”

Dunia mulai memudar di sekelilingnya.

“Daniel… apa yang kamu—”

Kalimatnya terputus. Jantungnya berdetak terlalu cepat. Napasnya memburu. Tubuhnya panas seperti sedang demam tinggi.

Dalam penglihatan yang mulai kabur, bayangan Daniel bergerak ke arah pintu. Jessie melihatnya samar berbicara dengan seseorang di luar kamar.

Satu kalimat dari Daniel samar terdengar di telinganya.

“…tiduri wanita itu…”

“Apa…?” Jessie mencoba menangkap arti kalimat itu. Tapi kepalanya berat, matanya menutup dengan sendirinya, dan ia jatuh ke ranjang tanpa daya.

Entah berapa lama ia tertidur. Ia hanya ingat tubuhnya terasa… aneh. Panas merayap dari ujung kaki sampai punggungnya. Nafasnya pendek. Kulitnya sensitif terhadap udara yang menyentuh.

Jessie menggeliat, meraih tepi selimut. “Daniel…?” panggilnya lemah.

Tidak ada jawaban dari pria itu.

Yang ada justru… seseorang lain.

Siluet seorang pria tinggi berdiri tak jauh dari ranjang. Jessie memaksa matanya membuka lebih lebar. Ia ingin berteriak, tapi tubuhnya seperti tidak mau bekerja sama.

“Siapa…” Jessie menarik napas keras, dada naik turun tak teratur. “Apa yang… kamu lakukan di sini?”

Pria itu tampak terkejut melihat kondisinya. Matanya menajam, kemudian melirik gelas-gelas sampanye di meja. “Nona, kamu... apa kamu sadar apa yang kamu minum?”

Jessie tidak bisa menjawab. Otaknya kabur. Tubuhnya panas. Pikirannya berkata ia harus menjauh, tapi tubuhnya justru bergerak mendekat.

“Tol—tolong…” suaranya pecah, antara sadar dan tidak.

Pria itu tampak ragu. Tangan besarnya terulur hanya untuk memastikan Jessie tidak terjatuh. “Kamu tidak baik-baik saja. Duduk dulu.”

Namun ketika ia mencoba menjauh, Jessie malah meraih kerah kemejanya dan menarik pria itu ke arahnya.

Bibirnya menyentuh bibir pria itu.

Mata pria itu terbelalak. Ia tampak berniat mundur, tetapi Jessie sudah lebih dulu terseret oleh sensasi aneh yang membakar tubuhnya. Semua terasa berat dan panas, dan Jessie tidak punya kendali atas dirinya sendiri.

Yang terakhir ia ingat hanyalah tangan pria itu yang menahan pinggangnya agar ia tidak tumbang, lalu gelap.

Cahaya pagi yang tajam membangunkan Jessie. 

Kepala berdenyut, tubuh terasa lelah dan… sakit di beberapa titik. Ia meraba ranjang, dan tubuhnya membeku.

Kulitnya menyentuh seprai langsung.

Tidak ada kain.

Tidak ada pakaian.

“Tidak… tidak…” Jessie menoleh panik. Sisi ranjang kosong, tapi suara pancuran air terdengar dari kamar mandi.

Ketika pintu terbuka, uap hangat keluar bersama sosok pria tinggi berhanduk. Rambutnya basah, menetes, dan garis luka memanjang di rusuk kirinya terlihat jelas.

Dia bukan Daniel.

“Siapa kamu!?” teriak Jessie dengan suara serak. “Apa yang kamu lakukan di sini?!”

Pria itu berhenti, menatapnya dengan ekspresi rumit.

“Semalam… kamu yang menarikku,” katanya pelan.

Jessie merasa wajahnya panas, antara malu, marah, dan takut. “Tolong jangan bercanda! Lihat cincin di jariku! Aku ini wanita yang akan segera menikah.”

Pria itu tidak membalas, hanya melirik gelas sampanye di meja. “Minumanmu dicampur obat. Bukan efek alkohol.”

Jantung Jessie mencelos. Samar-samar ia mengingat panas yang menyiksa tubuhnya semalam.

Berarti…

“Kamu bekerja sama dengan Daniel!?” tuduh Jessie gemetar.

Pria itu tidak menjawab. Ia hanya mengambil kemejanya, mengenakannya perlahan, lalu melangkah ke pintu.

“Jawab aku!” Jessie berteriak, suara pecah.

Pria itu berhenti, menoleh sedikit—namun tetap tanpa kata—lalu pergi.

Pintu tertutup dengan bunyi pelan, meninggalkan Jessie sendirian bersama seprai kusut dan tubuh yang terasa asing.

Getaran ponsel di meja membuatnya terlonjak. 

Pesan dari Daniel.

[Kamu tidur nyenyak, calon pengantinku?

Aku lihat ada lelaki keluar dari kamar hotelmu pagi ini. Siapa dia?]

Jessie menatap layar ponsel dengan tangan bergetar. Dunia seakan runtuh di sekelilingnya.

Dalam bisikan nyaris tak terdengar, ia berkata,

“Daniel… apa yang sebenarnya kamu rencanakan padaku? Kamu menjebakku…?”

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status