Compartir

Bab 4

Autor: Melody
Pukul tiga dini hari, Kapten Wira membawaku ke ruang pemantauan.

Tiga dinding penuh dengan layar, masing-masing menampilkan rekaman dari berbagai sudut kompleks perumahan.

Rekaman sejak pukul delapan pagi kemarin.

Video diputar dengan kecepatan tinggi.

Pukul 08.12, suamiku menggendong Lolly turun untuk membuang sampah.

Pukul 09.30, suamiku mendorong kereta bayi keluar dari gedung dan membawa Lolly ke taman kompleks untuk berjemur.

Pukul 11.00, suamiku menggendong Lolly pulang. Di tangannya ada sekantong sayuran.

Pukul 14.00, kurir mengantarkan sebuah paket. Suamiku turun untuk menerimanya.

Semuanya normal. Pergerakannya terekam dengan jelas.

Tidak ada orang asing yang keluar-masuk.

Kapten Wira menatapku dengan sorot mata yang rumit.

“Sejak kemarin sampai sekarang, suami dan anakmu terus terekam kamera. Tidak ada orang lain yang masuk ke rumahmu.”

“Kalau begitu, kejadian itu pasti terjadi di tempat yang tidak terjangkau kamera.”

“CCTV di lantaimu mencakup lift dan lorong. Tidak ada titik yang luput dari pantauan.”

Aku menggigit bibir dan tidak berkata apa-apa.

Kapten Wira menghela napas. “Aku mengerti mungkin akhir-akhir ini kamu sedang banyak tekanan ....”

“Pernahkah Kapten berpikir,” potongku.

“Bagaimana kalau aku benar?”

“Kalau kamu benar, seseorang dibunuh lalu digantikan dalam waktu 24 jam di bawah pengawasan CCTV. Tidak ada satu orang pun yang keluar-masuk gedung ini. Kalau begitu, coba beri tahu aku, di mana mayatnya? Bagaimana pembunuhnya masuk? Dan bagaimana dia keluar?”

Aku tidak bisa menjawab.

Dia benar. Secara logika, semua ini memang tidak masuk akal. Namun, foto itu tidak mungkin bohong.

“Kapten Wira, aku sudah menikah dengan Daniel Poplin selama empat tahun. Sebelumnya kami berpacaran selama tiga tahun. Tujuh tahun. Aku mengenalnya lebih baik daripada siapa pun.”

“Tapi ....”

“Bisakah Kapten membantuku satu hal lagi?”

“Apa?”

“Datanglah sendiri ke rumahku dan bertemu langsung dengannya. Anggap saja ini kunjungan pemeriksaan rutin.”

Dia sempat ragu.

“Kapten hanya perlu mengobrol dengannya beberapa menit. Kalau setelah itu Kapten juga merasa tidak ada masalah, malam ini aku akan pergi ke rumah sakit untuk pemeriksaan psikologis. Setelah ini aku tidak akan pernah melapor polisi lagi.”

“Kamu janji?”

“Aku janji.”

Kapten Wira mengambil jaketnya.

Pukul 4 dini hari, aku duduk di dalam mobil polisi yang berhenti di depan kompleks apartemen tempatku tinggal.

Kapten Wira masuk seorang diri ke dalam.

Lima menit kemudian, dia meneleponku.

“Suamimu sudah membukakan pintu. Dia mengenakan piyama dan baru saja terbangun karena aku mengetuk pintu. Suasana hatinya sedang buruk karena baru bangun tidur.”

Aku menggenggam ponselku erat-erat.

“Lolly di mana?”

“Tidur di ranjang bayinya.”

“Kapten .... Perhatikan dia baik-baik.”

“Aku sedang perhatikan.”

Dari ujung telepon terdengar suara suamiku yang masih mengantuk.

“Ada apa lagi? Istriku lagi yang menyuruh kalian datang?”

Kapten Wira tidak menjawabnya. Dia justru merendahkan suara dan berkata kepadaku, “Aku sudah mengobrol dengannya beberapa menit. Reaksinya sangat normal. Tata letak rumahmu, rutinitas anak kalian, waktu ketika kamu pergi dinas .... Semua bisa dijawabnya.”

“Tentu saja.”

“Maksudmu?”

“Kalau memang seperti yang kukatakan, sudah tentu dia tahu semuanya.”

Kapten Wira terdiam sejenak.

“Menurutmu, sebenarnya apa yang terjadi?”

Aku tidak menjawab. Sebaliknya, aku bertanya, “Kapten Wira, bisakah menyuruhnya mengirim satu pesan Whutsapp kepadaku sekarang? Apa saja.”

“Kenapa?”

“Suruh dia kirim. Begitu aku melihatnya, aku akan tahu.”

Terdengar suara berisik dari ujung telepon. Sepertinya Kapten Wira sedang mengatakan sesuatu kepada suamiku.

Sepuluh detik kemudian, Whutsapp-ku berbunyi.

[Sayang, jangan buat keributan tengah malam begini. Kalau kamu terus seperti ini, aku benar-benar bisa marah. Cepat tidur. Lusa aku akan menjemputmu.]

