LOGINHari keempat menjadi batas akhir ketahanan fisik dan mental Ghea.Selama tiga hari berada di dalam penthouse yang sunyi, perempuan itu nyaris tidak memasukkan apa pun ke dalam tubuhnya. Makanan yang dibawakan Bi Inem hanya dibiarkan begitu saja. Air putih pun berkali-kali ditolak. Ghea lebih banyak menghabiskan waktunya di kamar cadangan sambil memeluk bantal kecil milik Kenzie, menangis dalam diam sampai tubuhnya semakin lemah.Pagi itu, saat Bi Inem datang membawa segelas air hangat dan semangkuk bubur, ia kembali mendapati makanan dari hari sebelumnya masih utuh di atas nakas.Namun, kali ini ada sesuatu yang berbeda.Ghea tergeletak di sisi ranjang.“Non Ghea?”Bi Inem meletakkan nampan dengan tergesa, lalu menghampiri ranjang.“Non...”Tidak ada jawaban.Bi Inem menyentuh bahu Ghea dan mengguncangnya perlahan. Tubuh perempuan itu hanya bergerak sedikit. Kelopak matanya sempat terbuka, tetapi pandangannya tidak fokus.“Non Ghea, bangun, Non. Ini Bibik.”Ghea mengeluarka
Terasa panjang hari-hari setelah pengusiran di teras kediaman Denia bagi Ghea. Ia bahkan hampir tidak mengenali dirinya sendiri ketika berdiri di depan cermin kamar mandi. Wajahnya pucat, matanya sembap dengan lingkaran hitam yang semakin jelas. Berat badannya turun cukup banyak sampai tulang selangkanya terlihat di balik piyama yang dikenakannya.Pikirannya tidak bisa diajak bekerja sama. Setiap kali mencoba memikirkan sesuatu, ingatannya kembali kepada Kenzie dan kejadian yang membuat putranya pergi dari sisinya.Di kantor, keadaan itu mulai mengganggu pekerjaannya. Tumpukan dokumen di meja tidak tersentuh. Rapat direksi yang biasanya ia pimpin sendiri harus ditunda atau dialihkan. Bahkan beberapa keputusan penting yang membutuhkan persetujuannya terpaksa menunggu karena Ghea tidak mampu memberikan perhatian seperti biasanya.Haris akhirnya turun tangan.Lelaki yang beberapa waktu lalu menjadi sasaran amarah Kalandra itu membatalkan jadwal dinas luar kota Ghea, menyerahkan sejumlah
Taksi yang ditumpangi Ghea berhenti di pelataran rumah ibu mertuanya. Matahari sudah mulai meninggi, tetapi tubuh Ghea masih terasa dingin. Wajahnya pucat, kepalanya berdenyut, dan fisiknya belum sepenuhnya pulih setelah pingsan.Begitu mobil berhenti, Ghea langsung membuka pintu. Ia membayar ongkos tanpa menunggu kembalian, lalu bergegas menuju teras rumah.Sebelum sempat mengetuk pintu, pandangannya tertuju ke arah garasi. Mobil Kalandra terparkir di sana. Sedikit rasa lega muncul di dadanya karena dugaannya benar; Kalandra memang pulang ke rumah ini.Untuk sesaat, ada harapan yang tumbuh. Mungkin ibu mertuanya mau mendengarkan penjelasannya, dan mungkin Kalandra masih berada di dalam agar mereka bisa membicarakan semuanya.Ghea menekan bel pintu. Ia sempat ragu saat pintu tak kunjung dibuka setelah beberapa lama. Saat ia hampir berbalik pergi, terdengar suara kunci berputar dari dalam dan pintu pun terbuka.Seorang asisten rumah tangga muncul lebih dulu, lalu Denia berjalan me
Ghea membuka mata perlahan, merasakan denyut nyeri yang menghantam bagian belakang kepalanya. Ia tidak tahu apakah ia sempat pingsan sepenuhnya atau hanya terjebak dalam lamunan panjang yang melelahkan.Ingatan terakhirnya masih merekam kejadian dini hari tadi dengan jelas. Ia merangkak dengan putus asa menuju kamar bayi, mendapati tempat tidur Kenzie kosong, lalu menjerit dalam kepanikan. Setelah itu, semuanya gelap. Ia tidak ingat lagi apa yang terjadi setelah tubuhnya kehilangan tenaga.Namun, kejanggalan segera menyerbu pikirannya begitu ia sadar sepenuhnya.Ia tidak lagi berada di kamar bayinya. Sinar matahari masuk melalui celah tirai, menandakan hari sudah menjelang siang. Yang lebih membingungkan, ia kini berada di ranjang kamar tidurnya sendiri. Pakaian formal yang dikenakannya tadi malam pun telah berganti menjadi piyama tidur yang longgar dan nyaman.Ghea berusaha bangkit. Sementara Bibi—begitu melihat majikannya membuka mata, wanita paruh baya langsung mendekat denga
Reruntuhan Malam di Penthouse Langkah kaki Ghea terasa begitu berat setibanya di kediamannya. Seolah setiap jengkal lantai marmer di penthouse menarik tubuhnya untuk jatuh. Keheningan langsung menyambutnya, memukul wajahnya yang sudah pucat semenjak insiden tadi. Ghea berdiri beberapa detik di ambang pintu, membiarkan tubuhnya bersandar pada kusen. Kepalanya terasa sangat berat, sementara pikirannya berkecamuk hebat. Kalimat yang diucapkan Kalandra sebelum ia meninggalkannya tadi masih berputar-putar tanpa henti, berdengung di dalam kepala dan meremukkan sela-sela dadanya. Talak. Tiga kata itu terlalu kejam, terlalu asing, dan sama sekali tak pernah terlintas dalam kamus rumah tangga mereka. Sepanjang perjalanan pulang di dalam taksi, Ghea bahkan belum mampu mencerna kejadian tersebut sepenuhnya. Ada bagian dari dirinya yang masih menolak mentah-mentah realitas pahit itu. Ia terus membohongi diri sendiri, berharap semua keributan di restoran tadi hanyalah mimpi buruk akibat
“Tidak. Aku tidak meminta kamu langsung percaya. Tapi setidaknya dengarkan penjelasanku.”“Aku sudah terlalu sering mendengar penjelasanmu.”Tak hanya kedua mata Ghea yang basah, tapi hatinya. Ia benar-benar bingung bagaimana cara menjelaskan situasi ini kepada Kalandra, terutama dalam keadaannya yang terjepit sekarang. Di matanya, kemarahan Kalandra malam ini sudah mencapai puncaknya.“Setiap kali aku bertanya tentang Haris, alasannya selalu sama: urusan kantor, dokumen, rapat, atau perjalanan kerja. Sekarang, alasan apa lagi yang mau kamu pakai?” cerca Kalandra tajam.“Kalandra, tolong jangan campuradukkan pekerjaan dengan hubungan kita,” balas Ghea, hanya itu yang mampu keluar dari mulutnya.“Justru kamu yang mencampuradukkannya! Pria itu selalu ada di dekatmu. Ke mana pun kamu pergi, dia selalu ada. Saat orang-orang mulai membicarakan kalian, kamu tetap saja membelanya. Bahkan sekarang, setelah semua kekacauan yang terjadi di rumah, kamu masih memilih keluar secara diam-diam







