INICIAR SESIÓNPada hari ketiga perjalanan dinasku, suamiku mengunggah sembilan foto sekaligus di Onstagram. Semua foto itu berisi momen-momen hangat saat dia seorang diri menjaga putri kami yang baru berusia satu tahun di rumah. Keterangan foto yang ditulisnya: [Istri sedang tidak di rumah, Putri Kecil pintar sekali.] Aku tersenyum lalu membuka foto itu dalam ukuran penuh. Namun, ketika sampai pada foto ketiga, wajahku seketika pucat pasi. Seluruh tubuhku gemetar saat aku menelepon polisi. “Pak Polisi, cepat ke rumah saya! Suami saya sudah meninggal!” Polisi yang bertugas di wilayah kami segera mendobrak pintu rumah. Tidak lama kemudian, mereka menghubungiku lewat panggilan video. Di layar, suamiku sedang menggendong putri kami yang tertawa cekikikan. Dengan nada pasrah, dia menjelaskan kepada polisi bahwa akhir-akhir ini tekanan pekerjaanku terlalu besar sampai-sampai aku mengalami paranoid akan ancaman pembunuhan. Polisi yang memimpin tim itu memperingatkanku dengan tegas agar tidak membuat laporan palsu dan membuang-buang tenaga kepolisian. Namun, aku hanya menatap lekat-lekat pria di layar yang sedang membujuk anakku dengan suara lembut. Dalam keputusasaan, aku menjerit, “Suruh dia letakkan anakku! Cepat tangkap dia! Suamiku sudah meninggal!”
Ver másDi dalam koper itu adalah Daniel Poplin.Suamiku.Ayah dari Lolly.Hasil pemeriksaan forensik menunjukkan bahwa perkiraan waktu kematiannya adalah sekitar 48 jam lalu.Pelakunya bernama Johan Agustian.Sebulan lalu, dia pindah ke toko di lantai bawah apartemen kami dengan alasan membuka toko bunga.Usianya 34 tahun. Dia pernah 2 kali dituntut karena melakukan penguntitan, tetapi kedua kasus tersebut dihentikan karena kurangnya bukti.Dia bukan pembunuh yang memilih korbannya secara acak. Dia sudah lama mengincar Daniel.Polisi menemukan satu dinding penuh foto di ruang bawah tanah toko bunga yang disewanya.Semuanya adalah foto keseharian kami bertiga saat pergi berbelanja, mendorong kereta bayi, menjemur pakaian di balkon.Foto paling lama diambil 4 bulan lalu.Selama 3 bulan, dia mempelajari Daniel. Dia mempelajari cara bicaranya, cara berjalannya, dan kebiasaan sehari-harinya.Bahkan, dia berhasil mendapatkan ponsel lama Daniel dan membaca seluruh riwayat percakapan di dalamnya.Dia
Pukul 4 sore, Kapten Wira berhasil mendapatkan surat penggeledahan.Aku duduk di dalam mobil polisi, memperhatikan enam polisi masuk ke gedung tempat rumahku berada.Radio komunikasi dibiarkan menyala. Aku bisa mendengar semua suara dari sana.Ketukan di pintu.Pintu terbuka.“Pak Daniel, kami menerima laporan dan perlu melakukan pemeriksaan rutin di kediaman Anda. Ini surat penggeledahannya.”“Apa? Penggeledahan? Memangnya ada apa di rumahku sampai harus digeledah?”Suara itu, suara Daniel, terdengar marah sekaligus tidak percaya.“Mohon bekerja samalah dengan kami.”Terdengar suara langkah kaki, suara lemari dibuka, suara barang-barang dibongkar dan diperiksa.Dua puluh menit berlalu.Suara seorang teknisi terdengar dari radio.“Kapten, kamar mandi kamar utama tidak ada kejanggalan. Dapur juga tidak ada. Ruang tamu ....”“Kamar sebelah?”“Kamar sebelah adalah kamar anak. Ada ranjang bayi, meja ganti popok, dan satu lemari pakaian. Isinya semua pakaian anak.”“Bagian bawah lemari?”“T
Pukul 2 siang, Kapten Wira kembali datang ke kantor polisi.Kali ini, dia bersama tiga orang.Seorang teknisi, seorang ahli forensik, dan seorang pria berpakaian sipil yang tidak kukenal.Mereka membawaku ke sebuah ruang rapat kecil.Kapten Wira menutup pintu, menurunkan tirai, lalu membuka laptop.“Pagi ini kami melakukan beberapa hal.”Dia membuka berkas pertama.“Pertama, kami mengambil data penggunaan ponsel suamimu selama 3 bulan terakhir.”Di layar muncul sebuah grafik garis.“Cara membuka ponsel suamimu menggunakan sidik jari dan pengenalan wajah, benar?”“Benar.”“3 bulan lalu, tingkat keberhasilan pengenalannya mencapai 99,7% dan itu normal. Tapi mulai 2 hari lalu, tingkat keberhasilan pengenalan wajahnya tiba-tiba turun menjadi 61%.”Aku menatap garis pada grafik itu.Dua hari lalu.Dua hari sebelum aku berangkat dinas.“Pengenalan wajah memang tidak seratus persen akurat, tetapi orang normal tidak akan tiba-tiba mengalami penurunan dari 99% menjadi 61%. Kecuali ada perubahan
Pukul 9 pagi.Ibuku tiba di kantor polisi dan mengambil alih untuk menjaga Lolly.Aku menceritakan semuanya kepadanya dari awal sampai akhir.Setelah mendengarnya, wajah ibuku memucat, tetapi dia tidak bertanya "apa aku sudah gila." Dia hanya berkata, "Ayahmu meninggal ketika kamu masih kecil. Ibu membesarkanmu seorang diri.Ibu sangat mengerti dirimu. Kamu bukan orang yang akan tiba-tiba menjadi gila tanpa alasan."Kemudian dia menggendong Lolly dan duduk di sudut ruangan. Setelah itu, tidak berkata apa-apa lagi.Pukul 10.30, Kapten Wira menelepon.“Memang ada bekas pot tanaman di ambang jendela kamar tamu di rumahmu, tetapi tidak ada satu pun pot tanaman di seluruh kamar.”“Dia sudah memindahkannya.”“Aku sudah tanyakan. Dia bilang tempat itu tidak pernah digunakan untuk meletakkan pot tanaman.”“Kalau begitu, dari mana bekas itu berasal?”Kapten Wira tidak menjawab pertanyaan itu. Dia justru memberitahuku hal lain.“Kami sudah memeriksa ulang rekaman CCTV lorong pada waktu ibu mert
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.