MasukIni hari pertamaku pindah ke SMA swasta elite. Aku melihat satu meja dan kursi berwarna merah tua di barisan belakang ruang kelas yang tidak diduduki siapa pun. Semua orang di kelas baruku sering bicara dengan meja dan kursi itu. "Selamat pagi." "Sampai ketemu besok." Seolah-olah ada seseorang yang duduk di sana. Seseorang yang terlihat di mata semua orang, kecuali aku.
Lihat lebih banyakSuara Laura bagus sekali, lambat laun aku mengantuk dan tertidur tanpa sadar.Aku bermimpi.Mimpi itu terjadi di kelas X IPA 7 setelah kematian Nadia. Kematian seseorang yang hanya menjadi bahan olok-olok tidak membuat para siswa itu bertobat. Mereka masih saja mengejek dan melecehkan Nadia setiap kali menyebutnya.Nadia melayang di udara, mengamati semuanya dengan tatapan dingin.Sampai mereka menyadari bahwa Nadia sepertinya kembali untuk membalas dendam kepada mereka.Lampu kelas tiba-tiba padam. Sidik jari berdarah tiba-tiba muncul di buku-buku. Mereka mengalami mimpi buruk saat tidur siang. Di ruang kelas yang tidak ber-AC saat matahari terik di tengah hari, mereka menggigil kedinginan.Mereka ketakutan.Jadi, ketika seseorang bertanya tentang Nadia, mereka akan berkata ..."Nadia? Dia anak berprestasi!""Nadia sangat cantik. Kulitnya putih mulus. Bibirnya merah merona tanpa lipstik. Aku jadi iri.""Nadia sangat sempurna. Pasti ada sesuatu di balik kasus menconteknya waktu itu. Ka
"Heh, Nadia, pindah kelas saja sana. Sekelas sama kamu cuma bikin malu.""Iya. Kalau nggak pintar ya belajar yang tekun. Kenapa malah mencontek?""Apa yang bisa diharapkan dari anak keluarga miskin? Cih."Perundungan, didiamkan oleh guru, tatapan benci teman sekelas. Aku melewati masa-masa SMA Nadia yang menyedihkan di koridor ini.Air mata berjatuhan di pipiku."Maafkan aku. Seandainya aku ada di sana ...."Pada saat itu, aku mendengar desahan pelan.Seseorang di depan tiba-tiba berseru, "Tangganya sudah kelihatan, ayo!"Semua orang meninggalkan gedung kelas yang menakutkan itu. Sebelum dapat mengatur napas, mereka segera mulai bersiap-siap.Mereka juga menurunkan meja merah tua milik Nadia. Meja yang sudah compang-camping itu dipenuhi bunga-bunga. Satu per satu, mereka membungkuk ke arahnya dan memberikan Nadia kebaikan dan rasa hormat yang tidak pernah dia dapatkan selama hidupnya.Murid-murid yang lain dan Pak Samuel duduk melingkar di lantai, tanpa sepatah kata pun dan dengan tata
Nadia menangis histeris. "Keluar! Keluar!"Pada saat ini, Paula dan Ryan juga masuk ke dalam kelas. Setelah melihat situasinya dengan jelas, Paula mengangkat alisnya dan berkata, "Kamu beneran nggak pilih-pilih."Bastian tersenyum canggung. "Iseng saja. Toh Nadia nggak akan bisa berbuat apa-apa."Dia menendang Nadia dengan ujung kakinya. "Hei, aku sarankan, jangan melakukan hal-hal yang nggak perlu. Selama kamu patuh dan melayaniku sesekali, aku bersedia membayar uang sekolahmu. Tenang saja, siswa miskin, belajarmu nggak akan terganggu."Paula membungkuk untuk mengambil rok di lantai dan berjalan ke arah Nadia."Masih takut apa lagi? Kamu 'kan sudah punya videonya?" Dia menarik jaket yang ada di tangan Nadia dengan kejam dan melemparkannya ke luar jendela bersama roknya.Nadia memekik keras.Paula tertawa jahat. "Nadia, semua orang sudah pulang, nggak ada siapa-siapa di sini. Turunlah ke bawah dan ambil sendiri rokmu."Setelah puas menghina, tiga orang itu pergi meninggalkan kelas, han
Jendela yang tadinya seakan dipaku di bingkainya itu tiba-tiba bisa didorong dengan mudah. Pak Samuel menjulurkan kepala ke luar ....Potongan kayu merah tua yang patah dari kursi menembus dada Paula. Matanya terbuka lebar, masih dipenuhi kebingungan dan kecemasan.Segalanya terjadi begitu cepat.Kelas menjadi hening. Teman sekelas mereka meninggal dengan cara yang aneh satu per satu. Para siswa yang masih duduk di bangku SMA ini tidak lagi panik dan teriak-teriak. Mereka sekarang hanya saling memandang dengan tatapan kosong, mencoba sebisa mungkin agar tidak menggigil ketakutan.Aku menatap Laura dengan mata membelalak lebar.Beberapa saat yang lalu, wajah Laura tiba-tiba berubah menjadi wajah Nadia!Pak Samuel mendadak berlutut ke arah meja merah tua di belakang kelas."Sudah cukup, Nadia. Mereka bertiga sudah mati. Tolong lepaskan kami, kami ... kami akan membakar dupa untukmu!"Matanya merah dan dia berteriak, "Nggak ada yang boleh pulang sekolah hari ini. Tunggu sampai malam, kita
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.