Aku menatap pesan itu. Seluruh darah di tubuhku seolah mengalir deras ke kepala.

Aku menempelkan ponsel ke telinga dan suaraku gemetar.

“Kapten Wira.”

“Ya.”

“Sekarang lihat wajahnya.”

“Tanyakan satu hal kepadanya.”

“Apa?”

“Tanyakan padanya ....”

Aku terdiam sejenak, lalu menelan ludah.

“Tanyakan padanya nama putri kami.”

Suasana di ujung telepon hening sesaat.

Kemudian aku mendengar Kapten Wira bertanya dengan nada santai, “Oh, iya, Pak Daniel. Apa nama panggilan Putri Anda? Saya perlu mencatatnya untuk laporan kunjungan.”

Suara suamiku terdengar. Masih mengantuk dan sedikit tidak sabar.

“Lolly.”

“Nama lengkapnya?”

“Amanda Lolly Poplin.”

Semuanya benar.

“Kapten Wira.” Air mataku akhirnya jatuh.

“Suruh dia mengirim satu pesan lagi kepadaku.”

“….”

“Kumohon.”

Lebih dari sepuluh detik kemudian, Whutsapp-ku kembali berbunyi.

Aku menunduk menatap layar.

Lalu menelepon Kapten Wira. Aku hanya mengatakan satu kalimat, “Kapten melihatnya?”

Keheningan terjadi cukup lama di ujung telepon.

Kemudian suara Kapten Wira terdengar, sangat berbeda dari sebelumnya.

“... Aku melihatnya.”

“Sekarang Kapten percaya padaku?”

Dia tidak menjawab pertanyaanku.

Suasana di ujung telepon kembali hening sesaat, lalu terdengar suara tarikan napas tajam darinya.

“Sembunyi di dalam mobil. Jangan bersuara.”

Bahkan suaranya ikut gemetar, seolah dia sedang berusaha mati-matian menekan rasa takut yang luar biasa besar.

“Akhirnya aku tahu .... Apa yang kamu maksud itu!”

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Apa yang Terjadi Pada Suamiku?   Bab 11

    Di dalam koper itu adalah Daniel Poplin.Suamiku.Ayah dari Lolly.Hasil pemeriksaan forensik menunjukkan bahwa perkiraan waktu kematiannya adalah sekitar 48 jam lalu.Pelakunya bernama Johan Agustian.Sebulan lalu, dia pindah ke toko di lantai bawah apartemen kami dengan alasan membuka toko bunga.Usianya 34 tahun. Dia pernah 2 kali dituntut karena melakukan penguntitan, tetapi kedua kasus tersebut dihentikan karena kurangnya bukti.Dia bukan pembunuh yang memilih korbannya secara acak. Dia sudah lama mengincar Daniel.Polisi menemukan satu dinding penuh foto di ruang bawah tanah toko bunga yang disewanya.Semuanya adalah foto keseharian kami bertiga saat pergi berbelanja, mendorong kereta bayi, menjemur pakaian di balkon.Foto paling lama diambil 4 bulan lalu.Selama 3 bulan, dia mempelajari Daniel. Dia mempelajari cara bicaranya, cara berjalannya, dan kebiasaan sehari-harinya.Bahkan, dia berhasil mendapatkan ponsel lama Daniel dan membaca seluruh riwayat percakapan di dalamnya.Dia

  • Apa yang Terjadi Pada Suamiku?   Bab 10

    Pukul 4 sore, Kapten Wira berhasil mendapatkan surat penggeledahan.Aku duduk di dalam mobil polisi, memperhatikan enam polisi masuk ke gedung tempat rumahku berada.Radio komunikasi dibiarkan menyala. Aku bisa mendengar semua suara dari sana.Ketukan di pintu.Pintu terbuka.“Pak Daniel, kami menerima laporan dan perlu melakukan pemeriksaan rutin di kediaman Anda. Ini surat penggeledahannya.”“Apa? Penggeledahan? Memangnya ada apa di rumahku sampai harus digeledah?”Suara itu, suara Daniel, terdengar marah sekaligus tidak percaya.“Mohon bekerja samalah dengan kami.”Terdengar suara langkah kaki, suara lemari dibuka, suara barang-barang dibongkar dan diperiksa.Dua puluh menit berlalu.Suara seorang teknisi terdengar dari radio.“Kapten, kamar mandi kamar utama tidak ada kejanggalan. Dapur juga tidak ada. Ruang tamu ....”“Kamar sebelah?”“Kamar sebelah adalah kamar anak. Ada ranjang bayi, meja ganti popok, dan satu lemari pakaian. Isinya semua pakaian anak.”“Bagian bawah lemari?”“T

