LOGINSetelah dipecat dan dikejar penagih utang, Raya harus merelakan pengasuhan keponakannya yang baru berusia dua tahun kepada Adam, adik ipar mendiang kakaknya. Pria itu baru saja pulang untuk mengambil alih toko kelontong peninggalan keluarga. Namun, Adam sama sekali tidak paham cara mengurus balita, sementara Raya tidak punya tempat tinggal. Demi status hukum hak asuh Cia dan menyelamatkan toko peninggalan almarhum, mereka akhirnya sepakat menikah resmi. Tinggal seatap di ruko sempit membuat dua orang bergengsi tinggi itu terus bentrok. Namun, di antara teror utang dan riuhnya mengurus anak, pernikahan darurat tersebut perlahan berubah menjadi perasaan yang tak bisa dihindari.
View More“Seenggaknya ngalah kek sama cewek. Atau …paling enggak, kasihan sama Cia yang jadi kesempitan,” gerutu Raya dengan wajah cemberut, bibirnya maju beberapa sentimeter. Namun, Adam pura-pura tuli. Pria berjambang tipis itu melepas kacamata, meletakkannya di lantai, lalu menutup mata rapat-rapat.“Cowok egois!!” dengkus Raya sengit. Waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Suasana ruko satu petak itu meremang dalam sunyi. Di atas kasur single yang sempit, Cia sudah bergeser posisi dalam lelapnya. Balita dua tahun itu kini tidur melintang di area bawah dekat kaki mereka, meringkuk sambil memeluk erat boneka kain kesayangannya. Raya yang setengah mengantuk berbalik ke tengah. Tangannya terulur meraba ke samping untuk merengkuh tubuh keponakannya agar tidak kedinginan. Alih-alih mendapati tubuh gembul Cia, jemarinya justru mendarat di atas permukaan padat yang kokoh dan hangat.Sontak Raya membuka mata lebar-lebar. Bukannya memeluk sang keponaka
Suara teriakan barusan membuat jantung Raya berdegup kencang, sementara dua kakinya mendadak lemas. Namun, rasa takut itu seketika surut saat ia menunduk dan melihat Cia di gendongannya mulai menangis histeris akibat dentangan rolling door yang memekakkan telinga. Hari ini kesabarannya benar-benar sudah habis. Mulai dari dihardik Sonia, dibuat pusing oleh stok susu Cia yang menipis, hingga sekarang diteror preman pula.Dengan gerakan cepat, Raya melangkah ke arah Adam. "Pegang Cia sebentar!" sentak Raya sambil memindahkan keponakannya itu ke dekapan sang suami. Adam yang baru saja menenteng dua kantong belanjaan berat di kedua tangannya, refleks meletakkan kantong-kantong itu ke tanah demi menyambut tubuh Cia yang terisak di pelukannya. Alih-alih mundur atau berlindung di belakang Adam, Raya justru bergerak gesit menyambar sebatang sapu ijuk yang bersandar di dinding luar ruko."Woi! Mau pada bikin rusuh, hah?!" geram Raya dengan suara b
"Maksud Mama kamu tadi... apa?" desak Raya dengan napas memburu. Langkah kaki Sonia dan pengacaranya baru saja menghilang di balik pintu ruko, meninggalkan aroma parfum mahal yang pekat dan rasa canggung yang mendadak menghimpit dada. Raya menatap lurus pria di hadapannya, menuntut jawaban atas bisikan penuh ancaman yang sempat membuat tubuh tegap Adam membeku kaku. Namun, Adam tidak menunjukkan raut panik sedikit pun. Dengan gerakan tenang, pria itu merapikan kemeja abu-abunya yang sedikit kusut, membetulkan letak kacamata di pangkal hidung, lalu menatap Raya lurus."Poin tiga."Raya mengernyitkan alisnya, matanya memicing curiga. "Apa?""Poin ketiga. Surat perjanjian pernikahan kita," sahut Adam dingin tanpa riak emosi. "Dilarang mencampuri urusan pribadi masing-masing yang tidak berhubungan langsung dengan legalitas ruko dan hak asuh Alicia.""Tapi itu tadi Mama kamu!" sengit Raya tak mau kalah, dadanya kempas-kempis menahan rasa jengkel. Matanya mendelik se
"Paham tidak?" gumam Adam yang membuat Raya mengangguk kaku. Fokus Raya seketika terpecah saat suara rengekan Cia terdengar dari dalam kamar. Namun, baru saja Raya hendak melangkah, rolling door ruko yang belum terkunci rapat mendadak didorong dari luar. Wak Salmah melongokkan kepalanya sambil tersenyum lebar, membawa dua bungkusan plastik hangat."Lain kali ketuk pintunya," kata Adam datar, menatap tetangga itu tanpa ekspresi.Wak Salmah pun mengangguk kikuk, buru-buru merapikan kerudungnya. "Eh, iya, Maaf ya karena kebiasaan. Ini Uwak antarkan lontong sama lupis buat kalian sarapan. Anggap saja tanda permintaan maaf Uwak soal kemarin sore."“Makasih ya, Wak,” ucap Raya sambil meringis. Dia menatap Adam penuh peringatan lantaran menegur sang tetangga dengan ucapan kurang sopan. Namun, pria itu hanya meliriknya acuh tak acuh. Setelah meletakkan bungkusan makanan dan melemparkan beberapa godaan khas ibu-ibu, Wak Salmah pamit pulang. Setelahnya, Adam






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.