  • Apa yang Terjadi Pada Suamiku?   Bab 9

    Pukul 2 siang, Kapten Wira kembali datang ke kantor polisi.Kali ini, dia bersama tiga orang.Seorang teknisi, seorang ahli forensik, dan seorang pria berpakaian sipil yang tidak kukenal.Mereka membawaku ke sebuah ruang rapat kecil.Kapten Wira menutup pintu, menurunkan tirai, lalu membuka laptop.“Pagi ini kami melakukan beberapa hal.”Dia membuka berkas pertama.“Pertama, kami mengambil data penggunaan ponsel suamimu selama 3 bulan terakhir.”Di layar muncul sebuah grafik garis.“Cara membuka ponsel suamimu menggunakan sidik jari dan pengenalan wajah, benar?”“Benar.”“3 bulan lalu, tingkat keberhasilan pengenalannya mencapai 99,7% dan itu normal. Tapi mulai 2 hari lalu, tingkat keberhasilan pengenalan wajahnya tiba-tiba turun menjadi 61%.”Aku menatap garis pada grafik itu.Dua hari lalu.Dua hari sebelum aku berangkat dinas.“Pengenalan wajah memang tidak seratus persen akurat, tetapi orang normal tidak akan tiba-tiba mengalami penurunan dari 99% menjadi 61%. Kecuali ada perubahan

  • Apa yang Terjadi Pada Suamiku?   Bab 8

    Pukul 9 pagi.Ibuku tiba di kantor polisi dan mengambil alih untuk menjaga Lolly.Aku menceritakan semuanya kepadanya dari awal sampai akhir.Setelah mendengarnya, wajah ibuku memucat, tetapi dia tidak bertanya "apa aku sudah gila." Dia hanya berkata, "Ayahmu meninggal ketika kamu masih kecil. Ibu membesarkanmu seorang diri.Ibu sangat mengerti dirimu. Kamu bukan orang yang akan tiba-tiba menjadi gila tanpa alasan."Kemudian dia menggendong Lolly dan duduk di sudut ruangan. Setelah itu, tidak berkata apa-apa lagi.Pukul 10.30, Kapten Wira menelepon.“Memang ada bekas pot tanaman di ambang jendela kamar tamu di rumahmu, tetapi tidak ada satu pun pot tanaman di seluruh kamar.”“Dia sudah memindahkannya.”“Aku sudah tanyakan. Dia bilang tempat itu tidak pernah digunakan untuk meletakkan pot tanaman.”“Kalau begitu, dari mana bekas itu berasal?”Kapten Wira tidak menjawab pertanyaan itu. Dia justru memberitahuku hal lain.“Kami sudah memeriksa ulang rekaman CCTV lorong pada waktu ibu mert

  • Apa yang Terjadi Pada Suamiku?   Bab 7

    Pukul 5 dini hari.Aku duduk di ruang penerimaan kantor polisi sambil menggendong Lolly.Lolly sempat terbangun sekali, merengek pelan, lalu kembali tertidur.Aku mendekapnya erat-erat, bersandar di dinding dan tidak berani memejamkan mata sedetik pun.Pukul 06.10, Kapten Wira datang.Di tangannya ada sebuah kantong barang bukti transparan. Dia duduk di hadapanku.“Ibu mertuamu sudah dibawa ke rumah sakit. Kaki kirinya patah dan remuk, tiga tulang rusuknya patah, dan ada pendarahan di dalam tengkorak. Dia masih dalam penanganan darurat.”Aku mengertakkan gigi tanpa berkata apa-apa.“Kami sudah memeriksa kamar tamu. Kunci jendelanya dibuka dari dalam dan tidak ada tanda-tanda perlawanan di ambang jendela.”“Dari kondisi di lokasi, memang lebih terlihat seperti dia membuka jendela sendiri lalu tidak sengaja terjatuh.”“Ibu mertuaku tidak mungkin membuka jendela tengah malam.”“Aku tahu kamu berpikir begitu, tapi aku perlu bukti.”Dia mendorong kantong barang bukti itu ke hadapanku. Di da

  • Apa yang Terjadi Pada Suamiku?   Bab 6

    Saat mobil berhenti di depan kompleks apartemen, sudah ada dua mobil polisi yang tiba lebih dulu.Aku langsung turun dari mobil, tetapi Kapten Wira segera menarikku.“Kamu tidak boleh naik.”“Putriku di atas!”Sudah ada orang di lokasi. Kalau kamu naik, kamu hanya akan mengacaukan situasi.”“Lalu ibu mertuaku ....”“Dengarkan aku.” Dia mencengkeram lenganku dengan kuat.“Ibu mertuamu jatuh dari jendela kamar tamu. Dari lantai empat.”Kakiku langsung lemas.“Dia masih hidup. Ambulans sudah datang, tapi lukanya cukup parah.”“Lolly bagaimana?”“Rekanku bilang anak itu tertidur di ranjang bayinya. Dia baik-baik saja.”“Orang itu bagaimana?”“Suamimu …. Atau orang yang kamu maksud itu …. Ada di ruang tamu. Katanya dia mendengar suara sesuatu lalu berlari keluar. Dia bilang mungkin ibu mertuamu terbangun untuk ke toilet, tapi karena masih mengantuk, jadi tidak sengaja menabrak jendela sampai terbuka.”“Omong kosong.”Suaraku serak, sampai-sampai terdengar seperti bukan suaraku sendiri.“Ibu

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status